SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 7


__ADS_3

Setelah bertemu kliennya di hotel, Fiki kembali kemudian membawaku ke tempat yang tidak asing. Kami mengunjungi tempat terindah saat masih sekolah dulu. Tempat yang merupakan rumah ke dua bagi kami. SMA Bakti 2, di sanalah aku menghabiskan masa sekolah yang terbilang nakal, walau sering bolos tapi nilai ku tak pernah turun.


Keadaannya sangat jauh berbeda dengan rupa sekolah sepuluh tahun lalu. Kami menyusuri setiap sudut sekolah, kebetulan berjumpa dengan pak Rendi, kepala TU (Tata Usaha) waktu itu. Sekarang pun ternyata beliau masih bertanggung jawab atas TU.


Sekolah sepi, karena ada beberapa hal jadi para siswa dipulangkan lebih awal. Sangat berbeda, sekarang setiap kelas memiliki pemandangan yang indah, siswa bebas mengecat tembok ruangan dengan warna kesukaan.


"Kenapa kamu ngajak aku ke sini?"


"Kita bernostalgia."


"Tapi aku malu, aku udah kelihatan tua. Gimana kalau aku sampai ketemu Bu Tia?"


Bu Tia merupakan wali kelas ku saat kelas 12, aku merasa berdosa karena dulu sering membuatnya pusing. Syukur-syukur kalau beliau tidak akan mengenaliku.


"Tenang aja, guru-guru lagi pada rapat, jadi kita bisa bebas ngobrol di halaman sekolah."


"Gak ah! Kita cari tempat lain yuk, aku gak enak nih."


"Ayu, halaman yang di seberang sana 'kan bukan milik sekolah, kita bisa singgah sambil mengamati sekolahan kita dulu."


Dia memaksa, kami pun duduk di bawah pohon yang sudah tersedia kursi kayu panjang. Sebuah taman yang tidak terurus, dimana rumput-rumputnya subur menjulang ke atas.


Kami bisa memandang sekolah kami dulu yang biasa, namun sekarang terlihat megah. Gedungnya bertambah, ekstrakulikulernya makin banyak. Aku membayangkan, murid yang sekarang pasti sangat gembira dengan fasilitas sekolah yang komplit.


Berhubung suasana mendukung, cerita tentang masalah rumah tanggaku mengalir begitu saja keluar dari bibir. Fiki merespon dan merasa iba. Dia membenarkan bahwa sepasang suami istri harus saling terbuka. Kepercayaan adalah hal yang paling penting dalam sebuah hubungan.


Menurutnya, Dian berselingkuh, karena Dian tidak percaya kalau Fiki mencintainya, setelah Dian tak sengaja menemukan catatan harian Fiki waktu jaman sekolah.


"Fik, kayaknya udah cukup kita bernostalgia, lagian gak ada kenangan yang indah banget yang hadir di memori ku."


"Sebentar Ayu, aku malah belum puas mengingat semua kenangan yang pernah bikin aku senyum-senyum sendiri."


Aku merasa risih karena takut ketahuan seseorang yang mengenalku dan Riswan.


"Dulu waktu sekolah, aku sangat menyukai seseorang. Tapi aku gak berani mengungkapkan. Beberapa kali aku pdkt tapi gak di pedulikan. Menyakitkan sih, intinya cintaku bertepuk sebelah tangan."


Siapa wanita yang Fiki maksud, Dian kah?


"Tapi akhirnya kamu menikah dengan dia bukan?" Mencoba menebak isi cerita Fiki.


"Bukan, bukan Dian. Sejujurnya sampai detik ini pun aku masih mencintainya."


"Udahlah Fik, itu kan masa lalu, mending kamu fokus untuk hidup kamu sekarang. Memangnya cewek itu siapa?"


"Dia ada di sampingku sekarang."


Spontan aku menoleh ke arahnya. Serius kah kalau aku adalah masa lalunya?

__ADS_1


"Apaan sih, jangan bercanda kamu Fik!"


Aku tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi datar di wajah Fiki.


"Itulah kenapa dari dulu aku gak berani ungkapkan, kamu pasti bakal ngetawaain aku!" Dengan wajah dingin dia coba meyakinkan.


Fiki serius, semoga dia bisa memaafkan aku. Dari dulu aku memang tidak peka. Hari pun berlalu dengan pelukan. Aku biarkan saat dia memeluk. Ada perasaan lain saat semua terjadi begitu cepat.


Aku merasa bersalah karena dulu tak pernah menganggap serius, sebenarnya aku juga ingat semua hal yang dia lakukan, perhatian dan candaannya. Tapi karena dia orang yang humoris, jadinya aku anggap semua kata-katanya adalah guyonan.


