SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 8


__ADS_3

Beberapa hari setelah ribut dengan Rani, Kak Wita ke rumah. Belum juga rasa perih hilang, kakak malah menceramahi aku.


"Kakak bilang apa, Kamu yang harus menghentikan semua. Kalau sudah gini, kamu juga yang sakit."


"Kakak tau dari mana?"


"Andri bilang kamu diserang orang asing, tapi kakak yakin, kamu berantem sama Rani, iya kan?"


Aku terdiam dan mencoba menahan emosi.


"Helen... Apa yang kamu lakukan itu salah. Berselingkuh dengan orang yang sudah beristri itu dosa."


"Kakak ke sini mau nengok aku atau--"


"Nengok kamu lah, ini kakak bawa buah naga kesukaan kamu!"


Kak Wita walaupun aku suka bersikap kurang baik, dia selalu perhatian. Aku tahu, maksud dia baik, tapi dia tidak merasakan apa yang aku rasa.


"Kamu udah jujur sama Andri?"


"Jujur apa?"


"Kalau kamu punya hubungan sama..."


Aku menggeleng.


"Dia gak mesti tau kak, lagian sekarang kami udah putus hubungan. Oya... Kak, apa ibu tau aku sakit?"


"Ya jelas tau. Hari itu Andri jemput Intan ke rumah ibu."


Ada rasa kecewa, ibu sampai sekarang belum menengok. Badan benar-benar sakit semua, aku butuh kehadiran ibu. Andri selalu disibukkan dengan pekerjaan. Sekarang malah tambah sibuk, waktu untuk menemaniku saja tak ada.


"Ibu juga kurang sehat, makanya belum nengokin kamu." Seperti bisa membaca pikiran, kakak baru beri tahu.


"Maafin aku waktu itu ya kak, sekarang aku baru sadar."


"Gak papa, syukur kalau kamu udah menyadari kesalahan kamu. Saran kakak, mending kamu jujur sama Andri, walau udah gak ada hubungan, takutnya nanti tau dari orang lain. Rani, menurut kakak, bisa aja kasih tau suami kamu."


Kak Wita benar, baiklah, aku akan mencari waktu yang pas untuk mengungkap semua pada Andri, semoga ia masih bisa menerimaku.


"Tapi kakak janji, gak bakalan kasih tau hal ini sama siapapun termasuk Kang Heri?"


"Iya kakak janji."


"Kamu juga janji gak bakal mengulanginya lagi, bisa?"


Sebenarnya, aku masih menginginkan Dimas. Dia sudah membuatku cinta mati, kalau aku lepaskan dia begitu saja, aku tak akan sanggup.


"Helen sayang, kamu gak akan mengulangi lagi kan?" Tanya Kak Wita lagi.

__ADS_1


"Iya kak, Helen janji!"


Kami berpelukan, dan aku merasakan persaudaraan yang hangat.


Akan tetapi, jauh dilubuk hati, aku belum bisa terima perlakuan Rani padaku, aku harus membalasnya.


***


Aku mencoba mendekati Andri ketika Intan sudah terlelap.


"Ayah, sekarang ayah jarang di rumah."


"Sibuk cari uang Bu."


"Iya, tapi aku juga butuh perhatian."


"Maafin ayah, semua demi Intan."


Andri memberiku sesuatu.


"Apa ini yah?"


"Hadiah untuk ibu, maksih karena dulu ibu udah mau hidup susah bareng ayah."


Tak apa Andri jarang di rumah, setidaknya dia sering aku kasih sesuatu.


Waw!!!


"Beneran buat ibu yah?"


"Iya dong, buat siapa lagi?"


"Pakein yah!"


"Pake sendiri aja sambil ngaca, gih. Ayah ada urusan dulu bentar. Besok kita makan di luar, oke!"


Andri pergi begitu saja. Dia memang bukan pria romantis.


Meskipun aku nampak manyun karena cari perhatian, rupanya Andri lebih peduli pada pekerjaan. Aku rindu Andri yang dulu, yang selalu memeluk dalam setiap suasana.


***


Pertama kali Andri mengajak kami makan diluar sejak ia kerja dengan Pak Irwan. Dia membawa aku dan Intan makan di Restaurant ternama.


"Ibu mau pesan apa?"


"Terserah ayah." Jawabku datar, mimpiku dulu jadi kenyataan, tak pernah berpikir Andri akan membawaku ke sini.


"Intan mau ayam bakar aja yah..."

__ADS_1


Aku menoleh ke arah anak gadisku yang kegirangan. Dia menunjuk menu-menu yang dia inginkan di buku selain ayam bakar.


Suamiku memesan makanan beserta minuman, saat makanan yang enak-enak itu tersaji di meja makan, aku merasa ada sesuatu hal. Ketika aku menyantap makanan itu, hatiku merasa tidak enak. Aku merasa akan terjadi hal buruk lagi.


"Ibu. Ayo makan!" Intan begitu bersemangat.


"Iya Bu, ko kaya yang gak nafsu makan sih?" Tanya Andri.


"Gak papa ko yah, ibu cuman kaget dan terharu. Akhirnya kita bertiga bisa makan enak."


Andri tersenyum, aku bahagia. Hidup kami akan berubah seperti dulu, dimana tidak akan mengalami kekurangan lagi, mudah-mudahan.


"Sudah ini ibu mau kemana?"


"Maksud ayah?"


"Ke mall, atau taman?"


"Pulang aja deh." Aku mesem-mesem.


"Ibu gak percaya, ayah serius lho?"


"Iya, biasanya juga sibuk."


"Selama kita nikah, ayah sadar belum bisa bahagiakan ibu, makanya sekarang ayah pengen bahagiain ibu sebelum--" tiba-tiba kalimatnya terhenti.


"Sebelum apa yah?"


"Hmmm sebelum ayah kembali sibuk."


Senang sekali, seharian ini kami menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan, shoping, nongkrong sambil jajan. Terimakasih Andri, semoga aku tidak keliru memilih waktu untuk berterus terang bahwa aku pernah berselingkuh.


Sesampainya di rumah, kami menonton tv bersama sampai Intan tertidur. Saking asyiknya jalan-jalan, kami lupa waktu dan pulang ketika hari sudah gelap.


"Ayah, mobil yang kita pake tadi, mobil siapa?"


"Mobil ayah."


"Serius?"


Aku pandangi wajah suamiku yang nampak sudah berkata jujur.


"Dari mana, ayah dapat uang sebesar itu?"


Andri menguap, "ayah ngantuk banget, nanti lagi ya ceritanya."


Sebenarnya malam ini aku ingin bicara, tapi Andri terlihat begitu lelah. Benarkah, mobil ini miliknya? Yang berarti milikku juga?


Ah, aku bahagia sekali, tapi menatapi baju-baju dan barang lain yang Andri berikan, malah hambar. Hati aku tetap merasa tidak baik, seperti sebuah firasat.

__ADS_1


Aku coba memejamkan mata, tapi tak bisa-bisa. Seharusnya mendapatkan ini semua aku bahagia tanpa merasa hampa.


***


__ADS_2