SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 6


__ADS_3

Aku menunggu reaksi Dion saat meminum kopi buatan Amanda.


Diluar dugaan, ia menyukainya. Dion sudah sangat berubah, baiklah aku akan secepatnya pergi dari hidup dia.


Aku kembali ke dapur namun suara Dion terdengar memanggil namaku.


"Elisa!"


Aku menghampiri, dan berusaha kuat melihat ia duduk berdampingan dengan Amanda. Mungkin akan lebih baik jika aku membencinya.


"Jangan bilang ayah, kalau Amanda mulai hari ini tinggal di rumahku!"


Bagaimana bisa hal ini disembunyikan dari ayah, sedangkan istri mudanya ada disini.


Aku diam sambil menunggu perkataan Dion selanjutnya.


"Tidak diberi tahu juga ayah sudah tahu!" Tiba-tiba suara yang sangat aku kagumi itu bergema dirumah besar Dion.


Ayah, entah sejak kapan ayah disana.


Sontak kami semua melihat ke arah ayah. Dion nampak biasa saja tapi Tante terlihat sedikit risih.


"Ada apa lagi ini Dion?" Ayah menghampiri kami, langsung menghadap Dion yang masih santai disamping Amanda.


Pantas jika ia memperlakukanku dengan buruk, pada ayah saja dia bersikap tidak seperti seorang anak.


"Bukan urusan ayah." Datar Dion jawab sambil berdiri.


Plak!!!


Satu tamparan melayang ke pipi Dion.


Dion menunduk, dia tidak marah, dia sudah biasa menerima tamparan.


"Suruh Amanda pergi dari sini, atau--"


"Tidak bisa, aku mencintainya!"


Amanda merasa di awan. Dia tersenyum sinis padaku. Ingin sekali aku jambak rambutnya, tapi aku harus bisa mengendalikan emosi di depan ayah.


"Ini masalah rumah tanggaku, ayah tidak bisa ikut campur." Kata Dion datar.


Muka ayah merah padam, sekali lagi ia hendak menampar anaknya, atau lebih tepatnya akan menghajar anak yang dianggapnya tak tahu diri.


"Ayah!" Aku mencegah ayah melakukan lagi, entah dari mana datangnya, tapi aku berteriak begitu saja.


Ayah menghampiriku lalu bertanya, "Elisa, apa kamu masih mau bertahan?"

__ADS_1


Beberapa saat aku membisu, bingung dengan pertanyaan ayah. Jika aku ungkapkan bahwa aku ingin bercerai, dia pasti akan marah. Selama ini ayah selalu melindungi karena dianggapnya aku wanita tanggung yang berjuang sekuat tenaga demi kebahagian cucunya.


"Elisa?" Ayah mendesak.


"Untuk yang terakhir kali, aku akan coba bertahan yah." Jawaban ini keluar begitu saja dari mulutku.


Aku lirik Tante Mirna dan Amanda, mereka nampak kurang senang dengan keputusanku.


Kalaupun aku memilih keluar dari rumah ini, ayah akan bersikeras menyuruhku agar tetap disini.


"Baiklah, ayah tidak akan mengurusi urusan kalian, ayah percaya sama kamu Lis, ayah yakin wanita itu perlahan akan mundur." Kata-kata ayah membuat kedua wanita itu saling melempar pandang. Dion hanya diam, mungkin ia menyadari kesalahan apa yang telah ia lakukan.


"Selama urusan kalian belum selesai, Diana tinggal sama ayah, dan jangan pernah kalian mencoba membawa pulang selagi Amanda tinggal di rumah ini." Kemudian ayah pergi, Tante Mirna mengikuti langkah ayah menuju halaman depan. Setelahnya, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan.


Kini tinggal kami bertiga dalam satu ruangan. Hampir saja air mataku tumpah. Hati wanita mana yang tidak terluka saat melihat suami berdampingan dengan wanita lain di depan mata?


Dion sangat keterlaluan.


"Elisa, kenapa masih berdiri di situ, kemarilah, duduk bersama kami!" Ajaknya, jujur, Aku jijik melihat senyum Amanda yang merasa menang.


Aku tak memperdulikan ajakan Amanda, aku pandangi Dion, sekarang dia selalu menghindar. Matanya tak lagi menyorotkan cinta yang dulu pernah ia bangga-bangga.


Karena aku terlalu lama berdiri di hadapan mereka, selanjutnya mereka pergi lalu masuk ke dalam kamar tamu. Pandanganku mengikuti arah mereka, dan saat Amanda akan menutup pintu, ia tersenyum padaku.


