SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 8


__ADS_3

Sudah satu bulan, tapi aku tidak menerima sisa uang tabungan yang jumlahnya 8 juta. Padahal aku sudah janji pada ibu dan saudara-saudaraku akan segera melunasi hutang. Belum lagi hutang pada teman-temanku.


Setiap aku menanyakan hal ini, Riswan selalu menghindar. Dia juga sampai sekarang belum menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya antara dia dan mba Mirna. Sejauh ini aku memang belum menemui wanita itu, tapi aku selalu berusaha agar Riswan sendiri bisa menyelesaikan.


Malam ini dalam suasana sunyi, kami berdua menikmati secangkir kopi. Menyeruput secara bergantian. Masalah yang mendera rumah tanggaku mulai dingin, aku sudah tak mempermasalahkan hubungan Riswan dan sepupunya.


"Bu, ibu tahu gak, kenapa ayah sayang banget sama ibu?"


"Kenapa?"


"Karena ibu sabar."


Riswan tak tahu kalau sabar juga ada batasnya, selama dua Minggu ini aku sering bertemu dengan Fiki, sampai kami memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman.


Riswan tak tahu, buah dari kesabaran ku adalah aku juga bisa memiliki kekasih lain. Fiki tidak keberatan dengan statusku yang masih jadi istri orang. Terpenting baginya adalah dia bisa memiliki aku. Malah dia mau membantu melunasi hutang-hutangku asal aku mau menemani saat dia perlukan.


"Kenapa sih ibu kepikiran ayah selingkuh dengan mba Mirna?"


"Dari ayah suka bohong, ibu tahu pasti ada apa-apanya."


"Tapi kan gak musti mikir gitu juga Bu?"


"Ayah sendiri gak terus terang sama ibu!"


"Gimana mau jelasin, ibunya suka emosian."


"Udahlah gak papa ayah ada hubungan juga, ibu sih bebas-bebas aja."


"Laaah ko gitu, Bu?"


Riswan merangkul dan aku menghindar.


"Coba dengerin dulu ayah, Bu. Malam ini ayah akan ungkap semuanya."


Aku tidak peduli, sekarang aku sudah punya cinta yang baru. Cinta yang selalu membuatku berdebar setiap waktu. Lagi pula, rumah tanggaku dan Riswan sudah tak bisa dipertahankan. Sekalinya berbohong, dia akan terus begitu.


"Ayah gak ngelakuin apa pun sama mba Mirna. Ayah cuma jadi sopir pribadinya. Mengantar dia kemanapun dia pergi dan ayah digaji. Malah sebenarnya yang sepuluh juta itu, bukan uang tabungan ayah, tapi itu merupakan uang yang dijanjikan mba Mirna, kalau ayah mau membantu dia."

__ADS_1


"Ibu gak ngerti."


"Jadi gini lho Bu, mba Mirna lagi deket sama pak Presdir di sebuah perusahaan besar di kota ini. Dia ngajak mba Mirna nikah, tapi mba Mirna ragu, dia gak percaya kalo orang itu duda. Mba Mirna minta bantuan ayah buat cari informasi tentang Presdir tersebut. Karena dia datang dari luar kota, kamu butuh waktu lama buat ungkap segalanya."


Percaya tidak percaya aku mendengarnya, seperti di sebuah sinetron saja. Riswan pasti sedang mengada-ada.


"Terus?"


"Bulan depan mereka jadi nikah."


Keningku mengkerut, fokus pada apa yang aku dengar.


"Ayah berhasil membuktikan kalau Presdir memang benar-benar tidak beristri. Lalu ayah dijanjikan uang yang delapan juta akan ditambah jadi tiga puluh delapan juta."


Aku terbelalak, meski tak percaya, mendengar nominal sebesar itu angan ku melayang.


Beberapa kali aku yakinkan diri bahwa ini bukan mimpi, lalu aku tepis semua kata-kata yang bisa saja hanya bualan karena malam ini dia menginginkan sesuatu dariku.


"Ayah anggap ibu ini bodoh ya? kalau bohong jangan segitunya!"


"Terus kenapa ayah gak bilang dari awal?"


