SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 4


__ADS_3

Menjadi seorang bawahan, mau tak mau harus menuruti apa kata atasan. Hari ini Monika tak habis pikir, apa yang telah diperintahkan oleh istri Presdir itu adalah hal yang mustahil. Monika sadar ini di luar pekerjaan, lalu dimana Rio? apa dia akan membiarkannya dipermalukan di depan umum?


Sekarang mata kedua wanita itu bertemu, saling menatap penuh kebencian. Monika yang waspada karena Rona sudah mengetahui segala hal, sedang Rona yang menyimpan amarah sedari awal hubungan mereka tetap santai menghadapi Monika.


Rona akui, dia memang cantik, bahkan kecantikannya mengalahkan dirinya. Aneh memang, latar belakang keluarganya sangat miskin, namun dari gaya penampilan dia terlihat berkelas.


Satu yang belum terpecahkan, Rona belum bisa mendapatkan informasi tentang keluarga kandung Monika. Dia tahu bahwa keluarganya saat ini hanyalah keluarga angkat. Sayang, mereka juga tidak tahu asal-usul Monika.


Wanita jalang yang begitu berani, andai Rio tidak mencintainya, mungkin saja saat ini Rona berhasil mengambil hatinya.


Monika sama sekali tidak merasa cemas saat dia tahu Rona memperhatikan, dan seolah dia ingin melakukan sesuatu. Dia hanya berusaha agar terlihat tetap tenang, apa pun yang dilakukan Rona, dia akan hadapi.


Rona meminta Monika untuk mengikutinya memasuki ruangan.


"Jadi kamu yang bernama Monika itu?"


"Betul, Bu."


"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"


"Tiga tahun."


Pertama kali Monika dipanggil menghadapnya. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa istri dari kekasih gelapnya itu bukan wanita sembarangan. Tapi kenapa, Rio sampai hati mengkhianati wanita ini.


Rona memutar-mutar kursi sembari memutar otak untuk memberi pelajaran.


"Apa kamu tahu, kenapa saya memanggil?"


"Tidak, Bu."


"Lalu kenapa tidak kamu tanyakan?" Suara Rona meninggi.


Monika terlonjak kaget.


Rona memang lembut dan anggun, tapi soal pekerjaan dia bisa berubah seperti harimau yang siap menerkam.


"Sa-saya hanya memenuhi panggilan ibu."


"Baik. Apa kamu tahu, berapa kali kamu absen dalam satu bulan ini?"


Dalam hati Monika kesal, hal ini sudah biasa dan Rio tidak pernah mempermasalahkan. Dia tidak masuk kerja juga demi Rio, demi melayani bos sekaligus kekasih.


Monika mengangguk, dia melihat Rona dari sisi atasan bukan saingan. Karena Rona memang tak pernah berniat merebut Rio, dia hanya ingin hidupnya mudah tanpa kekurangan lagi.

__ADS_1


"Berapa kali kamu bolos dalam seminggu?"


"Tiga sampai empat kali, Bu."


"Apa tidak ada yang menegur?"


Monika menggeleng, menunduk dan memanggil nama Rio. Dia harap Rio segera muncul lalu menyelamatkannya dari situasi menegangkan.


"Jelas saja tidak akan ada yang menegur, kamu pasti bayar mereka dengan tubuhmu!"


Rasa panas ketika Monika mendengar ini, dia mendongak dan mengamati wajah wanita di depannya yang tengah menyeringai. Rona sudah tahu, jadi dia pasti tidak akan tinggal diam.


"Maksud ibu, apa?" Mulailah Monika berani, karena sepertinya ini tidak murni soal pekerjaan.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan Rio?" Akhirnya, tujuan utama terungkap. Sebenarnya pertanyaan ini tak perlu keluar dari mulut Rona.


Monika tersenyum kecut, dia baru sadar bahwa wanita ini sedang di bakar cemburu.


Monika tak bicara apa pun lagi, dia menatap wanita itu penuh iba. Ternyata bukan hal pekerjaan yang menjadi penyebab utama dia panggil. Lagi-lagi Monika harus waspada, sekarang Rona pasti akan mencari-cari kesalahan Monika.


"Kalau anda ingin mengetahui segalanya tentang kami, tanyakan langsung pada suami anda!"


Lancang, itu yang tertangkap dari sikap Monika saat ini.


'Sepertinya, dia tahu masalah rumah tangga kami, aku harus lebih berhati-hati.' Batin Rona.


Rona tidak ingin langsung mendepak Monika dari perusahaannya, dia ingin bermain-main lebih dulu dengan mainan suaminya ini.


"Kita profesional, kembali pada absen kamu yang sering sekali bolong tapi bebas hukuman. Kamu tahu, apa hukuman bagi mereka yang bolos lebih dari tiga kali?"


Monika sudah tahu kelemahan Rona, dia akan memanfaatkan perasaanya jika wanita so' berkuasa ini bertindak semena-mena.


"Diskors."


