
Cinta yang dulu sempat bersemi.
Aku terkejut saat Dion menepuk bahu. Aku kaget tapi juga senang sekaligus malu. Tidak percaya apa yang aku alami, seorang atasan di tempat kerja, mengajakku bertemu di taman yang berada tak jauh dari kantor.
"Pak Dion?" Tanyaku dengan muka semu merah.
Dia tersenyum manis sambil menatapku.
"Sebenarnya ada apa, bapak mengajak saya ketemuan di sini?" Tak mau lama-lama larut dalam suasana, aku bertanya sembari memalingkan wajah.
"Gak ada papa. Elisa, biasa saja, ini di luar kantor jadi kamu boleh panggil aku Dion."
Aku merasa risih, lelaki tampan itu kini berdiri di depanku dengan membawa sebuah harapan. Harapan untuk pekerjaanku yang lebih baik.
"Kalau di luar kantor, saya panggil Mas Dion aja ya?" Kataku tak enak.
Dia terus saja memandangiku sambil senyum-senyum geli, mungkin aku nampak lucu di matanya.
Aku jadi salah tingkah, berhadapan dengan atasan yang tampan pula membuat hatiku dag-dig-dug. Siapa sih yang tidak senang di ajak ketemu oleh pria tampan dan ramah seperti Dion.
"Nanti malam kamu ada acara?"
Malam? usai kerja shift siang, aku tidak suka keluyuran. Aku jawab jujur saja.
"Tidak ada pak, eh mas!"
Dion terkekeh, "kamu lucu."
Aku beranikan menatap wajah yang sekarang terlihat imut. Dion memang masih muda, tapi jabatan direktur membuat ia terlihat lebih dewasa.
"Kamu mau kan, makan malam denganku?"
Mataku membulat sempurna, menatapnya tajam dan ingin meyakinkan diri kalau ini bukan mimpi.
"Makan malam?" Aku ragu, karena sebelumnya aku tak pernah menjalani dengan siapapun.
Dion yang pertama, dan ajakannya yang tidak ingin aku tolak.
"Bisa kan?"
Aku gugup, tidak bisa berkata-kata. Aku mengangguk-angguk tanpa memikirkan apa yang akan terjadi jika Dion benar-benar berada satu meja denganku.
__ADS_1
***
Aku bingung, mengenakkan pakaian untuk menghadiri acara makan malam Dion. Kalau aku tolak, kesempatan tidak akan datang dua kali.
Awalnya ibu tidak mengijinkan tapi setelah tahu aku pergi dengan atasan, beliau mengijinkan dengan satu syarat, pulang tidak terlalu malam.
"Apa mungkin, Dion itu suka sama kamu?"
"Ah ya, gak mungkinlah Bu, aku ini sangat jauh beda sama dia. Pasti ada hal yang menyangkut pekerjaan yang ingin dia bicarakan."
Dalam senyum ibu, menyimpan harapan cukup besar. Tapi malah membuatku ragu, kalau harapan ibu tidak jadi kenyataan, aku takut mengecewakan beliau.
Sekelebat bayangan tidak menyenangkan saat pertama kali aku bekerja. Saat itu aku masih jadi staf kebersihan, sampai tak lama kemudian diangkat jadi kepala gudang.
Teringat kejadian yang membuat Dion memarahiku depan karyawan lain, waktu itu aku tak sengaja menumpahkan kopi yang mengotori ujung kemeja. Padahal tidak terlalu parah, hanya sedikit. Tapi dia marah seperti aku sudah menumpahkan seember air di mukanya.
"Pantas saja, kamu karyawan baru di sini. Kalau kerja yang benar!"
Aku tidak melawan dan menerima apa pun yang dia katakan, karena dia atasan. Aku membersihkan seluruh tempat yang terkena kopi, lalu saat aku akan membersihkan kemeja Dion, dia menepis kasar tanganku. Beberapa detik kemudian ia pergi sambil ngedumel pada Pak Rendi, asisten pribadi.
Sejak kejadian itu, anehnya, Dion justru sering menanyaiku pada Pak Rendi, beberapa kali dia kirim aku sesuatu seperti cokelat, bunga, dan makan siang. Puncaknya hari ini, dia mengajakku makan malam.
Tapi, aku ragu, aku takut kalau Dion akan mempermainkan ku. Aku pikir Dion masih marah dengan kejadian lampau. Apa iya? masalah sepele seperti itu menumbuhkan dendam di hati Dion.
Sampai klakson Dion terdengar, aku belum bisa menentukan, ikut dia atau tidak?
Saat aku turun ke bawah, rupanya ibu sudah menyambutnya dengan hangat. Dion juga meminta ijin dengan sangat sopan pada ibu. Aku terpana melihat sikap yang lembut dan ramah seperti itu. Aku kira dia tidak akan bersikap sebaik ini pada orang tua. Karena yang aku tahu, dia tipe orang kasar.
"Lain kali nak Dion makan di sini ya, nanti ibu hidangkan makanan spesial." Tutur ibu, sambil melirikku.
