
Cerita ini berangkat dari kisah di sekitar, biar tidak membosankan dikasih bumbu, ada cuka biar terasa asam, kadangĀ gula biar terasa manis, sehingga jauh melenceng keluar dari kenyataan dan jadilah ia cerita halu. Nama dan tokoh hanya sekedar pembeda dan bukan disengaja dengan pribadi yang dibuat-buat....
Kisah ini telah mengalami beberapa revisi dan ini merupakan revisi baku dan tetap dan yang terakhir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
DALAM gelapnya malam, tiga sosok anak manusia masih asyik mengobrol. Mereka maota setengah berbisik, takut membangunkan pemilik lapau yang baru saja tutup beberapa saat yang lalu... Anwar konon khabarnya yang berjualan di lapau itu, yang dikenal dengan panggilan top Tukang, bersama istrinya Rosna dan dua orang putrinya Nur dan Yur, berasal dari Bukittinggi dan menetap di Balimbiang ini. Anak-anak memanggilnya Mak Tukang sapaan sehari hari kependekan dari Mamak,. Mereka merantau di kampung ini dan mengaku bermamak ke suku Bodi jadi kemenakan Datuk Rajo Batuah. Lapau Anwar dikenal juga dengan lapau Mak Tukang, atau lapau Ambacang karena disampingnya tumbuh pohon ambacang yang sudah tua sekali.
Kendati malam kian larut, anak anak itu enggan beranjak, meninggalkan palanta lapau. Palanta yang dibuat dari bilah betung yang sudah sangat licin karena saban waktu kena gesekan pantat orang yang mendudukinya. Palanta itu seakan menahan dan memaku pantat mereka agar duduk berlama-lama. Tidak hanya mereka tapi setiap yang duduk di palanta itu bisa membuat kopi hitam pekat menjadi air putih keruh karena sering ditambah airnya, atau goreng ubi yang kalau dilihat dari atas palanta itu jadi besar dan boneh boneh...
Mereka, anak-anak itu serius sekali, Jaswan Juhar, Maryon Mara dan Firdaus Rustam, tiga serangkai yang kompak dan selalu bersama.
"Tadi sore Amaiku marah besar! " Maryon seperti mengeluh. "Aku memang salah, aku lupa memindahkan kerbau ketempat yang teduh. Padahal saat ku tambat tempat itu teduh! Sehabis Zuhur Amaiku berniat menambah rumputnya, Amai kaget karena kerbau sudah kalansangan.... "
Maryon bercerita. Ia memanggil ibunya dengan sebutan Amai. Aneh memang. Biasanya yang dipanggil amai itu istri mamak. Tapi begitulah Maryon.
"Bapakmu tau? "
"Kalau Bapak tau, abis lah aku.... Dan aku tak akan ada disini... " desis Maryon.
"Untunglah Amai belum sempat cerita sama Bapak....."
__ADS_1
Ya, bapaknya Maryon memang lelaki bertempramen tinggi. Ia suka marah, padahal mereka bukan keluarga besar, Maryon hanya berdua dengan abangnya Nasri. Umur mereka tidak terpaut jauh. Mungkin setahun dua tahun. Nasri pernah satu lokal dengan Firdaus, tetapi karena Firdaus pernah berhenti sekolah setahun maka ia tertinggal dan jadi sama dengan adiknya. Jadilah mereka berkonco arek.
Walau kehidupan Mara senin kemis, sering kekurangan, kalau tidak kerja tidak makan, yang namanya hobby berburunya tidak pernah kendor, tidak pernah surut. Kalau maota dilapau suara Mara yang paling keras. Hari Minggu adalah hari miliknya. Tidak bisa diganggu gugat walaupun bumi terbelah dan rimba tempat berburu hangus terpanggang berburu itu wajib adanya, itulah prinsipnya.
Dan ketika Maryon minta izin untuk belajar bersama dengan Jaswan di rumah Firdaus , Amai dan Bapaknya tidak bisa menolak dan tidak bisa keberatan, karena akan ujian akhir, ujian yang bakal menentukan lulus dan tamat atau harus mengulang setahun lagi. Yang satu ini saja sudah membuat kalang kabut untuk membayar ipendas, iyuran pendidikan dasar si Maryon sibungsunya. Juga, karena mereka belajar di rumah gurunya yang juga teman sama sama mengaji di surau dengan Ani amainya Maryon. Ani yakin mereka tak mungkin macam macam di rumah Anjar. Di rumah orang yang laki-bini guru. Kalau berani macam-macam berarti cari mati namanya. Iyakan???
