
Ini bukan pertama kalinya Dion mengkhianati. Sekarang beraninya dia selingkuh dengan Amanda, sahabatku. Namun, kini tak ada lagi predikat teman antara aku dan Amanda. Dion sangat tampan, menarik dan kaya. Wajar kalau banyak wanita yang mengejar, ingin dijadikan kekasih.
Banyak yang mengira, aku bertahan demi harta. Dion memang terlahir dari keluarga kaya. Sampai Tante Mirna bicara, "apa yang perlu dipertahankan Lis, kamu tenang aja. Diana akan tetap mendapat hak waris meskipun kamu bercerai dengan Dion."
Bukan, aku bertahan bukan karena harta. Aku ingin memberikan keluarga yang utuh bagi Diana. Biarlah aku yang selalu mengalah pada Dion, asalkan Diana bahagia. Meski aku tahu, akan sama saja dengan bercerai jika aku dan Dion tidak harmonis seperti dulu.
Apa salah, aku berharap jika suatu saat nanti, Dion akan kembali menjadi Dion yang dulu pernah bilang cinta?
Dengan siapa saja Dion selingkuh, aku tidak masalah, namun ketika ia sudah kelewatan lalu berhubungan dengan sahabatku, aku benar-benar tidak bisa menerima.
Aku tidak bisa menyalahkan salah satu dari mereka. Bagiku keduanya salah. Aku berjanji akan membuat hidup Amanda menderita. Untuk Dion, aku akan berusaha memaafkan, sekali lagi hanya karena Diana.
"Sejak kapan Mas hubungan dengan Amanda?"
"Belum lama."
"Kenapa harus Amanda?"
"Kamu pernah bicara, aku bebas berhubungan dengan siapa pun, asal aku tidak menceraikan mu."
"Tapi gak mesti Amanda juga, dia itu teman baik aku mas!"
"Sekarang ini yang aku inginkan hanya Amanda. Selain pintar dan cantik, dia sangat seksi. Bukankah dia juga seorang janda?"
Sekuat tenaga aku menahan rasa sakit dalam dada. Aku memang sudah tak berarti lagi. Dimata Dion aku tak lebih dari pengasuh. Rasa cintanya benar-benar sudah musnah. Hanya sekejap saja Dion mencintaiku, atau memang aku yang bodoh karena sesungguhnya Dion tak pernah mencintaiku?
***
Hari yang tak aku harapkan. Amanda betul-betul tidak tahu malu. Dia mendatangi kediaman aku dan Dion. Sepertinya dia ingin menunjukkan kemenangan atas Dion.
"Mau apa kamu kesini?" tanyaku ketus.
Dia hanya tersenyum dengan wajah tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Apa kabar Lisa? tidakkah kamu mempersilahkan aku duduk?" Dia bersikap sopan dan formal.
Aku membuang muka, dia sungguh wanita tidak tahu diri. Aku menyesal karena selalu membiarkan dia berlama-lama di rumah ini. Aku tak pernah berpikir, bahwa Dion akan jatuh cinta pada Amanda yang dulu sangat aku percaya.
Tanpa aku suruh, di hadapan kini ia duduk bermanja di sofa sambil memainkan ponsel. Kemudian ia nampak menelepon seseorang.
__ADS_1
"Halo sayaaang, aku udah ada di rumah nih. Tapi aku sama sekali gak disambut dengan baik. Dikasih minum juga enggak." Berkata-kata sambil melihat ke arahku. Aku tahu, dia sedang mengadu pada Dion.
Karena muak, aku memilih pergi ke kamar, membiarkan Amanda berlaku sesuka hati.
Diana...
Untung saja dia sedang jalan dengan kakek, ayah dari Dion. Kalau saja dia melihat wajah sedihku, dia pasti akan mengajakku tinggal di rumah ibu.
Diana baru saja berumur 12 tahun, dia banyak tak mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Akan tetapi dia sudah tahu, jika aku bersedih, pasti ulah dari ayahnya. Diana pernah bilang, dari pada aku terus-terusan sedih, dia lebih baik tinggal di rumah sederhana ibuku, asal bisa melihatku selalu tersenyum.
Sikap Dion sendiri, terhadap Diana, acuh tak acuh. Tapi terkadang ia sangat perhatian, dan aku bisa melihat kasih sayang sejati seorang ayah kepada anaknya.
Tak sadar, pipi ini basah oleh air mata yang tak sanggup lagi aku bendung. Setega ini kalian menyakiti aku. Sama-sama berkhianat dan sama sekali tak punya hati. Seharusnya setelah hubungan kalian terbongkar, kalian malu. Amanda, aku tak mengira ia sejahat ini.
Belum lama aku terisak di dalam kamar, seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Dengan wajah dingin, Dion memasuki kamar mandi. Melewatimu begitu saja. Aku sudah tak ada harganya di mata suamiku sendiri.