"Mba Mirna minta dirahasiakan, sebelum dia bisa buktikan bahwa Presdir itu duda. Karena mba Mirna gak mau jadi istri kedua, apalagi sampai dapat tuduhan pelakor."


Aku mulai pusing dibuatnya, jika memang Riswan tidak ada hubungan spesial dengan kakaknya, mati aku. Aku sudah salah sangka dan karena kecerobohanku, aku sendiri yang jatuh ke jurang kenistaan.


"Tapi tetangga bilang, ada yang pernah liat ayah pergi ke hotel sama mba Mirna?"


"Memang sering, mba Mirna suka menemui Presdir di hotel. Hotel yang juga tempat Presdir itu menyimpan saham."


Aku masih tidak percaya. Masa iya sih, nasib mba Mirna bisa seberuntung itu?


Riswan menatapku dan dia merasa lega telah bicara padaku. Melihat senyuman yang tulus, aku merasa diriku sangat bodoh. Kini justru aku yang telah mengkhianatinya dan apa yang akan dia lakukan jika dia tahu semuanya.


"Ibu pernah baca chat dari mba Mirna, dia bilang ayah mainnya harus bagus biar bonusnya-- apa ya, ibu lupa lagi."


Riswan tertawa.

__ADS_1


"Kenapa? apa yang dimaksud dengan main itu?"


"Tenang Bu, maksud mba Mirna, ayah harus bisa memata-matai si presdir tanpa ketahuan. Kalau bonus, ya itu mba Mirna mau kasih ayah tiga puluh juta lagu kalau mereka jadi nikah."


Kepala senut-senut, berputar-putar, rasanya ingin berhenti saja di satu titik. Seandainya tak ada Fiki hadir saat aku menghadapi masalah, setelah ini aku tak akan mendapatkan lagi masalah dan akhirnya aku dan Riswan bisa bahagia tanpa ada lagi dusta.


Menyesal.


Tentu saja, dan sesal ku tak ada artinya jika aku tak mengakhiri hubungan dengan Fiki.


"Ayah gak bohongi ibu lagi 'kan?"


"Enggak sayang, ayah minta maaf ya?"


Riswan memelukku erat, aku tak bisa lagi berkata-kata. Air mata berjatuhan dan aku merasa hina. Apa pantas, aku masih diperlakukan seperti ini. Seharusnya memang aku bersabar dan menunggu apa yang akan terjadi. Bukan malah memadu kasih dengan yang lain.


Masalah baru.


Aku dan Fiki harus mengakhiri hubungan yang tak jelas ini. Aku harus bisa meyakinkan dia bahwa masih banyak wanita lain yang lebih baik dari ku.


Hati kecil, aku tak ingin kehilangan Riswan. Niat pacaran dengan Fiki, tadinya ingin memberi Riswan pelajaran. Tapi, berbalik, aku yang seharusnya dapat pelajaran dari semuanya.


"Ibu ko nangis?"


Aku menangis sejadi-jadinya. Penyesalan selalu saja datang diakhir, semua terlalu cepat dan aku menyesali diriku yang tak sabaran ini.


Apa harus aku katakan sejujurnya pada suamiku?


Aku ingin kembali seperti dulu, walau banyak masalah, kami selalu menghadapi bersama.


Setelah ini aku harus tegas pada Fiki, aku harus bisa membuatnya melepasku. Aku juga harus bisa menjaga hal ini dari Riswan. Aku tak mau dia meninggalkan aku, aku baru sadar bahwa tak ada lagi laki-laki sebaik Riswan setelah tahu bahwa Fiki itu pecundang, dia adalah laki-laki ringan tangan.


Lewat media sosial yang tersambung dengan Dian, aku coba mencari kebenaran. Ternyata mereka bercerai bukan karena Dian selingkuh, melainkan Fiki yang seringkali memukul tanpa sebab. Dia sering marah-marah tidak jelas. Dian mengatakan itu dengan jujur, karena aku tidak memberi tahu sudah bertemu dengan Fiki.


Sempat tidak percaya dengan apa yang Dian sampaikan, aku tidak menghiraukan dan kini akan aku buktikan. Seperti apa Fiki sebenarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2