SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 10


__ADS_3

Hubunganku dengan Dion semakin buruk, Amanda tidak juga mau pergi. Beberapa kali aku menangkap pembicaraan mereka, dan kudengar jelas, Amanda mendesak untuk dinikahi.


Dion, setelah malam lalu, sikapnya biasa saja. Dia tidak kembali seperti dulu. Malam itu mungkin hanya sebatas nafsu. Aku telah salah mengartikan bahwa perlakuannya adalah cinta, padahal dia melihatku hanya sebagai wanita yang bisa memuaskan nafsunya malam itu karena Amanda sedang tidak ada di rumah.


Kerjaku sekarang, hanya menonton kemesraan mereka. Masak, cuci baju Dion, dan hal menyangkut Dion menjadi tugas Amanda. Sekarang aku bebas pergi kemana pun tanpa harus mengkhawatirkan Dion.


"Nikahi aku secepatnya Dion. Biar saja kamu masih berstatus suami Elisa. Aku rela jika kita harus menikah siri untuk sementara."


"Enggak bisa Manda, aku harus cerai dulu sama Elisa, baru aku bisa nikah sama kamu."


"Lalu kapan kamu akan menceraikan dia?"


Sejenak Dion diam, membuatku jengkel dan biar aku saja yang jawab.


"Sekarang juga kami akan bercerai!"


Mereka pikir aku sedang tidak ada di rumah. Memang tadi aku berniat pergi menemui Diana, tapi ponselku ketinggalan. Mereka tidak menyadari kedatanganku. Dion terkejut, namun aku rasa dia hanya pura-pura saja. Dalam hati dia pasti senang karena sekarang aku bersungguh-sungguh ingin pisah.


"Elisa?" Suara Dion yang penuh keheranan.


"Tunggu apa lagi Dion, aku dengan suka rela ingin lepas darimu. Hari ini juga aku akan buat gugatan cerai dipengadilan. Video serta foto-foto kalian sudah cukup sebagai bukti, sehingga aku gak akan kesulitan."


"Elisa tunggu, aku ingin bicara!" Teriak Dion, setelah aku berlari keluar.


Aku putuskan untuk menelpon Rendi, apa yang dilakukan Dion sudah di luar batas dan Rendi bisa memahami perasaanku. Dia yang akan membantu proses perceraian kami.


***


"Aku mohon Elisa, jangan lakukan ini." Benarkah yang memohon padaku adalah Dion. Dia menyusul ku ke pengadilan, belum sempat aku serahkan berkas, lebih dulu Dion menemuiku.


"Apa yang kamu mau Dion?"


"Kebahagian kita. Aku, kamu dan Diana."


Dion sudah gila, apa dia ingin aku merestui pernikahannya dengan Amanda. Jujur, aku tak sudi diduakan.


"Dion, aku sudah muak. Aku yakin keputusanku adalah yang paling baik."


"Bukankah kamu akan terus bertahan demi Diana?"


"Gak lagi, Diana tahu dengan siapa dia harus bersama."


"Elisa, secepat ini kamu berubah. Sebanyak apa pun aku menyakitimu, kamu selalu kuat."


Tidak ada lagi sematan kata 'mas' untuk laki-laki tak punya hati. Mungkin ini hanya akal-akalan saja untuk menyakitiku lagi.


"Kalau kita gak jadi cerai, apa kamu akan meninggalkan Amanda?"

__ADS_1


"Tentu saja. Asal kamu tahu, aku gak pernah mencintai dia. Semua yang aku lakukan hanya sandiwara semata."


"Sandiwara?" Aku tak tahu maksud Dion.


"Kalau cuma sandiwara, kamu gak bakal sampai membawa Amanda tinggal di rumahmu!" Rendi yang dari tadi berdiri di sampingku, akhirnya angkat bicara. Dia membuktikan bahwa dia ada di pihakku. Rendi tidak takut kehilangan pekerjaan demi membantuku.


"Diam kamu Rendi!" Sepertinya Dion sudah memendam kekesalan pada Rendi sejak tadi.


"Dion, aku gak menyangka kamu bisa sampai sejauh ini."


"Rendi, kamu yang sudah jauh mencampuri urusanku dan Elisa!"


"Sudah Dion, sekalipun kamu telah bersandiwara, aku tetap ingin pisah."


"Elisa, tolong dengar dulu penjelasanku!"


"Sudah jelas, Dion." Rendi ikut membela.


"Rendi! Diam! Aku tahu dari dulu kamu menginginkan Elisa!"


Tiba-tiba tubuhku lemas, melihat Rendi yang tak lagi bereaksi. Dia tidak mengelak saat Dion mengatakan itu, dan aku jadi berpikir, benar juga, untuk apa juga dia membantuku sampai seperti sekarang, kalau tak ada sesuatu yang dia inginkan


"Benarkah itu Rendi?" Tanyaku berbisik.


Rendi diam, terpaku, lalu mundur perlahan.


Aku tak mengerti dengan segala yang terjadi. Kalaupun yang dikatakan Dion benar, mengapa tak dari dulu Rendi membantuku supaya cepat lepas dari Dion dan dia bisa mengambil hatiku.


