SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 5


__ADS_3

Esok harinya, Monika tidak melakukan apa yang Rona perintahkan, dia malah meminta Rona menunjukkan bahwa surat perjanjian itu benar-benar sudah berubah.


"Kamu baca baik-baik, dan jangan coba-coba melarikan diri!" Rona menyerahkan berkas perjanjian kerja, di luar map berwarna biru tertera nama Monika Putri Anjani.


Segera Monika meraih dan memeriksa halaman satu demi satu. Perjanjian pada lembar awal, poinnya tidak ada yang berubah. Baru pada halaman ke tiga, apa yang disebutkan Rona memang ada. Perubahan itu begitu cepat. Entah kapan Monika menanda tangani, seingat dia, Alex pernah meminta menanda tangani sebuah formulir, tapi bukan surat perjanjian seperti ini.


Beberapa menit kemudian, Rona tersenyum memandang wajah Monika yang baginya sangat lucu. Apalagi setelah dia cantumkan bahwa hukuman merupakan wewenang Presdir, jadi apa pun hukuman itu, harus dilaksanakan.


Rio sekarang tak bisa berkutik, karena sesungguhnya Presdir perusahaan adalah Rona. Rio bahkan tak memiliki banyak saham untuk berkuasa di perusahaan ini.


"Bagaimana gadis manis?"


Monika usai membaca dan menelaah keseluruhan isi surat, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kali ini menimpa. Semalaman dia mencoba menghubungi Rio tapi sulit. Sebenarnya Rio kemana?


"Kamu paham dengan isi surat itu 'kan?"


Monika mengangguk.


"Lalu, tunggu apa lagi? laksanakan perintahku atau--"


"Baik Bu, akan segera saya laksanakan!" Cepat-cepat Monika memotong perkataan Rona, dia pasrah.


'Tak apa aku menahan malu, asalkan aku bisa mengalahkan wanita malang itu, kasihan sekali, dia menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya.' Dalam hati Monika meremehkan Rona.


***


Pada jam istirahat, Rona mengumpulkan semua staf di gedung serba guna, Monika siap dipermalukan.


Denia yang merupakan kaki tangan Rona, membuka acara. Dia menjelaskan duduk perkara, sampai tiba saatnya Monika menjadi tontonan semua orang.


Tanpa berkata-kata, Monika siap dengan mik di tangan, dia tersenyum sembari mengarahkan pandangan pada Rona.


1 ...


2 ...


3 ...


Alunan musik dangdut menggema seantero gedung, Monika mengatur napas dengan tenang dia membuka mulut, dan ...


"Seraaauuut wajah tampan sangat mempesona ... Di balik pintu hati tersimpan rindukuuu ...." Suara Monika pun ternyata mengalun dengan syahdu.

__ADS_1


"Matamu bak panah asmara ... Bibirmu bagai telaga madu ... Aaduhaiii."


Monika nampak asyik menyanyikan lagu yang pernah naik daun, dia pun bergoyang mengikuti irama musik.


Penonton saling memandang, heran sekaligus senang mendapatkan Monika yang tampil layaknya selebritis. Suaranya sangat merdu.


Dalam hati Monika senang karena berhasil memberi kejutan, terlebih pada Rona yang sekarang berdiri mematung menyaksikan bakat gadis ini yang tak diketahui banyak orang.


Apalagi setelah Monika memperlihatkan keahliannya dalam menari, suara gemuruh terdengar dari gedung. Mereka bersorak sorai.


Saat sebuah lagu terkenal itu selesai dinyanyikan, mereka malah meminta Monika menyanyikan beberapa lagu lagi, tapi Denia cepat mengatasi situasi hingga sampai pada inti acara.


"Baiklah, saudari Monika, kami persilahkan untuk menceritakan kenapa anda sampai ada di sini sekarang."


"Terimakasih Denia, berkat anda saya punya kesempatan menunjukkan bakat menyanyi saya."


Denia membalas dengan pandangan sinis.


Kemudian dengan lantang, Monika menjelaskan kenapa dia sering tidak masuk kerja. Awalnya dia ditanggapi, lama kelamaan, suasana jadi ricuh. Lalu mereka melempari Monika dengan sesuatu yang mereka pegang, apa saja. Ada botol minuman, tisu dan lainnya.


Monika mundur dengan rasa marah dan malu, gara-gara Denia yang tak bisa menjaga mulutnya. Sekarang mereka tahu bahwa Monika adalah pelakor, perebut suami orang. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa lelaki yang dimaksud adalah Rio.


Senyum Rona mengembang, walau dia sempat tidak tahu bakat Monika. Setidaknya dia sudah berhasil mempermalukan gadis itu.


