SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 7


__ADS_3

Jantungku berdebar sangat kencang, meskipun Deri siaga di dekatku. Radit menggunakan fasilitas gedung serba guna yang terkesan mewah. Hal yang telah lama aku impikan. Ruangan yang cukup besar, didekor dengan hiasan yang sangat indah. Semua sisi ditempeli bunga-bunga asli. Semua meja tamu terisi penuh. Para tamu undangan menunggu kehadiran tuan rumah sembari menikmati camilan yang tersaji di meja.


Aku dan Deri berdiri mematung dipojokan. Tak mengapa, yang penting aku bisa menyaksikan secara langsung.


Aku sangat ingin melihat muka wanita tak tahu diri, wanita yang telah berani mengambil alih posisi yang sejak lama aku idamkan. Bukankah seharusnya aku yang Radit nikahi, pasca bercerai dengan Rosa?


"Tenang Bela, aku selalu ada di sisimu!"


"Aku gak kuat Der, lebih baik sekarang kita pulang."


"Lhooo, dari tadi aku ajak pulang gak mau. Sekarang tiba-tiba mau pulang. Beneran mau pulang, gak bakal nyesel?"


"Habisnya, aku malu Der."


"Kamu diam aja. Lihat apa yang terjadi, supaya kamu gak menyesal!"


Deri tahu aku sangat terpukul. Menurutnya dengan menyaksikan acara tersebut akan menumbuhkan rasa benci di hati. Nantinya, aku diharapkan bisa cepat melupakan Radit.


Sama seperti tamu undangan, aku amat penasaran ingin melihat bagaimana penampilan si pelakor.


Alunan musik romantis mengawali acara, disambung sambutan pembawa acara. Acara yang besar untuk sebuah pertunangan. Tidakkah Radit sadar diri bahwa dia sudah tidak muda lagi. Atau jangan-jangan wanitanya memang bukan dari keluarga sembarangan.


Sementara rasa penasaran semakin besar, mataku terhenti pada satu sosok wanita yang membelakangi ku.


Cara berpakaian wanita itu berbeda dengan para tamu, pakaian sexi nan glamour. Tubuh pendek dan langsingnya seakan ringan saat Radit merangkul dan membawanya naik ke atas panggung.


Rambutnya tergerai sampai pinggang, septah berhak tinggi mencerminkan dia bukan wanita biasa. Jalannya sangat anggun, dan kulitnya putih bersih. Sangat jauh berbeda denganku.


Namun, ketika dia berbicara untuk membenarkan pertunangannya dengan Radit, dari suaranya aku serasa tidak asing. Suara yang dulu sangat akrab di telinga. Temaram lampu yang mengesankan keteduhan itu membuat aku tidak bisa menangkap jelas wajahnya.


"Suaranya, seperti--"


"Seperti siapa Bel?"


"Seperti ... Nilam!"


Deri belum pernah bertemu dengan Nilam, dia tidak tahu jelas bagaimana ayunya wajah Nilam. Nilam memang cantik dan menarik, tapi masa iya dia menikah dengan Radit. Nilam itu terbilang pendiam, mana mungkin Radit mau.


"Gimana ya biar aku bisa lebih jelas liat wajah itu cewek?"


"Kamu tinggal jalan aja ke depan!"


"Eh, kamu tadi dengar gak pas nama ceweknya disebut?" Tanyaku pada Deri.


"Gak, aku gak jelas, mungkin karena kita di pojok jadi aku gak bisa dengar semua yang diumumkan."


"Aku ko yakin banget, dia itu Nilam."


"Ya udah, ayo kita ke atas panggung!"

__ADS_1


Deri benar-benar menyeret ke atas panggung, sebelum itu terjadi, aku menghentikan langkahnya dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan cengkraman tangannya.


"Kenapa berhenti Bela? Kita hampir sampai!"


Aku menggeleng-geleng.


"Ayok!"


"Enggak Der, aku malu."


Kami pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan acara.


Melihat taman hotel yang indah, aku tak mau melewatkan. Bersama Deri aku habiskan malam ini. Aku baru tahu di hotel tempat aku dan Radit mengadu kasih, ada sebuah taman mini yang indah. Dulu aku kesini memang hanya untuk memuaskan Radit saja, setelah itu kami cepat-cepat meninggalkan tempat ini karena takut ada hal yang tidak diinginkan.


***


Acara rupanya sudah selesai, tapi aku masih betah berada di taman yang dipenuhi bunga-bunga liar nan indah.


Orang-orang berhamburan dari pintu gedung serba guna, gedung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari taman.


Aku dan Deri tak banyak bicara dia mengerti apa yang aku rasakan. Sedangkan pikiranku menerawang jauh, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.


Mulutku menganga tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tubuhku hampir


Tiba-tiba saja, pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara berangkulan di hadapan kami. Mereka menyapa kami, aku bangkit dan menampar Nilam ...


Aku berteriak-teriak, melampiaskan amarah pada Nilam. Sepertinya mereka sengaja mendatangiku untuk memamerkan kemesraan yang menjijikan!


"Bela, kamu gak pantas sama Radit, sejak dulu dia menginginkanku hanya saja aku yang gak kasih dia kesempatan. Karena dulu aku masih trauma. Sekarang semuanya normal, aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Bedanya, kalau dulu kamu sebagai simpanan, aku menikah dengannya setelah ia resmi menyandang status duda."


"Pengkhianat!!!"


Hampir aku memukul kepala Nilam namun Deri mencegah. Aku sangat sakit menerima pengkhianatan dari dua orang sekaligus.