Pantas kah dua orang yang bukan sepasang suami istri memasuki kamar? Aku mengikuti hingga sekarang tepat berada dibalik pintu, aku mencoba menangkap apa yang mereka bicarakan dan lakukan di sana.


Menunggu mereka atau, biarkan saja.


Aku putuskan pergi ke kamarku.


Aku menangis tersedu.


Tak percaya dengan apa yang terjadi dan selalu berharap ini akan segera berakhir. Ah, namun terbayang saat mereka berdua mengadu kasih, aku sangat sakit.


Aku haus dan ambil minum ke dapur yang berada di samping kamar tamu. Dari kamar itu, tidak terdengar suara apa pun. Kalaupun Dion tidur, dia biasa mendengkur.


Aku penasaran, dan rasa sakit ini mendorongku untuk membuktikan apa yang Amanda katakan. Aku sangat ingin tahu, sejauh mana hubungan mereka.


Ragu aku menyentuh kenop pintu, sebelum aku ayunkan, tarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Pelan-pelan aku buka pintu, mereka seperti tak ada di ranjang. Sampai aku membuka pintu sempurna, ternyata mereka sudah keluar dari kamar. Aku juga konyol sekali, kalaupun mereka melakukan, pasti pintunya dikunci.


Aku tutup kembali pintu perlahan, perasaanku sedikit lega tapi hampir saja jantungku melompat.


"Sedang apa kamu di sini?" Dion berdiri di belakangku tanpa Amanda.


"A-aku mau menawarkan mas makan siang." Jawabku sedikit gugup.


"Sekarang semua tugasmu, diambil alih oleh Amanda. Jadi kamu gak usah lagi mengurus semua keperluanku termasuk makanan dan minuman."

__ADS_1


Ada nyeri dalam dada yang tak terungkap.


"Mas, kenapa mas tega?" Tanyaku dengan mata yang mulai berbulir.


"Bukankah kamu ini wanita kuat?"


"Kekuatan aku sudah habis mas, aku minta sekarang juga kamu ceraikan aku!"


Kedua mata Dion malah melotot. Tak sekatapun yang ia ucapkan untuk mewakili bahwa ia telah menalak aku.


"Mas Dion, kenapa harus Amanda?" Berulang kali akan aku tanyakan hal ini karena sampai kapan pun juga aku tidak bisa menerima.


Dion malah terus memandangiku dengan tatapan yang tak dapat aku mengerti.


"Benarkah mas mau menikahinya?" Aku ingin kepastian, jika memang benar, aku tidak bisa tinggal diam.


"Elisa, masuklah ke kamar. Aku ingin berdua saja dengan Amanda!"


Perkataannya sudah di luar batas, sungguh tidak pantas dia mengabaikan aku demi wanita jalang.


Aku menoleh ke arah kanan, nampaknya Amanda di sana telah mendengar pembicaraan kami. Dia tertawa lirih, lalu berjalan mendekati Dion. Ia lingkarkan tangannya di lengan Dion.


Dion tak terlihat begitu senang tapi juga terlihat tidak membenci apa yang Amanda lakukan.


Apa mungkin mereka bersandiwara, tapi untuk apa? Amanda yang aku anggap teman terbaik, sampai sejauh ini dia menorehkan luka di hatiku.


"Amanda, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan?" Dengan tenang aku beranikan bertanya pada dia, mumpung kami sedang bertiga.


Amanda hanya tersenyum sinis.


"Silahkan kamu bersenang-senang. Aku yakin gak lama lagi, Dion akan membuangmu!" Mulai emosi. Sengaja agar amarah Amanda terpancing.


"Sayaaang..." Dia malah semakin menempel pada Dion.


"Elisa, cepat ke kamar!"


"Ingat Amanda, kamu tahu betul Dion itu seperti apa. Sekarang aku baru tahu bahwa kamu tak lebih dari seorang--"


"Diam!" Suara Dion begitu keras sampai membuat kami terkejut.


Sejahat-jahatnya Dion, dia tak pernah membentakku di depan siapapun, apa lagi ini di depan wanita simpanannya. Dia telah merendahkan aku. Sebagai suami dia sudah kehilangan tanggung jawab untuk melindungi istrinya.


Aku pergi ke kamar, di sini aku tumpahkan segala penyesalan. Aku menyesal telah menjadikan Amanda sebagai teman baik, seandainya kami tak pernah berhubungan baik, rasanya tak akan sesakit ini.


Aku bagai di penjara, pergi dari sini tak bisa. Bertahan terus di rumah rasanya mustahil.


***

__ADS_1


__ADS_2