"Jika dia terus mengulang setelah itu harus di apakan?"


"Dipecat!"


"Lalu kenapa kamu masih ada di sini? Ah ya, saya lupa, kamu sudah tak punya rasa malu!"


Monika mulai emosi, Rona mengatur nafas, dan dia kembali pada rencana awal.


Rona menghampiri Monika, dia menepuk lembut bahu sang pelakor lalu membisikkan suatu pertanyaan, "apa kamu tahu apa yang membuatmu masih dibutuhkan di sini?"

__ADS_1


Monika mendelik, perasaanya campur aduk. Antara takut dan malu, tapi dia berusaha menumbuhkan keberanian.


Rona mundur selangkah, kembali mata mereka bertemu, Rona kini nampak lebih santai. Amarahnya surut dan perlahan dia mulai menunjukkan sikap atasan, bukan rival.


"Iya, benar! kami masih mempertahankan, karena kerja kamu sangat bagus, dan kami membutuhkan karyawan yang cakap seperti dirimu, Mo-ni-ka!"


Monika tidak mengerti, apa mau Rona. Jika Rona ingin mengusirnya, mungkin sudah dari tadi dia lakukan.


"Tenang saja, kami punya pengecualian bagi karyawan berprestasi sepertimu, kamu akan tetap di sini namun harus menerima konsekuensi. Sebab, kamu sudah melanggar aturan perusahaan. Saya beserta jajaran direksi tidak akan mempermasalahkan absen terdahulu. Kita ambil bulan ini saja."


'Apa maksudnya, bawa-bawa direksi. Padahal aku dan Lila sudah memanipulasi laporan absensi.' Pikiran Monika meraba-raba rencana Rona.


Kini Rona tersenyum lebar, hatinya lega karena akhirnya bisa mengendalikan emosi.


Monika menatap ke arah pintu keluar, pikirannya kosong. Dia masih berharap kedatangan Rio. Dia tak pernah berpikir bahwa urusannya akan serumit ini.


"Bukan apa-apa, jika kami membiarkan hal ini, kami khawatir akan ada lagi karyawan yang seperti dirimu, dan itu jelas sangat merugikan perusahaan."


Tak ada pilihan, Monika berniat lari dari masalah ini, dia akan mengajukan resign. Tak ada yang perlu dia takutkan, biaya hidupnya akan ditanggung Rio. Dia masih bisa mencari pekerjaan yang lain.


"Lakukan hukuman yang kami berikan, dan jangan coba-coba kabur. Karena kami tidak akan membiarkan kamu mengundurkan diri. Ingat, di surat perjanjian kerja, jika kamu mengundurkan diri secara tiba-tiba kamu harus kembalikan gaji yang kami berikan selama lima bulan, dan jika tidak, kami akan membawa masalah ini ke meja hijau."


Monika heran, kapan dia menandatangani perjanjian tersebut. Setahu dirinya, isi surat perjanjian kerja tidak ada poin demikian. Wah, pasti wanita kesepian itu sedang mengada-ada.


'Aku tidak peduli, mulai besok aku tidak akan menginjakkan kaki lagi di tempat ini. Aku sadar, aku tidak akan bisa menang darinya. Terkecuali diluar sana, aku berpikir apa salahnya jika aku menerima tawaran Rio untuk menikahi ku. Barulah aku dan wanita ini bisa jadi lawan yang setimpal!' Pikiran jahat Monika mulai bangkit.


"Maaf Bu, dalam surat perjanjian, jika ada karyawan resign mendadak, dia hanya tidak akan menerima gaji terakhir dan pesangon. Tanpa harus mengembalikan gaji, bukankan gaji itu hak?"


"Beberapa waktu lalu, kami merubah isi surat itu. Salah satunya ya itu. Mau tidak mau setelah aturan itu di rubah, maka kalian harus mematuhinya!"


Monika terus saja membantah, sebenarnya dia coba membela diri, tapi begitulah nasib seorang bawahan, tak bisa berbuat banyak.


"Maaf Bu, tapi sebelumnya kenapa tak ada pemberitahuan pada kami?"


"Apa pada saat kenaikan gaji, kami harus memberi tahu kalian terlebih dulu? Aturan baru pun seperti itu, kami buat dan kami beritahukan pada saat yang tepat."


Monika yakin, surat itu belum benar-benar di rubah.


"Oke, Monika. Hukuman untuk kamu adalah ... bernyanyi dan menari lah dihadapan seluruh staf, lalu kamu utarakan permintaan maaf pada perusahaan juga pada rekan kerja, serta jelaskan kesalahan yang telah kamu buat."


Monika diam memaku sesaat sebelum dia meninggalkan ruangan. Tertanam kekesalan mendalam dalam hati gadis ini. Tak menyangka bahwa Rona akan bermain-main. Dia bertekad tidak akan melakukannya, dan kalaupun Rona memaksa, dia akan meminta bukti bahwa isi surat itu benar-benar sudah berubah.


***

__ADS_1


__ADS_2