
Radit bersikap begitu dingin, tidak seperti biasa. Ketika orang tuanya masuk ke kamar, dia menyuruhku segera pergi. Aku berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak akan berbuat sesuatu yang menyebalkan di depan mereka.
"Cepat kamu keluar Bela, sebelum mereka curiga!"
"Tapi, sayaaang--"
"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu pulang. Nanti aku hubungi, kalau aku membutuhkanmu lagi."
Aku menatap Radit kecewa. Padahal aku sangat ingin dia memberikan pengakuan atas diriku dihadapan orang tuanya. Atau setidaknya, mereka bisa mengenalku sebagai teman dekat Radit.
Dengan berat hati, aku menuruti keinginannya. Aku dan orang tuanya saling melempar senyum saat berpapasan.
Aku meninggalkan rumah sakit dengan pikiran yang tak karuan. Merasa, hubunganku dan Radit sudah terlalu lama. Selama lima tahun kami hubungan, dan selama itu tak ada satupun yang tahu bahwa kami telah menjalin kasih.
Aku memesan taxi lewat aplikasi, sedikit kesal karena biasanya mobil yang aku pesan, berselang sepuluh menit pasti sudah ada. Sekarang, hampir tiga puluh menit, aku menunggu. Awalnya aku mau cansel, tapi secepat itu taxi bercat biru berhenti tepat di depanku.
"Atas nama Ibu Bela?" Tanya sopir dibalik kaca jendela mobil.
"Iya!" Jawabku ketus sambil membuka pintu depan, masuk lalu duduk dengan tanpa menoleh ke arah sopir.
"Maafkan saya Bu, tadi saya kejebak macet, karena ada kecelakaan lalu lintas." Katanya sambil menyetir. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Aku tidak menggubris. Tiba-tiba selera marah-marahku hilang. Tadinya aku ingin memarahi sopir taxi, tidak jadi karena hatiku berasa dingin. Sedingin sikap Radit padaku.
Dalam hati aku tak tahu tempat yang harus aku tuju. Entah harus ke kosan atau ke rumah kakakku. Kakakku yang malang, kenapa sih dia masih mempertahankan Mas Pram. Padahal dia tahu kalau Mas Pram itu bajingan. Tukang selingkuh!
Radit, jika saja dia tadi mengijinkan aku agar tetap disana menemaninya, aku tidak akan kebingungan. Di kosan, Nilam pasti akan menyerang dengan banyak pertanyaan. Membuatku malas, aku akan pulang ke kosan kalau dia sudah tidur.
Gara-gara Radit kecelakaan, Nilam jadi mengetahui semuanya. Dia orang pertama yang tahu akan hubungan kami. Aku kira, Radit juga akan mengungkapkan pada kedua orang tuanya.
"Cemberut aja kak, kita mau kemana?" Kata sopir, mengejutkan. Ya ampun, aku melamun.
Kosanku nampaknya sudah terlewat.
"Putar balik bisa Mas?"
Dia mengangguk.
"Ada masalah apa, sepertinya serius sekali, kamu pasti bingung mau kemana ya?"
Sopir taxi yang sksd (so kenal, so deket), aku tidak suka.
"Bukan urusan anda!" Jawabku dengan pandangan lurus menyisir jalanan.
"Tapi saya mau tahu."
Apa sih ini orang, bikin aku semakin kalut saja.
Tidak sadar, kosan aku kelewat lagi.
"Heh! Bukan urusanmu! Anda ini sopir atau wartawan ya?"
Dia diam tak menjawab.
"Putar balik lagi." Aku membentak.
__ADS_1
Aku bisa melihat kalau dia menoleh ke arahku, lalu dia tertawa. Menjengkelkan!
"Berhenti, saya turun disini saja!"
Mobilnya tetap melaju, jantungku berdebar-debar. Rasa khawatir mulai tumbuh, dan terpaksa kali ini aku arahkan pandangan padanya. Atau aku langsung teriak saja. Sial, jendelanya dikunci.
"Berhenti!"
Aku mengamati wajah dari arah samping yang terhalang oleh topi. Sosok yang aku kenal. Dia sungguh tidak asing bagiku.
Ya, Deri!
"Ka-kamu?" Kataku terbata tak percaya.
Dia membuka topi lalu tersenyum.
Seketika kecemasanku hilang.
Aku sangat terkejut, pria tampan yang dulu jadi rebutan di sekolah, sekarang jadi sopir taxi online.
"Kamu lagi ada masalah apa Bel?" Tanyanya lembut.
Aku malu, perlahan dia membuka kaca jendela mobil, tahu aku tak suka AC.
"Biasalah Der, masalah cewek."
"Jadi sekarang, kita mau kemana?" Dia menyentuh tanganku, aku biarkan karena aku dulu pernah menyukainya.
