SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 4


__ADS_3

Dihadapan kini berdiri seorang wanita hina, wanita yang berani merebut suami temannya sendiri. Ia menyeringai sembari menyisir penampilanku dari atas sampai bawah. Senyuman penghinaan sangat jelas di depan mataku. Wanita cantik nan anggun kini menjelma bagai serigala bertaring yang siap menerkam ku kapan saja dia mau.


"Hai, Lis. Ada perlu apa kamu ke sini?" Amanda menyambutku, dan aku merasa jijik melihat penampilannya yang sangat sensual. Bukan kesan sexi yang aku tangkap tapi kesan murahan!


Pakaian tidur bahan satin yang menonjolkan bentuk tubuh itu sungguh menggelikan. Dulu Dion paling tak suka dengan gaya baju ini, tapi sekarang justru wanita yang mengenalkannya yang mampu merebutnya dariku.


"Mana Mas Dion?" Tanyaku geram.


"Ada urusan apa, kamu sama calon suamiku?"


Calon suami?


"Cuiiih!" Aku meludah di depannya hampir mengenai gaun mengerikan itu.


"Elisa, sikap kampungan kamu akhirnya keluar juga." Sindir Amanda.


"Amanda sudah cukup, aku akan minta Mas Dion untuk menceraikan ku sekarang juga. Puas?!"


Amanda tertawa penuh kemenangan, dia pasti bangga telah berhasil merebut Dion dariku.


Aku mendorongnya, lalu dengan segera meneriaki suamiku. Tanpa perlawanan, Amanda hanya mengamati aku yang emosi ingin cepat bertemu Dion.


"Mas! Mas Dion?!"


Tak ada sahutan. Aku cari kesemua sudut apartemen Amanda, Dion tidak ada.


"Percuma kamu cari dia di sini. Calon suamiku sedang meeting di suatu tempat yang gak perlu kamu tahu."


Oh, jadi Dion sudah sangat mengecewakan. Dia lebih memilih wanita ini ketimbang aku istrinya. Apa yang dilakukan Dion, Amanda lebih tahu dari pada aku.


"Dimana?"


"Kamu gak perlu tahu, bisa-bisa kamu akan menggagalkan rencana kami."


"Rencana?"


"Iya! rencana pesta pernikahan yang mewah. Dion sekarang lagi meeting untuk kesuksesan acara kami." Senyumnya merekah dan sangat menjijikan.


Getaran ini merambat keseluruh tubuh, jika memang Dion akan menikahi Amanda kenapa ia tak lebih dulu menceraikan ku?


Cemburu? aku sungguh cemburu. Terbakar hatiku hingga aku sudah merasa ambil keputusan paling tepat.


"Aku mau mandi, semalam habis main sama Dion. Kalau kami udah gak ada urusan lagi, silahkan keluar!"

__ADS_1


"Plakkk!!!" satu tamparan saja sepertinya tidak cukup.


Amanda nampak marah, ia hendak membalas tamparan dariku namun aku mencegahnya. Aku pelintir tangannya hingga ia meringis. Sekali lagi aku dorong tubuhnya, kini terhempas ke lantai, karena dorongan ku terlalu kuat.


Amanda lupa kalau aku menguasai karate. Padahal dulu, dia pernah aku selamatkan dari dua orang begal yang akan menyakitinya.


Tanpa berkata, aku tinggalkan dia. Ada yang lupa, aku berbalik, meraih ponsel di saku celana, lalu aku fhoto Amanda dengan beberapa kali jepretan. Sayang, Dion sedang tidak bersamanya.


Haruskah aku umumkan pada dunia, wajah pelakor yang menjijikan ini?


***


Diparkiran aku bertemu dengan Dion. Kami lama saling menatap. Aku sudah kuat menghadapinya, tidak akan lagi aku biarkan Dion merendahkan ku, dia pikir aku wanita yang lemah. Tak apa jika memang nasib Diana harus kehilangan sosok ayah, yang penting kami bisa hidup bahagia.


"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Dion datar. Tidak ada rasa terkejut dari wajahnya. Sepertinya ia sudah tahu aku akan datang ke sini.


"Menemui Mas!" Jawabku singkat.


"Untuk apa?"


"Bicara."


"Pulanglah! nanti kita bicara di rumah!"


Kedua mata Dion melotot, ia menghela nafas dan yang ini sepertinya tak pernah dia sangka.


"Jangan bercanda, cepat pulang!"


"Baiklah, pilih aku atau Amanda?"


