SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 6


__ADS_3

Belum sempat menemui Nola, di jalan aku bertemu Fiki, teman sekolah dulu. Aku baru tahu kalau dia sudah bercerai dengan Dian sejak setahun yang lalu. Kami sama-sama membutuhkan teman ngobrol, jadi aku tidak menolak ketika ia mengajakku makan siomay dipinggiran jalan.


Penampilannya sangat berbeda, sekarang dia nampak lebih rapih. Tapi sifatnya tidak berubah, meskipun dia datang dengan menggunakan mobil, dia tak malu makan dipinggir jalan begini.


"Pernikahan kamu sendiri gimana?"


"Aku sedang menemui masalah, itulah kenapa aku berniat menemui Nola. Tadinya aku ingin berbagi cerita dengannya."


"Sekarang 'kan udah ada aku, cerita aja sama aku!"


"Gak ah, aku gak percaya sama kamu."


Tak sengaja mata kami bertemu, tiba-tiba jantung berdegup kencang. Dari tadi aku merasa bahwa Fiki selalu curi-curi pandang.


"Ngapain sih kamu liatin aku terus dari tadi?" Sedikit bergurau, aku beranikan diri bertanya.


"Kamu tambah cantik aja, Yu."


Dibilang gitu aku serasa melayang. Diingat-ingat, Riswan saja tak pernah mengatakannya.


"Kamu juga tambah keren." Tak mau kalah, aku pun puji balik.


"Bisa aja kamu." Dia tersipu, aih ... aku kira laki-laki tak suka pujian.


"Dian pasti nyesel udah ninggalin kamu."


"Gitu ya?"


"Kalo aku jadi Dian, aku gak bakal berpaling, aku tahu betul, dari dulu kamu orangnya baik."


"Baik kalau gak berduit, percuma. Cewek jaman sekarang lebih milih cowok berduit."


Deg


Merasa tersindir, lantas aku tertawa saja.


"Apa yang lucu?"


"Lucu banget, kata-kata kamu itu emang fakta sih."


"Termasuk kamu, iya?" Yang ini tidak lucu.


"Aku?" Menunjuk diriku sendiri.


"Ngaku deh!"

__ADS_1


"Aku, iya sih sama. Kalau suami lagi ada duit, aku baikkin. Kalau gak ada duit yaaa cemberutin!"


Tawa kami meledak, kami tertawa bersama, serasa tak punya masalah. Tak sadar tangan Fiki mengusap-usap pahaku. Aku mendelik, merasa ada yang bergetar tak biasa.


"Eh, maaf!" Dia baru sadar setelah aku menarik sedikit kakiku ke dalam.


"Gak papa."


Hening.


Kami saling membisu, sesekali saling menatap penuh arti. Dulu waktu sekolah kami sempat dekat, tapi tidak sampai pacaran. Setelah lulus kami putus kontak, dan tahu-tahu dia menikah dengan Dian, teman sebangku aku waktu dulu.


Dunia memang sempit, Dian berjodoh dengan Fiki tapi tidak lama. Sekarang saat aku butuh seseorang untuk berbagi masalah, dia tiba-tiba hadir membawa status duda.


Aku ragu berbagi masalah rumah tangga dengan Fiki, tapi mungkin juga dia adalah orang yang tepat.


Setelah hampir dua jam kami mengobrol, obrolan sekitar jaman sekolah dulu dan pekerjaannya. Akhirnya Fiki pamit pulang, katanya dia mau mengurus orang yang mau beli tanah menggunakan jasanya jadi perantara. Wah, berarti sekarang Fiki merupakan makelar tanah. Bisa aku bayangkan, berapa penghasilan yang dia dapat.


Saat dia pamit aku merasa berat untuk ditinggal. Bersamanya aku merasa nyaman, selain kami sudah saling mengenal sejak lama, dia tidak berubah dan masih suka bercanda. Humoris adalah kesan pertama yang orang tangkap saat pertama kali mengenalnya.


Dia sempat bercerita, alasan dia menceraikan Dian adalah karena Dian sering membantah, terakhir Dian ketahuan selingkuh dengan pemilik restoran ternama di kota kami.


Dari sisi seorang yang tersakiti, aku merasa kasihan pada Fiki. Dian tidak tahu diri, padahal selain baik, Fiki itu jujur, waktu sekolah saja dia paling anti nyontek-menyontek. Tidak seperti Riswan yang bisanya menyembunyikan sesuatu dariku. Tak sadar kini aku membandingkan Fiki dengan Riswan. Tidak! Ini tidak benar.


