SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 11


__ADS_3

Dua tahun sudah aku hidup tanpa Dion. Ayah yang awalnya menentang perceraian kami, tak kuasa lagi menahan ku saat aku bersikukuh menyerah dan mengakhiri semua.


Diana sudah remaja, jadi dia bisa menentukan dengan siapa dia akan tinggal. Aku tidak keberatan saat dia memutuskan untuk tinggal dengan ibuku. Menurutku dengan ibu dia bisa tumbuh menjadi gadis baik dan periang. Kakeknya sendiri, berjanji akan memberikan sebagian saham perusahaan pada Diana, setelah Diana dewasa.


Sejak perceraian, aku tak pernah menemui Dion. Meskipun Diana sering mengajakku untuk menjumpainya. Bagiku, setelah perceraian, tak ada lagi hubungan sekalipun pertemanan.


Akan tetapi dihari ulang tahun Diana kali ini, aku tak bisa menolak permintaanya. Dengan terpaksa aku ke rumah Dion untuk merayakan ulang tahun anak gadisku.


Memasuki rumah yang menyimpan banyak kenangan buruk, membuatku hampir terjatuh. Tiba-tiba aku merasa pusing dan sebaiknya aku memang tidak menghadiri acara Dion meski ini merupakan hari spesial anakku.


Aku ingin lihat, bagaimana reaksi Dion saat melihatku datang bersama seseorang yang sangat dia kenal.


***


Baru saja datang, Dion sudah menatapku heran. Pandangannya tertuju pada perutku yang mulai terlihat besar.


"Kamu hamil?" Tanyanya seraya mendekat.


"Iya."


"Hamil sama siapa?"


"Sama suami baruku."


"Jangan bercanda Elisa, Diana gak pernah cerita kalau kamu sudah menikah lagi."


"Aku yang menyuruhnya, karena aku gak mau kamu merusak kehidupan baruku yang bahagia."


Dion mencoba menyentuh perutku, namun aku dapat menghindar. Dia memperlihatkan wajah tak percaya. Aku tahu banyak yang ingin dia tanyakan. Namun semua akan terjawab setelah suamiku kembali dari toilet.


"Elisa, apa kami serius? siapa ayah dari anak ini?"


Aku tidak langsung menjawab, karena dia tak berhak lagi mengurus hidupku. Meskipun aku merupakan ibu dari anaknya, dia sudah menjadi orang lain bagiku.


"Elisa, apa kamu sama sekali gak mau kembali padaku?"


Aku menggeleng perlahan. Aku harap Dion bisa merasakan bahwa tak ada lagi cinta diantara kami. Sedikitpun aku tak ingin kembali, cukup sudah dia menyakitiku, selama pernikahan kami, kebahagiaan yang dia beri bisa dihitung jari. Dia lebih percaya ibu tirinya ketimbang aku dulu sebagai istrinya.


Padahal Dion masih bisa menggunakan cara lain, untuk menguji cinta dan kesetiaanku. Dia tak pernah berpikir bahwa sakit dikhianati tak akan pernah terobati hanya dengan kata 'maaf'. Bertahan demi anak sudah aku lakoni, sejauh itu Dion tak pernah menghargai.


"Elisa, aku sangat mencintaimu!"


Dion tidak tahu diri dengan mencoba memelukku.


"Ehem!!!" Dion berhenti ketika mendengar seseorang berdehem dibelakangnya.

__ADS_1


Dion terperanjat saat tahu, orang itu adalah Rendi. Rendi yang dulu ikut menghilang dari hidupnya.


Benar, aku memilih menikah dengan Rendi. Entah bagaimana, aku sekarang begitu mencintainya. Aku tak peduli pandangan orang lain. Bahkan aku tak menghiraukan saat aku yang dituduh telah berselingkuh.


Sekarang aku hamil enam bulan. Rendi sangat jauh berbeda dengan Dion. Dari cara dia memperlakukan aku hingga cara dia membuatku merasa berharga.


Dari luar saja Rendi terlihat dingin, setelah kami hidup bersama, aku sangat bersyukur karena segala yang aku harapkan dulu dari Dion, seluruhnya dimiliki Rendi. Perhatian, pengertian dan paling penting, setia.


"Omong kosong. Aku tahu kalian sedang bersandiwara. Sudahlah hentikan kekonyolan ini!"


"Apa harus kami tunjukkan bahwa kami adalah sepasang suami istri?" Tanya Rendi yang lalu melewati Dion kemudian merangkul aku erat-erat, sembari mengecup pipi.


Dion nampak geram, dan itu sangat mengerikan untukku. Jika dia memang masih mencintaiku, dia akan merasakan apa yang dahulu aku rasa.


"Gak mungkin. Aku gak percaya!" Penuh keyakinan, Dion menarikku kasar dari pelukan Rendi.


Jelas saja Rendi tidak terima, sekarang Dion tak berhak atas diriku.


"Dion!" Suara Rendi menghentak.


"Elisa, katakan ini gak benar!" Dion yang egois.


"Jangan-jangan, anak yang kamu kandung itu anakku. sebelum bercerai, kita sempat melakukannya bukan?" Pernyataan yang tak pantas.


"Dion, jaga bicaramu! Sekarang, Elisa adalah milikku." Rendi kembali merebutku.


Hal yang banyak wanita idamkan, diperebutkan oleh dua lelaki tampan. Tapi bagiku ini adalah hal menjijikan. Dimana Dion, sangat memalukan.


