SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 7


__ADS_3

Aku dan Amanda mulai berteman baik sejak aku bekerja pada perusahaan Dion. Posisi Amanda memang jauh di atasku. Amanda menikah lebih dulu dan aku sama sekali tak tahu kalau dia menyimpan rasa pada Dion.


Waktu aku akan menikah dengan Dion, reaksi Amanda biasa dan justru dia selalu mendukung dan menjadi penasehat bagi pernikahan kami. Aku memilih Amanda sebagai tempat curhat dan konsultasi masalah keluarga, karena aku pikir selain dia sudah berkeluarga, dia juga merupakan satu-satunya teman terpercaya. Aku yakin, dia lebih berpengalaman jadi apa pun sarannya selalu aku terima. Terbukti, semua sarannya selalu menjadi jalan perdamaian aku dan Dion.


Waktu itu aku hanya berpikir, bahwa Amanda sudah menikah jadi tak sampai berpikiran bahwa dia juga akan menjadi wanita simpanan yang selalu aku ceritakan.


Dia mengambil sisi kelemahanku sebagai seorang istri yang tak bisa menyenangkan suami. Dari semua ceritaku, dia bisa tahu apa yang diinginkan Dion.


Aku sempat berpikir, apa Amanda pernah menyukai Dion sebelum aku mengenalnya? Karena Amanda dan Dion sudah sangat lama saling mengenal.


Karena rasa ingin tahuku, dan kecewa yang amat besar, aku berniat menyelediki apa yang terjadi antara Dion dan Amanda sebelum kehadiranku.


Pagi ini aku bertemu Pak Rendi, orang terdekat Dion di kantor.


"Eh, pak, apa kabar?" Aku menyapa saat kami berpapasan.


"Baik. Gimana sama Bu Elisa?" Nampak heran sembari memandangiku. Dulu dia biasa memanggilku tanpa ada kata 'ibu'. Secara aku istrinya Dion yang merupakan atasannya, jadi sikap dia sedikit kaku.


"Saya juga baik. Sudah lama kita jarang ngobrol ya pak?" Kataku yang seolah pertemuan ini tak sengaja.


"Iya Bu, saya sibuk di kantor gantikan Pak Dion."


Ganti Dion? memangnya Dion tidak pernah lagi ke kantor? lalu selama ini dia pergi kemana? Amanda benar-benar keterlaluan, dia sudah mengalihkan dunia Dion.


"Mas Dion jarang masuk kantor ya?" Tanyaku tanpa basa-basi.


Pak Rendi terlihat salah tingkah, mungkin dia takut salah ucap. Aku yakin, dia tahu betul apa yang terjadi dengan suamiku.


Pak Rendi terdiam, dan aku berusaha tidak membuat dia curiga bahwa aku menginginkan informasi lebih darinya.


Sebelumnya aku pernah melibatkan dia dalam urusan rumah tanggaku. Aku menyalahkannya karena dia tidak memberi tahu aku bahwa Dion telah berselingkuh. Aku meminta dia untuk memata-matai Dion, namun dia menolak dengan alasan, dia hanya patuh pada Dion. Karena tidak hanya sebagai bawahan yang setia namun Pak Rendi merupakan sahabat Dion sejak kecil.


Agak sulit memang mengorek informasi dari Pak Rendi, tapi tak ada jalan lain. Karyawan terlama di perusahaan ini sudah pada resign. Di tambah, Pak Rendi orang paling tepat karena dia orang yang tahu segalanya tentang Dion. Dari dia juga, sampai aku dan Dion bisa menikah.


Aku tidak boleh gegabah, aku harus bisa mendekati Pak Rendi tanpa mencurigakan. Nanti setelah ia bisa aku ajak bicara, baru akan aku usut tuntas, siapa sebenarnya Amanda. Apakah Dion dan Amanda pernah menjalin hubungan? kalau memang Dion mencintainya, kenapa dia menikahi ku?


Memikirkan jalinan hubungan terlarang suami dan teman, dadaku sakit. Kalau saja aku boleh, sekarang juga, depan Pak Rendi aku ingin tumpahkan keluh kesah, menangis dan keluarkan segala hal yang mengganggu.


"Bu Elisa, ada apa ya?" Pak Rendi membuyarkan lamunanku.


"Gak papa pak, saya ngerasa sedikit pusing."

__ADS_1


"Memangnya ibu mau kemana?"


"Mau pulang, tadi habis dari pasar." Mudah-mudah aku tidak ketahuan sudah berbohong. Dari pasar tapi aku tidak bawa apa-apa. Hanya dua bungkus nasi kuning kesukaan Diana.


Pak Rendi menatapku, wajahku tanpa make-up akan sangat terlihat pucat. Aku belum sarapan dan memang sengaja, untuk menarik simpatinya.


"Pak Rendi, saya pulang dulu."