"Kenapa?" Fiki berbalik, duduk kembali disamping.


Tak disangka dia memperhatikan, aku harap dia bisa membaca pikiranku yang masih ingin bersama.


"Kenapa kamu gak cegah aku biar gak pergi?"


"Hah? Apa? Ma-maksud kamu?"


"Udah, kalau mau cerita, cerita aja. Yuk, ikut aku!" Dia menarik tanganku, lalu mendorongku memasuki mobilnya.


Kami duduk bersebelahan, dia mengunci pintu mobil serta menutup rapat kacanya.


"Jangan lupa pakai sabuk pengaman ya, walau kita pergi gak terlalu jauh!"


Aku membiarkan saat dia memakaikan sabuk yang kini terpasang hingga melewati dada.


Melihat tangannya aku jadi malu, suamiku sendiri tak pernah memasangkan sabuk apa lagi membawaku menaiki mobil mewah seperti ini, sekalipun dia pinjam, sangat tidak mungkin. Semenjak menikah aku hanya diperkenankan tinggal di rumah, kalaupun jalan-jalan kami hanya menaiki motor.


"Kita mau kemana?"


"Suatu tempat!" Senyum Fiki mengembang, membuat dadaku naik turun tak beraturan. Aku berusaha tenang karena perasaanku sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Bukannya kamu ada urusan?"


"Sekalian saja, kapan lagi kita ketemu, iya 'kan?"


"Sekalian apa?"


"Aku mengurus orang yang mau beli tanah sekaligus ngurus orang yang mau curhat!" Sebelah matanya mengedip genit.


Posisiku benar-benar diluar kendali. Antara menolak dan menerima tawarannya.


"Sebentar deh, tempatnya jauh gak? Soalnya aku keluar gak bilang suami dulu."


"Di hotel dekat sini ko."


"Hotel?"


"Iya, hotel U yang di bundaran itu!"


"Ah! Kayaknya aku gak ikut deh, lain kali aja kita ngobrol lagi. Aku kasih nomor nih!" Cepat-cepat aku scrol kontak di ponsel. Mencari namaku dan langsung ku sodorkan pada Fiki.


"Santai aja lagi, Yu. Kebetulan orangnya lagi ada di hotel, bukannya aku ngajak kamu ke hotel!" Dia menepuk bahuku.


Aku melihatnya dengan sembari menelan saliva. Dia tahu pikiranku, atau aku yang terlalu polos.


"Kamu masih sama kayak dulu ya, lucu!"


Lagi-lagi mata kami bertemu, dia memandangiku sembari tersenyum lebar, entah mengapa mataku turun dan berhenti di lehernya yang memperlihatkan jakun, nampak seksi dan pikiranku hampir melayang.


"Lucu apanya. Tolong buka, aku mau turun!"


"Tuh 'kan, kamu itu ngegemesin!" Dia mencolek hidungku yang mancung ke dalam.


Perasaan ini, diam saja menerima sikap Fiki yang tidak sopan. Apa dia tidak sadar kalau aku ini istri orang?


"Eh, maaf." Melihatku tak berekspresi, dia berhenti menggoda. Tangannya turun bersamaan kaki yang menginjak gas.


Mobil melaju dan aku mulai gelisah, kenapa dia tidak membiarkan aku turun. Atau dia nekat akan melakukan sesuatu.


"Tenang, Ayu, nanti kamu bisa tunggu di mobil, dan kita akan mencari tempat yang nyaman dan aman agar bisa bicara dari hati ke hati."


Membisu, sepanjang perjalanan aku merasa bersalah pada Riswan. Tapi jika ingat dia telah berbohong dan tidak pernah berterus terang soal pekerjaan, aku merasa puas bisa bertemu dengan Fiki.


'Sekarang kita impas mas, kamu berani berbohong, kini aku pun pergi dengan seseorang tanpa seijin kamu!' Dalam hati aku begitu senang, bisa membalas kekesalan hati.


Mungkin ini juga yang dilakukan Riswan dan mba Mirna, pergi bersama ke suatu tempat tanpa ada yang tahu. Aku masih belum tahu pasti apa mereka ada hubungan atau tidak. Dari itu aku akan meminta bantuan Fiki untuk menguak segalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2