
Suatu malam yang dingin, Rio dan Monika duduk bersisian. Rio merasa sangat bahagia, karena sebelumnya tak pernah merasakan getaran hati seperti sekarang. Sekalipun dengan Rona, padahal Rona sudah menyerahkan hidupnya.
"Sudah hampir dua tahun, kita menjalani hubungan, apakah kamu tidak berpikir aku akan menikahimu?"
Monika terdiam, dalam benak dia tak pernah menginginkan suatu pernikahan terjadi.
"Bagaimana jika kita menikah di bawah tangan?" Rio memperlihatkan kesungguhan hati.
"A-apa, aku tidak mau. Aku ingin menjadi istri sah dan satu-satunya."
"Jadi, kamu ingin aku menceraikan Rona?"
Monika merasa sekarang keadaannya sudah tidak aman. Dia sama sekali tidak mencintai Rio, bagaimana bisa dia menikah tanpa cinta. Kenapa juga Rio tidak seperti orang kebanyakan yang hanya menjadikannya sebagai simpanan.
Monika bingung, dia hanya menginginkan uang Rio.
"Baiklah, aku akan segera menceraikannya. Lalu menikahimu, setelah itu, kita bebas dan aku ingin segera mendapatkan bayi darimu."
Rio sudah diperbudak cinta. Dia tak sadar bahwa hidupnya ditentukan hari ini. Jika dia sungguh menceraikan Rona, maka perusahaan yang selama ini mati-matian dipertahankan oleh ayahnya akan mengalami kehancuran yang lebih mengerikan dibanding sebelumnya.
Iya, pernikahan Rio dan Rona memang hanya untuk mempertahankan perusahaan di pihak Rio saja. Walau Rona tahu, bahwa Rio tidak mencintainya dan terpaksa menikahinya, dia tetap berusaha membuat Rio jatuh hati, karena dia sendiri sangat mencintai suaminya itu.
"Bagaimana Monik, sayaaang?"
"Mas, aku rasa ini terlalu buru-buru. Tidakkah kamu menikmati hubungan kita dulu secara diam-diam?"
"Apa? aku heran sama kamu Monik, aku sungguh ingin menikahimu!"
Rio sudah terlanjur cinta dan sebelumnya dia tidak pernah jatuh cinta. Terlalu singkat memang, tapi itulah keajaiban cinta, bisa memungkinkan hal yang tak pernah terpikir.
"Bukannya Mas bilang, mas tidak akan bisa menceraikan Rona?"
Rio menatap Monika sembari berpikir apa yang pernah dia katakan.
"Dulu Mas bilang, kalau perusahaan keluarga Mas nasibnya ada pada pernikahan Mas!"
"Betul Monik, tapi aku sangat menginginkanmu. Kamu adalah wanita yang selama ini aku nantikan. Aku ingin kita terikat oleh hubungan yang resmi. Tidak sembunyi-sembunyi seperti sekarang."
"Sabar Mas, kita hanya perlu sabar. Sekarang Mas fokus dulu agar saham perusahaan seluruhnya bisa jatuh ke tangan Mas."
__ADS_1
"Tidak bisa sayang, karena Rona sudah tahu tentang hubungan kita."
Monika seperti disambar petir ketika mendengar bahwa Rona sudah tahu, itu artinya posisi dia sebagai putri simpanan akan segera berakhir.
"Sekarang malah Rona sendiri yang turun tangan, mengatasi segala masalah di perusahaan."
Lalu mengapa Rio justru ingin menikahi Monika, jika Rona sudah tahu?
"Aku tidak mengerti Mas?"
"Sejak awal pernikahan, Rona tahu kalau aku tidak mencintainya, dan setelah dia tahu aku menjalin hubungan cinta denganmu, dia malah mengijinkan untuk menikahimu!"
"Jadi istri ke dua?" Tanya Monika tak habis pikir.
"Iya sayang, kamu mau 'kan?"
Monika kehabisan akal agar Rio tidak menikahi dan tetap menjadikannya simpanan. Dimana, Rio tidak menghentikan uang bulanan yang dia kucurkan pada rekening Monika yang jumlahnya dua puluh kali lipat dari gajinya.
"A-aku tidak mau jadi istri ke dua." Monika sedang berada dalam masalah.
"Kamu percaya aku mencintaimu. Aku akan memilihmu jika kamu mau. Aku rela kehilangan saham demi dirimu!"
