
Segalanya telah aku ceritakan pada Pak Rendi. Oke, dia akhirnya menceritakan apa yang terjadi dahulu sebelum kehadiranku. Aku mendesaknya agar ia megungkap seluruh hal yang menyangkut Amanda dan Dion.
"Sekali lagi, saya ingin tahu, bagaimana hubungan Dion dan Amanda dulu?"
"Sebenarnya, dari dulu Amanda menginginkan Dion."
"Maksudnya?"
"Iya, Amanda sejak dulu mengejar Dion, tapi Dion acuh gak acuh."
Aku semakin tak mengerti. Bagaimana bisa Dion yang dulu tak menghiraukan Amanda, kini berbalik mencintainya.
"Amanda selalu berusaha mencuri perhatian Dion, dia juga mendekati ayah Dion, mencoba mengambil hatinya namun gagal. Ayah Dion terlanjur membencinya."
"Kalau begitu, kenapa Amanda menikah dengan orang lain?"
"Hal itu saya juga gak paham. Mungkin dia kecewa karena Dion selalu menolak."
"Terus kenapa bisa, sekarang Dion bilang dia mencintainya?"
"Itulah, saya gak percaya."
"Lalu hubungan Amanda dengan Tante Mirna, bagaimana?"
"Amanda merupakan keponakan Tante Mirna."
"Apa, keponakan?"
Aku semakin tak mengerti dengan semua yang terjadi. Bisa jadi seperti ini, apa Dion sungguh jatuh cinta pada wanita yang dulu ia tolak. Tidak mustahil jika sekarang Dion mencintai Amanda, akan tetapi untuk apa dia masih mempertahankan aku.
"Dulu saja, Dion gak setuju Pak Romi menikahi Tante Mirna. Dion bilang kalau Tante Mirna hanya menginginkan harta ayahnya itu."
Hari sudah hampir sore, sudah cukup info yang aku dapat. Seharian aku bersama Pak Rendi. Sekarang hubungan kami lebih baik. Ternyata dia bisa hangat juga, dan sedikit perhatian. Para lelaki apa harus melihatku menderita dulu, baru mau membantu.
Aku menangis depannya juga terpaksa, karena aku pikir ini jalan satu-satunya untuk menarik perhatian. Untunglah usahaku tidak sia-sia, semoga Pak Rendi tidak sadar kalau dari awal kami berpapasan hingga sekarang, merupakan rencana ku hanya untuk mendapatkan informasi.
Aku sempat berpikir untuk membuat hidup Amanda menderita, tapi setelah tahu yang sebenarnya, aku urungkan. Aku bisa mengerti perasaannya yang dulu sempat diabaikan oleh Dion.
***
Tante Amara sangat baik, masakan yang dia buat sangat enak. Hari ini sangat berkesan, lain kali aku ingin mengunjunginya lagi dengan membawakan sesuatu.
Diperjalanan pulang, suasana tidak sekaku saat kami menuju ke desa. Pemandangan desa begitu menakjubkan hingga aku lupa, dengan siapa aku pergi.
Aku tertawa dan bernyanyi, melepaskan segala kegundahan. Sudah bulat pilihanku untuk bercerai dari Dion.
Pak Rendi tetap seperti itu, dingin. Meski aku coba menggoda namun ia tak sekalipun tertawa lepas. Hanya senyum dan senyum kala ia melihatku gembira.
__ADS_1
"Bu, terimakasih nasi kuningnya." Katanya dengan pandangan fokus ke jalan.
"Sama-sama. Ko baru bilang sekarang?" Aku melihatnya dari samping, ada getaran aneh saat mataku menangkap sosoknya yang santai.
"Iya, saya tadi lupa. Enak banget Bu nasinya, beli dimana?"
"Di pasar."
"Ibu ke pasar hanya untuk beli nasi kuning?" Sepertinya dia mulai menaruh curiga.
"Ya, begitulah. Tadinya nasi itu untuk Diana."
"Terus gimana dong, saya jadi gak enak."
"Gak papa, nanti di depan tolong berhenti, Diana suka sekali martabak telur."
"Siap!"
Ekor mataku bisa menangkap saat ia menoleh ke arahku sambil tersenyum.
***
Pak Rendi mengantarku sampai di rumah ayah. Hanya sampai gerbang, tidak ada ucapan perpisahan antara kami, satu sama lain saling melempar senyum saja. Diana menyambut dengan riang. Aku pun sangat bahagia bisa berjumpa setelah tiga hari tidak mampir ke sini.
Seminggu ini, ayah menahan Diana. Beliau melarang aku membawanya ke rumah, dengan memberi kebebasan padaku, aku dibolehkan ke sini kapan saja.
Diana langsung mengajakku untuk melihat isi kamar. Sebelumnya, selama tiga hari Diana sulit beradaptasi, tapi setelah aku jelaskan melalui Vidio call, dia mengerti juga bahwa orang tuanya sedang ada masalah.
Di dalam kamar Diana, aku tumpahkan segala kerinduan pada putri semata wayang. Aku tak pernah terpikir untuk memberi seorang adik, mengingat Dion yang tak pernah lagi menyentuhku.
Aku bermain dengan putriku sampai ia terlelap. Ayah terlalu memanjakannya, hingga semua mainan yang tak pernah aku berikan, kini Diana miliki.