"Iya Bu, saya akan sangat senang jika ibu mau menjamu." Senyum Dion mengembang.
Ibu terlihat sangat senang, aku sendiri dalam kebimbangan.
Dion meraih tangan dan berniat menuntunku sampai luar, namun karena tak biasa dilihat ibu, aku segera lepaskan. Dion nampaknya mengerti, dia pun mempersilahkan masuk ke mobil tanpa menyentuh bagian tubuh. Ibu mengantar kami sampai pintu, entah apa yang mereka bicarakan sebelum aku turun tadi. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam, tak berani menanyakan apa maksud dia mengajakku makan malam.
Dion, terus saja tersenyum sambil mengemudikan mobil. Sesekali melirik ke arahku, seperti ingin bicara tapi akhirnya sama-sama diam.
***
Malam yang indah bertabur lampu temaram diseluruh sudut taman. Bulan yang bersinar seakan menjadi saksi kebahagian hati. Langit yang cerah ikut meramaikan acara makan malam yang tak pernah aku duga sebelumnya.
__ADS_1
"Elisa, apa kamu mau menikah denganku?"
Mulutku tiba-tiba saja kelu, tak mampu untuk menjawab. Makanan penutup baru saja aku habiskan. Dion mengawali percakapan yang membuat tidak bisa berpikir. Terlalu cepat, tapi memang ini yang aku mau, menikah tanpa pacaran. Dari dulu aku memang berkomitmen jika benar-benar ada yang serius menyatakan cinta, dan aku juga mencintainya, tunggu apa lagi? aku ingin langsung menikah saja.
"Ko diam?" Tanya Dion dengan senyum mulai meredup.
Beberapa saat aku memang tidak bisa berucap. Atau sekedar mengiyakan, aku tak sanggup. Aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaan yang akan menentukan hidupku selanjutnya.
"Jangan bilang kamu akan menolakku?" Dion mulai menyentuh tanganku lagi, ia menggenggam erat. Menatapku dan meyakinkan bahwa ia sungguh-sungguh.
"A-aku belum bisa jawab sekarang." Kataku sambil menunduk.
"Baiklah, aku mengerti, kapan pun kamu mau, aku akan tunggu jawabannya." Tanpa ada kata cinta dia langsung saja mengajak menikah. Apa ini baik? sebagai wanita aku suka dengan kata-kata gombal.
Aku mencoba menyelami arti tatapan Dion, benarkah dia mencintaiku. Tak mungkin dia menjadikan aku istrinya jika tanpa cinta.
Untuk saat ini, aku memang melihat keteduhan di kedua bola mata Dion. Begitu nyaman memandangi wajah tampan yang mempesona.
Aku menikmati dekorasi taman belakang Restaurant ternama di kota ini, aku bisa menilai kalau Dion menyukai segala hal yang di luar.
Kami satu selera, sampai pada acara resepsi pernikahan kami, diadakan di tempat terbuka. Aku sangat bahagia, karena Dion sangat menghormati kedua orang tuaku. Orang tua Dion juga tidak seperti orang kaya pada umunya. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka, orang tua Dion membuatku menjadi menantu bahagia saat pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah mereka.
***
Selama pernikahan, Dion memang hanya beberapa kali bilang cinta. Aku sangat suka dengan hal-hal romantis, Dion kebalikannya, dia tidak suka bergombal. Aku senang karena orang tua Dion menerima dengan baik, mungkin karena Dion anak satu-satunya. Tapi lama-lama justru Dion tidak menginginkan kehadiranku.
Sekarang entah apa yang harus aku lakukan, Amanda dan Dion sedang bersama. Dua orang dewasa berdua di suatu tempat dalam semalam, apa mungkin mereka tidak 'melakukan'?
Argh! Haruskah aku menyerah? rasanya ini benar-benar sakit. Apa Amanda bisa sedikit saja memikirkan perasaanku? Aku wanita yang teraniaya, dan dia juga wanita. Aku sering menceritakan pengkhianatan suamiku tapi sekarang justru dia sendiri yang jadi selingkuhannya.
Aku yakin, selama ini dia berteman denganku tidak tulus. Seharusnya aku tahu sejak awal. Aku bisa rasakan ambisi Amanda yang ingin memiliki Dion seutuhnya. Aku bisa melihat, Amanda ingin merebut segalanya dariku. Beberapa mainan Diana yang diberikan Amanda, aku bakar! ternyata pemberiannya hanya modus. Selama ini dia bersikap baik padaku dan Diana karena ia menginginkan Dion.
Amanda? apa aku harus diam saja menghadapimu?
Dion? sampai kapan kamu sakiti aku tanpa alasan? kamu hanya bilang bahwa kamu sudah bosan dengan pernikahan kita, tapi sedikitpun kamu tidak memberiku kesempatan. Andai saja kita berdua bisa sama-sama menjaga pernikahan ini.
Sakit yang menghampiri saat ini, terasa sangat perih, aku menangis, meluapkan segala amarah dalam dada. Kebencian yang berkecamuk membuat aku ingin mengakhiri segalanya.
Apa aku harus bertahan atau mengalah?
***
__ADS_1