"Omong kosong apa, jangan mencari kambing hitam." Aku berusaha menepis kata-kata Dion, masalah perasaan akan aku urus belakangan. Rendi sudah banyak membantu, aku berhutang budi padanya.


"Rendi, jangan pergi. Tetaplah di sampingku, dampingi aku sampai aku benar-benar bercerai dari pria yang selalu menyakitiku."


***


Rendi menyuruhku agar aku memberikan kesempatan pada Dion untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Rasaku perlahan sudah mulai pudar. Aku malas bicara lagi dengan Dion. Dulu aku mengemis cinta namun dia tak pernah menganggapku ada.


"Baiklah, jelaskan apa yang ingin kamu jelaskan. Disini!" Aku menahan Rendi, biar dia menyaksikan apa yang akan Dion sampaikan.


"Aku minta maaf, mungkin kamu sulit menerima kenyataan ini, tapi aku lakukan semua ini demi keutuhan cinta kita. Aku ingin hidup bersamamu tanpa dikelilingi orang-orang jahat."


Aku menatap mata indah itu, sepertinya dia tidak sedang bercanda.


"Aku akui, hubunganku dengan Fania memang bukan rekayasa. Semua terjadi karena aku termakan omongan mami yang mengatakan sebenarnya kamu gak cinta sama aku. Kamu hanya menginginkan hartaku saja.


Aku tarik nafas dalam, menahan sakit atas luka yang kembali terbuka. Fania, sungguh kejadian yang ingin aku lupakan.


"Elisa, pada akhirnya aku tahu, justru sebenarnya mamilah yang tergila-gila akan harta ayah. Segala cara dia lakukan termasuk mengirim Amanda dalam kehidupan kita."

__ADS_1


Dion menatapku, aku tak tahu harus senang atau tetap dalam kekecewaan.


"Aku bersumpah, aku gak pernah menyentuh Amanda. Aku hanya berpura-pura mencintai dan berjanji menikahinya, hanya untuk mendapatkan bukti penggelapan uang di perusahan yang dilakukan mami, dan itu semua juga dengan bantuan Amanda."


Aku menoleh ke arah Rendi untuk mendapatkan jawaban, bahwa penuturan Dion itu benar.


Rendi mengangguk.


"Jika semua itu benar, kenapa kamu tega perlakukan aku seperti itu? Aku merasa kalau kamu sudah gak cinta lagi."


"Aku gak mau rencanaku gagal. Demi bukti untuk mengeluarkan mami dari perusahaan dan juga memasukkanya ke penjara."


"Andai saja kamu berbagi denganku, aku akan ikut bersandiwara. Sayangnya, di matamu lebih berharga perusahaanmu dibanding perasaanku!"


Aku emosi dan spontan masuk dalam pelukan Rendi, tak sadar aku telah membasahi permukaan jasnya. Melihat Dion yang geram, Rendi langsung mendorongku.


Dion terlihat menelan saliva, ia mendekati Rendi.


"Sejak kapan kalian berhubungan?"


"Dion!" Aku berteriak.


"Hubungan apa?" Tanyaku tak mengerti.


"Kalian sudah berselingkuh, iya kan?"


Tega sekali Dion menuduhku, jelas-jelas dia yang selalu berkhianat. Air mataku berjatuhan, pipiku semakin basah. Ingin sekali aku memukul Dion yang telah menginjak harga diri ini.


"Dion! kami hanya berteman baik, jaga bicaramu. Kamu memang gak pantas lagi buat Elisa, baru saja kamu meminta maaf, sekarang bilang kalau kami selingkuh." Dengan berani Rendi balas tatapan Dion yang penuh amarah.


Buk!!!


Dion menghajar Rendi, emosinya sudah di puncak. Aku merasa bersalah karena Dion melampiaskan kemarahan pada orang yang tak bersalah.


Rendi roboh, cepat-cepat aku membantunya untuk bangun.


"Oke! kalau kalian memang gak ada hubungan. Aku minta, kamu gak jadi menuntut cerai." Tangan Dion mencengkram kedua bahuku. Dia memang bukan laki-laki yang gampang menggunakan tangan pada siapa pun saat emosi, termasuk padaku.


"Aku tetap ingin cerai!" Tak peduli ia terbakar cemburu atau justru ia juga merasa harga dirinya terinjak. Melihat perilakunya seperti itu, aku yakin jika aku memberinya kesempatan, maka aku tak akan pernah bahagia.


"Aku mohon, Elisa. Sekarang juga aku akan mengusir Amanda dari rumah. Karena ayah sudah mengurus perusahaan dan mengeluarkan mami serta menjebloskannya ke penjara!"


Aku selalu mengalah, dan selama ini bertahan demi Diana. Namun hatiku bukanlah baja yang bisa seenaknya diinjak. Bukan pula aku ini boneka yang bisa mereka mainkan sesuka hati.


Ayah yang sebenarnya tahu tentang sandiwara ini, ikut berperan untuk membuka kedok istri mudanya. Andai saja ayah dan Dion bicarakan hal ini padaku, aku tidak akan merasa kesakitan.


***

__ADS_1


__ADS_2