
Aku tak percaya, wanita yang aku benci itu menghampiri kami. Dia memandangi kami penuh kebencian. Aku bisa menangkap bahwa ia telah tersakiti. Sesakit aku yang sering melihat kemesraan dia dan Dimas.
Rani. Rani kini berdiri sembari menatapku penuh amarah. Tak peduli, jika dia membenciku, justru aku bersyukur akhirnya dia tau. Napasnya begitu cepat, ia semakin mendekatiku. Dimas dia abaikan. Kini kami saling berhadapan, hanya berjarak beberapa jengkal.
"Tidak aku sangka, ternyata wanita murahan itu, kamu!" Suara lantang sambil menunjuk-nunjukku.
Murahan? Dibilang begitu, aku tidak terima. Maka aku semakin mendekat.
"Hati-hati kalau ngomong. Siapa yang murahan?" Aku tunjukkan pula kemarahan di wajah.
"Kalau bukan murahan, kata apa lagi yang cocok untuk seorang pelakor?"
Aku berusaha menahan emosi, melihat matanya yang menatapku tajam dan garang, sedikit membuatku ciut.
"Sejak dulu aku tau Dimas berselingkuh. Tapi aku benar-benar tidak habis pikir, pelakor itu seseorang yang sudah tua!"
Aku menelan ludah serta menahan sakit di dada. Lalu menoleh ke arah Dimas, meminta pembelaan, Dimas malah diam tertunduk.
"Biar tua, tapi aku cantik!" Kataku yakin.
Rani tertawa, ia mengangkat tangan lalu meraih kedua pipiku.
"Cantik?" Tanyanya sambil mengusap-usap seluruh wajahku.
Aku menepis tangannya. Jantungku tak bisa aku kendalikan, sekarang aku dalam posisi mencekam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Helen, kenapa kamu tega merebut Dimas dariku?" Katanya lirih.
"Rani... Aku minta maaf." Dimas baru angkat bicara.
Rani menyeka air mata yang baru beberapa tetes keluar. Lalu ia memandangi Dimas.
"Maaf? Semudah itu kamu minta maaf?"
"Rani, tenanglah. Hari ini kami sudah menyadari semua, dan sekarang kami sudah berpisah. Oh... Tadi, maaf, kami berpelukan hanya sekedar perpisahan. Aku sama sekali tidak ada perasaan apa-apa sama Helen, dia sudah ku anggap sodara."
Kedua mataku menyipit, coba mencerna perkataan Dimas. Jadi selama ini, dia hanya main-main saja denganku?
"Kenapa kamu jahat, Mas... Hanya karena perubahan sikap dan penampilanku, kamu sampai berkhianat."
"Tidak Rani, aku--"
"Sudah cukup!" Rani berteriak.
"Kamu Helen, Aku akan membuat perhitungan sama kamu!"
Aku tidak takut dengan ancamannya, yang harus disalahkan bukan aku, tapi Rani, karena dia tidak bisa menjaga suami.
Eh, Rani menyeringai seraya berjalan perlahan mendekatiku lagi.
__ADS_1
Mendekat perlahan.
Dekat.
Sangat dekat.
Kedua tangannya mencengkram kedua pipiku. Bola matanya nampak bulat sempurna. Ia memandangiku seperti singa kelaparan. Sangat liar. Tangannya lambat laun turun dan berhenti di leherku.
Rani mencekikku, aku sesak, sulit sekali bernapas. Kedua tanganku terasa lemas hingga tak bisa melawan. Aku melirik Dimas mengiba, tapi dia hanya memandangi aksi istrinya.
Tangan Rani semakin kuat, air mataku berjatuhan akibat tekanan yang terlalu erat. Sorot matanya menyiratkan kebencian yang teramat dalam.
"Rani, hentikan!" Dimas melepaskan tangan wanita kejam itu dari leherku.
Kepala pusing, karena hampir tak bernapas, disertai batuk-batuk akibat jalan napas yang terhambat. Lalu aku roboh, tak kuat lagi menahan serangan Rani yang begitu tiba-tiba.
"Helen. Apa kamu tidak berpikir, aku selalu membutuhkannya dalam setiap keadaan?"
Aku masih merasakan nyeri di leher dan tengkuk. Aku menunduk dan tidak menghiraukan dia.
"Bukankah kamu juga pernah merasakan sakit saat melahirkan, dan kamu juga tahu mengurus bayi itu sangat sulit. Apalagi aku, memiliki dua balita dalam waktu bersamaan, dimana mereka saling menuntut perhatian, dan saat itulah aku sangat membutuhkan kehadiran suami--"
Dimas menariknya, namun ia tetap bicara dengan suara cukup keras.
