
KHADIR diam beberapa saat setelah bicara panjang lebar dan berapi-api penuh semangat. Ia membetulkan letak topinya, topi pet warna merah bata. Sesaat kemudian ia kembali melanjutkan pidatonya.
"Dan besok, karena terbatasnya ruangan, maka kelas dua dan kelas tiga seperti biasa, tetap sekolah pagi."
Murid-murid bertepuk tangan, tentu saja murid kelas dua dan tiga saja, sementara murid kelas satu diam saja menunggu kelanjutan pidatonya. Mereka sudah bisa menebak dengan pasti apa lanjutannya.
"Dan kalian kelas satu semuanya belajar siang! karena kita punya tiga ruangan maka terpaksa kita memakai gedung sekolah dasar untuk sementara, kita pergilirkan dan teknisnya nanti kita atur!"
Begitu akhir sambutan Khadir pada upacara bendera hari pertama, saat Firdaus menginjakkan kakinya di sekolah ini sebagai murid. Dulu ia juga sering main di gedung kosong ini. Main kajai, main pitih, main karateh rokok dengan teman-temannya. Tidak jarang kadang sampai bacakak banyak, karena salah seorang dari mereka ada yang galie alias curang.
Firdaus masih ingat karena ketahuan main kajai ia sempat direndam dalam kulah di depan surau oleh Lioneng guru bantu yang terkenal pamberang di surau Belok, dinginnya tidak seberapa tetapi malunya yang minta ampun. Sejak ketahuan itu ia jadi berpikir kalau akan melanggar larangan Buya.
Selesai upacara, bergantian murid-murid masuk lokal, menerima pengarahan dan nasehat-nasehat dari wali kelas masing-masing. Di lokal Firdaus , Satu A terpilih Aswar ketua kelas dan Dekon Nistri bendaharanya.
"Daus! kamu tolong ya! bikin daftar piket, seperti kata ibuk wali kelas kita tadi... kalau dapat besok sudah siap dan dipajang di dinding kelas..!"
"Tenang Ketua, nanti kuminta nama teman-teman, kita suruh saja Dekon.. Setuju?!"
"Bagus!!"
Lonceng berbunyi berkali-kali, lonceng panjang, tandanya mereka harus berbaris lagi. Rupanya ada gotong royong mendadak. Beberapa orang guru mengawasi goro sebelum mereka pulang. Bagi yang rumahnya dekat disuruh pulang mengambil alat-alat, mungkin cangkul, lading, atau sabit.
Dua orang murid perempuan bergegas melintasi jalan di depan tugu menuju arah ke Kubu. Mereka Eda yang berkulit hitam manis berambut sebahu dan temannya Yeni berambut lebih pendek badan tinggi semampai. Mereka berniat mau meminjam peralatan Tek Suna. Beberapa hari yang lalu Eda memang melihat ada cangkul, sapu lidi dan sabit. Mereka akan meminjam salah satu alat-alat itu untuk goro di sekolah.
*
Biasanya rumah itu sepi, penghuninya hanya dua orang, Suna dan anaknya Erni. Sekarang berobah menjadi ramai, sering terdengar canda dan tawa riang penghuninya. Suna bukan tak beranak banyak, ia punya, hanya saja anak-anak dan cucu-cucunya ikut suaminya bekerja di negeri orang.
Rumah itu, rumah setengah permanen berdiri gagah dengan halamannya yang luas ditumbuhi bermacam-macam tumbuhan, ada berjenis-jenis bunga sampai tanaman keras. Banyak yang sudah tinggi dan rindang. Di belakang rumah banyak tumbuh pohon pisang. Lebih jauh ke belakang, ada pohon petai, pohon jengkol dan beberapa pohon kelapa menjulang tinggi.
Walau hanya tinggal berdua tetapi mereka rajin berkebun. Pekarangannya luas ditumbuhi berbagai tanaman, yang teratur dan terawat dengan baik.
Di beranda duduk dua orang anak perempuan, kelihatannya sibuk mempersiapkan perlengkapan sekolah, ada yang menyampul buku, ada yang membaca dan ada membongkar-bongkar map.
"Alhamdulillah, siap semua! "
"Ondeh mande... rapi banget. "
__ADS_1
"Iya dong.... "
"Ngga heran deh... orang cantik masa bukunya amburadul... kan nggak lucu... "
"Aamiinn.... " kata temannya seraya membawa buku-bukunya masuk kamar.
Sementara di halaman ada lagi beberapa orang mengelilingi perempuan paruh baya, mereka begitu asik mendengarkan Suna bercerita. Mereka senang sekali.
"Gimana? Kalian betah disini??" Suna bertanya.
"Betah kayaknya etek... "
"Serasa di kampung sendiri... "
"Orangnya ramah-ramah..."
"Seharusnya pendidikan lebih maju lagi di kampung ini karena begitu banyak orang sini yang jadi guru apalagi guru SD.... tapi syukurlah akhirnya impian orang sini terkabul juga, ingin memiliki sekolah lanjutan, dulu pernah ada, sekolah agama, tapi tak lama umurnya... entah apa sebabnya!" kata Suna menutup ceritanya.
