Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Serunya di Kelas Baru


__ADS_3

MENUNGGU lonceng berbunyi, mereka duduk membentuk kelompok-kelompok kecil, tentu saja sesuai dengan komunitas mereka sebelumnya. Ada yang satu SD, ada yang satu surau, ada yang berdekatan tempat tinggal. Ada juga yang berdiri berkerumun atau berdiri ditepi pagar, duduk diatas onggokan batu kali. Suasana canggung jelas menyelimuti mereka, belum terjalin keakraban yang hangat. Maklum, mereka sama sama pendatang baru.


Palanta warung diseberang jalan didepan sekolah penuh sesak, bukan mereka yang makan ketupat, tetapi sekedar numpang duduk. Tidak ada yang belanja di saat waktu tanggung karena mereka baru saja dari rumah, kalau pun ada pasti yang tidak sempat makan siang sebelum berangkat.


Pelajaran pertama di lokal A jam bahasa inggris. Murid-murid sudah memasuki lokal dan duduk manis menunggu kedatangan guru. Dengan santai Rawanis berjalan memasuki lokal, mengucapkan salam dengan bahasa Inggris kemudian menaruh tasnya yang besar di meja guru, lalu mengeluarkan selembar tisu. Ia membuka kacamatanya dan mengelapnya perlahan kemudian ia mengedarkan pandang keseluruh ruangan memperhatikan murid-murid lalu berkata.


"Sesuai janji kemarin, hari ini kita ulangan...! Keluarkan kertas selembar! Simpan buku catatan! Jangan menyontek! Pergunakan kamampuan yang kalian miliki.. Ibuk pengen liat kemampuan kalian sesungguhnya, mengerti??" Rawanis berdiri sesaat lalu melangkah kebelakang, memperhatikan sebagian murid-muridnya itu face to face dengan mendatanginya ke kursi masing-masing. kemudian kembali kedepan. Dengan patuh murid-murid menuruti perintahnya walau banyak yang enggan.


"Tapii Buk.... " tiba-tiba ada yang keberatan.


"Ada apa? " tanya Rawanis


"Suardi namanya Buk! " Sorak Alimin


"Saya be... belum siap buk!" terbata Suardi menjawab.


"Kenapa Suardi? teman-temanmu tidak ada yang protes. kok kamu sendiri yang belum siap? "


"Buku catatan saya hanyut buk, saat menyeberang sungai pulang sekolah dan belum sempat dicatat ulang... "


"Kamu boleh tidak ikut, tunggu diluar saja supaya temanmu tidak terganggu!"


"Saya ikut ulangan buk, tapi kalau salah semua ibuk jangan marah... jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia saja saya banyak salah!!! Bukan ibuk yang salah, bukan ibuk yang tidak bisa ngajar, tapi otak saya otak udang.."


Lain ceritanya bagi Firdaus, bahasa Inggris bukan sesuatu yang aneh di telinganya, ia sudah sering melihat buku kakaknya Miati, dan sering pula mendengar Miati menghafal kosa kata baru. Buku cetak bahasa inggris kakaknya mirip buku cetak bahasa Indonesia di SD, ini ibu budi, ini bapak budi... Ada gambar gambarnya. Jadi ulangan ini baginya tidaklah terlalu menyeramkan walau tetap sulit. Baginya bahasa Inggeris bukanlah pelajaran asing tetapi tetap saja menjadi pelajaran bahasa asing.


Dan makanya tidaklah heran, ia yang paling semangat mengerjakan soal dan tentu saja ia juga yang paling cepat selesai. Tidak berlama-lama ia langsung memberikan kertas ulangannya pada Rawanis. Melihat Firdaus telah selesai Suardi juga mengikutinya dan menyerahkan pula. Bu guru sempat kaget, padahal waktu baru berjalan separoh, apakah anak ini asal mengerjakan soal yang ia berikan. Tetapi ketika ia periksa banyak yang betul, anak itu dapat mengerjakan dengan baik dan cepat walau masih kurang teliti, namun anak yang satu lagi, Rawanis geleng geleng kepala. Entah apa yang ditulisnya.

__ADS_1


"Bagus! kamu dapat mengerjakan dengan cepat!"


"Hanya saja kamu kurang hati, terutama dalam penulisannya..."


"Iya buk..."


"Ayo siapa yang siap kumpulkan ke depan!, Tapi jangan seperti teman kalian ini, Suardi... "


"Suardi menyerahkan jawaban kosong, tak satupun yang dijawab!!!" lanjut Rawanis.


"Tapi... buku saya hanyut Buk..!"


"Kalau bukumu hanyut, apa yang kita pelajari selama ini juga hanyut? Tidak tertinggal sedikit pun di kepalamu?"


"Suardi mandi di lubuk Buyuk kemaren Buk, sudah dilarang dan sempat bertengkar dengan Syapi'i, karena pertengkaran itu buku Suardi jatuh semua ke sungai... Begitu ceritanya yang sebenarnya, buk..." papar Azwar.


"Isi kepalanya juga hanyut sekalian Buk...."