"Kita?" Balik tanya tanpa melepaskan tangannya dari tanganku.
Waw! pria tampan rupanya bisa putus cinta.
"Enaknya kemana ya?"
"Pantai?" Rekomendasi tempat pertama yang Deri lontarkan.
"Jauh!"
"Taman?"
"Gak ah, terlalu terbuka."
"Mall?"
"Ngapain, aku kurang suka tempat dibanjiri banyak orang."
Deri memonyongkan mulutnya ke depan. Kembali ia meraih tanganku, kali ini ia memegangnya erat. Kemudian memarkir mobilnya di pinggir jalan. Badannya dihadapkan padaku.
"Gitu ya, gimana kalau kita ke hotel?"
Aku tercengang, namun tak bisa berkata-kata lagi. Pria yang dulu sangat aku impikan, mengajakku memasuki sebuah ruangan yang sepi, dan sudah bisa aku bayangkan apa yang akan dia lakukan padaku.
"Aku bercanda ko." Melihatku mati kutu, dia bilang begitu.
Apa yang akan dia katakan jika aku, menyambut ajakannya.
__ADS_1
"Kalau mau, ayo kita ke hotel paling dekat aja."
Giliran Deri yang terkejut dengan pernyataan ku. Dia menatapku kosong, mungkin ia tak menyangka aku bisa menyetujui idenya.
"Serius?" Deri benar-benar kaget.
Kami saling menatap, Deri tak berucap lagi. Aku memperlihatkan nafas yang tak beraturan. Pikiranku jadi kacau.
Aku tersenyum, makin lama makin lebar, dan akhirnya aku tertawa terbahak-bahak.
Deri salah tingkah, ia mencoba menelaah apa yang terjadi denganku. Dia mengambil sebatang roko lalu menyesapnya.
"Aku juga becanda kali!" Kembali aku tertawa, karena berhasil membuat Deri terlihat lucu.
Dia terus menyesap roko, sesekali memandangiku dengan senyum tipis. Aku yakin dia pasti malu.
"Sebelumnya kamu pernah ke hotel dengan seseorang?"
Dia menggeleng cepat.
Dalam batin, aku menyesal karena aku sering ke hotel dengan Radit.
Usai roko habis, dia berujar, "sekarang kita ke rumahku aja."
Tanpa mendapatkan persetujuanku, mobil melaju menuju rumahnya.
Sepanjang jalan kami diam, dan candaan tadi hanya bisa membuatku tertawa sepintas dan sejenak melupakan Radit. Tapi sekarang, bayang Radit kembali berputar-putar. Aku takut kehilangannya, segalanya telah aku berikan dan aku ingin Radit menjadi milikku seutuhnya.
***
Sampai di rumah Deri, aku disambut gembira oleh seseorang yang ternyata adalah ibunya. Ibunya tampak sangat muda untuk ukuran anak seumur Deri.
"Kamu teman sekolah Deri waktu dulu?"
"Iya Bu."
"Waaah cantik sekali kamu nak." Ibu memuji sembari mengusap rambutku.
Deri melihatku seperti meyakinkan kata-kata ibu, aku memang cantik tapi tak banyak orang yang menyadarinya.
Aku pun berada di rumah Deri beberapa jam, sebelum kembali ke kosan.
Ibunya ramah dan terlihat penyayang. Baru sekali ketemu, beliau sudah menyukaiku. Katanya, Deri tak pernah membawa teman wanita ke rumah. Itu artinya, aku yang pertama yang dia ajak ke rumah.
Masa iya, laki idola seperti Deri tak pernah pacaran. Ibunya bilang Deri lebih senang dengan hobinya dari pada jalan sama perempuan.
Lalu bagaimana nasib Tania, yang dulu tergila-gila pada Deri? aku pikir mereka akan jadi pasangan serasi.
Di rumah Deri aku merasa nyaman, apalagi setelah tahu kehidupan Deri yang sesungguhnya. Dulu aku mengira dia berasal dari keluarga kaya, nyatanya keluarganya sangat sederhana namun nampak bahagia.
Dulu aku memang menyukainya, namun tidak begitu antusias untuk memiliki. Tapi tak dapat dipungkiri, Deri sekarang masih menarik di mataku. Dia sangat baik dan sopan. Dia juga bisa menghargai ku sebagai seorang wanita. Dia mengantarkan aku sampai di gerbang kosan, tanpa meminta hal yang pernah dilakukan Radit saat pertama kami berkenalan.
Ya, Radit memang buaya, tapi aku tak bisa menghindar. Ketika ia mencuri ciuman pertamaku yang membuatku cinta mati hingga kini.
Antara Radit dan Deri, aku tak bisa mengukur rasa suka terhadap mereka, karena mereka berbeda.
__ADS_1
***