
Jika kau sudah tak menginginkanku, mengapa tak jua kau lepaskan aku?
Dion, walau hari ini aku ingin lepas darimu, hatiku yang lain berharap kami bisa kembali seperti dulu. Dion yang menyayangi dan melindungi ku.
Hari yang menyesakkan, dalam satu ruangan kami berkumpul dan aku sangat ingin lari dari kenyataan. Amanda yang terlihat sangat bahagia karena Dion yang akan menikahinya, aku sendiri, sangat muak melihat mereka berdua. Aku selalu berharap ini hanyalah mimpi buruk. Tapi, apa yang terjadi hari ini sudah cukup menyadarkan aku, aku tak berarti apa-apa untuk Dion.
"Mas, untuk apa wanita ini kamu bawa kesini?" Tanyaku lembut.
"Mulai hari ini, Amanda akan tinggal di sini!"
Aku terbelalak tak percaya, apa maksud Dion. Aku mau ditempatkan dengan selingkuhannya. Atau memang benar yang dikatakan Amanda, mereka akan menikah? Aku tidak akan sudi diduakan. Lebih baik sekarang juga kami bercerai!
"Jangan bercanda, mas!"
"Aku serius Elisa. Kamu sendiri bukan yang meminta Amanda tinggal di sini?"
"Aku?" Tak mengerti kenapa malah aku yang disudutkan.
"Iya! kamu datang ke apartemen Amanda dan memintanya untuk tinggal bersama kita. Benar kan?"
Wah, sandiwara macam apa ini. Alasan Dion agar bisa dengan mudah menikahi Amanda, atau wanita tak tahu diri itu yang berbohong.
Aku menoleh ke arah Amanda yang kini tengah berdekatan dengan Tante Mirna. Oh jadi mereka bersekongkol, kalau sejak awal aku tahu, tidak akan pernah aku hiraukan kehadirannya.
Mereka nampaknya sedang menertawakanku, Tante Mirna menutup mulut dengan telapak tangan, seolah ingin tertawa lepas.
Aku tak mau lebih jauh berdebat dengan Dion. Omong kosong macam apa ini? baiknya aku pergi dari rumah ini, keadaan di sini membuatku sesak.
"Elisa! segera siapkan kamar untuk Amanda, sebelum aku memutuskan dia tidur di kamarku!" Perintah Dion, ia lupa bahwa aku masih istrinya, bukan pembantu.
Tanpa menjawab, aku pergi ke kamar lalu mengemasi beberapa potong pakaian. Sebenarnya aku enggan membawa pemberian Dion, tapi untuk jaga-jaga, semua perhiasan aku masukan ransel.
"Mau kemana?" Dion bertanya sambil mencegat depan pintu.
Aku lihat Tante dan Amanda masih di sana, asyik membicarakan sesuatu.
"Aku mau pergi!" Biar setelah ini aku jemput dulu Diana di rumah ayah.
"Gak bisa. Kamu harus tetap disini!"
__ADS_1
"Untuk apa, aku sudah gak dianggap. Bukankah kamu sudah ada yang baru?" Mataku terasa perih tapi kali ini aku tak ingin perlihatkan wajah sedih pada Dion. Aku tak mengerti, mau Dion apa. Sekarang aku benar-benar menyerah dia malah mencegahku.
"Jangan pergi!"
"Sudah cukup Dion!" Terlalu sakit apa yang dia berikan. Terlalu rumit hidupku hanya untuk mempertahankan cinta.
Aku tak menghiraukan dia, tapi dia malah mengejarku.
"Tetap disini, atau kamu gak akan pernah lagi bertemu Diana?"
Aku menatapnya dalam-dalam berharap balasan tatapan yang seperti dulu namun nyatanya ia memalingkan wajahnya.
Dia mengancamku tapi aku tidak akan membiarkan dia terus menyakiti.
"Dion, apa kamu masih menginginkan aku?" Kataku dengan nada rendah, aku beranikan diri menanyakan agar aku bisa tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.
Dion bergeming.
Aku paksa ia menatap mataku, aku bisa merasakan ada hal lain dimatanya.
"Dion, apa kamu masih menginginkan aku?" Tanyaku ulang. Aku ingin kepastian, jika dia sudah tak menginginkanku, apa sulitnya melepaskan.
