
Hari ini aku lihat Andri tidak terlalu sibuk, menurutku ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu segala, aku harap jika aku mengakui kesalahan, Andri akan memaafkan. Aku tahu betul bahwa Andri sangat menyayangiku, selama pernikahan yang kami jalani, ia jarang sekali marah. Apalagi sampai main tangan. Andri selalu memaafkan apa pun kesalahanku.
"Ayah gak sibuk kan?"
Aku penasaran, hp di tangan tak pernah lepas. Membuatku curiga.
Dia menoleh dengan ekspresi dingin, "enggak bu, ada apa?"
"Ibu pengen ngobrol sama ayah. Sekaligus ingin membicarakan sesuatu, tapi ayah janji, ayah gak bakal marah ya?"
Kedua alisnya terangkat sembari mengakhiri aktifitas. Diletakkan hp itu di atas meja.
"Ngobrol aja bu, ada masalah apa?"
"Sebelumnya, ibu mau tanya, kenapa ayah ngehindari ibu terus?"
Dia tertawa, renyah. Setelah lama aku tak mendapati ia tertawa, ini pertama kali tawanya kembali seperti semula.
"Siapa yang ngehindar?" Tanyanya balik.
"Ayah gak ngerasa?"
Dia menggeleng cepat.
"Tapi ibu ngerasa kalau ayah sekarang beda."
"Ibu harus ngerti dong, sekarang kan ayah banyak urusan."
"Urusan apa sih yah, dan sebenarnya mobil itu punya siapa?" Kuberanikan bertanya soal ini.
"Ibu gak percaya, mobil itu punya ayah?"
"Kenapa ayah gak bilang dulu sebelumnya ke ibu?"
"Kejutan!"
"Terus mobilnya atas nama siapa?"
"Atas nama ayah lah, kan ayah yang pake."
"Kenapa kita gak kredit rumah aja, masa punya mobil, rumahnya masih ngontrak?"
"Maaf, belum sempat kasih tahu, sekarang ayah juga lagi bangun rumah."
Kebahagiaan membuncah, tak percaya kalau suamiku sekarang sudah jadi orang sukses. Tak apa jika aku tidak tahu proses, sudah ikut menikmati pun aku senang.
"Ayah serius kan, ibu gak mimpi kan?"
"Asli serius bu, bentar lagi rumahnya bisa ditempati."
Selagi ada kesempatan, aku bertanya, "ayah kerja apa sih ke Pak Irwan, sampai bisa sukses gini?"
"Jual beli tanah, kebetulan Pak Irwan banyak koneksi. Pak Irwan juga kasih ilmu supaya jual belinya lancar."
Jual beli tanah? Wah! Komisinya pasti besar. Pantas saja Andri bisa beli mobil, kalau begini aku harus bersabar. Kalau Andri sudah tidak terlalu sibuk, dia akan kembali romantis seperti sedia kala. Ah... Aku jadi kangen. Sekarang giliran aku yang agresif, Andri malah menghindar.
"Ayah ko gak cerita-cerita sama ibu. Sejak kapan ayah jadi bisnis tanah?"
"Sudah hampir setahun."
Setahun?
Bukankah hasil jual beli tanah itu lumayan?
"Jadi sebenarnya apa yang mau ibu obrolin?"
"Hmmm... Iya itu, masalah kerjaan ayah. Selama ini ayah terlalu sibuk, jadi ibu selalu gak sempat nanya."
"Bukannya ibu juga sibuk, arisan?"
"Lebih sibukan ayah lah..."
Kami saling melempar senyum.
__ADS_1
Hari ini aku tak jadi memberi tahu Andri yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dimas. Aku ragu, sekarang Andri sudah tajir. Aku takut kalau Andri tau aku pernah berselingkuh, dia akan meninggalkanku.
Mungkin aku harus menyembunyikan hal ini selamanya dari suamiku, jika ada seseorang yang memberi tahu, aku harus yakinkan Andri bahwa semua itu bohong.
