
Setelah hari itu, Monika memutuskan untuk tidak kembali ke tempat yang sudah mempermalukannya. Tidak hanya tubuhnya yang terasa sakit tapi juga hatinya. Dia tidak peduli, apa pun resiko yang dia terima, tempat itu sudah dia hapus dari hidupnya.
Disaat dia putus asa, baru lah Rio datang menemui. Sebenarnya Monika sudah tak Sudi lagi melihat lelaki ini, tapi mengingat yang dilakukan Rona, dia ingin membalasnya.
"Kenapa Mas baru menemui ku?"
Monika ingin mengambil lagi hati Rio, dia ingin membuatnya lebih mencintai dan membutuhkannya. Kali ini dia tidak hanya menginginkan uang, melainkan ingin segalanya yang dimiliki Rio.
"Ada beberapa urusan di luar kota yang tidak bisa aku tinggalkan."
"Mas tahu, apa yang terjadi padaku?" tanya Monika.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan membiarkan Rona, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!"
"Mas, aku tidak mau kembali ke perusahaan itu lagi, aku sudah sangat malu. Ditambah teman-teman menjauh, termasuk Lila dan Weni. Mereka tidak mau bicara lagi padaku, Mas!"
Monika bercucuran air mata, Rio menenangkan, hal ini diluar dugaan. Rio tak menyangka Rona bisa berbuat demikian.
"Aku dipermalukan di depan semua orang, dan kamu tahu? Rona menertawakan aku!"
Rio menatap penuh iba.
"Aku pikir dia hanya akan membuat ku menari dan menyanyi tanpa membongkar rahasia kita. Gimana kalau sampai orang tuaku tahu?"
"Iya sayaaang, tenang ya, aku kan udah janji, tidak akan membiarkan Rona. Aku akan membuat perhitungan, bila perlu, hari ini juga aku akan menceraikannya!"
Di depan Rio, Monika tetap bercucuran air mata, terlihat sakit dan terluka. Tapi, dalam hati dia nampak gembira, karena Rio akan berlaku kasar pada Rona. Membalas semua sakit hati.
"Masalah kerjaan kamu jangan khawatir, kamu bisa istirahat dulu di kosan baru. Kamu juga masih bisa mengirimi orang tuamu uang. Aku yang akan menanggung semua."
"Terimakasih, Mas. Tapi gimana kalau Mas sampai menceraikannya, Mas akan kehilangan segalanya--"
"Dengar Monika, aku jadi berpikir untuk tidak bercerai dengan Rona, tapi aku akan membuat dia menyesal telah melukaimu."
Monika memperlihatkan senyuman seksi sebagai tanda bahwa dia menyambut baik niat Rio.
Ada yang berbeda pada pertemuan mereka kali ini, Monika tidak mau melayani Rio. Saat Rio mendekat, Monika menghindar.
"Ada apa sayang? apa kamu sedang ada tamu?"
Monika menggeleng, menyeka air mata lalu berdiri.
"Monika, kamu boleh kecewa padaku, tapi jangan pernah lakukan ini. Kemarilah!"
__ADS_1
Tubuh Monika menghadap ke arah Rio, namun, dia melihat dengan pandangan mengiba.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku sama sekali tidak menyangka, dia akan berbuat demikian."
"Hal kemarin membuat aku sadar, Mas. Cukup sudah kita menjalani hubungan sembunyi-sembunyi dan sepertinya hubungan kita harus berakhir ...."
"Apa?" tanya Rio dengan wajah terkejut.
"Lebih baik kita akhiri saja."
Dengan cepat Rio berdiri mendekatkan wajahnya pada wajah Monika. Kemudian bertanya dengan lembut, "kamu mau menyerah?"
Monika tahu resikonya kalau dia lepas dari Rio, tapi kata-kata barusan dia ucapkan hanya untuk lebih meningkatkan rasa cinta Rio padanya.
Monika terisak, Rio memeluk. Mereka berdua larut dalam kegalauan hati masing-masing.
"Makanya, kita menikah."
"Akan aku pikirkan lagi, Mas. Tapi maaf, untuk saat ini aku tidak bisa melayani. Mas bisa mengerti kan?"
Rio mencoba membangkitkan gairah Monika, tapi ternyata Monika memang sedang terluka parah. Sampai beberapa bagian tubuh yang sensitif di sentuh berulang kali, dia tak bereaksi. Biasanya, dikecup sekali, Monika akan membalas dengan sentuhan menggoda.
Rio berhenti, Monika seperti patung, meskipun Rio sudah meraba ke area inti, dia tidak menerima apalagi membalas. Kemudian Rio melepas pelukan seraya berkata, "Aku mengerti, istirahatlah dan besok kamu akan menempati kosan yang baru."