"Ini baru awal Monika, akan ada banyak kejutan lain, tunggu saja!" Bisik Rona yang terdengar dan disambut senang oleh Denia.


***


Setelah ini, tak mungkin Monika tetap bertahan. Semua orang sudah tahu, dan mereka membenci dirinya. Lila sekalipun, dia tak ingin lagi dekat-dekat dirinya, padahal dia yang pertama tahu kalau Monika berselingkuh dengan Rio.


Kalau Rona sudah turun tangan, sudah pasti semua orang akan mengikutinya. Tanpa Monika tahu, bahwa Denia telah mengumumkan, siapa saja yang dekat dengan Monika maka jangan harap akan terus bekerja di perusahaan.


Kalau orang sedang patah hati, apalagi dia punya kuasa, imbasnya ya ke semua orang. Rona bisa sabar saat Rio mengabaikan, tapi dia tidak terima saat gadis itu mencuri hati suaminya.


Rona tahu, tindakannya akan memancing amarah Rio, tapi tak ada jalan lain, gadis itu harus segera diberi pelajaran.


"Bagaimana Monika?"


Monika menatap Rona penuh kebencian.


"Karena kamu sudah mendapatkan hukuman, silahkan kembali bekerja dan jangan pernah coba-coba untuk mengulanginya lagi, ya?" Dengan santai, Rona mengatakannya.

__ADS_1


Menahan malu dan sakit, bisa sampai menguras tenaga, Monika tak beranjak. Ingin sekali dia menampar wanita malang itu dan pergi meninggalkan tempat ini selamanya. Tapi tidak, Monika akan memanfaatkan situasi ini untuk semakin membuat Rio bertekuk lutut padanya.


"Kenapa masih diam di situ?" Tanya Denia yang berlagak paling benar.


Monika hanya diam dan menatapnya penuh dendam. Dia akan membalas semuanya, tidak di sini, tapi nanti di luar sana. Dalam hati Monika tersenyum, mengobati luka hati sendiri.


Usai berpikir ulang, Monika meninggalkan ruangan lalu kembali ke meja kerja. Dia tidak bisa bekerja seperti biasa. Perasaanya bercampur aduk antara malu, menyesal, marah dan terhina.


Beberapa kali dia mengirimi Rio pesan tapi tak juga ditanggapi. Jika Rio benar-benar mencintai dan rela melakukan apa saja. Dia pasti akan sangat marah mendengar apa yang telah menimpa Monika.


Pada satu kesempatan ketika orang-orang sudah mulai meninggalkan meja kerja masing-masing. Monika menghampiri Lila. Dia harus tahu apa yang terjadi dibelakangnya.


"Lila, apa kamu gak kasian sama aku?" Tanya Monika sambil memegang pergelangan Lila.


Lila melepaskan lengannya perlahan, "maaf Mon, mulai sekarang kamu jangan dekati aku lagi."


"Tapi kenapa, La?"


"Pokonya hubungan pertemanan kita mulai saat ini putus. Hubungan kita hanya sekedar rekan kerja."


"La, tolong, kenapa begitu?"


"Sekali lagi aku minta maaf, Mon. Aku ngelakuin ini, karena aku gak mau kehilangan karir aku. Lebih baik aku kehilangan teman dari pada pekerjaan yang sudah aku perjuangkan beberapa tahun."


Monika menatap mata Lila lekat-lekat, dia ingin menemukan kejelasan dari mata Lila. Sepertinya Lila tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Monika yakin, hati Lila pasti masih menerima pertemanan mereka yang terjalin semenjak mereka bekerja di sini.


Lila berusaha agar mata mereka tidak bertemu. Baru kali ini dia mengacuhkan Monika. Dalam hati sebenarnya sudah tumbuh rasa sayang untuk Monika. Karena bagaimana pun, Monika merupakan teman terbaiknya. Tapi dia juga harus bisa memberi pelajaran, karena apa pun alasannya, merebut suami orang adalah salah!


"Aku pulang duluan." Lila beranjak tanpa menoleh ke arah Monika.


Monika meratapi kepergian Lila dengan penuh tanda tanya.


"Tunggu Lila, kita perlu bicara!"


Monika mengikuti Lila sampai parkiran. Saat Lila hendak mengendarai sepeda motornya, Monika mencegat.


"Lila, aku mohon, aku butuh teman saat ini. Teman yang paling aku percaya, teman dalam suka dan duka, teman satu hobi, teman tertawa dan teman--"


Tanpa peduli Lila tancap gas, meninggalkan Monika yang tengah dirundung masalah. Seketia tubuh Monika lemas, mengingat tak ada lagi tempat berbagi, padahal masalahnya sekarang sungguh berat. Dia pun roboh dan bertahan di atas lututnya yang sekarang mulai terasa keram.


***

__ADS_1


__ADS_2