
Deri baru putus cinta, tapi dia menganggap hal itu sudah biasa. Menurutnya, dia ditinggalkan selalu dengan alasan dia bukan berasal dari keluarga berada. Salah satu alasan Deri tidak pernah mengajak wanita ke rumah, ia tidak ingin ibunya kecewa jika tahu Deri kerap mendapat akhir yang menyakitkan di setiap hubungan.
"Kamu beda Bel."
"Beda gimana?"
"Ya, kamu beda dari cewek lain, biasanya kalau aku ajak main ke rumah, belum juga masuk, mereka udah nolak."
"Maksudnya, mereka gak mau masuk ke rumah kamu?"
Deri mamgangguk-angguk.
"Mungkin mereka takut kamu macam-macam!" Aku terkekeh.
Menurutku rumah Deri tidak kecil, malah asri dan bersih, jauh dari kata kumuh. Sepertinya salah di Deri, mungkin dia pilih wanita kelas atas makanya enggan masuk ke rumahnya.
Terus menerus memikirkan Radit, membuatku jenuh dan malas kerja. Tapi kalau tidak kerja, bagaimana bisa aku bertahan di kota ini, jauh dari ibu. Adapun kakak, tapi aku tak mau bertemu dengan Mas Pram.
Radit sudah hampir seminggu tidak ke kafe, dia juga tidak menghubungiku. Aku sangat merindukannya. Karena itu, untuk pelarian, aku terima ajakan Deri untuk pergi berlibur ke pantai. Dengan menaiki sepeda motor matic kepunyaan dia, kami menempuh jarak yang lumayan jauh.
Tengah hari kami tiba di pantai, cuacanya panas sekali. Pasir terasa sangat panas, bagaimana tidak, Matahari tepat berada di atas permukaan laut. Akhirnya kami memutuskan menunggu sore hari untuk menikmati serangan ombak. Meskipun pada sore hari air pasang, kami lebih memilih berteduh di bawah pohon.
Kami lama berbincang, dia menceritakan berbagai hal selama betahun-tahun kami tidak bertemu. Dia berterus terang jika selama ini mencoba menjalin hubungan dengan beberapa wanita, tapi selalu gagal.
Di banding Radit, Deri lebih banyak tertawa. Dari jaman sekolah dia memang dikenal humoris, selain tampan juga pandai bergaul. Dulu sekali, aku pernah memimpikan hal ini, duduk berdua dengannya, karena pada saat itu aku amat menyukainya. Tak tahu cinta atau sekedar suka.
Sungguh sulit ku percaya, mimpi yang sudah sangat lama, kini jadi kenyataan. Andai saja aku belum menyerahkan segala hidupku untuk Radit. Aku mencoba meraba-raba hati sembari memperhatikan Deri, aku tak bisa mengelak, dia sangat menarik.
"Kamu sendiri gimana?" Tanyanya padaku yang sedang setengah melamun.
"Bagaimana apanya?" Aku tak menangkap semua penuturannya tadi.
__ADS_1
"Yang aku tahu, semasa sekolah dulu, kamu gak pernah pacaran. Nah, selepas sekolah, berapa kali kamu hubungan dengan cowok?"
Benar, pada masa itu memang aku tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki. Walau ada beberapa yang aku sukai, tidak pernah sampai pacaran. Ada pula yang menyukaiku secara sepihak, aku selalu menolak.
Radit lah cinta pertamaku, namun setelah menjalin kasih dengan Radit, hatiku mudah kecewa hingga melampiaskan kekecewaan pada laki-laki lain. Karena aku selalu di nomor sekian setelah segala urusannya usai.
"Gak pernah, sampai sekarang juga aku gak pernah punya cowok." Jelasku sambil memasang muka kejujuran. Hatiku tertawa, selam aku berhubungan dengan Radit, aku memang seperti tak dianggap. Sudah lima tahun tapi dia masih menyembunyikan hubungan kami, malah dia berniat mengakhiri.
Mata Deri berbinar, senyumnya mengembang, namun dari cara ia menatap sepertinya dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
Untuk meyakinkan, aku pura-pura malu dan menghindar dari pandangan Deri.
Aku lihat dia berpikir dan terus memandangiku, yang membuat risih, dia meneliti tubuhku dari ujung rambut hingga kaki.