"Terimakasih, Mas."
***
Rio ternyata melampiaskan kemarahannya pada Rona. Dia menganggap, semua gara-gara Rona. Sikap dingin Monika yang enggan melayaninya malam ini semua bersumber dari Rona yang telah mempermalukannya.
"Apa yang sudah kamu perbuat pada Monika?" tanya Rio, ketika Rona menyambutnya dengan hangat.
"Sebagai atasan aku hanya memberinya hukuman, tidak lebih."
"Tapi, untuk apa kamu bilang kalau dia itu simpanan?" kata Rio dengan sangat marah.
"Memang kenyataannya begitu."
"Rona!"
"Rio, Monika tidak pernah mencintaimu, dia hanya menginginkan uangmu saja--"
"Plak!" Rio menampar Rona cukup keras.
__ADS_1
"Rio, kamu sudah keterlaluan."
"Diam Rona! hentikan, atau aku akan--"
"Ceraikan saja, ceraikan aku sekarang juga. Rasaku padamu sudah hilang, sekarang aku sadar, telah mencintai orang yang salah!"
Kebalikannya, sekarang justru Rio tidak akan menceraikan Rona sampai dendam Monika terbalas.
"Tidak akan. Aku hanya ingatkan jangan sekali-kali lagi kamu mengganggu Monika. Aku sangat mencintainya dan tidak mau kehilangannya."
Rio berlalu, meninggalkan Rona yang hampir menjatuhkan air mata. Tamparan di pipi tidak seberapa jika dibanding dengan luka hatinya. Rona sudah berusaha agar pria ini menghilang dari hati, tapi semakin Rio membenci, Rona malah semakin ingin memiliki hatinya. Bisakah pada akhirnya cinta yang Rio tujukan pada Monika berpaling padanya?
"Tunggu saja Rio, kamu akan tahu siapa sesungguhnya Monika. Aku yakin, kamu akan merasakan sakit yang aku rasakan saat ini," kata Rona pada diri sendiri.
***
Dibawah kucuran air dingin, kata-kata Rona terngiang-ngiang yang akhirnya menimbulkan pertanyaan.
"Benarkah, Monika hanya menginginkan uangku saja?" dalam hati dia terus memikirkan hal ini. Baru dia sadari, memang selama ini dia tida pernah berhenti memberi Monika uang.
Rio jadi penasaran sekaligus ingin membuktikan bahwa Rona berkata begitu karena rasa cemburu semata.
Rio mengingat-ingat kebersamaan yang dilalui dengan Monika. Dia selalu memanjakan wanita kesayangannya.
"Aku tahu betul, Monika juga sangat mencintaiku. Bahkan dia tidak peduli jika aku sudah tidak memiliki apa pun," kata Rio dalam hati sembari menikmati dinginnya butiran air yang mengalir ke seluruh tubuh.
Walaupun kucuran air itu sedikit menyenangkan, tapi tidak cukup memberi ketenangan. Batinnya malah berperang, dia tidak percaya pada Rona, tapi dia mulai ragu pada Monika.
Sampai dia ingat, suatu waktu pernah mengajak Monika menikah dengan menceraikan Rona terlebih dulu, lalu Monika menolak.
"Apa mungkin alasan Monika menolak menikah karena uang?" hati Rio terus mencari kebenaran, dengan berpikir keras mencari sesuatu yang menjadi petunjuk.
Terlalu lama berada dibawah kucuran air shower, membuat kepalanya serasa berputar. Dia matikan keran, kemudian melilitkan handuk di pinggang.
Keluarnya dari kamar mandi, Rio terkejut. Mendapati pemandangan indah yang nampak di kedua matanya. Rona duduk di tepi ranjang dengan tampilan yang berbeda.
Rona mengenakan lingerie seksi berwarna ungu muda. Dengan rambut terurai dan bibir berwarna mencolok. Hal yang pernah dia lakukan, tapi gagal menarik perhatian Rio.
Kali ini sepertinya akan berbeda, Rio perlahan mendekati Rona, dia menatap wanita itu begitu dalam. Meneliti setiap tampilan yang tersaji. Rio baru menyadari, wajah Rona begitu cantik, badannya memang kecil tapi ternyata dadanya cukup besar.
Ada hasrat yang sempat tertunda. Pikiran Rio jadi kacau. Keinginan yang satu ini memang tidak bisa di kompromi.
"Jika saja tadi, Monika mau melayaniku," katanya dalam hati.
__ADS_1
Melihat pandangan Rio yang aneh dan misterius, Rona jadi gugup. Dia tidak yakin kalau Rio akan menyentuhnya, kalaupun Rio mengabaikan atau bahkan merendahkannya, Rona sudah siap.
***