
Andri bilang dia dapat kerjaan, tapi hasilnya belum bisa diprediksi. Aku tak masalah, yang penting dia sudah mau bekerja. Masalah tawaran Meri untuk kerja di toko, Andri serahkan padaku. Dia tidak melarang tapi juga tidak begitu mengijinkan.
Akan aku pikirkan kembali, sepertinya aku harus liat dulu uang dari Andri, kalau cukup, aku tidak akan bekerja.
Hari ini begitu cerah, Andri pamit pergi keluar. Katanya mau kerja, tapi dia tidak menjelaskan secara detil apa kerjanya. Tak apalah, nanti juga dia cerita. Aku hanya berharap, kali ini dia benar-benar bekerja.
Untuk merayakan pekerjaan Andri, aku relakan uang simpanan kemarin untuk membeli bahan masakan.
Semangat, aku membuat semur jengkol, sambal terasi, goreng tahu-tempe, tumis kangkung. Tidak lupa goreng ikan asin, cumi kesukaan Andri. Menu spesialnya aku buatkan ayam goreng serundeng.
Aku siapkan makanan ini di meja.
Mendengar nada notifikasi chat masuk dari hp, aku jadi teringat Dimas. Senyumku segera merekah, dari hati aku tulus. Kadang aku berpikir, kenapa tidak dari dulu kami seperti ini. Walau Andri sudah bekerja, aku tidak akan melepaskan Dimas. Dimas memang tidak pernah memberiku barang-barang mahal, tapi kehadirannya mampu menghilangkan kejenuhan.
Aku ambil kertas nasi yang ada di lemari. Lalu aku bungkuskan nasi untuk Dimas. Aku akan menyerahkannya nanti siang, beserta lauk-pauk yang aku buat dan dibungkus terpisah. Semoga Dimas suka.
***
Di taman, kami saling melepas rindu. Dimas begitu lahap menyantap makanan yang aku bawa.
"Kamu beneran jago masak!" Mengacungkan satu jempol tepat di depan mukaku.
Aku malu mendengar pujiannya, tapi aku senang, mengingat Andri tak pernah memujiku seperti ini. Dalam hitungan menit, makanan itu habis tak tersisa. Bahkan jengkol.
"Jengkolnya mantap banget. Baru kali ini aku makan nikmat. Makasih Hel."
Kami saling menatap dan melupakan semua isi dunia. Lupa kalau kami sudah berumah tangga. Keasyikan kami berdua, mengalahkan ingatan kami tentang dosa. Ah, aku tidak bisa melawan hasrat cinta ku pada Dimas.
Dimas menggenggam tanganku erat, dan membisikkan sesuatu sampai aku terbahak-bahak.
Siang ini kami berteduh di bawah pohon besar, berlindung dari terik matahari.
Kami saling melempar senyum dan tatapan penuh arti. Membuatku deg-degan, saat tangan nakal Dimas hendak melingkar di pinggang.
__ADS_1
"Ding... Dong... Ding... Dong..." Dering hp Dimas membuat ia menarik kembali tangan dan tidak jadi memelukku.
Dimas menatapku seakan tahu kalau aku tidak suka dering hp yang sudah mengganggu kami.
Setelah aku tersenyum dan mengangguk, barulah ia terima.
"Iya Ran, ada apa?"
Terlihat kecemasan di wajah Dimas setelah mengangkat telepon yang ternyata dari Rani.
"Apa, Dede panas tinggi lalu kejang?"
Aku lihat tangan Dimas bergetar.
Usai memutuskan sambungan telepon, Dimas menoleh ke arahku dan bilang, "aku pulang dulu ya?"
Aku mengangguk, padahal aku masih ingin bersamanya. Menikmati pemandangan taman sampai sore hari atau kalau bisa sampai malam.
Kami pun meninggalkan taman yang berada cukup jauh dari tempat tinggal kami.
***
Tidak terasa, hubungan gelap aku dan Dimas sudah memasuki bulan ke empat. Selama ini kami aman-aman saja. Aku sampai lima kali ganti namanya di ponsel. Andri tidak pernah menaruh curiga. Makin hari dia malah makin mesra, kembali seperti saat kami baru menikah. Aku tidak jadi kerja di toko, karena Andri berjanji dia akan bekerja lagi dengan giat.
