SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 6


__ADS_3

Dua Minggu setelah kejadian di taman desa, aku dan Dimas kembali berhubungan. Dimaspun meminta maaf karena sudah membuatku kecewa.


Menurut cerita Dimas, Rani mencurigai Dimas telah berselingkuh. Agar tidak ketahuan, makanya sementara waktu dia tidak menghubungi bahkan memblokir nomorku.


Rani pun malu ketika ia tidak bisa membuktikan bahwa Dimas selingkuh. Sampai ia introspeksi diri dan sadar kalau dia sudah berubah.


Itulah kenapa penampilan Rani kembali menawan, Rani takut kalau Dimas diambil orang. Tenang saja Rani, aku tidak akan merebut suamimu, aku hanya inginkan dia disaat aku bosan dengan Andri.


***


Beberapa bulan berlalu, hubungan aku dan Dimas tetap aman. Karena kami berusaha agar pasangan tidak curiga. Andri sendiri, ia sering membelikan barang berharga untukku, namun dia masih tetap bersikap dingin.


Selama enam bulan ini, aku dan Dimas sering ketemu di tempat rahasia. Di sana kami habiskan waktu seharian. Karena Andri semakin sibuk, dan Intan lebih nyaman tinggal sama ibu, aku jadi bebas.


Moment-moment indah kami lalui bersama, dan aku pun semakin mencintai Dimas. Aku tidak peduli dengan sikap Andri, yang penting sekarang uang yang dia berikan lumayan besar, dan memberiku jatah untuk perawatan.


Andri malah sekarang jarang tidur di rumah, sekalinya pulang, selalu larut malam. Heran juga sih, padahal aku tak pernah ngomel-ngomel lagi.


Sikap Andri seperti itu memberi aku banyak kesempatan untuk berduaan dengan Dimas, meskipun itu hanya lewat hp.


Seperti biasa nama Dimas di hp selalu aku ganti-ganti. Karena kadang aku tak sadar, saat Andri tengah mengotak-atik hp ku.


"Ibu... Ada telepon!"


Aku tidak merasa kaget, karena kalaupun Andri angkat, Dimas pasti tak akan menyahut.


"Iya ayah, sebentar." Jawabku, lalu menghentikan aktifitas di dapur.


Aku berjalan santai, Andri sibuk membaca koran, dan hp ku dibiarkannya berdering.


"Dari siapa yah?"


"Nina." Jawab suami tanpa menoleh ke arahku.


"Kenapa gak diangkat?"


Andri menggeleng.


Aku angkat telepon seolah aku sedang bicara dengan Nina, lalu aku pergi ke dapur. Seperti biasa aku bisik-bisik sambil memperhatikan Andri.


"Bu..." Andri menyusul, dan seketika aku matikan telepon.


"Iya, kenapa yah?" Tanyaku dengan wajah tanpa bersalah.


"Nina itu siapa?"


"Teman baru. Kenal dari Meri, yah."


"Oh..." Hanya itu jawaban suamiku.


Aku tersenyum tapi sepertinya Andri tidak puas dengan jawabanku.


"Nina ngajakin aku ke rumahnya besok, boleh kan yah?"


"Boleh. Tapi... Ibu sekarang banyak temannya ya, yang dulu-dulu suka telepon, kemana?"


"Hmmm... Ada yah, mungkin mereka pada sibuk."


Andri mempercayainya, kemudian pergi ke luar sambil menenteng koran. Aku sebenarnya ingin keluar dari kontrakan ini, dan mengontrak rumah yang lebih besar. Kalau perlu aku mending nyicil rumah saja. Teman-temanku sudah pada punya rumah, masa aku masih ngontrak.


***


"Helen..." Kak Wita meminta aku ke rumahnya.


"Iya kak, tumben kakak nyuruh aku ke sini?" Tanyaku sambil melihat seisi rumah yang nampak sepi.


"Ada yang mau kakak tanyakan."


"Oh... tanyakan aja. Hmmm Pada kemana, ko sepi?"