***


Hari ini merupakan hari terakhir yang dijanjikan mba Mirna. Tapi sampai menjelang malam, Riswan tidak memberi tanda apa pun. Merasa kesal, aku tanyakan dengan nada ketus.


"Yah, mana sisa uang tabunganmu itu?"


"Aku belum ketemu mba Mirna, Bu."


"Bohong!"


"Suami pulang kerja bukan disuguhi minum, malah pasang wajah asam!"


"Bukannya dia janji mau kasih sisa tabungan ayah hari ini?"


"Iya, tapi ayah belum ke rumahnya."


"Bohong. Ibu tahu, tiap hari juga ayah ketemu dia. Sebenarnya ada hubungan apa ayah dan mba Mirna?" Mendadak aku punya keberanian setelah beberapa hari ini dekat dengan Fiki. Fiki menyimpulkan isi chat yang aku baca tempo hari, sudah jelas kalau Riswan dan mba Mirna ada main.


"Gak marah gimana, selama satu tahun ini kamu bohongin aku!"


"Masalah tabungan itu?"


"Bukan cuma tabungan, tapi masih banyak yang lain."


"Ayah cape, Bu. Ayah gak mau ribut, ayah pengen istirahat dulu."


Riswan menghindar namun aku terus mengikuti, membrondong dengan pertanyaan. Meski dia sudah berbaring, rasa penasaran mendorong aku untuk membuat dia bicara.


"Jadi benar ayah ada hubungan dengan janda genit itu?"


"Diam! jangan ngatain dia kayak gitu. Dia emang janda, tapi dia gak genit seperti yang kamu bilang!"


"Jadi kamu lebih membela dia. Bagus, sekarang aku paham."


"Hentikan Ayu! Dia itu kakak sepupuku."


"Sepupu tapi punya hubungan yang menjijikan!"

__ADS_1


Plak!


Dia menamparku.


"Kamu keterlaluan, Mas!"


"Ma-maafkan aku, Yu. Tapi gak seharusnya kamu nuduh kami punya hubungan begitu. Menjijikkan bagaimana maksudnya? Ingat, kami ini masih sodara!"


Aku menangis sesenggukan. Semakin yakin kalau mereka ada hubungan. Kalau tidak ada hal yang spesial, tidak akan sejauh itu Riswan membelanya.


Riswan memelukku dan aku melepasnya dengan kasar.


"Ayu! Tenangkan dirimu, setelah itu baru kita bisa membahas hal ini. Aku tegaskan, aku sudah anggap mba Mirna kakak kandung, jadi gak mungkin kami sampai punya hubungan yang kamu sangkakan."


Apa yang aku alami, hampir mirip dengan yang menimpa Fiki. Fiki bilang, Dian juga dulu awalnya tidak mengaku. Setelah Fiki sendiri yang mencari bukti dan dia berhasil memergoki Dian dan kekasihnya sedang beraksi di sebuah kamar hotel, baru lah Fiki bisa bertindak.


Entah dibakar cemburu atau merasa terhina, aku begitu antusias untuk membuka tabir antara mereka berdua. Sekarang, tidak hanya pak Tomo yang tahu tentang mereka, beberapa tetangga mencoba memancing emosi, dengan mengatakan bahwa Riswan dan mba Mirna pernah pergi ke sebuah hotel.


Aku tak perlu penjelasan Riswan dan aku tidak mau membicarakannya. Untuk sementara aku akan menutup mulut dihadapannya, selama pernikahan baru kali ini dia berani menamparku.


Dulu aku sangat mencintainya, karena dia adalah lelaki yang lembut dan pengertian. Sekali tamparan ini, membuatku tahu bahwa Riswan sudah tak begitu membutuhkan aku.


Sudah sakit hati karena dia tak mau berterus terang, kini hatiku sakit bagai tertancap sembilu.


Aku ambil dan uang seadanya di laci lemari. Tidak lupa ponsel yang tergeletak dilantai, aku raih. Lalu mengenakan jaket dan pergi mencari hal yang bisa mengobati rasa sakit.


"Mau kemana?"


"Ke rumah ibu."


"Mau apa?"


"Menenangkan diri."


"Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik."


"Mas istirahat saja. Biar aku pergi sendiri."


"Tunggu Ayu!"


Aku berlari kecil sambil membuka aplikasi ojek online.


Tangan Riswan menghentikan tanganku yang tengah mescrol layar ponsel, "Biar aku antar!"


"Gak usah!"


"Kalau gak aku antar, aku gak akan mengijinkan."

__ADS_1


Terpaksa aku menuruti maunya, sepanjang jalan menuju rumah ibu, kami tak bersuara. Aku ingin meminta penjelasan tapi pasti hanya kebohongan yang dia utarakan.


***


__ADS_2