"Kenapa?" Tanyaku, dengan memperlihatkan wajah yang keberatan atas apa yang dia lakukan.
"Kamu cantik!" Jawabnya sembari mendekatkan wajah.
Aku memalingkan wajah karena nafas kami beradu.
***
Hari yang menyenangkan, baru aku tahu bahwa Deri adalah lelaki baik-baik. Dia tulus ingin berteman denganku. Selama di pantai dan perjalanan, dia tidak berlaku kurang ajar. Padahal banyak kesempatan, tapi sedikit pun dia tidak menyentuhku. Hanya menggenggam tanganku ketika kami akan berpisah, kembali ke rumah masing-masing.
Hati ku mulai meronta, seakan meminta agar aku tinggalkan Radit dan memulai hidup yang baru bersama Deri. Tapi apa mungkin Deri mencintaiku? ah, aku terlalu percaya diri. Sepanjang obrolan kami, dia sama sekali tidak bilang kalau dia memiliki perasaan khusus terhadapku.
[Kamu mau gak jadi pacar aku Bel?]
Usai mandi, mendengar notifikasi pesan, aku kira Radit, hingga aku bersemangat membuka. Tidak tahunya, Deri. Kedua mataku menyipit, memastikan pesan ini benar-benar dari Deri.
Kedua mataku membulat, ketika satu pesan masuk lagi.
__ADS_1
[Maaf karena aku gak gentle, sejujurnya aku paling sulit untuk bilang cinta secara langsung]
Membacanya, spontan senyumku mengembang. Rasa-rasa ada rona merah di pipi, antara senang dan cemas.
[Please, mau ya? aku jomblo, kamu juga. Mungkin kita memang dipertemukan untuk bersatu. Aku merasa sangat cocok sama kamu!]
Mungkin Deri serius, tapi apa jadinya kalau dia tahu aku punya kekasih. Memang seharusnya aku katakan yang sebenarnya. Kalau sudah begini, aku tolak pun Deri pasti tidak terima.
[Kasih aku waktu ya Der?]
Sebenarnya tanpa waktu pun aku bisa jawab. Tapi, hari ini aku benar-benar bingung. Aku harus meminta kepastian terlebih dulu pada Radit. Tapi kalau dia merelakan aku dengan orang lain bagaimana? aku tak mau pengorbananku sia-sia. Dari dulu, hanya satu yang aku inginkan, memiliki Radit seutuhnya.
Deri, kalau saja dulu aku tidak bertemu Radit, mungkin tidak akan seperti sekarang. Aku pasti dengan senang hati, menerimamu tanpa pikir panjang.
Karena aku tinggal sekamar dengan Nilam, kali ini aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu lagi darinya.
Aku ceritakan tentang Deri.
Nilam memberi saran, agar aku menerima Deri dan lupakan Radit.
Menurut Nilam, lelaki yang sungguh-sungguh itu seperti Deri. Malu bilang cinta dan segan untuk menyentuh. Dari awal Deri sudah menghargai, sedangkan Radit, bisa dilihat, dia hanya memanfaatkan aku. Radit menemui aku saat dia membutuhkan saja.
"Bela, akhiri hubunganmu dengan Radit, atau kamu akan kehilangan masa depanmu. Tidak ada hal yang bisa diharapkan dari seorang pria beristri."
Seperti ada yang menancap di hati, ketika Nilam mengingatkan bahwa Radit bukan hanya kekasihku tapi dia suami orang sekaligus seorang ayah.
Benar, semua yang aku jalani dengan Radit adalah sebuah kesalahan. Semua percuma karena hanya aku yang dirugikan. Kalaupun sekarang aku membongkar hubungan kami, tentu Radit tak akan berpihak padaku. Kekayaan yang dia miliki bergantung pada istrinya, dari awal dia sudah mewanti-wanti agar hubungan kami aman, dan aku baru sadar bahwa Radit tak pernah menegaskan bahwa dia akan benar-benar menikahi ku.
***
Terimakasih yang sudah menyempatkan membaca. Jangan lupa tinggalkan komen, dan vote bintang yaaa
__ADS_1
Apa yang akan terjadi dengan Bela selanjutnya?
ayo kasih author semangat agar update lebih cepat!