Semenjak mereka belajar bersama sudah ada perubahan pada sikap dan prilaku Maryon. Sudah pandai membantunya didapur dan mencari kayu api di bukit di belakang rumah.
Rumah tangga Marah dan Ani sebuah rumah tangga yang sangat sederhana sekali. Marah bekerja sebagai pembajak sawah dengan menggunakan tenaga kerbaunya, sementara Ani menerima upahan dari bertanam dan bersiang padi.
Berbeda dengan Jaswan, orang tuanya punya setumpak sawah, dan Juhar bapaknya juga rajin berladang, kadang ladang jagung, kadang cabe, atau kacang tanah.... Lumayanlah kalau panen... Ternaknya juga ada beberapa ekor... Maka ekonominya juga lebih bagus dan otomatis kehidupannya juga lebih baik...
Mereka bertiga sepertinya tengah bercerita tentang keinginan dan hatinya masing masing...
"Aku mungkin nggak melanjutkan, seperti Uwan, tamat SD dah cukup! " ujar Maryon, suaranya terdengar pelan, pandangannya jauh kedepan menembus gelapnya malam seakan hati nuraninya bertentangan dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Boro-boro untuk sekolah, untuk makan saja orang tuanya kewalahan. Syukur-syukur dimusim kesawah, orang tuanya memang ada kelebihan rejeki, kelebihan penghasilan.. karena banyaknya pekerjaan. Sedang abangnya saja cuma tamat sd, masa iya harus merengek rengek minta sekolahnya dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi?
Emangnya anak siapa aku???
Maryon, remaja tanggung itu bukan mengeluh, bukan menyesal lahir ke dunia, atau tak rela hadir ditengah-tengah Amai dan Bapak yang tidak banyak harta, tetapi ia sadar diri. Ia mengerti dengan kondisi keluarga yang tidak atau belum beruntung, ibarat roda, roda kehidupan orangtuanya sedang berada di bawah. Keinginannya tidak mengawang, paling tidak ia dapat makan dan sekolah. Itu saja baginya sudah cukup, tidak yang muluk-muluk.
"Amaiku tak punya biaya. Masih syukur dapat ikut ujian akhir kemaren ..." suara Maryon terdengar pahit karena kerongkongan tiba-tiba terasa kering, air liurnya menguap, mulutnya kerontang. Maryon tidak tahu seperti apa usaha Firdaus dan Jaswan mengumpulkan uang secara diam-diam agar dapat menebus nomor ujiannya. Usaha kedua sahabatnya itu tidak sia-sia, baberapa hari sebelum libur hari tenang, nomor itu telah dikantonginya. Alhamdulillah wasyukurillah.
__ADS_1
Ia bangkit dari duduknya,
"Aku ngantuk, aku duluan!" lalu ia meninggalkan Jaswan dan Firdaus.
"Gimana kalau nggak lulus?? " tanpa mengacuhkan Maryon yang telah pergi Jaswan berkata dengan galau. Maryon urung pergi, ia balik lagi kemudian berkata.
"Kalau aku ndak lulus, aku berhenti sekolah!! Aku sudah cukup besar dan bisa berkuliari, menerima upah... Aku akan kerja apa saja, ke sawah oke, ke ladang juga oke! "
"Haaaa....!!! " Firdaus tersentak kaget mendengar Maryon seperti orang putus asa.
"Ha... ha... ha..., siapa yang berani menggajimu, masih ingusan, tenaga tak seberapa.. Cuma makan yang banyak !!!"
"Mau ngapain lagi... Itu lebih bagus dari pada hanya jadi beban Amai dan Bapak. Juga jadi beban kalian! "
"Kamu jangan putus asa, Kamu jangan kalah, tidak boleh, kita mesti berjuang dulu, seperti kemaren, kamu sudah putus harapan nggak bisa ikut ujian akhir... Eh nggak taunya, Kamu bisa ikut, selalu ada jalan... Kalau kita berusaha! "
Maryon menjauh meninggalkan mereka, ia sudah sangat mengantuk. Sementara Jaswan dan Firdaus tetap bertahan.
*
Jangan lupa, tinggalkan jejak, like dan komen, author akan sangat berterimakasih, karena semua itu adalah penyemangat.
__ADS_1