
Dion sudah benar-benar keterlaluan, aku terima jika aku dicampakkan, namun kali ini dia juga mengabaikan Diana. Dion tak pernah lagi tidur di rumah. Secara tak langsung, Dion beri tahu Diana bahwa hubungan orang tuanya tidak baik-baik saja.
Rumah tangga kami bukan saja retak, tapi kini sudah pecah berkeping-keping. Tak mungkin lagi aku rangkaian kepingan itu menjadi satu kembali.
Diana adalah alasanku bertahan, dan Dion telah menghancurkan pertahanan ku ini.
Lebih baik aku bertahan untuk membesarkan Diana sendiri dari pada mempertahankan hubungan yang sudah jelas tak akan bisa disambung lagi.
"Kenapa ibu gak bilang sama Diana kalau ibu marahan sama ayah?"
Aku menghela, "tadinya ibu pikir, kami akan bisa seperti dulu lagi."
Untuk anak seumur Diana, terlalu dini jika ia harus mengerti apa yang terjadi antara aku dan ayahnya.
"Oma Mirna bilang, ibu bakal bercerai dengan ayah, apa itu benar bu?" Dengan polos Diana bertanya.
Bercerai? apa Diana tahu apa itu akibat dari sebuah perceraian.
Tante Mirna? dia benar-benar jahat. Seharusnya dia tidak melibatkan anak kecil untuk ambisinya.
Beberapa saat aku termenung, mencari jawaban yang pas agar Diana bisa menerima dan mau ikut denganku.
"Diana, kalau ibu pisah sama ayah, kamu mau ikut siapa?"
"Jadi benar ya Bu?" Mata anakku mulai berkaca-kaca. Dia pasti sangat sedih, kini nasibnya akan sama seperti Sindi.
"Diana, dengarkan ibu dulu nak!"
Air mata itu berjatuhan, dia menyekanya sembari menatapku marah.
"Sayaaang, maafkan ibu, tapi--"
Diana memelukku, aku pikir dia akan membenciku. Isak tangisnya kembali seperti ia kala umur lima tahun. Dia mengencangkan pelukannya dan tangisnya semakin keras. Aku membiarkan, Diana pasti tidak mau memilih. Dion yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, tetap selalu Diana rindukan.
Keputusanku sudah bulat, aku akan menuntut cerai dari Dion. Dion! apa dia melihat anaknya begitu terluka, atau memang ini yang dia inginkan?
Sejujurnya, dalam hati aku masih mencintainya dan selalu berharap ia bisa kembali seperti dulu. Kalaupun sekarang dia mau meninggalkan Amanda demi kami, aku akan urungkan untuk berpisah darinya.
__ADS_1
Diana menangis hingga terlelap di pelukanku. Gadis kecil yang dulu sangat Dion manja sekarang sudah beranjak remaja. Tidak seharusnya ia menjadi korban ke tidak harmonisan orang tua.
Maafkan ibu Dian, ibu sudah bertahan sekuat tenaga. Pada akhirnya ibu harus menyerah juga.
Aku sungguh tak tahan, membayangkan suami mengadu kasih dengan sahabat. Jika dengan orang lain, aku masih bisa membuat keadaan baik saja. Sekarang, apa lagi yang bisa diperbaiki?
***
"Kamu beneran mau pisah dari Dion?" Tanya ibu, ketika aku ceritakan semua hal tentang aku dan Dion yang selama ini aku sembunyikan.
"Aku udah gak tahan, makin ke sini, aku semakin tersiksa."
"Tapi ibu ko ngerasa sikap Dion ke ibu masih tetap sama. Coba kamu ajak dia ngobrol berdua dulu sebelum kamu menuntut cerai!"
Jelas Dion tidak akan berubah terhadap ibu, walau bagaimanapun ibu adalah nenek dari anaknya.
"Dion itu sangat mencintai kamu, ibu gak percaya dia bisa seperti itu?"
Salahnya aku, tak pernah mendokumentasikan apa yang dilakukan Dion bersama selingkuhan-selingkuhannya termasuk Amanda.
"Aku juga gak percaya Bu, tapi terhadap aku, Mas Dion sudah mulai kasar."
