SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 3


__ADS_3

Sampai tempat kerja, di parkiran aku tidak melihat motor Riswan. Tetap berpikir positif, mungkin dia masih di jalan. Hingga pukul 8 pagi, Riswan tak juga nampak, sedangkan mobil gudang sudah hampir berangkat.


Mobil pun melaju, tanpa aku tahu siapa yang mengendarai. Karena penasaran, aku memberanikan diri masuk gudang.


"Siapa? bukan mas Riswan?"


"Iya Yu, itu Roni, suamimu 'kan libur."


Untung saja Nola ada dan aku langsung menemui.


Itulah ada yang mengatakan, jika kita berbohong sekali maka seterusnya akan berbohong. Riswan telah berhasil melakukannya. Setelah banyak berbincang dengan Nola, akhirnya aku tahu kalau Riswan malah lebih banyak libur ketimbang masuk. Padahal selama ini aku tahunya kerjaan Riswan berjalan tanpa hari libur.


"Sejak kapan si Roni itu masuk?"


"Sudah hampir setahun, yang masukin juga 'kan suami kamu, masa kamu gak tahu?"


Mataku tak berani menatap Nola, aku malu karena secara tak langsung dia tahu bagaimana keadaan rumah tanggaku.


"Masalah itu ya, hmmm aku sih jarang tanya-tanya ke mas Riswan."


Pasti dalam hati, Nola bertanya-tanya. Tatapannya aneh, dan aku jadi sedikit resah. Selama ini mas Riswan tak pernah melibatkan aku dalam urusannya, bukankah itu berarti aku tak begitu penting baginya?


Atau jangan-jangan, mas Riswan sudah tak menginginkanku. Apa karena aku belum bisa memberinya keturunan? tapi apakah masalah ini menjadi alasan untuk dia tak menghargai ku lagi?


"Ayu, kamu kenapa?"


Nola telah menghentikan lamunan. Sepertinya masalahku dan mas Riswan bukan sekedar uang.


"Yang aku tahu, Riswan punya kerjaan yang lain, tapi dia kekeuh gak mau berhenti kerja dari sini. Jadinya sekarang dia malah kerja part time di sini, sedangkan kerjaan tetap di tempat lain."


Hati bagai tertusuk duri. Sakit menerima kenyataan, Nola tak mungkin berbohong, dia adalah teman terbaikku semasa kerja.

__ADS_1


Nola melirikku, dia tahu bahwa aku berusaha menahan air mata.


"Kamu ko sedih, ada yang salah dengan kata-kataku?" Nola menutup pintu kantor yang berada di sudut gudang. Dia mendekat, dan mulai mengerti apa yang telah menimpaku.


Aku menyeka air mata yang lolos begitu saja.


"Maaf Ayu, aku kira hubunganmu dengan Riswan baik-baik aja. Aku gak nyangka, Riswan sama sekali gak bilang soal ini ke kamu."


Sekarang aku bisa mengerti, dia tetap mempertahankan kerjanya di sini, agar aku tidak curiga. Lalu, dimana sekarang dia bekerja?


Nola telah merelakan waktu kerjanya untuk mendengarkan curhatan ku, dengan air mata aku ceritakan segalanya. Hubunganku dengan Riswan yang baik-baik saja dan ternyata aku menemukan dia telah berbohong.


Nola tidak tahu banyak tentang Riswan karena memang dari dulu mereka tidak terlalu akrab. Malah seringnya beda pendapat yang mengakibatkan perselisihan yang berkepanjangan.


Nola merangkul ku, memberi ruang agar aku tak sungkan berbagi kisah hidup yang menyakitkan. Dari kebohongan soal pekerjaan, curhatku menjalar sampai kebencian mertua padaku.


Pada akhirnya aku menangis sesenggukan, mencurahkan segala kesedihan, terutama masalah anak. Aku tidak tahu siapa yang bermasalah antara aku dan Riswan. Kami sama-sama tidak ingin diperiksa.


Lagi pula, Riswan tak pernah ada masalah ketika kami berhubungan. Aku pelajari, dan menurutku dia juga normal dan perkasa. Aku bisa rasakan hubungan bercinta kami aman, makanya aku percaya seratus persen pada Riswan.


***


Aku kembali ke rumah dengan hati kecewa. Kehilangan jejak Riswan dan aku tidak boleh gegabah, bermiat menyelidiki sendiri. Harus bisa menahan emosi. Aku tak pernah bersandiwara sebelumnya, jadi tak yakin apa bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa?


