SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 5


__ADS_3

Riswan masuk tanpa mengetuk pintu, kebiasaannya membawa kunci serep agar saat ia pulang kerja telat, dia tak perlu menggedor pintu yang lalu akan mengganggu tidurku.


Awalnya aku mau pura-pura tidur, tapi terlambat. Lagi pula, aku belum membaca isi chat itu, aku tidak mau keduluan olehnya yang pasti segera menghapus.


Aku sambut dia dengan senyuman yang paling menawan, mencoba menggoda sekali lagi. Aku ingin Riswan melupakan ponselnya dan aku pun bersikap seakan tidak tahu tentang hal ini.


"Kamu belum tidur?" Tanyanya sambil mendekap ku yang beberapa saat lalu menyodorkan tubuh ke hadapannya. Kemudian ia mencium pipi.


Aku tahu, satu jam lebih dia menemui perempuan itu, tapi aku harus berhati-hati jangan sampai Riswan waspada sehingga aku tidak bisa mendapatkan bukti kuat.


"Ibu lapar yah, mana kwetiau pesanan Ibu?"


Riswan terdiam, dia pikir aku sudah tidur.


"Ta-tadi mas Budi udah tutup, Bu."


Alasan saja.


"Ayah dari mana sih, katanya sebentar?"


"Ayah tadi dari rumah mba Mirna."


Ah, ternyata dia jujur, aku harus gimana.


"Ngapain?" Tanyaku datar dan mengalihkan pandangan ke tv.


Dia menyodorkan sesuatu lalu, "kata mba Mirna, uangnya segini dulu, sisanya nanti hari Kamis."


Spontan aku menoleh kemudian mengambil tumpukan uang berwarna biru. Aku hitung dan jumlahnya ada 2 juta. Tak apa lah, segini juga sudah lumayan, besok aku mau bayar-bayar.


Aku tak bisa bohong, karena merasa senang. Aku pasang wajah termanis untuk suamiku dan malah aku yang melupakan isi chat tersebut. Karena sangat gembira aku tidak menolak ketika Riswan kembali memboyongku ke kamar.


Sudahlah, mungkin isi chat itu seputaran uang tabungan suamiku. Aku percaya pada Riswan, dia memang telah membuat hal di luar dugaan. Meski aku kesal karena dibohongi, tapi sekarang aku senang karena menerima uang yang tak pernah aku bayangkan. Ada 8 juta lagi yang masih aku nantikan, aku harap mba Mirna tidak mangkir.


***


Aku terbangun ketika suara alarm berdering, sengaja menyetelnya jam 3 pagi agar aku bisa mengerjakan beberapa tugas sebelum subuh.


Riswan terlihat begitu lelap, terdengar dengkuran khas yang suka membuatku gemas.


Aku bergegas pergi mandi sambil nyuci baju. Setelah semua beres, aku teringat dengan pesan chat dari mba Mirna.


Beberapa kali aku periksa Riswan, apa dia benar-benar masih tidur nyenyak atau pura-pura.


Aku guling-guling dan beberapa kali menepuk pundaknya sembari membisikkan bahwa waktu subuh hampir tiba.


Syukurlah, dia masih tetap nyenyak dan malah dengkuran semakin keras.

__ADS_1


Aku mengendap-endap menuju ruang depan, menutup pintu kamar rapat-rapat. Kau lihat, ponselnya masih di rak tv. Semalam habis melakukannya, kami berdua langsung tidur.


Aku ambil ponsel langsung membuka chat dari mba Mirna.


Dan ...


Sudah dihapus!


Kapan Riswan menghapusnya, setahuku usai bercinta dia tidak keluar kamar lagi. Carger nya juga masih tersambung.


Sial!


Kembali aku mencurigai mereka, jika chat itu hanya membahas soal uang, untuk apa Riswan hapus?


Tak sengaja aku memijit tombol panggilan keluar, nama mba Mirna tertera di sana.


Aku memanggilnya? Bagaimana ini? Cepat-cepat aku memutuskan panggilan. Hampir saja dia angkat. Jadi deg-degan, padahal aku sedang mencari kebenaran.


Tak lama dia mengirim chat.


[Ada apa Riswan?]