Mereka akhirnya bubar dan Eda pindah ke beranda. Ia duduk termangu, ada keletihan di wajahnya setelah separuh hari berkeliling kampung bersama Dekon, mencari kenalan kakeknya. Ada beberapa yang ditemukan, dengan sangat senang mereka menerima kedatangan Eda. Malah ada yang mengajak untuk tinggal di rumahnya sampai Eda tamat. Tentu saja ia menolak dengan halus tawaran simpatik itu.
"Tinggal disini saja bersama etek...."
"Terima kasih, etek, biar disana saja...!, lagian dekat pula dengan sekolah." tolak Eda. Walau ia tahu, wanita paruh baya itu sungguh-sungguh dengan ucapannya, itu jelas terlihat dari sinar matanya yang tulus dan berharap....
"Sering-sering saja main kesini... nak Eda, nak Dekon...." kata Mariana akhirnya.
Eda berdiri memandang lepas ke samping rumah Mariana, ada sebuah surau, sebuah kincir padi, sepertinya kincir itu sudah tidak terpakai lagi, sudah tidak digunakan. Dibelakang kincir terhampar sawah yang luas... Dan didepannya ada sebuah kolam yang luas dengan sebuah pancuran yang didinding pakai tadie, anyaman dari bambu... Dan dari pancuran itu kelihatan seseorang mungkin sedang mandi, jelas terlihat dari tanda yang diberinya dengan memajang handuk pada dinding pancuran.
"Ada orang mandi.... "
"tuh liat... "
"Ihh Kamu.. ...! Suka ngintip. "
"Ssttt... "
Di pincuran Firdaus tengah mencuci beberapa helai baju dan celana. Anjar telah mengajari anak-anaknya mandiri sejak dini, mungkin karena kesibukannya sehingga tugas rumah dibagi rata. Apalagi dua orang kakaknya sekolah di kota. Rata rata mereka yang sudah tamat SD sudah bisa nyuci dan masak air atau masak nasi, kecuali bikin sambal.
__ADS_1
Tengah asyik mencuci tiba tiba ia melihat dua orang perempuan tengah bercengkrama dengan Mariana. Ketika diperhatikan lagi Firdaus terkaget, bingung.
"Dekon... dan kawannya, ngapain mereka di rumah tek Mariana?" gumamnya. Awalnya Firdaus berniat keluar dari pancuran untuk menemui Dekon dan temadnnya. Tapi kemudian diurungkan karena ia sudah tidak punya baju ganti kendati ia sudah selesai mencuci dan mandi.
Sementara itu dari dalam rumah Mariana datang menghampiri dan menemani Dekon dan kawannya melihat lihat jejak peninggalan kakeknya Eda.
"Itu kincir buatan kakekmu, tapi dua tahun terakhir ini sudah nggak dipakai lagi! Orang orang sudah beralih ke Heller!" jelas Mariana melihat Eda termangu memandang.
"Oh yaa etek..... " tergagap Eda menjawab takut ketahuan tengah mengintip orang mandi.
Rupanya emang, kakeknya tidak bohong, "Sebut saja nama kakek, kamu pasti akan dianggap keluarganya juga, malah mungkin kamu akan diajaknya tinggal bersama.... Akan lebih baik dari pada nyewa kamar..." pernah kakeknya bilang begitu. Ia kurang yakin ketika itu, tapi setelah ia buktikan barulah ia percaya. Kakeknya memang lelaki tua yang hebat.
Kakeknya seorang lelaki yang sudah berumur tapi tetap segar dan sehat. Ia lama menetap dikampung ini memperbaiki beberapa bangunan kincir padi, surau kaum ataupun rumah gadang. Janin seorang tukang kayu yang punya nama cukup terkenal.
"Di surau itu kakekmu dulu bermalam, sudah diajak di rumah karena banyak kamar yang kosong, tapi ia tidak mau!"
"Kakek memang keras kepala, etek.".
Dari dalam pancuran Firdaus mengintip, mereka melihat dan menunjuk-nunjuk arah tempat ia mandi. Apakah mereka tahu kalau yang sedang mandi itu Firdaus? Anak bujang Bu Anjar guru sebuah sekolah dasar?
Akhirnya kesempatan itu datang, ketika orang-orang itu berbalik ke arah depan bersama Tek Mariana, ia meluncur ke samping surau lewat pematang sawah pulang ke rumahnya.
Eda setelah puas bertamu akhirnya ia minta ijin pamit karena telah hampir tengah hari dan mereka harus kesekolah.
Karena goro di sekolah dan kunjungannya ke beberapa tempat, sekarang ia jadi letih dan penat. Saking semangatnya ia jadi lupa akan keterbatasan tenaganya yang tidak bisa dipaksakan semaunya.
*
Terima kasih telah hadir,
jangan lupa tinggalkan jejak
like dan komen
author sangat berterimakasih
kepada semua.
__ADS_1