Aku peluk erat Rendi, khawatir dengan kondisi bayi kami, aku mengajaknya untuk pulang saja. Diana mengerti, dia membiarkan aku pergi dari rumah ayahnya.


***


Beberapa hari lagi aku akan menghadapi persalinan. Meski bukan yang pertama, tapi aku tetap dilanda kegelisahan. Untuk mengusir segala kegundahan, dengan detil aku siapkan keperluan kami. Bayi yang ketika kami USG terakhir, berjenis kelamin laki-laki.


Tidak sabar, harap-harap cemas dan bahagia, seperti itulah gambaran hati kami. Aku bisa menangkap ketulusan Rendi, ketika ia sibuk mempersiapkan acara penyambutan kehadiran anak pertama kami.


Awal menikah, Rendi sudah mengungkap semua tentang perasaanya. Jadi sebelum Dion menemukan aku, Rendi sudah lebih dulu menyukaiku. Mulanya ia ingin mendekati aku, akibat rasa malunya yang besar, ia memilih untuk memendam perasaan. Sayangnya Dion mengetahui hal ini pada saat tahun pertama pernikahanku dengan Dion.


Jika Dion sangat mencintaiku, ketika ia tahu ada seseorang yang menginginkan aku, seharusnya ia berusaha mempertahankan. Bukannya malah terus-terusan menyakiti.


Mendapati Rendi yang berterus terang akan semuanya, aku tahu bahwa cinta sebenarnya adalah dia yang selalu menjagaku.


Selama ini aku tak sadar, Rendi selalu memastikan keselamatan dan kebahagiaanku. Rendi pikir aku tak akan bisa berpaling dari Dion, makanya dia hanya diam menyaksikan apa yang terjadi dengan rumah tanggaku.


***

__ADS_1


Aku dan Rendi sudah berjanji untuk saling percaya, dan tidak akan pernah saling menyembunyikan sesuatu. Rendi berjanji tidak akan pernah menyakitiku. Apa pun masalah yang kami hadapi, Rendi akan selalu berada di sisiku.


Seperti hari ini, pada saat aku mendapatkan chat dari Dion. Rendi menggeleng, hanya bisa tersenyum sambil menahan emosi.


Aku sungguh tak habis pikir, apa yang Dion mau. Dulu saat aku berjuang mepertahankan rumah tangga kami, dia selalu acuh.


Giliran aku yang menyerah, dia terus menggangguku.


Malam hari, pukul sepuluh, ada notifikasi pesan masuk ke nomorku. Nomor tak dikenal karena belum tersimpan. Aku dan Rendi sama-sama membuka pesan itu, tak ada rahasia diantara kami, jadi kami terbiasa saling mengintip pesan yang masuk.


Saat kami membuka dan membacanya, secara bersama kami berdecak kesal. Nama pengirim pesan itu adalah Dion.


[Elisa, aku mohon, ijinkan aku untuk melakukan tes DNA, pada anak yang kamu kandung, setelah ia lahir]


Gila. Dion sudah gila!


Terakhir kami berhubungan badan, sudah sangat lama, dan aku sempat datang bulan. Masa iya aku hamil anak dia.


Wajah Rendi berubah masam. Dia meletakkan HP diatas ranjang. Kemudian ia bersiap untuk pergi.


"Sayang, mau kemana?"


"Menemui Dion!" Sangat marah.


"Kamu sendiri yang bilang, jangan anggap dia. Kita bisa menganggap dia gila, jadi biarkan saja."


"Kalau gak diselesaikan malam ini juga, Dion akan terus menggangu kita."


"Tapi sayang, sudah malam, besok masih bisa kan?"


"Lisa sayang, aku harus buat perhitungan. Supaya Dion sadar, bahwa ia sudah sangat mengganggu!"


Aku memeluk Rendi dari belakang,sangat erat. Aku tak mengijinkannya pergi, dan meyakinkan dia bahwa tak ada yang lebih penting selain dirinya.


Beberapa detik kemudian, ada kontraksi. Perutku tiba-tiba mulas, yang awalnya biasa, lama-lama semakin sering dan tak kuat lagi. Aku mau melahirkan, dengan sigap Rendi memboyongku keluar rumah hingga naik mobil kemudian sampailah kami di rumah sakit.


Aku yang kehabisan tenaga akibat memikirkan hal yang menyakitkan. Aku juga memikirkan hal-hal yang akan datang, yang tak terduga lainnya. Mau tidak mau aku harus mejalani operasi caesar, padahal sebelumnya sudah ada pembukaan, namun karena kondisi badan yang semakin lemah, keputusan akhir adalah dengan jalan operasi.


Tak lama, lahirlah seorang bayi laki-laki yang aku idamkan. Selama tiga hari aku tidak diperkenankan untuk menggendongnya, dari balik jendela kaca lebar, aku pandangi wajah bayi mungil itu, tampan seperti Rendi.


Terimakasih sayang, sudah mewarnai hidup mamah. Semoga papah Rendi selalu bertanggung jawab sampai nafas terakhirnya.


Aku berdoa agar dia diberi umur yang panjang dan barokah. Setelah dewasa aku harap dia tidak menyakiti wanita yang dia cintai. Aku berjanji akan mengajarinya supaya dia bisa menghargai wanita. Aku tidak ingin dia melakukan kesalahan terhadap wanita mana pun.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2