"Elisa, aku bilang cepat pulang!"


Dengan hati yang tak puas aku berlari menuju taxi online yang aku pesan sebelumnya. Dion menunjukkan bahwa dia lebih memilih Amanda. Akan berat baginya jika dia harus menceraikan ku karena pasti dia tak mau kehilangan Diana.


***


"Tante?" Aku heran, kenapa ibu tiri Dion selalu mengusik rumah tangga kami.


Sejak kapan dia bersama Diana di rumah. Bukankah tadi aku sudah titipkan dia pada Ratmi. Kenapa Tante Mirna bisa tahu kalau aku tidak di rumah. Jangan-jangan Ratmi yang memberi tahu.


"Kamu sudah Lisa?"


Aku tak suka jika dia sudah berbasa-basi.

__ADS_1


"Ayah mana?" Tanyaku sambil meneliti ke arah sekitar.


Semenjak tahu bahwa wanita ini merupakan istri ke dua ayah, aku merasa tidak aman, aku juga tidak tahu apa dia baik atau tidak. Akan tetapi yang selama ini aku lihat, sikapnya biasa saja. Meskipun kadang mulutnya membuatku kesal. Sikap lembut dan ramah mampu menutupi sifat buruknya. Terbukti, dia mengatakan hal yang tak seharusnya dia katakan pada Diana.


"Ayah menemui dokter Ferdi, katanya ada yang mau dibicarakan."


"Tapi ayah gak apa-apa kan?"


"Entahlah, sekarang ini ayah mertuamu jarang sekali bicara."


Diana tahu, aku dan Tante Mirna butuh waktu bicara berdua. Usai menonton acara tv kesukaan, tanpa berkata ia meninggalkan kami. Sebelumnya dia menoleh ke arahku, dan sepertinya ada yang ingin ia sampaikan namun urung terhalang oleh kehadiran nenek tirinya.


"Tante, buat apa Tante bilang ke Diana, aku dan Dion akan bercerai?"


"Tante gak mau Diana tau dari orang lain. Lagi pula untuk apa pernikahan kalian dipertahankan?"


Aku baru tahu, Tante Mirna tak sebaik yang aku kira. Dia sangat ingin sekali aku berpisah dari Dion. Beberapa kali Dion selingkuh dan sebanyak itu pula Tante menyarankan aku agar meminta pisah. Aku tidak akan memberi tahu dia bahwa aku sudah meminta cerai, tidak perlu terlalu jauh Tante mengurusi rumah tanggaku.


"Sebenarnya mau Tante apa sih?"


"Tante ingin Dion bahagia, dan kamu sama sekali gak bisa bikin dia bahagia. Malah justru Amanda yang bisa kasih Dion kebahagiaan."


Aku memandangi Tante Mirna, coba mencerna perkataanya. Jadi dia ada di pihak Amanda. Bodohnya aku, baru menyadari hal ini.


Tante Mirna dan Amanda sama saja, sama-sama pelakor!


Aku jadi menyesal telah meminta Dion untuk menceraikan aku. Dari awal aku sudah bisa merasakan bahwa Tante Mirna tidak menginginkan pernikahan kami. Beda dengan Ibu Rahma, dia sangat baik terhadapku.


"Tante, mulai sekarang, tante jangan ngurusin rumah tangga aku dan Dion. Tante gak berhak menentukan nasibku, aku mau berpisah atau tetap bersama Dion, bukan urusan Tante. Atau aku perlu melarang Diana untuk tidak menemui Tante? karena... ya memang tante buka neneknya."


"Elisa!" Dia membentak. Aku sadar kata-kataku walau halus tapi keterlaluan. Aku sengaja ingin menyakiti, karena telah lama aku salah menilainya.


"Elisa! lancang sekali kamu, aku ini ibunya Dion. Tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu, atau akan aku adukan hal ini pada Dion!" Tante Mirna memang begitu, dia merasa bahwa Dion sangat menyayanginya. Sehingga apa pun kata-katanya selalu didengarkan.


Aku tersenyum sinis, lalu aku tinggalkan dia tanpa sepatah kata lagi.


Lihatlah! wajahnya begitu marah, matanya menyorot tajam ke arahku. Walaupun orang tua, dia sudah terlampau jauh mencampuri urusan kami.


Sepertinya antara Amanda dan Tante Mirna ada hubungan. Sebelumnya tante tidak begitu antusias menjodohkan Dion dengan selingkuhannya.


Siapa sebenarnya Amanda dan Tante Mirna?


***

__ADS_1


__ADS_2