
Kenapa setelah semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi, hati tak juga merasa bahagia. Aku bukan tak bersyukur, tapi sikap Andri membuatku heran dan curiga. Sebenarnya apa yang terjadi?
Jika harus memilih, aku lebih baik Andri yang dulu, walau nganggur tapi tak pernah mengabaikan aku.
Dimas tak pernah mengabari lagi, dan aku tidak tahu apa dia bercerai dengan Rani atau tidak. Mendadak aku tersenyum meraba-raba kalau mereka bercerai. Tidak! Justru mereka jangan sampai bercerai, karena aku tak mau perceraian Mereka menjadi penyebab keretakan rumah tanggaku.
Aku harus mencari tahu, apa yang terjadi pada Dimas dan Rani. Andri sementara akan aku biarkan, mungkin ia mulai jenuh dengan kehadiranku. Aku akan memberinya waktu agar merindukanku dan jatuh kembali dalam pelukan.
Selama sebulan, aku dan Andri tidak melakukan kewajiban. Padahal aku sering menggoda, tapi Andri tak menghiraukan. Andri selalu menghindar, aku rasa ia sedang menjauhiku.
***
Niatku pergi ke rumah ibu, tapi diperjalanan aku mendapatkan hal diluar dugaan. Saat aku melewati sekelompok ibu-ibu yang sedang kumpul diteras salah satu rumah warga, aku ko merasa mereka sedang membicarakan aku. Kasak-kusuk mereka tidak terdengar tapi dari cara memandang sepertinya aku yang jadi bahan bicaraan.
"Emang udah gak punya malu tuh orang!" Terdengar salah satu ibu bicara dengan lantang.
"Udah punya suami, masih godain suami orang!" Ibu yang lain menimpali.
"Gak nyangka, di daerah kita ada pelakor gitu."
"Ngeri ya ibu-ibu?"
Lalu semua ibu bergidik sambil mencuri pandang padaku.
"Ayooo mending kita pada pulang, liat suami kita, jangan sampai digoda sama Helen!" Bisik-bisik tapi begitu jelas aku menangkap namaku disebut. Tak tahu sengaja atau keceplosan.
Aku tarik nafas dalam-dalam, segera aku hampiri ibu-ibu yang mulutnya bagaikan ember belah.
"Ibu-ibu lagi ngomongin saya?" Tanyaku geram.
"Ya elah, kalau iya emang kenapa?" Seorang ibu yang ditaksir seumuran ku, maju lalu bicara nyolot.
"Jadi dari tadi kalian ngata-ngatain saya?" Tanyaku lagi, sedikit berteriak.
"Jadi benar ya, kamu ada main sama suami orang?" Ibu muda yang tidak begitu aku kenal, balik tanya.
"Benar atau gak, bukan urusan kalian! Saya cuman gak suka nama saya disebut-sebut!"
"Memangnya yang nama Helen cuman kamu doang?" Ada seorang ibu yang sewot, atau bisa jadi ia takut suaminya aku goda.
"Siapa yang bilang saya pelakor, mana buktinya? Hah!"
Mereka saling berpandangan, aku yakin mereka hanya mendengar berita tanpa tahu pasti kejadian sebenarnya.
Aku mengurungkan niat dan kembali ke rumah. Bagaimana ibu-ibu disekitaran rumah ibu mengetahui hal ini. Apa mungkin ibu juga sudah tahu? Aku tidak terpikir sejauh ini, mereka yang tidak aku kenal baik, menggunjing di depanku. Ada beberapa ibu yang aku kenal, tapi tidak begitu dekat.
Sampai di jalan, aku berpapasan denga Ibu Risna, teman baik ibu.
"Helen?"
__ADS_1
Aku senyum, walau mata sudah berkaca. Sekuat tenaga aku tahan agar tidak menangis di jalan. Ibu-ibu itu tak tahu apa-apa, tapi mereka tega membicarakan aku di depan mata.
"Bu Risna, dari mana?"
"Dari rumah Wiwid, kamu sendiri dari rumah ibu?"
"Tadinya sih saya niat ke rumah ibu, tapi dijalan saya dapat kejadian menjengkelkan. Sekarang saya mau pulang."
"Lho, ko bisa gitu, mau saya antar?"
"Gak usah bu, lagian saya belum masak untuk suami."
"Kejadian apa kalau saya boleh tau?"
"Hmmm..." Awalnya aku ragu menceritakannya, tapi aku juga ingin tau, kabar apa yang sudah beredar di sana.
"Cerita aja, atau kita ke rumah ibu aja, gimana?"
Kalau aku ke rumah Bu Risna, urusannya nanti panjang.
"Enggak Bu, makasih. Tadi di rumah tetangga Bu Yuyun, ibu-ibu lagi pada kumpul, eh taunya lagi pada ngomongin saya."
