SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL

SELINGKUH ITU INDAH DI AWAL
Bab 5


__ADS_3

Andri memandangiku penuh kehangatan, membuat aku merasa di cintai. Tapi bayangan Dimas terus saja mengganggu, aku harus bicara. Menanyakan kelanjutan hubungan kami, dan aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sakitnya Intan, membuatku sadar, aku telah berlaku bodoh. Aku menyesal, tapi dengan diamnya Dimas, aku malah gelisah. Kalau memang ia telah memutuskan hubungan, mestinya ia bilang. Aku butuh kejelasan dan tidak semua yang dia lakukan, aku mengerti.


Kalau pun Rani mengetahui hubungan kami, sikapnya tidak akan seperti tadi. Rani tak mungkin baik-baik saja. Ah, aku jadi galau. Tidak semudah itu aku lupakan Dimas, walaupun Andri sekarang bersikap sangat baik.


"Sayang... Makasih ya, udah jagain Intan."


Aku tersenyum, tidak hanya dia yang bahagia melihat Intan kembali ceria, aku juga sangat bahagia dan berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik lagi.


Andri meraih tanganku lalu meletakkan sesuatu di telapak tangan.


Aku mengira-ngira sebelum membuka, tapi aku yakin, di dalamnya ada sebuah perhiasan.


Sebuah kotak kecil terbungkus kain beludru tipis warna merah.


Aku tak percaya, ada gejolak kebahagiaan yang tak terkira.


Benarkah?


"Apa ini, yah?" Tanyaku harap-harap cemas.


"Buka!"


Satu...


Dua...


Perlahan kubuka benda ini, dan seperti mimpi. Tapi aku berhenti sampai hati tenang, aku harus terima jika Andri hanya membual. Kalau seandainya kotak ini kosong, aku tidak akan pernah membuatkannya lagi kopi.


Tiga!


Kotak ini terbuka sempurna, dan... Aku terpana. Mataku terbelalak menatapi sebuah cincin emas yang bertahtakan permata. Menyilaukan mata dan beberapa saat aku pejamkan mata, berharap ini bukan mimpi.


"Gimana sayang, kamu suka?" Tanya suamiku sambil membelai rambutku yang belum di cuci selama tiga hari.


"Hah... Hmmm... Suka. Aku suka banget. Ini asli kan?"


Andri memberikan selembar kertas, di dalamnya tertulis keterangan bahwa ini emas murni berkarat.


Sebagai rasa terimakasih yang besar, aku memeluknya dengan sangat kencang. Lalu menggoda dengan kata-kata manis nan manja. Aku pasrah jika ia mau melakukan apa pun.


Aku mengajaknya ke kamar, tapi dengan halus dia menolak.


Aku mengernyitkan dahi, tak percaya, Andri menolak ketika aku mengajaknya berhubungan. Memang sudah beberapa Minggu kami tidak hubungan. Karena aku ada halangan, belum lagi Intan sakit dan beberapa hal lain, yang membuatku terpaksa menolak kala itu.


"Kenapa?" Aku meminta kejelasan.


"Aku lagi gak mau aja."


Aku pikir dia bercanda, terus saja aku goda. Eh, Andri malah pergi.


"Kemana?"


"Aku lupa, ada yang harus aku selesaikan."


Begitu katanya, tanpa melihatku kembali. Mendapat penolakan, aku merasa tak berguna. Cincin pemberian Andri langsung ku pakai. Aku amati dan pandangi sampai puas. Terasa nyaman di jari.


Tapi, dari mana Andri mendapatkannya?


Melihat harga yang tertera di kwitansi, sangat besar. Lebih besar dari uang mingguan yang biasa Andri berikan.


Aku harus menelusuri dari mana dia dapatkan, aku tidak mau Andri sampai berbuat tidak baik demi memberiku sebuah cincin. Cincin yang aku idamkan sejak kami menikah.


***

__ADS_1


Intan sudah tidur, tapi Andri belum pulang. Setelah ia memberiku sebuah cincin yang berkilauan dijari manis, aku merasa bersalah telah berkhianat. Mungkin akan lebih baik aku akhiri semua sebelum terlambat, mumpung Andri belum tahu.


Untuk apa Andri memberiku cincin, tapi ia pergi dan menolak ajakanku. Aku akan menunggu, beberapa kali aku chat dan telepon tapi tidak ada jawaban. Andri sibuk, tapi aku sudah selidiki, Andri benar-benar kerja pada Pak Irwan.


Ah ya! Mungkin Andri baru dapat komisi, dia pernah cerita, dipercaya untuk jual beli tanah milik Pak Irwan.


Sungguh sangat menyedihkan, ketika aku tulus mengajaknya berhubungan, lalu di tolak. Aku mengukur diri, apa yang kurang dari diriku?


Lama aku berdiam depan cermin, mengamati wajah beserta penampilanku yang tidak aku sadari ternyata aku sudah menua. Di umur tiga lima, memang wanita rentan dengan penuaan. Mungkin karena sekarang aku jarang dandan, makanya Andri malas melayani.


Setelah ini aku akan minta jatah untuk membeli skin care lagi, agar wajahku kembali meremaja, merona dan mempesona.


Makin diteliti, wajahku tampak kusam, mungkin terlalu memikirkan Dimas, aku jadi lupa perawatan. Atau karena ini juga, Dimas jadi menghindar?


Aku mengaku, aku kalah segar oleh Rani. Rani sekarang nampak glowing dan cerah.