Aku mengenal Riswan ketika bekerja di sebuah perusahaan makanan ringan. Mendapat tugas sebagai admin gudang, Riswan salah satu sopir pengiriman barang yang berhubungan langsung denganku. Waktu itu perasaanku biasa saja, Riswan orangnya supel, dia sering menggodaku, aku penasaran, kami pun saling tukar nomor, dan akhirnya kami dekat, semakin dekat lalu memutuskan untuk menjalin hubungan spesial.


Di kerjaan kami tidak menunjukkan ada hubungan, karena paham aturan perusahaan, tidak boleh ada cinta lokasi. Kalau sampai menikah pun, salah satu harus berhenti.


Kembali ke masa itu ...


"Ayu, aku mencintaimu, maukah kamu menikah denganku?" Secara tiba-tiba saat kami makan di lesehan, Riswan melamar.

__ADS_1


Kala itu aku sedang dimabuk asmara, dan tak ada pertimbangan untuk ajakan dia. Aku langsung mengiyakan dan tak lama kami menikah. Tiga bulan awal pernikahan, kami tinggal di rumah ibuku. Selanjutnya Riswan membawaku ke rumah mamahnya.


Setahun pertama, mamah sangat baik. Dia tidak pernah mengomentari apa saja yang aku kerjakan, bahkan aku leluasa tiduran di ruang tv tanpa merasa canggung. Aku merasa dianggap sebagai anak kandung. Tapi, lama-lama berubah. Tidak mengerti, atau memang sebenarnya inilah sifat asli mamah mertua, entahlah.


Riswan adalah orang yang terbaik yang pernah dekat denganku. Aku sangat mencintainya, masalah apapun kami hadapi bersama. Sejak awal kami berjanji untuk saling terbuka. Aku pun percaya sepenuhnya, maka aku tak pernah menanyakan prihal pekerjaan. Aku hanya menerima uang yang dia berikan, meski kadang uangnya kurang tapi tak pernah aku permasalahkan.


Aku juga berusaha agar aku dapat menghasilkan uang dengan cara berjualan Snack, tapi sayang, butuh modal yang tidak sedikit. Aku menyerah.


Nah, sekarang kalau dari kerja yang baru dia masih belum bisa dapat gaji besar, buat apa dia lakukan ini?


Kerja tetap atau nyambi, sama saja. Uang yang dia berikan padaku ya segitu.


Kata Nola, gaji Riswan di gudang, jadi dihitung harian.


Berarti kerjaan barunya yang memberi gaji untuk biaya sehari-hari, padaku dia selalu tepat waktu memberi uang belanja, yang harus aku cukup-cukupkan selama satu bulan.


Seharian ini aku memikirkan Riswan, apa yang sebenarnya terjadi? Saat aku coba menghubungi, ponselnya tidak aktif. Berarti memang sekarang kalau sedang bekerja selalu tidak aktif. Padahal bekerja sebagai sopir yang mengirim barang ke banyak alamat, seharusnya ponsel selalu aktif.


Aku terlalu percaya hingga tak sadar Riswan telah membohongiku terlalu jauh.


Lihat saja kamu, jika sampai kamu memiliki wanita lain, aku bersumpah tidak akan sudi menerimamu lagi!


Masih aku ingat dan selalu aku simpan dalam memori, bicaranya yang meyakinkan, "Ayu sayang, percaya sama Mas, gak akan pernah mengecewakan kamu. Mas sangat mencintaimu. Janji, gak bakal bikin kamu sedih."


Dia memang tidak pernah membuatku sedih berkepanjangan. Kalau aku marah dia diam. Aku yang buat salah, dia tak pernah marah. Suatu waktu aku pernah marah besar karena dia selalu membela mamahnya, meskipun dia tahu mamahnya salah. Dia hampir memukul tapi tak jadi malah memelukku erat dan meminta maaf. Sejak itu aku sangat yakin bahwa Riswan sungguh mencintaiku dan aku percaya sekecil apa masalahnya, dia tidak akan berbohong.


Aku masih bisa mengerti dia, akan beri dia kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Tapi, apa semuanya perlu penjelasan, bagaimana kalau lagi-lagi dia tidak berterus terang?


Oh, ya, Allah ... apa yang harus aku lakukan.


***

__ADS_1


__ADS_2