"Nanti akan aku jawab, sekarang kamu harus kembali!"
Tante dan Amanda menatapku nanar, mungkin mereka harap aku benar-benar angkat kaki dari rumah Dion.
Dion duduk di sofa, Amanda dengan manja duduk disamping sambil mengusap-usal lengan Dion. Menjijikan!
"Sayang, kenapa kamu gak biarkan Elisa pergi?" Tanya Amanda jelas terdengar olehku yang masih berdiri melihat aksi mereka yang membuatku mual.
"Amanda, nanti ayah bakalan usir aku juga kalau dia pergi."
Amanda menatapku dan Dion bergiliran, ia memasang wajah heran tapi tak lama sepertinya ia mengerti.
Jadi Dion mempertahankan aku hanya karena ayah menyayangiku, dia takut semua fasilitasnya dicabut jika dia berani mengusirku.
Ayah mertuaku memang menganggapku seperti anaknya, tapi masalah perselingkuhan, beliau hanya bisa menegur, tidak bisa bertindak lebih jauh.
"Elisa, cepat buatkan kami minum dan camilan!" Berani sekali Amanda memerintahku.
__ADS_1
"Bukankah mulai sekarang kamu tinggal disini? kamu bisa bikin minum dan makanan sesukamu!" Hardikku.
"Sayaaang." Dengan wajah memelas, ia menandakan aduan pada Dion.
Dion melihatku tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Mami, bisakah mami buatkan minum untuk kami?" Dion malah meminta Tante Mirna untuk melayaninya. Ada apa ini, kenapa Dion tidak membentak ku.
"Apa?" Tanya tante, heran.
"Mulai sekarang aku gak mau makanan dan minuman yang dibuat Elisa." Dion memeluk Amanda, sekuat hati istri ketika melihat suami memeluk wanita lain, aku yakin dia pasti ingin menangis.
"Ta-tapi Dion, masa mami yang buatkan untuk kalian? mana bibi, biar mami suruh bibi yang buatkan."
"Bibi lagi cuti, Tante." Kataku sambil tersenyum melihat mukanya yang ingin marah namun ditahan.
"Kalau gitu, kamu saja Amanda. Cepat buatkan kami minum!"
Terlihat Amanda yang kesal namun Dion tidak membela. Akhirnya dia pergi menuju dapur, aku mengikutinya, aku sempat melihat Tante Mirna yang memasang wajah kesal, sedangkan Dion sibuk dengan ponsel.
***
"Amanda, apa kamu tidak tahu kalau Dion suka kopi tanpa gula?"
Dia menoleh, lalu kembali mengaduk kopi dengan banyak gula. Aku menahan mulutku karena tak kuat menahan tawa.
"Sejauh mana kalian berhubungan?" Tanyaku yang membiarkan ia sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu?" Menoleh sebentar, lalu kembali menyiapkan minuman dan makanan. Aku lupa kalau dulu ia merupakan ibu rumah tangga yang baik dan telaten. Pintar masak, dan rela mengerjakan segala pekerjaan rumah.
"Tentu saja. Aku ingin tahu apa Dion benar-benar mencintaimu atau hanya sekedar ingin mencoba dan tak lama kalau dia bosan, dia akan membuang kamu!"
"Elisa!" Amanda tampak geram.
Biar saja, dia sadar kalau di itu siapa. Dia hanya selingkuhan Dion. Kalau Dion sungguh ingin menikahinya, dia harus menceraikan aku terlebih dulu.
"Elisa, apa kamu tahu, saat Dion berada di apartemenku? Kami melakukannya setiap hari, dia sangat menyukaimu. Aku yakin, kali ini yang akan Dion buang itu kamu." Setengah berbisik tapi aku benci mendengarnya.
Amanda pergi ke depan, sambil membawa nampan berisi minum dan camilan.
__ADS_1
Aku disini, meratapi nasib sendiri. Membayangkan suami sendiri, bercinta dengan wanita lain, apalagi sudah terlalu lama Dion tidak menyentuhku. Bukankah salah satu kewajiban suami adalah memberi nafkah batin?
Apa aku dan Dion masih pantas dibilang suami-istri? sedangkan hubungan kami sudah putus sejak lama, tak pernah ada kata-kata mesra. Jangankan untuk merayu, Dion nampaknya sudah tak nyaman di dekatku.