Ini apa lagi, badanku yang sedikit melar, akibat makan tengah malam. Habisnya aku tidak tahan kalau Andri pulang bawa makanan.


Pantaslah Andri menolak. Belum lagi badanku yang berkeringat dan bau, karena aku jarang pakai deodorant.


Aku bergegas ke kamar mandi, luluran dan bersih-bersih. Selesai, aku langsung dandan dan pakai lipstik paling merah yang aku punya. Aku kenakkan lingery satin warna ungu kesukaan Andri. Malam ini aku harus berikan dia service terbaik.


Berjanji akan kembali menjaga penampilan. Aku yakin, Dimas juga akan kembali padaku.


***


Siang hari yang sangat panas, pulang dari sekolah Intan. Setelah mengikuti rapat orang tua mengenai kenaikan kelas. Aku mendapatkan pemandangan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan.


Sudah hari panas yang membuat "haredang", makin panas karena Dimas sedang menikmati hari ini bersama Rani dan kedua anaknya di taman desa.


Aku lupa! Kalau Dimas punya dua balita. Pertama 3 tahun, yang kedua si Dede, sekarang sudah setahun lebih.


Aku lihat Dimas begitu gembira menuntun anak kedua berjalan. Anak pertama nampak kegirangan saat Dimas mengejar. Keluarga kecil yang bahagia.


Apa jadinya kalau Rani tahu kami pernah berhubungan?


Rani sekarang terlihat begitu modis, meski berhijab, dia tetap bergaya dengan busana yang elegan.


Melihat kebahagiaan mereka aku sakit. Dimas jahat, dia harusnya tidak baik-baik saja dengan Rani.


Anak-anak Dimas, wajah-wajah polos itu... Ah aku sudah merusak kebahagiaan mereka.


Tapi...


Aku tetap tak rela jika Dimas meninggalkanku. Lebih baik aku kehilangan Andri dari pada harus melepaskan Dimas.


Walau keuangan Andri sudah mulai menemukan titik terang, hatiku terlanjur berpaling.


Bayangan saat SMA berkelebat, bayangan Dimas yang polos menari-nari. Aku dan dia pernah malah sering menghabiskan waktu bersama meski tanpa ikatan cinta.


Seandainya aku tidak bertemu Andri dan seandainya Dimas tak pernah jatuh hati pada Rani.


Apa pantas aku menitikkan air mata?


Aku ingin Dimas kembali menyanjungku, menjadi sandaran di saat aku terluka.


"Sayang!"


Aku terlonjak, kehadiran Andri yang tiba-tiba disaat aku sedang fokus memperhatikan Dimas dengan keluarga kecilnya.


Aku berbalik dan menahan sakit di tenggorokan.


"Kamu lagi apa?"


"Ayah, dari kapan di sini?"

__ADS_1


"Baru aja, kamu lagi apa?"


Aku menggeleng lesu, lalu pusing melanda.


"Ibu... Kamu nangis?" Tanya Andri khawatir.


"Kelilipan." Sambil menggosok-gosok mata, aku masih takut kalau-kalau Andri tahu aku telah memandangi Dimas sebegitu jauh.


Andri merangkul dan mengajakku duduk di kursi pinggiran taman.


"Ayah mau kemana?"


"Sengaja mau jemput ibu, kita makan di luar yuk?"


"Hayu, tapi kita tunggu Intan dulu."


Kamipun menunggu Intan di taman. Taman ini bersebelahan dengan sekolah, jadi pas Intan keluar gerbang, dia pasti melihat kami.


Andri tidak memelukku, biasanya dia tidak merasa malu meski di tempat umum. Andri sibuk dengan hp, aku sendiri malah memperhatikan gerbang sekolah Intan.


"Hei, Mas!" Sapa suamiku pada Dimas.


Dimas sengaja menghampiri kami atau memang tak sengaja lewat.


"Eh, Ndri!"


"Sayang, itu Dimas!" Andri menyenggol ku.


Aku hanya tersenyum, dan berusaha bersikap biasa, "kemana?" Tanyaku sambil menatap Dimas dalam. Aku harap Dimas mengerti akan isyarat.


"Habis main. Sekarang anak-anak maunya main terus." Dimas berujar.


Akhirnya mereka pergi setelah kami saling sapa. Aku mati gaya, dan Dimas salah tingkah. Ia bersikap cuek seolah tak pernah terjadi sesuatu. Hatiku bergetar, amarah memuncak, aku ingin Dimas kembali memuji dan menjadikan aku ratu di hati.


"Sayang, mereka kelihatan bahagia sekali ya?"


Aku senyum saja, sambil menahan sakit. Kepala semakin pusing, tapi aku harus bertahan.


"Dimas beruntung, dapat istri cantik dan baik, juga setia seperti Rani."


Aku langsung memandangi Andri, yang ternyata tengah memperhatikan langkah Rani.


"Maskud ayah apa?" Tanyaku setengah teriak.


"Ha? Apa ya, emang barusan ayah bilang apa?"


Ah, sudahlah, dia pasti tak sengaja mengatakannya.


Cantik? Apa aku tidak cantik?


Apa aku tidak baik?


Setia?


Ya, aku memang tidak setia.


Aku semakin jengkel pada Rani. Kini berbalik Andri memujinya.


"Cantikan mana aku sama Rani?" Tanyaku serius.


Andri malah tertawa, dan menatapku geli.


Aku cemberut.


"Cantikan kamu dong sayaaang." Mencomot hidungku yang mancung gemulai.

__ADS_1


***


__ADS_2