Aku menggeleng, sikap berubah Dion, tak menjadikannya ringan tangan. Memang, sejak menikah Dion tak pernah sekalipun menamparku, memukul atau yang lebih parah dari itu.
"Lalu?" Tanya ibu penasaran.
"Sekarang Dion berani membentak, dan tidak mau sekali saja mendengarkan ku." Keluhku. Lebih baik aku berbagi pada ibu dari pada sahabat yang akhirnya menusuk dari belakang.
Sebelumnya aku tak pernah mengadukan masalah rumah tangga pada ibu, tapi untuk saat ini tak ada orang yang aku percaya selain ibu.
"Apa kamu pernah memergoki Dion sedang selingkuhannya di suatu tempat?"
"Enggak, aku hanya tau dari ponsel dan dari mulut Dion sendiri."
"Bagaimana bisa kamu menuntut Dion di pengadilan kalau kamu gak punya bukti?"
Bukti? Apa harus ada bukti untuk bercerai?
__ADS_1
Ibu menatapku dalam-dalam, ibu pasti mencoba meresapi apa yang aku rasakan. Siapa yang mau rumah tangganya hancur karena orang ke tiga. Aku sedari menikah dengan Dion, tak pernah berpikir atau membayangkan Dion akan jatuh di pelukan wanita lain.
"Apa kamu gak coba bertahan sekali lagi?" Ibu sepertinya tidak rela jika kisah hidupku berakhir menyedihkan.
"Gak Bu, keputusanku sudah bulat."
"Apa kamu gak mau memperbaiki semuanya di Diana?"
"Apa Bu? selama ini aku sudah bertahan, tapi lihat apa yang dilakukan Mas Dion! bukannya dia kembali, malah makin menjadi-jadi. Sudah beberapa hari dia gak tidur di rumah, dan aku yakin dia pasti bermalam di apartemen Amanda." Aku terisak, begitu pedihnya hati ini. Andai saja dulu aku tak pernah membuka hati untuk pria yang kini amat menyakitiku.
"Dari mana kamu tahu kalau Dion bermalam di apartemen Amanda?"
"Dimana lagi Bu, sekarangkan selingkuhannya Amanda."
"Apa sebelumnya Dion juga pernah bermalam dengan selingkuhannya yang lain?"
Aku memandangi ibu, karena aku terlalu mengalah sehingga aku lemah, dan aku tak tahu banyak tentang perselingkuhan Dion. Untuk menjaga hatiku agar tetap baik, maka aku biarkan saja dia bermain-main.
"Belum, Mas Dion belum pernah seperti ini. Makanya aku ingin pisah saja."
Ibu memelukku. Wajah ibu berubah sendu, menunjukkan betapa ia kecewa pada menantu yang selalu ia sanjung.
"Elisa, gimana kalau kita datangi apartemen Amanda, untuk kita jadikan bukti di pengadilan nanti?"
"Sebenarnya Bu, tanpa bukti juga kami pasti bercerai. Selama ini Mas Dion selalu mengancam, kalau aku mencampuri urusannya, dia akan menceraikan ku."
"Begitu ya." Sepertinya ibu sulit percaya dengan semua yang aku katakan. Dion memang menantu idaman, dia selalu menempatkan orang tuaku selayaknya orang tua dia sendiri.
Aku juga tidak percaya, tapi ini nyata. Aku mengalaminya disaat aku benar-benar mencintai suamiku.
Amanda, bisa saja aku lakukan hal yang paling buruk untuk dia, tapi aku tak mau Dion malah semakin membenciku.
Selanjutnya, aku akan ikuti saran ibu, mengunjungi apartemen Amanda. Aku harap mereka disana bisa aku fhoto untuk bukti agar hak asuh Diana jatuh padaku.
Aku ragu, walau memiliki bukti, Dion tidak akan membiarkanku membawa Diana. Apalagi secara materi, dia bisa melakukan apa saja.
Sekuat apapun hati wanita, jika ia sudah tak tahan maka apapun akan dia lakukan untuk meraih kebahagiaan.
__ADS_1
Jujur, pernikahan kami sangat bahagia tapi lama-lama badai menerpa. Harapan menghadapi badai bersama sirna perlahan beriringan dengan ke egoisan.
***