Seminggu sekali Andri memberi uang belanja. Tapi tidak bisa menutupi kebutuhan pribadiku. Usaha kue sudah aku hentikan karena menurutku hanya buang waktu dan tenaga. Sekarang setiap hari Andri pergi kerja, tapi aku tidak tahu apa yang dia kerjakan. Dia hanya bilang bantu-bantu di ladang Pak Irwan.
Aku tak peduli, asal dia bisa dapat uang. Aku jadi tak harus repot banting tulang. Hanya mengurus rumah dan Intan. Malah jadi banyak waktu untuk sayang-sayangan dengan Dimas.
Ada yang kurang selama satu Minggu kebelakang. Dimas jarang menghubungi, oh bukan, malah dia tidak menghubungiku sama sekali. Tak ada kabar, WA juga tidak aktif. Setiap aku keluar pun tidak pernah lagi berpapasan dengannya.
Rasa rindu dan penasaran membuat aku ingin berkunjung ke rumahnya. Aku takut kalau Andri sakit. Pasti akan sangat menyedihkan kalau dia sakit, tidak akan ada yang mengurus.
Tapi alasan apa yang harus aku buat untuk mengunjungi mereka? Yang ada nanti Rani curiga, apalagi kata Dimas, ada seseorang yang melaporkan kalau Andri sering bonceng cewek ke taman.
__ADS_1
"Bu?" Intan membuyarkan lamunan tentang Dimas.
"Iya Intan?"
"Intan pusing Bu." Mendekat dan memeluk.
Aku merasakan ada yang aneh dalam tubuhku.
Intan! Aku sentuh jidatnya yang terasa panas. Anakku demam. Segera aku ambil termometer untuk mengukur suhu tubuh.
Hampir aku menangis, panasnya tinggi, ia pun nampak pucat pasi. Aku ambilkan parasetamol, lalu menyuruh Intan minum. Untungnya tadi pagi ia sempat makan bubur ayam. Walaupun umurnya sudah tidak balita, tapi kalau Intan demam, aku suka kasih dia parasetamol dulu. Kalau tidak sembuh juga, baru aku bawa ke dokter.
Tidak lama, Intan tertidur nyenyak sekali. Aku menyesal, aku terlalu memikirkan Dimas, sampai-sampai anak gadisku terabaikan. Sepertinya Intan merasakan sakit dari malam, tapi ia enggan memberi tahuku. Salahku karena akhir-akhir ini aku sering memarahi anak yang tak bersalah itu, dia anakku yang dulu sangat aku inginkan.
Selagi Intan tidur, aku pergi ke warung sebentar untuk beli bumbu dapur. Aku juga berniat membuatkan Intan bubur, karena kalau harus beli pasti repot. Biasanya kalau sudah bangun, Intan sukar ditinggal. Saat sakit, Intan paling senang makan bubur ditaburi abon.
***
Pulang dari warung, aku berpapasan dengan Rani. Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang? Ia menyapa dan tersenyum padaku. Aku balas sapaannya dan sedikit kikuk. Biasanya kami akrab, tapi sekarang aku merasa bersalah pada Rani.
"Teh Helen, dari mana?"
"Dari warung Ran, beli kebutuhan dapur." Jawabku sambil memalingkan muka ke jalanan.
"Sama, aku juga beli bumbu." Memperlihatkan sekantong belanjaan.
"Dedenya gak dibawa?"
"Enggak, lagi sama papahnya. Biasanya aku gak suka masak, teteh tau sendiri. Gak tau kenapa, sekarang suami sering maksa pengen dimasakin."
Aku tersenyum getir.
Dalam hati aku mencaci dan merendahkan Rani. Merasa sombong, aku yakin masakan Rani tidak akan seenak masakanku.
__ADS_1
Aku mendadak sebal bertemu Rani, aku ingin Dimas meninggalkannya. Dia terlau over untuk Dimas yang sederhana. Entah sejak kapan, Rani jadi suka make up. Bibirnya terlihat menggelikan dengan gincu merah cabe. Terkesan nakal.
***