SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 2


__ADS_3

Sudah hampir sore, Riswan belum juga kembali. Kebetulan kiriman yang harus diantarnya tadi tidak terlalu banyak jadi dia bisa pulang lebih awal. Jam satu suamiku sudah ada di rumah. Tapi dia lupa atau pura-pura lupa untuk mengambil seluruh tabungan di mba Mirna. Aku telepon berulang kali, tak ada jawaban.


Apa harus aku susul ke rumah mba Mirna? Janda anak satu yang dikenal ganjen. Kampung kami bersebelahan, jadi jarak rumahnya tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki.


Sehabis mandi aku buru-buru bersiap untuk pergi ke rumah sodaranya Riswan. Sengaja pakai make-up tebal supaya terlihat biasa saja. Walaupun hati kesalnya setengah mati. Hubunganku dengan mba Mirna sendiri tidak terlalu akrab. Aku hanya mengenalnya sebatas saudara suami.


Sambil bercermin, aku menenangkan diri. Aku berusaha santai apa pun yang terjadi. Jujur saja, aku orangnya perasa dan gampang terbawa emosi. Mudah-mudahan kali ini aku bisa mengendalikan amarah yang meledak-ledak.


Saat aku hendak pergi, tahu-tahu Riswan berdiri memandangiku di teras.


"Ibu mau kemana?"


"Mba Mirna!"


"Lho, mau ngapain?"


"Kalau ayah udah ada ya ibu gak jadi pergi. Mana uangnya!?"


"Hmmm... Gini Bu, hmmm kita duduk dulu yuk?"


"Jangan bilang, mba Mirna belum narik?"


"Euhhh iya, jadi gini bu--"


"Udah ibu duga. Ayah sebenarnya ke rumah mba Mirna gak sih?"


"Pergi dong Bu, Ibu gak percaya?"


Aku melotot, kesal sekali hati dibuatnya.


"Ngapain lama-lama di rumahnya?"


"Tadi ayah--"


"Ayah dari jam setengah dua ke sana, sekarang udah mau jam lima!"


Mas Riswan gelagapan, tiap mau bicara sengaja aku potong.


"Udah ah, biar ibu saja yang tagih."


Dia menarik tanganku, maksudnya mencegah agar aku tidak pergi. Aku lepaskan secara kasar, dengan sedikit berlari aku tetap pergi.


"Ibu, tunggu!" Dia mengejar.


Melihat wajahnya yang sekarang penuh kebohongan, aku muak. Laki-laki yang selalu bilang cinta, tega membohongiku. Apalagi ini masalah uang, membuat aku semakin sensitif.


"Kita ngobrol di dalam yuk, gak enak diliatin tetangga."

__ADS_1


Aku menengok ke sana-sini, tak ada seorang pun yang melihat apalagi memperhatikan kami.


"Yu Bu, ayuuuk..." Ajaknya penuh kelembutan.


"Jawab jujur, ayah tadi ngapain aja di sana?" Aku jadi curiga, mereka ada apa-apanya.


"Gak ngapa-ngapain. Tadi dijalan, ayah ketemu Ridwan, jadi ayah lama di jalan."


"Terus kenapa uangnya gak ada?"


"Jadi gini... Hmmm di rumah yuk?"


"Gak! Di sini aja, biar jelas!"


"Kata mba Mirnaaa, uangnyaaa, dipakai dulu buat sekolah Asrul." Sambil berbisik, dia katakan juga kebenarannya.


"APA?!" Jelas saja aku kaget.


Tubuhku seketika lemas, kepala puyeng, dan aku memilih kembali ke rumah. Menghapus semua make-up dan mengganti pakaian ini dengan daster pavorite.


***


Berada di rumah memang lebih nyaman ketimbang berkeliaran tidak jelas. Apalagi jika mendatangi rumah janda genit itu, yang ada nanti aku tidak terlihat cantik karena sifat pemarah ku akan nampak.


Aku rebahan di atas permadani lapuk, sudah lama sekali aku ingin menggantinya dengan karpet bulu yang kekinian. Jika tahu dia menyimpan uang sebanyak itu, segala yang aku impikan pasti akan terwujud. Selain karpet, masih banyak barang-barang di rumah ini yang perlu diganti.


"Biasanya juga ambil sendiri, tuh di meja udah ibu goreng tahu sama tempe."


"Ini doang Bu?"


"Kalau kurang, minta ke mba Mirna gih, dia kan biasa makan sama ayam!"


Mba Mirna bekerja di sebuah toko, tapi juga aktif keliling untuk mengumpulkan tabungan dan arisan serta menawarkan barang jualan yang tidak tentu, kadang pakaian, kadang juga makanan. Menurut cerita temanku yang juga tetangganya, dia biasa makan enak.