***
Entah kenapa, hari ini Intan sangat ingin menginap di rumah neneknya. Baguslah, aku dan Andri bisa berduaan. Sayangnya sudah jam sepuluh malam, dia belum pulang.
Aku tertidur di ruang tv dan terbangun saat Andri mengguncang pelan tubuhku.
"Ayah?" Aku melirik jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi.
"Ibu nyenyak sekali tidurnya."
"Ayah baru pulang?"
"Gak, udah dari tadi. Jam sebelas ayah pulang, mau bangunin, kasian ibu."
"Itu laptop kan yah?" Mataku tak biasa melihat benda diatas karpet.
"Betul. Ayah mau ngajak ibu liat film di laptop baru ayah."
Aku berusaha meyakinkan bahwa aku sedang tidak bermimpi.
"Film apa yah?"
"Nanti sudah solat subuh, kita putar."
Kami pun solat subuh berjamaah. Andri memelukku erat, ia mengecup kening dan mengusap-usap kepalaku. Dia memandangiku dengan penuh kasih lalu kembali memeluk erat.
"Bu, maafin ayah, ayah gak bisa jadi suami yang baik."
"Gak yah, justru ibu yang gak bisa jadi istri Solehah. Ibu terlalu banyak menuntut."
"Ayah juga mau berterimakasih, ibu sudah menjaga Intan dengan baik."
"Sama-sama, ayah." Senyumku mengembang, namun wajah Andri menyiratkan kesedihan.
"Lihat ini." Andri menyodorkan sebuah cek.
Delapan ratus juta?
Apa aku tidak salah baca?
"Cek apa ini yah?"
"Aku baru aja jual tanah warisan kakek yang di pinggiran kota."
"Warisan?"
"Kamu belum tahu, ayahku adalah ahli waris dari mendiang kakek?"
Aku rasa, ini mimpi. Tapi ketika aku meraba-raba seluruh tubuh, aku benar-benar sudah terbangun.
"Jadi, uang ini punya ayah?"
"Iyalah, punya aku, Ayah sudah tiada dan tak ada lagi anak selain aku."
Benarkah uang sebanyak itu milik Andri. Jika benar berarti milikku juga.
Aku terharu, orang yang aku nikahi ternyata punya harta warisan segitu banyak.
"Kalau gitu, ayah mau pakai buat apa uang ini?" Tanyaku serius dan berharap ia akan berikan aku separuh.
Dia tersenyum menatapku, memasukkan cek itu dalam dompet dan berkata, "untuk melamar Meri dan Nela."
Apa?
Aku tidak salah dengar?
Mereka itu teman dan adikku, maksudnya, Andri mau poligami?
Aku melongo sejadi-jadinya. Tak pernah berpikir jawaban itu yang akan keluar. Andri lagi bercanda nih.
__ADS_1
"Gak lucu!" Aku pasang aksi cemberut, kalau memang benar, sudah pasti aku tidak terima.
"Aku serius!" Dia malah terkekeh.
"Ayah..."
Dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Ayah mau poligami?" Tanyaku serius.
Tertawa semakin kencang seraya berucap, "kalau aku mau nikah lagi, memang kenapa, cemburu?"
Aku tidak suka sama sekali dengan candaannya kali ini. Hal seperti ini bukan untuk bahan candaan.
"Apa aku ada tampang tak setia?"
Seperti ada sesuatu yang jatuh di kepala, sebuah kesetiaan, ya, Andri adalah laki-laki setia yang tidak akan tega menduakan aku.
***
Sekitar jam 6 pagi aku dan Andri pun akhirnya duduk bersebelahan sambil menonton laptop.
Sebelum memutar film, Andri berpesan agar aku tidak baper.
Aku baru melihat, Andri lihai memainkan keboard. Aku lupa, selain jadi satpam, Andri pernah bekerja di pabrik sebagai admin.
Ternyata film yang Andri maksud, bukan film biasa.
Aku terpana, fhoto-fhoto pernikahan kami terpampang jelas, bahkan fhoto awal perkenalan sampai pacaran kami terputar secara gantian. Diiringi lagu "kemesraan" milik Bang Iwan. Romantis sekali, aku melihatnya sembari mesem-mesem, namun ada yang kurang, Andri tidak memelukku.