Dia mengangguk.


Aku berjalan tepat dihadapannya dengan langkah berat. Aku bingung bagaimana memulai percakapan dengan lelaki dingin. Jalanku sempoyongan, sambil memegang kepala aku hampir terjatuh.


Aku ingin menengok ke belakang untuk memastikan dia masih di sana atau tidak. Tapi jika Paka Rendi masih di sana, akan memalukan melihatku yang terlihat mencuri perhatiannya.


Aku menunggu lama, berdiam diri dan menunggu Pak Rendi menghampiri, tapi ternyata tidak. Ada dua kemungkinan, pertama mungkin dia sudah tak ada di tempat tadi. Kedua, mungkin karena memang dia tidak peduli dengan yang terjadi padaku. Jelas dia tak akan peduli, Dion saja tega berselingkuh. Apa lagi dia hanya sebatas bawahan yang mengikuti atasan.


Aku melanjutkan perjalanan, dan kali ini sungguhan, aku tersandung, kantong berisi nasi hampir melayang.


"Awww!" Aku bisa merasakan sesuatu yang luar biasa pada kakiku. Bongkahan batu cukup besar telah aku tendang tanpa sadar.


Aku meraih telapak kaki, sambil meneliti keadaan sekitar, untung saja tidak ada orang. Entah mengapa aku ingin menengok ke belakang, dan ternyata Pak Rendi sedang berjalan ke arahku.


Yes! Semoga berhasil, soga tak lama lagi aku bisa bicara dengannya panjang lebar.


"Kepala saya sakit sekali pak, tadi rasanya biasa saja." Kataku dengan meraba-raba kepala. Tapi juga berusaha menghilangkan rasa sakit di kaki.


"Mau saya antar pulang?" Tawaran yang baik, aku tidak akan sia-siakan.


"Bapak kan mau ke kantor?"


"Pak Dion tidak akan marah jika saya telat karena mengantar ibu yang nampaknya kurang sehat."


"Oh, gak usah pak, saya bisa sendiri. Lagi pula saya gak akan langsung pulang ke rumah."


Sengaja atau tidak, Pak Rendi menyentuh pundakku, aku melepasnya dan berjalan seolah aku tak memerlukan bantuan.


Ah, kakiku terkilir akibat sandungan tadi. Aku berhenti dan berharap Pak Rendi kembali mendekat. Aku duduk di terotoar sembari mengelus-elus bagian kaki yang sakit.


"Sepertinya kaki ibu sakit?" Benar saja, ia berusaha memastikan aku baik-baik. Berarti aku sudah berhasil mencuri sedikit perhatiannya.


"Iya, saya gak hati-hati jadi kesandung dan sepertinya terkilir bagian sini." Aku menunjuk pergelangan kaki.

__ADS_1


"Boleh saya bantu?"


Aku mengijinkan.


Pak Rendi meraih kakiku lalu dengan lembut ia memijat yang kemudian sampai mematahkan kakiku.


"Awww!!!" Rasanya sakit sekali.


"Maaf Bu." Katanya sambil terus memijit kaki dan sekali lagi dia mematahkannya.


Ajaib, kakiku tidak lagi merasa sakit. Meski tadi sempat merasa kesakitan luar biasa ketika ia mencoba membolak-balik pergelangan kaki.


Aku berdiri dan mencoba berjalan dan aku sama sekali tidak kesulitan melangkah. Kalau begini, alasan apa lagi agar Pak Rendi mau aku ajak bicara di suatu tempat.


"Makasih ya pak. Oya, Pak Rendi sudah sarapan?"


"Belum Bu, biasa saya sarapan di kantor."


"Kebetulan saya bawa nasi kuning, ini silahkan untuk Pak Rendi saja." Aku menyerahkan kantong hitam yang tadi hampir terlempar.


Mulanya dia menolak tapi karena aku memaksa, akhirnya ia terima juga. Dia membuka dan berkata, "nasinya ada dua, saya satu aja Bu."


Dia menyerahkan kembali kantong setelah mengambil satu bungkus nasi.


Aku tersenyum dan tiba-tiba muncul ide, "gimana kalau kita makan bersama pak?"


"Ta-tapi Bu?"


"Tidak apa-apa, sebagai ucapan terimakasih saya. Pak Rendi mau kan?"


Bergeming.


Kemudian Pak Rendi memasukkan kembali nasi itu pada kantong yang aku pegang. Aku menatapnya heran, tapi beberapa saat dia mengambil kantong itu.


"Mobil saya ada di sana, tidak apa-apa kalau ibu tunggu di sini?"


"Baiklah." Senyumku merekah dan dia membalasnya. Senyuman yang simpul dan selalu terkesan dingin.


Kami akan makan bersama di suatu tempat, dan hari ini juga aku harus bisa gali seluruh info dari Pak Rendi.


***

__ADS_1


__ADS_2