
Mba Mirna meminta agar aku menemuinya. Namun, aku menolak dengan alasan kurang enak badan. Tak menyangka, dia berkunjung ke kontrakan, menggandeng seseorang yang baru aku tahu dia itu Presdir. Dalam bayangan, dia itu lelaki tua, jelek, dan genit. Nyatanya dia itu laki tampan dan memesona, serta usianya masih terbilang muda, mba Mirna sungguh beruntung.
Kedatangan mba Mirna semakin membuatku menyesal telah berbuat sesuatu yang tidak layak dengan Fiki. Sudah seminggu aku tidak menghiraukannya. Beberapa kali dia menghubungi, tapi aku berusaha agar dia berhenti mengganggu. Sampai satu titik, dalam pesan yang dia kirim, dia mengancam akan memberi tahu segalanya pada Riswan jika aku terus menghindar.
Dengan terpaksa, aku memenuhi permintaan Fiki, aku menemuinya di halaman sekolah. Lalu dia langsung membawaku ke suatu tempat yang jauh. Baguslah, jadi Riswan tidak akan menemukan kami.
"Kenapa kamu menyiksa aku selama seminggu ini?"
Fiki meraih tanganku kemudian dia tempelkan ke dada.
Aku tarik perlahan, tatapannya berubah liar.
"Ada apa Ayu?"
"Fi-Fik-Fiki, aku ingin berpisah."
Dia menatapku begitu dalam, kedua tangannya mencengkram kedua pundakku, kencang. Aku meringis kesakitan, lalu dia melepas sembari tersenyum.
"Kamu lagi bercanda 'kan?"
Tiba-tiba aku merasa takut, ingat dengan perkataan Diam yang menyatakan bahwa Fiki adalah orang yang aneh. Kadang baik, kadang juga jahat. Tanganku bergetar, di tempat sepi begini, dia pasti akan melakukan apa saja.
Walau dalam keadaan takut, aku tidak akan menarik kata-kataku. Aku harus mempertahankan pernikahan dengan Riswan. Dia cinta pertamaku dan apa pun yang terjadi aku tidak akan pergi darinya.
Dalam sekejap, aku menyesal telah jatuh dalam pelukan Fiki. Aku kira dia masih seperti dulu, lelaki manis, humoris dan friendly.
Aku menggeleng perlahan, saat akan mengeluarkan kalimat, bibirku terasa berat.
"Ayu, kita baru saja memulai, masa kamu mau mengakhiri?"
Aku harap, aksi diam bisa meyakinkan Fiki bahwa aku serius.
Fiki mendekat, mengecup bibirku dan aku tak berdaya. Tubuhku lemas dan pikiranku kacau. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mendorong dia, sontak Fiki malah semakin jadi memainkan bibirnya.
"Ayu, kalau kamu tetap ingin bersama Riswan gak masalah. Asalkan setiap Minggu kamu bisa melayaniku!"
Brengsek!
Kalau sudah begini, cinta bukan lagi alasan. Fiki itu bajingan. Dia memanfaatkan kesedihanku untuk memuaskan nafsunya.
Meragukan cintanya padaku, kini sudah terlambat. Aku sudah terlanjur menyerahkan tubuhku padanya.
"Tolong lepaskan aku ...." Menurunkan ego dan memohon agar dia melupakan aku.
"Gak bisa! Dari dulu aku sangat menginginkanmu, dan sekarang gak akan aku lepaskan!"
"Kalau kamu beneran cinta sama aku, tolong biarkan aku mempertahankan rumah tanggaku."
"Ayu ... tentu saja aku sangat mencintaimu. Andai dulu aku berani mengungkapkan, kamu gak akan dimiliki orang lain. Menikahlah denganku, atau kalau gak, jadi simpanan mu aku gak masalah."
"Kamu gila, Fiki."
"Iya, aku memang sudah gila! Kamu yang bikin aku jadi gila!"
Kilatan mata penuh amarah terpancar dari kedua bola matanya. Aku bergetar, ketakutan dan baru kali ini aku merasa terancam. Kenyamanan beberapa bulan lalu yang kami lewati seperti mimpi indah yang berakhir dengan kengerian.
"Fiki, maafkan aku. Aku mau kita--"
__ADS_1
"Hentikan! Apa kamu lupa, aku telah membayar mahal tubuhmu! melunasi hutang-hutang serta memberimu banyak kesenangan?"
Mukaku terasa panas. Dia menghinaku, jadi dia berpikir selama ini aku tak lebih dari seorang pelacur. Sakit hati ini, dia menganggap bahwa aku telah menjual tubuhku demi uang.
Sesungguhnya, aku melakukannya tanpa sadar. Semua berawal dari rasa kesal terhadap Riswan. Pikiranku waktu itu amat dangkal, hanya membayangkan jika Riswan berselingkuh.
Fiki sendiri yang selalu memanas-manasi dan meyakinkan bahwa Riswan dan mba Mirna ada hubungan.
Aku menahan rasa sakit akibat hinaan yang dia lontarkan. Apa pun yang dia katakan akan aku terima. Asalkan hubungan ini bisa berakhir.
Setelah ini, aku akan mengungkapkan segalanya pada Riswan, jika dia tidak bisa menerima, aku pasrah saja.
"Ayu, maafkan aku, aku gak maksud bikin kamu sakit. Tapi aku hanya ingin kita tetap bersama."
Dia memang gila, kadang lembut kadang kasar.
