SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 4


__ADS_3

Tiga hari berturut-turut aku selalu berusaha mengikuti Riswan, dan hasilnya aku selalu kehilangan jejak. Ada saja rintangan saat aku mengejar menggunakan ojol.


Rintangan terparah pada hari ini dan aku putuskan untuk membiarkan dia berlaku sesuka hati. Tak akan lagi mencari tahu apa yang dikerjakannya. Hanya bisa berdoa semoga tidak ada hal yang tak diinginkan.


Tadi pagi, saat aku mengejar Riswan, dan aku hampir saja berhasil mengikuti sampai tujuan, motor yang aku tumpangi dihadang kereta api. Selisih beberapa detik dengan Riswan yang lolos melewati rel. Sedangkan aku tak bisa apa-apa ketika bel tanda kereta akan lewat berbunyi bersamaan turunnya pembatas jalan. Sampai deru suara kereta api terdengar dan aku harus kehilangan Riswan lagi.


Jalan yang Riswan tempuh, masih satu jalur dengan gudang. Aku tidak bisa mencarinya karena banyak jalan berbelok dan gang-gang disepanjang jalanan.


Aku meminta mas ojol untuk putar balik.Aku sangat kecewa dan sedih, ingin marah-marah dan melampiaskan semua kekesalan pada Riswan. Tapi adakah kemarahan tanpa alasan? Aku takut jika aku salah paham, Riswan justru akan menertawakan aku dan menganggap sikapku yang kekanak-kanakkan.


Jadwal kerja tak ada yang berubah, berangkat pagi, pulang sore. Paling telat pulang sekitar jam sepuluh malam.


Sore ini, kami duduk berdua di ruang depan. Aku sibuk melipat baju dan Riswan sedikitpun tak mengalihkan kegiatannya dari benda pipih yang menjengkelkan.


Beberapa kali aku berdeheum, tapi dia tidak peka. Aku coba mencuri perhatian dengan hal lain, tetap dia asyik dengan dunia di ponsel.


"Ayah lagi chat sama siapa sih?" Aku mendekat dan melihat apa yang dia lakukan.


"Ayah gak chat siapa-siapa, Bu."


Aku rebut ponsel yang masih menyala, dan pantas saja, dia lagi main game. Saking kesalnya, aku yang melanjutkan permainan.


Seperti inilah kebaikan suamiku, meski aku bersikap tidak sopan dia tidak pernah marah. Melihat aku yang kini sedang bermain game, dia membiarkan lalu pergi ke kamar tak lama handuk bertengger di pundak, kemudian ia masuk kamar mandi.


Kesempatan, mumpung benda misteri ini ada di tangan, aku mulai menelusuri setiap aplikasi yang dia gunakan. Sayangnya aku melihat kotak chat mba Mirna isinya telah dihapus semua, aku curiga. Beralih ke panggilan, dia sudah menghapusnya.


Karena belum puas menyelidiki, aku buka chat satu-satu dan semuanya merupakan costumer. Walau ada foto profile wanita cantik-cantik, isinya hanya seputar pengiriman barang. Hanya satu chat yang membuat penasaran, mba Mirna. Sebenarnya apa yang sedang mereka kerjakan sampai harus bersembunyi dariku?


Naluri berkata, Riswan dan kakak sepupunya itu pasti punya hubungan aneh selain hubungan saudara. Pikiran ku lalu mendorong agar aku cari tahu tentang mba Mirna.


Jiwa kepo ku menggebu-gebu, dan sampailah aku dapatkan status nya, hanya memamerkan foto-fotonya dibeberapa tempat bersama teman-temannya yang sebagian aku kenal.


Mungkin hanya pikiran dan perasaanku saja. Riswan berbohong soal uang, bukan berarti dia selingkuh. Apalagi sama sepupunya ih, amit-amit.

__ADS_1


Pernah dengar perkataan seorang teman sekolah saat tak sengaja bertemu di mini market, entah mengapa obrolan kami yang singkat itu menjurus ke pelakor. Menurutnya untuk memancing ada tidaknya pelakor yang mengincar suami, coba gunakan sosmed suami untuk mengapload segala sesuatu tentang kita.


Senyumku mengembang, tak ada salahnya di coba. Sementara Riswan sedang mandi, aku selfie menggunakan ponselnya, sedikit menggunakan filter dengan berbagai macam gaya serta ekspresi wajah.