"Perlu kamu tahu, aku juga menjalin hubungan sembunyi satu tahu terakhir ini. Jadi terima sajalah nasibmu! Radit lebih memilihku karena aku lebih cantik dan seksi dari kamu." Menyeringai, membuatku ingin menamparnya sekali lagi, sekeras mungkin.


Pantas, dalam satu tahun terakhir, sikap Radit berubah. Dasar pelakor! Pintar sekali dia bersandiwara, so' baik dan bijaksana. Menyuruhku meninggalkan Radit padahal ia sendiri menghancurkan rumah tangga Radit beserta hubungannya denganku.


"Kamu itu bodoh Nilam, sampai gak tahu hubunganku sudah begitu lama dengan Radit."


"Siapa bilang? aku tahu semuanya dan aku hanya berpura-pura demi meraih hati Radit. Karena Radit lebih menyukai wanita lembut seperti dari pada wanita kasar kaya kamu!"


"Nilam! aku gak bakal biarkan kamu bahagia!" Aku jambak rambutnya sekuat-kuatnya.


Lagi-lagi Deri melerai. Radit hanya senyum-senyum menyaksikan, dia pasti sedang merasa bahwa dia istimewa karena diperebutkan dua orang wanita. Sampai ia merangkul Nilam erat-erat, lalu mendelik ke arahku.


Belum puas aku lampiaskan amarahku, mereka pergi, aku dan Deri masih terpaku. Kembali air mataku berjatuhan, aku tak percaya ini. Tak pernah terpikir olehku sedikit saja, Nilam akan begitu tega. Padahal selama aku jadi kekasih Radit, aku menceritakan dengan nama samaran. Aku mengaku punya kekasih pada Nilam tapi dengan nama yang lain, dan seolah Radit adalah orang lain.


***

__ADS_1


Beberapa bulan kembali ke kampung halaman, aku merindukan suasana hiruk pikuk kota. Meskipun di sana banyak sekali kenangan indah, namun aku tidak ingin kembali karena mengungkit kisah akhir yang sangat menyakitkan.


Setelah kejadian itu aku memang memutuskan untuk pulang ke rumah ibu. Hari ini merasa sangat kesepian, aku teringat Deri. Apa dia di sana masih menanti ku? Seperti yang pernah dia ucapkan, dia akan selalu menunggu sampai aku mau.


[Hai Der, apa kabar?"]


Penuh keberanian aku layangkan pesan, sudah hampir dua jam belum juga dibaca.


[Deri, udah lama kita gak ketemu ya, hampir setahun. Maaf aku waktu itu gak sempat ngabarin, tapi percaya deh, aku suka mikirin kamu.]


Pesan ke dua aku kirim, sudah satu jam baru dibaca. Tapi tidak langsung dibalas.


***


Sudah 3 hari dari aku mengirimi dia pesan, hari kedua aku kirimkan pesan dengan bunyi yang sama, tapi tetap hanya dibaca. Aku coba call tapi tidak diangkat.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Bukankah dia sendiri yang bilang kalau dia akan selalu menerimaku, kapanpun aku bersedia menikah?


Aku tak percaya ini, pasti ada yang salah, Deri pasti sedang menggodaku. Atau mungkin dia sedang merencanakan sesuatu. Menjemputmu misalnya, atau dia ingin melamar ku langsung ke sini.


Senyumku mengembang, tak lama lagi aku akan menikah, biarlah dia hanya seorang sopir taxi, yang penting ada yang membiayai hidupku. Mencari kerja untuk lulusan SMA seperti sangat sulit. Bahkan di kampung tak ada yang memerlukan tenaga ku.


***


Risna yang merupakan temanku yang juga teman Deri, memberitahu kabar tentang Deri. Aku sempat menepis apa yang Risna kabarkan via telepon, tapi setelah dia kirimkan foto-fotonya, baru aku sadar hidupku sudah tak berguna.


Aku hancur semenjak berselingkuh dengan Radit. Awalnya memang sangat indah dan menyenangkan, namun akhirnya segalanya hilang tak bersisa. Semua menjadi gelap, dan aku hanya bisa menerima nasib sebagai wanita murahan.


"Deri udah nikah, Bel. Tujuh bulan yang lalu, istrinya sekarang lagi hamil empat bulan. Terus, kamu tahu gak, ternyata dia anak tunggal dari direktur utama hotel C."


Hotel C merupakan hotel tempat pertemuan aku dan Radit.


Aku mengerti sekarang, itulah kenapa aku bisa menghadiri acara Radit tanpa diundang.


Berulang kali aku baca pesan terakhir dari Deri.


[Bela, maafkan aku karena udah mencintaimu dengan tulus. Kalau memang kamu belum bisa menerima aku, aku ngerti. Semoga di sana kamu bisa tenang dan bersiap untuk memulai hidup baru]


Patah hati untuk kedua kali. Kali ini benar-benar patah berkeping-keping. Andai saja waktu itu aku bisa menjauhi Radit.


Aku harap hanya aku yang berada di posisi seperti ini, apapun alasannya, menjadi kekasih suami orang lain itu adalah salah besar!


SELESAI


Hikmah yang bisa dipetik dari kisah diatas adalah, segala sesuatu yang dimulai oleh keburukan akan berujung buruk pula. Begitu pun dengan awal yang baik, maka apapun yang kita dapat pasti akan baik.


Terimakasih, nantikan kisah-kisah selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan komentar.

__ADS_1


__ADS_2