Sejujurnya, aku ingin segera mengakhiri, namun bagaimana dengan Diana?
Diana selalu memuji-muji aku dan Dion. Dia juga sering mengungkapkan hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan salah satu dari kami, orang tuanya. Seperti yang dialami Sindi, orang tuanya bercerai karena kekurangan ekonomi.
Diana yakin, aku dan Dion tak akan bercerai karena kami bergelimang harta.
Aku menyeka air mata, dan berusaha tegar di depan Dion. Aku harus kuat apa pun yang dia lakukan, agar aku bisa meraih kembali hatinya.
"Malam ini aku gak tidur di rumah." Katanya sambil membenarkan kaos warna biru muda yang dia pakai.
"Mau kemana?" Tanyaku lembut, aku harap tak ada kesedihan dari nada bicaraku.
"Nanti kalau aku kasih tau, kamu sedih."
"Mas?"
"Bilang sama ayah, aku keluar ketemu klien!"
"Mas Dion, tunggu!" Aku meraih tangannya yang lalu ia lepaskan.
"Tolong mas, jangan lanjutkan!" Pintaku merajuk.
Dia melihatku tapi tidak berusaha membuat tenang, entah apa yang terjadi, dia sampai begitu besar membenciku.
__ADS_1
"Mas kan masih bisa berhubungan dengan sekertaris atau karyawati mas di kantor." Perkataan yang paling aku benci, tapi tak ada lagi cara agar aku bertahan.
Dia tidak mendengar, kemudian melangkah pergi menuju ruang depan, dimana Amanda sedang menunggu.
Baru sampai pintu, aku mengejar lalu memeluk erat dari belakang. Sakit hati ini namun lebih sakit jika Diana hancur.
"Elisa! lepaskan!" Titahnya geram.
Aku memeluk semakin erat, berharap Dion menyadari kesalahannya kali ini saja.
Dian melepas paksa tangan yang melingkar di pinggangnya. Dion berbalik lalu memaki.
"Wanita tidak tahu malu, sukur-sukur kamu masih aku biarkan di sini!"
Siapa yang tidak tahu malu? aku atau Amanda? Bagai disambar petir, Dion mengatakan itu dengan lantang. Pasti Amanda mendengar.
"Mas, aku mohon jangan pergi." Sekali lagi aku memelas.
"Kamu diam, atau aku akan--"
"Dion! ayo cepat, kita sudah terlambat!" wanita jalang itu menarik perhatian Dion.
Dion pergi, mobilnya melaju dengan membawa wanita selingkuhannya entah kemana.
Aku tahu, kalau aku tidak diam, dia akan menceraikan aku.
Mendapat kenyataan ini, aku sungguh tak sanggup. Mereka pergi berdua, bermalam bersama. Hati istri mana yang kuat membayangkan apa yang mereka lakukan.
Aku dan Amanda sangat jauh berbeda, dia berasal dari keluarga berada. Sedangkan aku hanya anak dari seorang petani. Alasan itulah yang mendorong Tante Mirna, untuk mendukung Dion supaya menikahi Amanda. Tante yang berusaha agar aku dan Dion bercerai. Dia juga yang meyakinkan Dion bahwa aku menikahinya demi harta.
Amanda yang merupakan anak dari seorang pengusaha kuliner, lebih menjanjikan cinta. Ketimbang aku yang hanya menumpang hidup. Beberapa kali Dion utarakan, dia menyesal menikahiku. Padahal sejak awal sudah aku bilang, aku tidak memiliki apa-apa dan tak akan sebanding dengan hidupnya yang mewah.
Tak tahu apa yang dilihat Dion saat menikahi aku. Setahun pertama aku diperlakukan bagai tuan putri. Hingga Diana terlahir ke dunia, Dion masih bersikap baik dan perhatian.
Ketika Diana menginjak umur lima tahun, Dion mulai mencurigai kalau Diana bukan anaknya. Sampai aku berhasil meyakinkan dengan hasil tes DNA, bahwa Diana benar-benar anaknya.
Masalah demi masalah terus saja menghampiri. Kami masih bertahan, walau Dion mulai bersikap tak peduli dan tidak menganggap keberadaan ku.
Kemudian saat Diana delapan tahun, aku baru tahu kalau Dion suka berhubungan dengan banyak wanita di belakangku. Salah satunya, Fania, sekertaris pribadi yang bekerja selama dua tahun.
__ADS_1
Menginjak usia sebelas tahun Diana, aku dan Dion sudah tak pernah lagi berhubungan suami istri. Dia lebih memilih melampiaskan hasrat pada selingkuhannya. Kami masih satu kamar, tetapi jiwa kami sudah lama terpisah. Dion masih sama menjaga hati Diana. Bagaimanapun bejat seorang ayah, aku tahu dia tidak akan mungkin membuang darah daging sendiri.
***