Keluar dari kamar Diana, hatiku yang mulanya bahagia serta wajah berseri harus berubah kesal dan berujung mual. Bertatap muka dengan Tante Mirna adalah hal yang aku benci.
"Masih belum menyerah?" Dia menyeringai, memperlihatkan kerutan di sekitar pipi.
"Tenang saja Tante, sebentar lagi aku akan bercerai dengan Mas Dion. Lalu keponakan Tante itu bisa seutuhnya memiliki Mas Dion, semoga Mas Dion tidak berubah pikiran."
Tante terkejut, pasti dia bingung dari mana aku tahu kalau Amanda adalah keponakannya.
"Dari mana kamu tahu Amanda adalah keponakanku?" Benar, dia penasaran.
"Dari seseorang!" Jawabku ketus seraya pergi menemui ayah.
***
Sejujurnya aku ingin sekali menemani Amanda tapi aku tidak boleh lama-lama di sini. Menurut ayah jika aku membiarkan Amanda menguasai rumah, berarti aku kalah. Demi Diana aku harus bisa merebut Dion kembali.
__ADS_1
Ayah sangat mendukungku, ayah tidak ingin aku bercerai dengan Dion. Walaupun sudah aku sampaikan bahwa aku akan bersikeras menuntut cerai pada Dion. Aku butuh seseorang untuk mendukungku di pengadilan. Ibuku sendiri tidak mungkin, dia tidak menginginkan perceraian terjadi padaku.
Satu-satunya orang yang mengerti dengan keadaanku sekarang, dan akan selalu mendukung langkahku hanyalah Pak Rendi. Dia sempat bilang akan membantu, kecuali untuk memacari Amanda itu sangat mustahil.
Aku bisa mengandalkan Pak Rendi untuk urusanku saat ini. Dia sendiri yang bilang, jika aku benar-benar terus merasa sakit, pilihan bercerai merupakan hal yang paling tepat.
Kalaupun Dion mengakhiri hubungan dengan Amanda, aku yakin akan ada wanita-wanita lain selanjutnya. Entah kemana hatinya, dia tidak akan melepaskan ku, karena takut ayah akan mencabut posisi sebagai direktur.
Aku pulang ke rumah, dan memang selama seminggu kami tinggal bertiga, aku tak pernah mendapatkan pemandangan menjijikan dari mereka. Sebenarnya melihat mereka duduk berdua saja sudah membuat jijik. Tapi untuk lebih dari itu, atau adegan yang tak layak mereka lakukan, aku memang tidak pernah lihat. Mereka selalu mengunci pintu kamar rapat-rapat. Tapi belum pernah aku menangkap suara menjijikan dari arah kamar mereka.
Ayah bilang, mungkin Dion tidak sungguh-sungguh berhubungan dengan Amanda. Ayah terlalu naif, bagaimana ada wanita dan pria dewasa berdua dalam satu kamar, tanpa melakukan apa pun.
***
"Dari mana saja kamu, Elisa?" Tumben, Dion menungguku di teras depan.
"Bukan urusanmu!"
"Elisa! Aku ini suamimu!"
"Apa aku harus selalu ijin sama kamu, kamu sendiri memasukkan wanita jalang itu tanpa seijin aku."
Apa yang terjadi? Aku tidak melihat wajah yang marah atau tersinggung.
"Kemana saja kamu pergi?" Dengan nada rendah, Dion mengulang pertanyaannya.
"Rumah ayah." Jawabku singkat.
"Sebelum ke rumah ayah?" Introgasi macam apa ini, biasanya dia tidak peduli dengan apa yang aku kerjakan.
"Ta-tadi aku, aku ke pasar. Sudahlah, aku mengantuk." Kataku seraya pergi meninggalkannya yang terlihat mengharapkan penjelasan dariku.
***
Aku kaget saat keluar dari kamar mandi, Dion tengah duduk memandangiku di tepi ranjang. Aku malu karena hanya mengenakan handuk sebatas dada. Ah tapi, aku tidak akan menghiraukannya, bukankah sejak lama aku selalu menggoda tapi dia tak pernah jatuh dalam pelukanku.
Aku mengambil piama di lemari, lalu kembali ke kamar mandi. Tak biasa memakai pakaian di depan Dion. Aku juga merasa kami bukan lagi sepasang suami istri, sudah terlalu lama hubungan kami membeku.
Saat aku hendak masuk ke kamar mandi, Dion mendekat kemudian menarik tanganku. Matanya menatap tajam ke dalam mataku, sampai terasa dalam hati bahwa ia marah. Sorot mata yang seakan memberi tahu bahwa aku sepenuhnya yang salah.
Beberapa saat kami saling menatap, entah bagaimana bisa bibirnya mendarat di bibirku. Namun rasanya sangat hambar. Selanjutnya, aku menyesali diri yang tidak bisa menolak hasrat yang lama terpendam. Tak ada kata yang terucap antara kami berdua, saling bicara dan menyampaikan rasa lewat bahasa tubuh.
Malam ini aku bisa merasakan bahwa Dion masih mencintaiku, dan aku pun mencintainya. Namun rasa kecewa yang amat besar, tidak mengurungkan niat. Aku akan tetap menuntut cerai darinya. Aku tak ingin buaian ini hanya bersifat sementara.
Diana, maafkan mamah, mamah tidak bisa terus bersama ayah, karena ayah akan terus mengulang kesalahan yang sama.
***
__ADS_1