Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Terbawa Arus


__ADS_3

ANAK LELAKI itu mulai merasa bosan, membaca buku, mengerjakan tugas rumah, tidur, sendiri tanpa ada teman yang bisa diajak bercerita. Ia punya teman sekamar Syahrial tetapi ia selalu tidur di toko.


Menurutnya hidupnya jadi tidak berwarna, kalau pun ada warnanya selalu warna yang buram, corak yang menjemukan. Tetapi ada yang tak pernah membosankan, yang tidak menjemukan, yang selalu indah mengenangnya, yang selalu ingin mengulangnya, lagi dan lagi, melamun


Seharusnya Firdaus sholat Zuhur dulu, tapi itu tidak dikerjakannya, ia justru lewat saja di masjid Ihsan terus menelusuri pertokoan toko tinggi, di simpang empat depan rumah makan Selamat ia berhenti sebentar mencari sesuatu atau seseorang, tapi ia tidak menemukan, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju panggung, bioskop Karia. Di depan panggung ada sebuah warung, taman bacaan Sovia kesanalah ia masuk. Mengambil beberapa buah buku lalu ikut bergabung dengan orang-orang sebayanya yang tengah asyik membaca. Ia pun larut dalam kesibukan yang mengasikkan itu.


Sewaktu ia tinggal di rumah Andung Nureka, kesibukan seperti ini tidak pernah dilakukannya. Biasanya ia hanya main di kamar membalik-balik buku pelajaran atau mengerjakan pekerjaan rumah kalau ada, biasanya sampai ketiduran. Suara azan adalah lonceng, alaram yang akan membangunkannya. Namun sekarang semenjak ia tinggal di Palo Pasa kesibukan dan kebiasaannya banyak berubah. Ia bukan anak yang dibanggakan orang tua lagi, kalau ibu dan ayahnya tahu kesibukan anaknya sehari-hari mungkin mereka akan sakit jantung.


Lagi asyik membaca, hanyut dalam cerita komik tiba-tiba masuk Musti, ia sendiri tanpa Rivaldi. Ia meminta tiga batang rokok pada ni Yan pemilik taman bacaan, mengantonginya yang dua dan yang sebatang disulutnya lalu ia duduk disamping Firdaus. Mengambil salah satu komik yang ada disampingnya, melihat-lihat buku yang penuh gambar itu. Musti tidak betah, meletak komik itu ketempat semula dan kembali bangkit menuju etalase, mengambil sebuah roti, kemudian duduk. Setelah roti ludes, ia mengambil sebuah es buah dan bicara sesuatu pada ni Yan kemudian pergi setelah pamit pada Firdaus. Firdaus tahu apa yang disampaikan Musti pada ni Yan penjaga toko, pasti Musti telah menjual namanya, seperti biasa... Ialah yang harus membayar... Sedang untuk bayar komiknya saja uangnya tak cukup, mana lagi Musti minta dibayarkan juga. Ah masa bodoh... Lagian tidak pernah bilang padanya.. tak pernah minta persetujuannya. Akhirnya ia hanya bayar belanjanya saja, masa bodoh.


Pada suatu Kamis, ia lagi mumet, ia belum masuk kedalam TB Sovia, ia duduk di tembok pagar mengawasi mobil lalu lalang. Di seberang jalan spanduk film Roma Irama mengelepak ditiup angin. Daus memperhatikan judul yang begitu besar, Berkelana 2... Ia tidak tertarik, karena nonton di panggung butuh uang banyak, mungkin separoh dari belanja seminggu. Enakan baca komik, kepuasan sama dengan biaya kecil bisa berjam jam....


Alhamdulillah walau belajarnya amburadul tapi saat ujian ia benar benar basitungkin belajar ia dapat nilai lumayan. Namun ia dan teman-teman yang selama ini desas-desus sepertinya akan menjadi kenyataan. Kalau Itu terjadi maka sekolahnya akan menjadi kenangan. Dan sepertinya persiapan untuk dileburnya beberapa sekolah pertama sudah semakin nyata. Dan informasi yang ia dengar, SMEP bergabung ke SMP dua, dan sekolahnya bergabung ke SMP satu.


Rivaldi melanjutkan kuliah di Padang. Sekarang Firdaus tinggal sendiri, teman-teman satu lorongnya, Yunbur dan Madi juga meninggalkan rumah. Hanya Zainal yang tersisa dan abang-abang itu, preman Jaya. Lorong rumah Pode tempat preman itu kembali.