"Lagi pada kerumah ibunya Kang Heri."


"Jadi ada apa kak, kenapa gak kakak aja yang ke rumah ku?"


"Gak enak, ada Andri."


Aku mengangguk, kebetulan Andri sedang libur dan dia memilih istirahat di rumah.

__ADS_1


"Helen, kakak minta kamu jawab jujur!"


"Apa kak?" Sorot mata Kak Wita membuatku berpikir, jangan-jangan dia mengetahui sesuatu.


"Apa benar kamu berhubungan dengan Dimas?"


Deg!!!


Jantungku berdebar-debar, kami saling menatap. Kak Wita pasti akan tahu kalau aku bohong.


"Enggak, kata siapa?" Aku memalingkan wajah.


"Helen!"


"Aku mau pulang dulu kak, Andri belum makan siang, aku pikir kakak mau tanya apa."


Aku berjalan menuju pintu.


"Helen!" Kak Wita sangat emosi, ia berteriak cukup keras sampai orang yang lalu lalang menengok ke arah kami.


"Apa kak?" Tanyaku sambil menantang.


"Benarkan kamu sudah berhubungan dengan Dimas?"


Karena kakak sangat menjengkelkan dan terus mendesak meski sudah kujawab tidak, jadi aku terpaksa mengiyakannya.


"Kalau iya, kenapa?"


Sorot mata Kak Wita semakin tajam.


"Kalau aku selingkuh sama Dimas, apa urusannya sama kakak?"


Plak!!!


Satu tamparan yang sangat menyakitkan, aku benci Kak Wita, seharusnya dia tidak ikut campur dalam hidupku lagi. Bukankah kami sudah dewasa dan bisa mengurus diri masing-masing.


Air mataku berjatuhan, menatap dia penuh kebencian. Tamparan ini memang sakit, lebih sakit lagi karena Kak Wita tidak berhak melakukan ini padaku. Sedari kecil, kami memang selalu dibedakan, dan ayah lebih menyayangi dia dari pada aku. Sekarang, berani-beraninya menamparku!


"Helen, apa kamu sadar, apa yang kamu lakukan itu salah, hah?"


"Kamu sudah menghancurkan hidup orang lain dan hidupmu sendiri!"


Kak Wita menangis.


"Kamu gak memikirkan perasaan ibu." Suaranya merendah.


Aku pikir kalau ibu tidak tahu, ya tidak jadi masalah.


"Kakak mohon, akhiri hubungan kalian..."


Pertama kali aku melihat Kak Wita menangisiku.


Aku muak!


Aku berlari pulang ke rumah sambil menangis. Jarak rumah kami tidak terlalu jauh, dari mana Kak Wita tahu? Aku juga tahu, yang aku lakukan salah. Tapi aku sungguh-sungguh mencintai Dimas. Pernikahan ku dan Andri terjadi karena desakan ibu yang waktu itu menyuruhku segera menikah, karena kami terlalu lama pacaran.


Aku baru tahu cinta yang sebenarnya adalah ia yang selalu memberi kegembiraan serta kenyamanan, dan semua itu aku dapat dari Dimas.


"Helen... Kamu nangis?" Tanya Andri di depan pintu.


Aku mengiyakan, air mata terus berjatuhan tak bisa aku tahan.


"Kenapa?" Tanya Andri iba.


"Kak Wita menamparku!" Aku coba mengadu pada suami atas perlakuan kakakku yang aku benci.


"Ko bisa?"


"Dia emang gitu. Dari kecil gak suka sama aku."


Aku terus saja menangis, aku kira Andri akan memelukku, tapi tidak. Ia malah tiduran depan tv.


"Ya sudah, jangan nangis lagi. Nanti kalau dilihat Intan, gak baik."


Kenapa Andri diam, biasanya kalau aku nangis, dia langsung merangkul dan menghibur. Sikap Andri malah membuatku semakin mengikat Dimas.


***

__ADS_1


Selang beberapa hari.