Bu Risna memandangiku serius.
"Mereka sampai ngomong ke kamu langsung?"
"Iya sebutin nama saya, ya jelas saya marah."
Bagai di tampar seribu kali, aku tak menyangka Bu Risna secara langsung menanyakan ini padaku.
"Ya enggak lah Bu." Aku mengelak.
"Ya, syukurlah kalau itu hanya gosip. Memang beberapa hari ini beredar isu kamu udah berselingkuh sama laki yang sudah beristri."
"Kira-kira ibu tau tidak siapa yang pertama kasih berita?"
"Gak tau, malah saya juga tau dari Wiwid."
Secepat ini berita aku tersebar. Aku tak ingin berprasangka buruk terhadap Kak Wita, yang jelas Rani pasti yang melakukannya.
"Terus ibu tau gak, yang dimaksud suami orang itu siapa?"
"Wah... Apalagi itu, saya gak tau. Ibu-ibu juga sebenernya hanya dapat kabar kamu berselingkuh sama suami orang. Tapi semua itu gak bener kan?"
Untunglah, isunya cuman itu, berarti mereka tidak tahu secara detil.
"Beneran Bu, makanya tadi saya marah-marah. Makasih infonya Bu, saya pulang dulu."
Aku bisa melihat dari ekspresi wajah Bu Risna yang tidak puas dengan jawabanku. Aku tau, banyak hal yang ingin ia tanyakan. Sebenarnya aku ingin sekali bincang-bincang di rumah, tapi kasian dia, takut-takut nanti malah di serbu ibu-ibu tukang gosip itu.
__ADS_1
***
Tiba di rumah, Meri telah menunggu di teras depan. Di temani Andri yang tengah menelpon seseorang. Saat mereka menyadari kehadiranku, Andri langsung pamit pergi.
"Bu... Meri nunggu dari tadi, kalau gak ayah temenin, kasian. Sekarang ayah pergi kerja dulu. Eh, mana Intan?"
"Pulang kerja, ayah bisa jemput Intan kan? Tadi ada sesuatu, ibu gak jadi jemput Intan ke rumah ibu."
"Insyaallah ya Bu, kalau ayah gak sempat nanti ayah telepon Nela, biar dia yang antar Intan pulang."
Aku mengangguk, kemudian beralih pada Meri yang selalu membuat terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba.
"Ada apa Mer?"
"Aku butuh perlu bicara sama kamu!" Berubah wajah Meri sedikit marah. Perasaan aku tidak berbuat salah terhadapnya.
"Bicara aja." Kataku sambil mengajak dia masuk.
Kami duduk berhadapan, tv yang masih menyala dimatikan oleh Meri. Remot yang tergeletak memudahkan ia melakukannya.
"Pake matiin tv segala, mau ngomong apa sih?"
Meri menatap lekat-lekat, ada kebencian dari tatapannya yang semakin lama.
"Sejak kapan kamu hubungan dengan Dimas? Kenapa bisa kalian berselingkuh? dan kenapa harus Dimas?"
Meri memberondong dengan pertanyaan yang harus aku tegaskan bahwa semua itu tidak perlu dijawab.
"Ko diam. Jawab Helen!"
"Bukan urusan kamu!"
"Helen!" Meri menggertak.
Aku senyum kecut.
"Helen, aku ini teman kamu, teman Dimas juga. Jika kalian mengkhianati pasangan masing-masing, itu artinya kalian juga udah ngekhianati aku dan yang lain."
Percuma aku membela diri, sekarang aku yang salah di mata mereka, teman-teman baikku.
"Helen, apa kamu pernah berpikir bahwa yang kamu lakukan itu bisa menghancurkan hidupmu sendiri?"
"Cukup Meri, kalau kedatangan mu ke sini cuman untuk menasehati ku, aku pastikan aku udah bertobat. Sekarang semuanya udah berakhir jadi gak ada lagi yang harus diperjelas."
"Untuk kamu dan Dimas mungkin udah berakhir, tapi gak buat orang-orang yang sayang sama kalian. Orang-orang yang juga terluka oleh hubungan gelap kalian."
"Meri, cukup! Terimakasih, sekarang kamu boleh pulang." Aku tak ingin melihat wajahnya, tidak ada gunanya dia sekarang mendatangiku. Kalau hanya menyampaikan rasa sesal, aku lebih menyesal dari mereka.
Seperginya Meri, hatiku jadi tidak tenang. Melakukan aktifitas juga rasanya serba tak enak. Jangan-jangan Meri sudah memberi tahu segalanya pada Andri.
__ADS_1
Aku harus segera mengungkapkan segalanya pada suamiku, aku tak mau dia tau dari orang lain. Kalau sampai benar, Meri membeberkan semua, aku tidak akan memaafkan dan tak lagi menganggapnya teman.
***