"Maksud kamu Mas?"
"Kalau kamu mau, kita bisa memulainya dari nol. Aku tidak mau kehilanganmu!"
Wajah tampan Rio sedikit bisa memberi kesenangan pada Monika, tapi dia sama sekali tidak mencintainya.
Tatapan mata Rio mengisyaratkan bahwa dia menginginkan sesuatu, kesempatan Monika untuk mengalihkan pembicaraan. Kemudian dengan keahliannya dia menggoda dan berhasil menggiring Rio ke ranjang. Monika harap, Rio tidak akan lagi membicarakan soal pernikahan.
***
Usai melampiaskan hasrat, Rio tertidur lelap. Sementara Monika sibuk dengan pikirannya, dia mencari cara agar kondisinya tetap seperti sekarang. Menjadi selingkuhan di kala Rio butuh saja. Walau dengan terpaksa dia harus melayani pria membosankan ini, demi uang dia akan lakukan apa pun.
Monika merelakan tubuh untuk pria dingin, bukan berarti dia akan menyerahkan seluruh hidupnya. Meski keadaannya seperti ini, sedari kecil dia selalu memimpikan seseorang yang bisa membuatnya jatuh hati. Menikah dengan pria yang sangat dicintai adalah impian semua wanita.
Kalau Monika nekad, dia mau saja jadi istri ke dua. Malah mungkin uang bulanannya akan bertambah. Tapi percuma, aset perusahaan masih dalam kuasa istrinya, Rona. Belum lagi, jika mereka menikah, Monika tidak akan bebas seperti sekarang. Dia sudah bisa membaca, karakter pria seperti Rio.
Segera Monika membersihkan diri lalu berdandan. Tak lupa dia meninggalkan memo kecil untuk Rio. Permainan tadi sungguh melelahkan dan Rio akan tidur dalam waktu cukup lama.
__ADS_1
Saat Monika hendak membuka pintu untuk keluar, suara berat Rio terdengar memanggil namanya, "Monika sayang!".
Monika menahan napas lalu berbalik, dia tersenyum dan tahu bahwa kali ini dia tidak akan lolos. Dia berjalan menuju tempat tidur, Rio terlihat masih sangat mengantuk, tapi dia bisa merasakan ketika Monika akan pergi. Inikah yang dinamakan cinta?
"Kamu sudah rapih, mau kemana?"
"Aku mau menemui Weni, tadi Mas nyenyak sekali, aku tak tega bangunkan Mas."
"Jangan dulu ya, aku masih kangen. Dua Minggu kita tidak melakukan ini, dan aku sangat bahagia!" Kemudian Rio mengecup kening Monika cukup lama dan hangat.
"Tapi Mas--"
Cepat-cepat Rio menyapu bibir Monika dengan kedua jari.
Monika takut jika dia membantah, uang bulanan akan mendapat masalah.
"Sebenarnya, melihatmu tanpa make up aku sudah mabuk, apalagi melihatmu dandan seperti ini, rasanya aku ingin--" Rio menghentikan kalimatnya dilanjukan dengan memeluk Monika.
***
Kalau saja Rio tidak terbangun, Monika tidak akan menemaninya sampai pagi. Pagi ini tubuhnya terasa lelah sekali. Sehabis mandi dia bersin-bersin, diiringi sesuatu yang keluar dari dua lubang hidungnya. Lama-lama apa yang dilakukan Rio sangat menyiksa dirinya.
"Monik sayang, sepertinya kamu sakit?"
"Cuma flu biasa, tadi malam kita bergadang. Siang juga pasti baikan."
"Maafkan aku, gara-gara aku, kamu tak jadi menemui Weni?"
"Tak apa Mas."
Dalam hati, Monika memaki pria yang dengan tulus mencintainya. Tapi, dia harus bertahan sampai tabungannya cukup untuk pergi dari hidup Rio.
"Sekarang aku mau pulang."
"Apa tidak sebaiknya kamu tetap di sini dulu, sampai benar-benar kuat?"
Selalu saja Rio menahan Monika. Sisi lain Monika senang karena membuktikan bahwa Rio sangat mencintainya. Namun, sisi yang lain, Monika merasa terbebani. Dia berpikir bagaimana kalau mereka menikah, Rio pasti mengatur segala hal yang Monika lakukan.
***
__ADS_1