Dari chat itu aku bisa menangkap kalau komunikasi mereka masih biasa, tak ada kata-kata aneh. Aku tidak membalasnya, dan malah mba Mirna kembali mengirimi pesan.


[Wan, nanti siang mainnya yang bagus, biar cepat keluar bonusnya.]


Aku bingung, harus balas atau menghapusnya. Atau aku biarkan saja, supaya Riswan tahu aku sudah membacanya.


Saat aku akan menghapusnya, seseorang mencengkram pundak. Aku kaget hampir meloncat.


"Ayah?"


"Ibu lagi apa?"


"Ini yah, tadi hp ayah nyala, aku gak sengaja bu-buka."


Aku serahkan ponsel itu dan tak mengerti aku malah jadi selemah ini. Seharusnya aku tanyakan maksud dari chat itu, bila perlu aku marahi dia dan tuntut dia agar mau bicara yang sebenarnya.


"Oh, mba Mirna, bentar ya aku telepon dulu."


Dia ke kamar mandi lalu menguncinya, tidak curiga gimana, masa nelpon mba Mirna sampai bersembunyi dariku.


"Yah, ko teleponnya di toilet sih?"


"Gak jadi teleponnya entar aja, ayah kebelet."


Heran, bab ko sambil bawa ponsel.

__ADS_1


Aku menempelkan telinga di pintu kamar mandi, yang terdengar hanya suara air yang berhamburan dari keran.


***


Aku mengunjungi warung pak Tomo, dan melunasi semua hutangku. Lega rasanya, tinggal memikirkan hutang yang lainnya.


Uang ini sebagian akan aku gunakan untuk kebutuhanku. Untuk rasa terimakasih, akan aku buatkan Riswan menu spesial selama satu Minggu.


Kenapa ya, setelah Riswan memberiku uang, aku tak bisa bersikap galak lagi, aku takut nanti malah dia yang memarahi aku balik.


Tak apa sekarang aku sabar menunggu, tapi aku tetap dengan pendirian ku, jika dia selingkuh, aku tidak akan pernah memaafkan.


"Yu, si Riswan sekarang kerja apa?"


Mungkin karena aku telah melunasi hutang yang tertumpuk selama tiga bulan, pak Tomo bertanya seperti itu.


"Masih yang dulu Pak, kenapa?"


"Enggak, Fatir anak saya sering liat dia jalan sama Mirna."


Perasaan apa ini, rasanya ko nyesek.


"Maksud bapak?"


"Iya, sekarang Riswan sering jadi sopirnya Mirna. Saya kira dia kerja ke kakak sepupunya itu."


"Oh, itu sih kalau lagi libur dari kerjaannya Pak, suami saya memang rajin, kalau ada job sopir di luar kerjaan dia ambil. Gak cuma mba Mirna, yang lain juga sering pakai jasa mas Riswan."


Semoga aku tidak terlihat sedang mengada-ada.


"Tapi dia jalan sama Mirna hampir tiap hari lho?"


"Kebetulan, barang yang harus dikirim dari gudang tidak terlalu banyak. Jadi mas Riswan banyak libur. Nah dari pada libur, lebih baik ambil job yang ada."


Pak Tomo manggut-manggut.


Jadi orang-orang sudah pada tahu kalau Riswan selalu bersama mba Mirna. Oh, jadi ternyata dia bekerja pada mba Mirna. Tapi dari mana janda itu punya mobil? Bisa jadi mobil sewaan, tapi kemana saja mereka pergi. Ah, aku pusing!


"Ya sudah Pak, terimakasih. Kapan-kapan kalo saya kasbon lagi gak papa?"


"Boleh Yu, eh tapi, kamu bayar ke saya bukan dapat pinjam 'kan?"


"Bukan, kebetulan saya dapat rezeki yang tak terduga."


Pak Tomo pernah bilang, jika aku belum punya untuk membayar hutang, jangan memaksakan apa lagi sampai pinjam ke orang lain.


Aku harus tahu apa yang terjadi sebenarnya, jangan sampai orang tahu lebih dulu. Aku kembali mengingat chat dari mba Mirna tadi pagi, aku tak paham maksudnya. Aku tidak ada orang yang benar-benar ku percaya untuk mengartikannya selain Nola.

__ADS_1


***


__ADS_2