Sampai habis lagu, berganti jadi lagu salah satu band yang pernah booming di jamannya. Lagu ini mengiringi Vidio dan fhoto yang selanjutnya diputar.
Lagu itu dari merpati band yang berjudul tak selamanya selingkuh itu indah. Vidio yang berputar, sangat jelas, menggambarkan pertemuanku dengan Dimas. Fhoto-fhoto mesra dengan Dimas yang diambil secara sembunyi.
Dari mana Andri mendapatkan semua ini?
Aku membulatkan kedua mata, membuka mata selebar-lebarnya, dan mengamati apa yang ada di layar laptop. Mulutku menganga, tak percaya dengan semua. Aku tertunduk tak berani melihat Andri. Kini aku hanya bisa menahan nyeri di bagian dada, dan berusaha tetap diam meski kepala terasa berputar-putar.
Fhoto dan Vidio perjalanan cinta gelap aku dan Dimas terus terputar sampai backsound berhenti.
"Ayah... Ma-maaf."
"Helen, hari ini kamu aku talak. Berkemaslah, aku akan mengantarmu ke rumah ibu!"
"Ayaaah, kamu gak serius kan, waktu itu aku khilaf dan aku janji gak bakal mengulanginya lagi. Tolong, kasih ibu kesempatan." Pipiku dibanjiri air mata, aku benar-benar menyesal.
"Tadinya aku menunggu kejujuranmu, namun di matamu aku ini benar-benar tak bernilai. Kamu anggap aku bodoh, sehingga kamu gak berpikir bagaimana perasaanku."
"Bukan gitu, ibu takut nyakitin ayah, jika terus terang mengenai semua. Ibu takut kehilangan ayah."
"Kamu tau Helen, aku sangat mencintaimu, tapi rasa kecewa yang begitu besar membuatku membencimu!"
Tidak tahu apa yang harus dikatakan, Andri begitu marah, ia pun seperti tak sanggup lagi menahan sakit.
"Selama setahun, aku mencoba bertahan, aku berusaha agar pernikahan kita tetap terjaga. Aku membiarkan kamu dengan lelaki lain karena aku sadar diri. Aku sadar gak bisa kasih apa yang kamu mau. Sayangnya, kamu gak pernah menyadari bahwa kejujuran sangatlah berarti. Maaf jika aku gak bisa bikin kamu bahagia, dan selalu menyusahkan kamu, Helen."
Hatiku sakit luar biasa, aku merasakan betapa pedihnya saat rumah tanggaku hancur. Aku sendiri yang telah menghancurkan. Air mata penyesalan tak dapat mengembalikan segalanya seperti dulu.
"Sekarang aku sudah punya banyak bukti untuk dibawa ke pengadilan, dengan bukti ini, hak asuh Intan sepenuhnya akan jatuh padaku."
Hancur hatiku beserta hidupku, aku kini hanya bisa meratapi hidupku yang malang. Dimas, mana peduli dengan kehancuran ku. Aku sendiri, tak akan pernah memaafkan diriku sendiri.
"Aku akan pergi sebentar, nanti kembali lagi dan aku mau kamu sudah membereskan semua barang."
Aku menangis, namun Andri tak peduli, berkali-kali aku minta maaf dan meminta kesempatan, ia tetap pergi. Dia pergi sambil menenteng laptop yang menyimpan bukti hubungan perselingkuhan aku.
Aku lempar semua barang yang ada di sini, aku tak pernah berpikir bahwa rumah tanggaku akan berakhir. Aku menghancurkan Rani, dan kehancuran kini berbalik.
Aku menangis dan mengamuk, hampir melukai diri dengan serpihan kaca. Aku bercermin, sekarang aku seorang janda. Intan, baru aku sadar bahwa Intan adalah hidupku. Aku tak sanggup hidup tanpa Intan. Aku kehilangan segalanya, tak akan ada lagi yang peduli. Semua akan mencemooh dan menyalahkanku.
SELESAI
***
__ADS_1