Usai ber selfie ria, aku pilih beberapa foto yang aku anggap bagus kemudian aku tulis caption "istri kesayanganku" lalu 'klik' langsung dapat tulisan "Mengirim pembaruan setatus..." tak lama foto yang aku unggah berhasil dipamerkan, dan baru beberapa detik saja sudah banyak yang melihat. Tak ada nama mba Mirna di situ, yang komentar juga tidak ada.


Sampai Riswan keluar dari kamar mandi, status yang aku buat hanya dilihat tanpa ada yang komentar.


Jadi benar, semua hanya berdasarkan perasaanku saja. Riswan tak mungkin berselingkuh, dia sangat menyayangiku. Masalah pekerjaan aku akan menunggu sampai dia sendiri yang menjelaskan.


"Kenapa Bu, senyum-senyum sendiri?"


Aku menggeleng lalu mendekat. Riswan menatapku, ia meraih tangan dan menarik tubuh ini ke dalam kamar. Riswan belum sempat pakai baju, dan ia malah menyuruh untuk memakaikannya.


"Kalau ibu gak mau, nanti baju ibu ayah lepas!"


Mendengar itu aku geli, lalu aku keluar kamar mesem-mesem. Riswan menarik ku kembali, dan aku tak bisa menolak apa yang dia inginkan.


***


Sudah jam sepuluh malam, mau apa Riswan ke luar?


"Bentar aja ko Bu, ibu mau ayah beliin apa?"


"Mau apa sih yah, udah malam juga?"


"Sebentar aja Bu, nanti pulangnya ayah jelasin. Sekarang ayah buru-buru."


Dia beranjak, cepat-cepat menyalakan mesin motor yang nampak tua. Berhasil digas, dia menoleh, "mau dibeliin apa?"


"Kwetiaunya mas Budi!"


Karena merasa lapar, mau tak mau aku relakan suami pergi dengan syarat membawa makanan kesukaan.

__ADS_1


Kembali jiwa curiga ku mengetuk pintu hati. Sikap Riswan begitu, membuatku tidak enak hati. Biasanya kalau mau kemana-mana dia bilang. Ke tempat mamah juga pasti bilang.


Aku kunci pintu, dan bersandar di tumpukan bantal sambil menonton acara tv. Setelah hampir satu jam, mataku tak sengaja menangkap sesuatu di rak tv, ponsel Riswan ditinggal dan rupanya sedang di cas.


Beberapa menit aku pandangi ponsel itu, antara ingin membukanya dan tidak. Aku takut menemukan sesuatu yang aneh lagi. Tapi karena aku penasaran Riswan pergi kemana, aku renggut ponsel dari tempat pembaringannya. Terisi baterai baru beberapa persen.


Melihat status yang aku buat tadi sore, dan yang lihat semakin banyak. Beralih ke kolom chat, alangkah kagetnya saat kolom paling atas adalah chat dari mba Mirna.


Belum juga aku membaca, hatiku sudah terasa sakit, sampai ke ulu hati. Membayangkan jika benar mereka ada hubungan lain.


Aku akui, mba Mirna memang cantik dan seksi, tapi rasanya kurang pantas jika mereka menjalin hubungan lebih dari saudara.


Dengan tangan gemetar aku klik kolom itu, dan sebelumnya aku lihat foto profile mba Mirna yang sedang mengenakan kaos pink bertuliskan "I am happy" dengan rambut terurai bergelombang.


Aku tertegun, mengatur nafas lalu pejamkan mata, kemudian berusaha berpikir positif. Perlahan aku buka mata dan beranikan membaca isi chat mereka.


"Suamiku, maafkan aku sudah lancang. Tapi untuk mengusir segala kecurigaan, aku harus melakukan ini."


Aku bicara sendiri dan kembali bertanya dalam hati, apa aku perlu membukanya?


Chat ini berhasil aku buka dan banyak sekali deretan chat. Kapan Riswan berkirim chat dengan mba Mirna sebanyak ini? Hanya selepas magrib saja aku tak bersamanya.


Pandangan tiba-tiba buram saat hampir membaca apa yang mereka bahas, mendengar suara motor Riswan yang diparkir, cepat-cepat aku kembalikan ponsel ke tempat asal.


Hanya chat yang terakhir yang sempat aku baca.


[Kamu cepat ke sini] dari mba Mirna.


[Oke! tunggu, aku segera ke sana] balas suamiku dengan yang disertai emoticon senyum berona merah.


Jadi Riswan pergi ke rumahnya, tapi kenapa juga harus sebentar, padahal aku sangat ingin membaca seluruh isi chat sebelum dia menghapusnya.


Aku menyesal, kenapa tidak dari tadi aku menyadari bahwa ponsel dia tertinggal.

__ADS_1


***


__ADS_2