Firdaus yang mendapat pujian lubang hidungnya jadi besar, siapasih yang tidak suka dipuji, apalagi kalau sesuai dengan kebisaan kita, sementara Suardi hanya senyum senyum kecut saja. Aswar mencolek tangan Firdaus, setengah berbisik minta ditunjukkan beberapa soal.


Ulah Firdaus membuat guru menjadi senang. Namanya langsung tercatat dalam kepala guru itu. Firdaus juga ringan tangan, ketika guru mau menghapus papan tulis buru-buru ia menawarkan diri. Ketika kapur tulis habis dengan sigap pula ia mengambilnya ke kantor. Mungkin ada yang beranggapan Firdaus suka mengambil muka, terserah asal tidak muka beruk saja, ia tidak peduli.


Tidak hanya guru bahasa Inggeris, guru yang lain juga suka pada anak lelaki itu. Dan karenanya ia sering disuruh-suruh, mengambil inilah mengambil itulah... Dan yang paling penting tentu saja mencatatkan pelajaran di papan tulis, ialah orangnya, kendati tulisannya di papan tulis tidak sebagus tulisan Punai anak kelas dua itu, menulis dipapan tulis sama seperti menulis di buku, rapi buangeet. Punai memang hebat dan ia juga pengen punya tulisan sebagus dan serapi Punai.


Sudah hampir sepuluh menit sejak lonceng pergantian jam pelajaran tadi berbunyi, guru belum juga masuk, tanda-tandanya juga belum kelihatan. Seharusnya pelajaran ekonomi, gurunya Jusma namanya. Tiba-tiba Hidayat sudah berdiri di depan pintu. Lokal yang tadi ribut mendadak jadi hening. Hidayat guru bahasa Indonesia, mungkin Jusma ada keperluan jadi ia yang menggantikannya mengajar. Syukurlah kalau begitu, karena Jusma bukanlah tipe guru idola mereka, bagi mereka, buk Jusma guru yang judes, suka marah tanpa sebab, makanya ia tidak disukai anak-anak. Suaranya kecil melengking, menusuk gendang telinga... Sungguh tidak enak di dengar. Bicaranya juga ketus tidak ada ramah-ramahnya.


"Firdaus!! kemari...!"

__ADS_1


"Ada apa, Pak?"


"Buk Jusma titip pesan, lanjutkan catatan minggu kemaren! Dan ketua kelas tolong dijaga keamanan kelas. kami ada keperluan sebentar... kalian mengerti??" ujar Hidayat sambil menyerahkan buku cetak ekonomi.


"Mengerti Pak!!!" jawab anak-anak serempak.


Hidayat dengan buk Jusma dua orang guru yang kompak, mereka sering bersama, entah hubungan apa, mungkin hubungan sesama guru, mungkin hubungan antara dua anak manusia, mungkin juga hubungan asrama, eh maksudnya hubungan asmara, entahlah, tidak ada yang tahu pasti, yang jelas mereka memang sangat intim.. Kemana-mana mereka sering berduaan. Sungguh hubungan yang sangat tidak harmonis, Jusma yang pendek dan kurus, dengan Hidayat yang tinggi semampai dan gagah berani, itu juga masih pendapat sebagian mereka, murid murid SMP yang belum tahu apa-apa, tapi sudah bisa memberikan penilaian, memang murid-murid yang pintar.


Firdaus melihat buku catatan salah seorang temannya, Rosnaiti lalu mencocokkan untuk mendapatkan batas catatan minggu yang lalu. Setelah didapat Firdaus mulai menulis dan sebelumnya menyuruh ketua kelas membersihkan papan tulis. Dengan enggan sang Ketua menuruti perintahnya tentu saja sambil memaki. Masak iya, ketua kelas disuruh-suruh


Firdaus menghapus separuh bagian atas, yang sudah disalin teman temannya kemudian ia bergegas kebelakang sekolah mau membuang abu penghapus, disamping sekolah ia berpapasan dengan seseorang, ia menghindar arah ke bandar, kebetulan lorong jalan setapak itu sempit... Dinding sekolah langsung berbatasan dengan bandar. Dan ia tergelincir kaki kanannya masuk bandar, amblas ke dalam lumpur. Sialan! Penghapus yang dipegangnya terbang dan hinggap di rok seorang perempuan, abu kapur berterbangan dan warna biru dongker dikotori warna putih abu kapur tulis.


"Hati hati dong..!"


"Kamu juga, lihat sepatuku penuh lumpur!"


"Salah sendiri, udah tau jalan sempit masih aja jalan, tunggu sebentar gimana biar orang lewat dulu..."


"Awas lu, perempuan binal!"


"Apa lu bilang? Kurang ajar!"


"Emang, makanya aku belajar.. tapi lu, sudahlah pendatang tidak pula beradat!"


Andai mereka sama-sama lelaki pasti perkelahian sudah akan terjadi beberapa babak. Tapi ini, mereka sepasang murid, satu laki dan yang lain perempuan. Hanya mulut yang bicara, tinju dan pukul sebagai lelaki, cakar dan jambak rambut bagi perempuan, tidak terjadi. Sejarah baru perkelahian sepasang murid sekolah urung mereka catatkan...


*

__ADS_1


terima kasih atas kunjungan, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen, author butuh itu buat penyemangat menulis, dan cerita ini cepat selesai.


                      


__ADS_2