"Sedangkan kamu, malah mengambilnya. Aku sampai berlaku kasar sama anak-anak karena ngerasa kehilangan perhatian Dimas. Aku juga ngerasa Dimas udah gak menginginkanku!"
Rani menangis pilu. Aku tidak bisa berkata lagi, aku dan Dimas juga sudah tak ada hubungan. Aku harus membuat kesepakatan dengan Rani, agar Andri tidak mengetahui hal ini.
"Melupakan yang sudah terjadi?" Tanya Rani, kembali menghampiri, wajahnya didekatkan padaku, dan aku melihat kembali sorot mata tajam seperti ingin memangsa.
Aku mengangguk-angguk, dan...
Ah!
Rani kembali menyerang, ia mencakar-cakar mukaku. Perih sekali. Aku menjerit-jerit, berusaha melawan. Aku coba berdiri tapi Rani mendorong sangat kuat. Aku terjatuh lagi, kemudian, Rani menjabak rambutku, aku benar-benar tidak kuat. Sangat sakit dan terus berteriak memohon pada Dimas.
"Dimas! Tolong..." Aku meringis, namun Rani seperti belum puas memberi pelajaran. Ia berulang kali menamparku.
Dimas mencoba melerai tapi tenaga Rani semakin kuat.
Aku meronta, tapi Dimas sekuat tenaga membebaskan aku. Dibelakangnya, kini aku menangis tersedu.
"Rani! Sadar!"
"Apa kamu bilang, Mas? Wanita ini harus diberi pelajaran!"
"Kamu sudah keterlaluan!" Bentak Dimas.
"Mana yang keterlaluan, kelakuan kalian atau apa yang baru saja aku lakukan?" Amarah Rani menjadi-jadi. Ia berteriak seperti kesetanan.
Ngeri!
__ADS_1
"Rani!" Dimas menamparnya.
Hal yang aku tunggu, Dimas berpihak padaku.
"Dimas! Sekarang juga aku minta cerai!" Kata Rani sambil berjalan cepat meninggalkan kami, sambil memegangi pipi yang sakit akibat tamparan.
Sebelum mengejar Dimas menoleh ke arahku, "Helen, cepat pulang!"
Sakit.
Dimas mengejar Rani lalu membiarkan aku sendiri.
Rani, kesakitan yang aku rasakan, harus kamu bayar. Lihat saja, aku akan melaporkanmu atas tindakan penganiyayaan.
***
"Aw! Perih!" Kataku menahan sakit karena ulah Rani.
"Lagian kamu, ada-ada aja." Andri membantu mengobati luka-luka di badan.
Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku hubungi Andri dan memintanya menjemput. Alasannya, aku diserang seseorang yang tidak aku kenal, sebut saja dia gila!
Apa yang dilakukan Rani memang sangat gila. Mungkin juga dia sudah gila karena Dimas berhasil aku ambil.
"Gimana ceritanya sih Bu, bisa sampai gini?"
"Ceritanya nanti yah, ibu benar-benar butuh istirahat."
Untuk pertama kali Andri perhatian lagi, ia menggenggam tangan sembari berucap, "lain kali, ibu harus berhati-hati."
"Iya, makasih." Senyumku mengembang bersamaan hati yang tenang.
"Bagaimana kalau orang tadi kita laporkan saja?"
"Lapor?"
"Iya Bu, kita lapor ke polisi, gimana?"
Sejenak aku berpikir, tadinya niatku juga begitu. Tapi, jika aku melakukannya, berarti secara tidak langsung aku memberi tahu Andri dan semua orang bahwa aku dan Dimas telah berselingkuh.
"Ah... Gak usah yah. Lagian dia cuman orang selewat. Kasian juga kalau dia tadi memang gak sengaja. Bisa jadi orang yang mau dia aniaya bukan aku. Salah sasaran."
"Ya sudah, ibu istirahat. Ayah mau jemput Intan."
Tubuhku terasa sangat lelah, Andri ke rumah ibu, sementara aku beristirahat di kamar. Tapi aku tidak tenang, sangat gelisah. Aku ingin ini hanya mimpi, tapi benar-benar terjadi.
Rasa sakit yang sangat menyiksa, sampai membuat ku lupa bertanya, saat menjemput Andri pakai mobil siapa?
Setahuku mobil milik Pak Irwan ada dua, mobil bak dan kijang keluaran lama. Tadi, mobil yang Andri bawa mobil Evalia.
***
__ADS_1