Kehidupan Daus kian liar, sekolah tidak lagi menjadi prioritas utama. Hidup dalam bayang-bayang, dalam dunia semu, dalam dunia khayal. Apalagi sekarang tiada Rivaldi sebagai panutan, sebagai contoh dan tauladan, sebagai sosok yang dikagumi. Rivaldi sebagai kakak yang disegani telah pergi. Pernah suatu kali Rivaldi nemu surat cinta yang akan dikirimkan ke Farida, mungkin ia sempat membaca, lalu apa katanya,


"Kalian masih SMP, tidak segitunya juga kalau pacaran. Aku juga punya pacar, tidak cuma satu, ada Asni, ada Mery, tapi biasa aja, nggak terlalu di bawa ke hati.. Cinta kalian cinta monyet, sekarang oke, tapi besok ada yang lebih ganteng, ada yang lebih cantik pasti berpaling. Biasa tu..."


"Tapi ini cinta pertama, Da..."

__ADS_1


Rivaldi tertawa renyah, entah mentertawakan apa, atau menganggap remeh pernyataan Firdaus, baru sekolah tetapi sudah berani bermain api, bagi Rivaldi bermain cinta sama dengan main api. Sedang Rivaldi, yang hampir tamat SMA belum kepikiran untuk serius seperti Firdaus. Masih anyir...!


Itu dulu, saat Firdaus belum beberapa bulan, paling delapan bulanan saat ia menulis surat cinta pertama pada Farida. Dan nasehat itu selalu berlanjut, terakhir Firdaus diceramahi saat Rivaldi mengambil barang-barangnya, karena ia sudah lulus.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rida, Daus?"


"Biasa saja Uda..."


"Kalian makin lengket aja!"


"Ya begitulah Uda.."


"Satu pesanku, kalau untuk pacaran Rida itu oke, Aku setuju banget, tapi kalau buat kamu jadikan istri, he he he... Kamu harus berpikir ulang. Kamu bukan tipenya. Aku tahu pasti selera orang sana... Mereka menengok ke atas bukan melihat ke bawah. Kemudian Daus, perempuan itu perkembangannya dua kali lipat laki-laki, sebentar lagi Rida pasti akan melirik keatas, dia akan mencari pasangan yang jauh diatasnya, mungkin saja anak SMA... Begitulah terus... Akhirnya kita kaum lelaki akan tertinggal!"


"Nanti kau akan paham, kau akan merasakan, makanya Aku kasih masukan, kalau masa itu datang, kau tidak kaget, tidak frustasi..."


"Uda pernah liat dia selingkuh Uda? Atau ada orang yang mendekatinya?"


"Sekarang belum, tapi aku yakin sebentar lagi mungkin ada... Sepertinya sinyal itu sudah terasa."


"Berdasarkan apa Uda bicara begitu? Main tebak-tebakan? Atau punya alasan lain?"

__ADS_1


"Aku lebih tua dari kamu, duluan mengenal perempuan, jadi.. itu tadi, cinta monyet yang menurutmu cinta pertama itu selalu akan berakhir, suka tidak suka, mau tidak mau... Kau boleh buktikan karena kau akan merasakan..."


"Kalau begitu, pendapat Uda itu subjektif, bukan objektif, aku tidak percaya, nonsen...!"


Tidak biasanya anak lelaki itu menjawab titah abangnya, baru kali ini, karena ada yang terasa saat abangnya itu memberi nasehat.


"Aku akan buktikan, umur Uda memang tua, di sekolah Uda memang hebat, sukses.... Tapi kalau masalah percintaan aku lebih oke... Karena Uda tidak punya cinta yang tulus..."


"Ha ha ha Daus... Daus. Kau tunggu saja. Nanti kita bicara lagi, aku pengen dengar kisahmu...."


"Oke Uda, ingat! Lima tahun lagi, kalau umur kita sama panjang, aku akan menemui Uda, menyampaikan bahwa uda salah dan aku yang benar, ingat itu, lima tahun lagi, insyaallah..."


"Baik, aku tunggu!!!"


Sebetulnya Firdaus tersinggung, Rivaldi teman sekamarnya terang-terangan tidak mendukung hubungannya dengan Ida. Untunglah abangnya itu telah tamat dan mereka sudah tidak sebangsal lagi.


*


Terimakasih telah mampir,


Jangan lupa like dan komennya

__ADS_1


terimakasih atas dukungannya.


__ADS_2