"Aku gak bisa, Fiki."
"Baiklah, kalau gitu aku akan maksa. Sekarang juga aku bilang ke suamimu!"
"Jangan! Aku mohon jangan ...."
Aku menangis tersedu.
Dia sisir rambutku dengan jarinya. Mengendus-endus seperti srigala. Kemudian dia merangkul sambil menyapu tubuhku dengan sentuhan kasar.
"Mau apa kamu?"
"Membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu!"
"Enggak! Lapaskan!" Aku berusaha melarikan diri.
"Riswaaan!!!" Hanya dia yang aku ingat dan aku tak bisa lagi melawan. Berharap sesuatu terjadi dan segera menghentikan aksi bejad Fiki.
"Bukkk!!!"
Tiba-tiba satu pukulan sangat keras mendarat di sebelah wajah Fiki.
Ketika Fiki mengoyak-ngoyak pakaianku, saat itu lah seseorang menolongku. Dia menghajar Fiki tanpa ampun, dari sini aku baru tahu kalau Riswan menguasai bela diri.
"Laki-laki kurang ajar!" Teriak Riswan lalu melayangkan pukulan tepat di dada Fiki.
Fiki roboh, dia berusaha bangkit, lalu tanpa berkata apapun dia pergi dengan langkah tertatih.
"Ayah!" Ku panggil suami dengan suara lirih.
Aku nyaris pingsan saat Riswan membopong tubuhku, kemudian dia menidurkan aku di dalam mobil. Air mataku tak berhenti mengalir, sampai aku terpejam dan terlelap.
***
Saat aku terbangun, aku sudah ada dikamar kontrakan. Riswan tengah duduk sambil memandangiku.
"Kamu sudah bangun?" Memberi segelas air.
Aku mengangguk, meminum air itu sampai habis.
Walau tertidur cukup lama, aku ingat semua yang aku alami. Di hadapan Riswan aku sangat malu. Jika di suruh memilih, aku akan pilih untuk tidak menampakkan diri. Riswan datang menolong, bukan karena ketidak sengajaan, melainkan dia pasti sudah tahu semuanya.
__ADS_1
Seperti biasa, Riswan sibuk dengan ponsel. Dia begitu enggan melihatku. Aku ingin bicara, namun, Riswan nampaknya sudah membenciku.
"Mas, maafkan aku!"
Dia terdiam, menunduk dan seolah tak mendengar apa yang aku katakan.
"Mas?" Aku sentuh tangannya yang sedang asyik memainkan ponsel.
Barulah dia menoleh.
"Mas, aku minta maaf. Mas pasti sudah tau segalanya, iya 'kan?"
Dia meletakkan ponsel diatas kasur. Kemudian mengantar tanganku ke atas perut. Dia memandang, tapi tak juga bersuara.
"Mas, jangan diamkan aku." Menahan malu.
Riswan berdiri, mengatur napas, dan aku tidak tahu, apa setelah ini dia masih mau menerimaku.
"Mas?!" Aku mengeraskan suara.
Dia kembali duduk di samping, aku melihat ada butiran bening di ujung mata yang hampir saja timbul keluar.
"Aku udah maafin kamu, Ayu."
Kebimbangan dalam hati seketika hilang, senyumku mengembang bersamaan air mata penyesalan.
"Tapi aku gak bisa terus bersama kamu."
Mencoba memahami perkataannya, dan aku tahu, jika dia ingin meninggalkan aku, ini sudah menjadi konsekuensi bagi seorang pengkhianat.
"Mas, tolong beri aku kesempatan. Bilang, kamu masih menyayangi aku!"
"Aku mengaku salah atas ketidak jujuran ku, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak sedemikian jauh. Apalagi sampai melakukan hal yang menjijikan!"
"Aku dan Fiki, menjalin hubungan hanya sekedar chat, Mas."
"Aku gak yakin. Berapa kali kamu tidur dengannya?"
"Mas, kalau aku tidur dengan dia, waktu kemarin dia akan melakukannya, tentu aku gak akan menolak."
Aku terus mengelak, karena aku pikir Riswan hanya tahu aku selingkuh.
"Aku gak akan menceraikan kamu, Ayu."
Saat aku menangis, dia mendekap. Aku senang karena dia memberi kesempatan, dalam hati aku berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama.
"Tapi, kita akan hidup terpisah. Aku sudah memutuskan untuk kembali tinggal bersama mamah. Kamu atur hidupmu sendiri."
Aku terkejut.
"Secara negara aku belum menceraikan kamu, tapi secara lisan, detik ini juga aku menalak kamu. Beristirahatlah, jangan pernah menemui aku sampai aku yang memintanya."
Mulutku menganga, tak percaya dengan yang aku dapatkan.
Riswan pergi, aku sendiri meratapi apa yang sudah aku lakukan. Jika aku pun kembali pada ibu, apakah dia akan menerimaku? Jika ibu tahu anaknya hina begini, apakah dia masih menyayangiku?
Aku tak pernah berpikir bahwa akhir rumah tanggaku akan menggantung, kesalahan yang kuperbuat akibat kecerobohan adalah hal paling menyedihkan di sepanjang sejarah perjalanan hidupku.
__ADS_1
SELESAI
Pelajaran yang di dapat, hubungan suami-istri yang paling penting adalah komunikasi. Sekalipun memendam kecurigaan, tidak ada yang pantas kita tanya selain yang bersangkutan.