
Dengan langkah perlahan, aku memasuki hotel. Meskipun harus didampingi Deri, tidak masalah, karena orang hotel sudah sangat mengenal Deri. Jadi aku bisa hadir tanpa kartu undangan.
Kejutan!
Benar, aku sangat terkejut. Entah Radit sengaja atau tidak, ternyata dia sedang mengadakan acara tunangan, dengan wanita lain tentunya. Tidak mungkin kalau dia kembali pada mantan istri.
"Aku harus gimana?"
Deri juga nampaknya bingung. Dia tak tahu apa-apa, dan aku salah telah melibatkannya dalam masalahku.
"Aku harus menggagalkan acara ini. Gimanapun caranya, Radit gak boleh nikah sama orang lain. Kamu mau bantu aku kan, Der?"
Serabut wajah penuh keraguan. Aku tidak ingin memaksa jika dia tak bersedia, tapi jika tidak dengannya, siapa lagi yang bisa membantuku.
"Apa rencanamu?" Tanya Deri lalu meraih tanganku.
"Aku gak tahu, kira-kira hal apa yang bisa menggagalkan acara ini?"
"Menurutku, jika kamu mengaku jadi pacar atau simpanan Radit, itu hanya akan mempermalukan kamu aja. Iya kalau Radit lebih memilihmu, kalau gak, kamu bakal lebih terluka."
Aku bisa merasakan niat baik Deri, dia ada di pihak ku. Dia benar, aku akan malu bila Radit sendiri justru tidak mau mengakui ku.
Lama aku berpikir, Deri memainkan jari-jemariku. Aku tak bisa fokus pada satu rencana, karena kejadiannya begitu mendadak.
"Aku ada ide!" Deri menghentikan kebiasaannya. Sekarang tangannya ke pundak ku.
"Apa itu?"
"Aku bilang saja kalau aku hamil."
"Hamil? kamu gila!"
"Aku serius, aku akan katakan itu pada saat acara berlangsung."
"Jangan Bela, jangan lakukan itu, aku gak setuju. Lagi pula kamu gak hamil. Kalau ketahuan boong, bisa bahaya."
"Gak papa yang penting pertunangannya gagal dulu."
Deri menatapku ngeri.
***
__ADS_1
Atas desakan Deri aku merubah rencana. Pertama aku temui Radit, meski sulit akhirnya kami bertemu di lobi. Deri telah mengatur pertemuan kami, jadi aku tidak bisa menyuruhnya pergi.
"Sayaaang!" Aku lari ke pelukan Radit. Memeluk erat kemudian mengecup bibirnya, dia hanya diam dan menikmati perlakuanku.
Seolah sepasang kekasih yang terpisah begitu lama, bertemu kembali hingga membangkitkan gairah untuk menyatu. Radit tidak menolak ku, dia malah membalas ciumanku. Kami lupa bahwa Deri berada dalam satu tempat dan kini telah melihat ke arah kami. Ketika aku menoleh, dia memalingkan wajah.
Aku hentikan saat Radit menyentuh leherku. Memasang wajah marah dan mencoba mencuri perhatian. Aku tahu, Radit pasti terpikat dengan penampilan baruku. Aku ingin dia melupakan calon tunangannya.
"Apa maksud semua ini?"
Radit merapihkan jas dan jam tangan.
"Radit, kenapa ada wanita lain lagi selain aku?"
Dia terdiam dan sepertinya memang tidak ingin bicara.
"Aku yakin, kamu sengaja ingin menguji sampai mana kesabaran ku, kan?"
Radit menatapku, seolah aku tak berarti baginya.
"Jawab Radit!"
"Maaf Bela, hubungan kita sudah lama berakhir. Dari awal aku gak pernah berniat untuk menikahi mu. Karena sesungguhnya yang aku cintai bukan kamu!"
"Jangan bercanda. Selama dua bulan aku menunggumu, yang kamu bilang akan kembali lagi padaku."
"Aku gak pernah bilang akan kembali lagi padamu. Terakhir aku menyuruhmu pergi dan mengusulkan agar kamu mencari pekerjaan baru."
"Radit, kamu jahat!" Aku memuku-mukul, tapi dia tak lagi memelukku, malah mengabaikan.