Aku pernah beberapa kali ditawari ikut arisan, selalu aku tolak karena aku tidak minat. Bagiku arisan itu menyusahkan. Senangnya sehari, ribetnya berbulan-bulan.


Mas Riswan makan di dapur tanpa aku temani, aku acuhkan dia. Malam ini aku akan tidur di ruang tv saja. Biar dia merasa kalau aku sedang marah. Seandainya ia tidak menabung uang itu, sekarang mungkin ada telur ayam dimeja makan.


Usai makan dia menghampiri, "Bu, jangan ngambek dong. Kata mba Mirna, Minggu depan uangnya ada."


Minggu depan?


Aku tetap bergeming, sibuk dengan acara tv.


"Maafin ayah, ayah juga gak tau kalau uangnya dipinjam dulu."


Pinjam uang tapi tidak ijin sebelumnya? Sama aja mencuri itu tuh!

__ADS_1


"Bu... Please jangan diemin ayah." So' memelas segala.


Aku lelah, aku tidak peduli Riswan mau gimana. Malam ini aku sangat mengantuk, dia coba memelukku, mengecup dan memberi tanda lain yang menunjukkan bahwa dia ingin sesuatu. Tapi dengan tegas aku bilang, "lagi merah!"


Perlahan dia lepaskan pelukan, tapi tetap berada di sampingku. Menonton sinetron yang sebenarnya tidak dia sukai.


Kembali Riswan merangkul, aku tak merespon. Aku geli mendengar bisik-bisik yang tak sepenuhnya aku mengerti. Percuma dia bilang sayang, cinta atau apalah, bila sampai hati dia tega membohongi aku.


Ah, ayah...


***


Pagi-pagi sekali Riswan sudah bersiap pergi kerja. Aku berusaha menghubungi Nola tapi gagal terus. Aku belum menanyakan informasi tentang gaji suami. Barangkali ada kenaikan gaji yang tidak aku ketahui.


"Bu, sarapan ayah mana?"


"Biasa, dimeja."


Aku bersikap dingin, agar suami tahu dan mengerti bahwa yang telah dia lakukan adalah sebuah kesalahan.


Nampaknya Riswan tak berselera makan.


"Kenapa?" Tanyaku saat kedua mata Riswan memandangku mengisyaratkan sesuatu.


"Nasinya masih dingin, Bu."


"Itu, gorengannya anget, tadi ibu beli dari si Neng!"


Biasanya aku membuat goreng nasi kesukaannya, walaupun hanya dengan bumbu seadanya yang penting menggunakan kecap manis.


Kalau bukan karena satu kerjaan dengan Riswan, sampai saat ini aku pasti masih kerja. Cari kerja di tempat lain cukup sulit.


Andai aku masih punya penghasilan sendiri, aku tidak akan menggantungkan segalanya pada Riswan. Riswan itu baik tapi aku tak pernah menyangka dia bisa berbohong, apalagi ini masalah uang, dimana kebutuhan kami seringnya pas-pasan.


Pernah suatu hari, aku sama sekali kehabisan uang belanja. Tanggal gajian masih ada sekitar seminggu lagi, aku kira Riswan sudah tidak punya uang. Makanya untuk menyeimbangkan, aku beranikan diri kasbon ke warung pak Tomo, meskipun beliau terbilang kurang ramah, tapi beliau baik dan selalu mengerti keadaanku. Walau pak Tomo tak pernah menagih, tapi aku masih punya rasa malu, jika telat bayar, rasanya aku ingin melarikan diri sekalian saja.


Entah mengapa, hari ini aku sangat ingin mengikuti Riswan sampai ke tempat kerja. Sekali dia bohong, sepertinya seterusnya dia akan begitu.


Hatiku berusaha untuk memaafkan, namun Riswan sudah keterlaluan. Kenapa juga harus pada kakak sepupunya dia menyimpan uang sebanyak itu. Masih ada Andi, teman dekatnya yang juga temanku dulu. Andi jelas, orangnya terpercaya.


Dengan menggunakan ojol yang aku pesan diam-diam, aku segera menyusul Riswan setelah beberapa menit dia pergi.


Diperjalanan aku sedikit gelisah, entah apa yang harus dilakukan jika Riswan macam-macam. Tapi, sekarang bukan masalah perselingkuhan, masalahnya sekarang adalah berapa gaji yang diterima dia setiap bulan.


Baik, sesampainya di tempat kerja aku akan bersembunyi sampai dia meninggalkan tempat kerja. Tapi ini sedikit akan membuatku sedih, terlalu banyak kenangan di sana. Andai peraturan perusahaan dapat berubah, aku ingin kembali bekerja.


***

__ADS_1


__ADS_2