Kejutan! Dimas memberiku sebuah kalung, walau hanya kalung perak, membuatku sangat bahagia. Memperingati hari jadi kami, setahun sudah kami menjalani hubungan sembunyi-sembunyi yang indah namun juga menegangkan. Semoga hubungan kami akan tetap begini, dan tidak pernah di ketahui oleh siapapun.


Meskipun Kak Wita tahu, aku harap dia bisa menutup mulutnya, atau ibu akan terluka jika mengetahui tentang semua.


Mataku berkaca-kaca, terharu. Aku semakin sayang Dimas. Dimas begitu menghargai dan selalu memahamiku.


Dimas memakaikan kalung, aku menyentuh dadaku yang bergetar karena rasa bahagia yang tak biasa. Kebahagiaan luar biasa, hal yang tak pernah aku dapat dari Andri.


"Makasih Helen, selama setahun ini kamu sudah melengkapi kebahagiaanku."


Aku tersipu.


"Bolehkah aku meminta sesuatu?"


Aku bergeming, seharusnya Dimas yakin, apapun yang dia minta, akan aku berikan.


"Tentu saja."


"Aku minta, kamu jangan pernah hubungi aku lagi. Kita akhiri hubungan ini."


Mulutku menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


"Sebelum Rani dan Andri tahu. Kita akhiri saja!"


"Dimas..."


"Helen, sebenarnya aku gak sanggup kehilangan kamu, tapi... Demi anak-anak, aku harus menjaga keutuhan keluarga."


"Dimas--"


Suaraku tertahan, ada yang terasa mengganjal di tenggorokan.


Aku tidak percaya, sakitnya lebih dari tamparan Kak Wita. Aku tidak terima.


"Dimas, kamu bercanda kan?"


"Helen, tolong mengertilah."


Hidungku tersumbat sesuatu dan napasku sesak.


"Helen, maafkan aku. Tapi ini yang terbaik."


Air mataku luruh juga. Aku bisa merasakan apa yang Dimas rasakan, aku juga menyadari telah berlaku tak adil pada Andri dan Intan. Aku telah mengkhianati mereka. Tapi tidakkah Andri berniat untuk melanjutkan hubungan kami, lalu meninggalkan keluarga kecil kami. Kemudian kami bangun kembali keluarga kecil yang bahagia. Ah, aku akui, Dimas memang lebih mencintai Rani.


Aku tarik kasar kalung pemberian Dimas yang bertengger di leher. Aku kembalikan, percuma, untuk apa kalung ini aku pakai.


"Simpan ini sebagai tanda terima kasihku."


Dimas kejam. Tega sekali ia memperlakukanku begini. Aku bersikukuh untuk mengembalikan pemberiannya.


"Baiklah, aku mengerti. Kita akhiri hubungan ini. Sejujurnya aku berharap kita bisa hidup bersama, dan aku sudah putuskan untuk meninggalkan Andri demi kamu, Dimas." Menyeka air mata yang tak seharusnya mengalir di hadapan dia.


"Jangan Helen, kamu jangan lepaskan Andri. Dia lelaki yang bertanggung jawab dan sangat baik."


Percuma Dimas mengatakannya, semua sudah terlanjur.


"Untuk yang terakhir kali, bolehkah aku memelukmu?" Pintaku sembari tersedu.


Dimaspun memelukku, dan berbisik, "kembalilah pada Andri. Jangan pernah mengkhianatinya lagi."


Dimas benar, tidak akan aku temui lagi laki-laki sebaik Andri, yang meski aku tidak pernah menghargai ia tetap di sampingku.


Kami berpelukan, dan aku sangat tidak mengharapkan perpisahan.


"Helen!!!"


Seseorang berteriak, membuat kami tercengang dan saling melepas pelukan.


Secara bersamaan kami menoleh ke sumber suara. Di tengah menatap kami dengan tatapan yang mengerikan.


Kaget!


Kami sangat terkejut, kenapa bisa? Wajah Dimas memerah. Kami ketangkap basah, disaat kami memutuskan untuk berpisah.


***

__ADS_1


__ADS_2