"Jangan ganggu aku lagi. Kali ini aku gak mau rumah tanggaku hancur. Aku sangat mencintainya!"
Radit pergi, meninggalkan aku yang tersakiti. Aku marah dan ingin sekali menampar wanita yang telah merebut Radit.
Deri menghampiri, dia tidak mengatakan apapun. Dia merangkul ku dan aku menangis tersedu. Tangisanku semakin kencang dan pelukan Deri semakin erat pula.
Aku tak berdaya, bagaimana pun aku berusaha menghancurkan acara, sekuat tenaga Radit tidak akan membiarkanku, dan sekarang aku sadar, aku hanya mainan baginya.
Aku sudah tak berguna, benar kata Deri, jika aku membuka semuanya, aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri. Radit pasti tidak akan mengakui segala apa yang pernah terjadi pada kami.
***
__ADS_1
"Kenapa kamu gak jadi bilang kalau kamu hamil?"
"Radit pasti gak bakal peduli. Percuma."
"Ya sudah, kita pulang. Kamu kelihatan lelah, Bela."
Aku berpikir sejenak, kembali menemukan ide yang menurutku ampuh untuk menjerat Radit lagi.
"Atau aku teruskan rencana ku?"
"Rencana?"
"Iya, aku gak bisa bohong kalau aku hamil sekarang. Tapi kalau aku hamil beneran, aku pasti bisa ambil perhatian Radit lagi."
"Terus gimana kamu bisa hamil? Radit sekarang udah gak mau sama kamu kayanya."
"Kamu yang hamili aku, tapi aku bilang kalau anak yang aku kandung, anaknya Radit, gimana?"
Muka Deri merah padam.
Deri menatapku lekat-lekat, tak langsung menjawab pertanyaan ku.
"Aku tahu, kamu sedang patah hati. Berpikir ulang saja, nanti setelah hatimu lebih baik baru katakan lagi apa yang akan kamu lakukan. Menangis lah semau mu, dan jangan pernah memikirkan hal buruk hanya untuk mendapatkan Radit."
Deri merangkul ku lagi tapi tidak terlalu erat. Dia mengusap rambutku secara perlahan. Aku tak menyangka dia bisa sedewasa ini. Mulai tumbuh rasa nyaman dan damai berada dekatnya. Apa artinya aku mulai menerima uluran tangan dan membuka pintu hati untuk dia?
"Aku gak terima Radit memperlakukan aku begini. Pasti ada yang salah. Aku harus temui cewek yang dipilih Radit. Secepat ini Radit membuang ku. Lima tahun aku bertahan dan menunggu, dan semua berakhir seperti ini."
Tangis ku kembali menghiasi malam berkabut tanpa bintang. Rasa sakit ini meledak, aku tak kuasa lagi menahan. Untuk apa lagi aku hidup, aku telah kehilangan cinta. Belum lagi uang tabungan yang semakin hari semakin menipis.
Beginikah rasanya dikhianati, aku tak pernah memikirkan perasaan Rosa, mantan istri Radit. Mungkin yang dia rasakan lebih dari ini. Tapi mengapa dia tak bertindak apapun setelah tahu akulah yang menjadi duri dalam rumah tangganya. Dia malah mengalah dan rela bercerai.
Aku yang telah menghancurkan kehidupan rumah tangga Radit, kini aku sendiri merasa hancur oleh sikap Radit. Sikapnya yang tak adil. Menggantung status ku selama lima tahun, dan melepas ku begitu saja demi wanita lain.
Aku putuskan untuk tetap mengikuti acara pertunangan Radit, meskipun aku tidak diundang, Deri menjamin tidak akan yang berani mengusir kami.
Aku penasaran, ingin melihat penampakan sang pelakor yang telah berhasil menyingkirkan aku.
"Kamu tenangkan diri mu, dan ingat jangan berbuat apa pun selama acara berjalan."
Deri mengijinkan aku dan masih mau membantuku dengan syarat aku harus bisa jaga sikap. Deri berjanji dia akan selalu ada di sampingku.
__ADS_1
Aku menurut saja pada Deri, setelah aku tahu wajah perebut kekasih hati ku, aku usahakan mundur dan tidak akan mengganggu Radit lagu. Mungkin akan sulit, tapi aku melihat Deri begitu tulus.
***