
ENTAH dari mana datangnya tiba-tiba ia memikirkan anak perempuan itu. Anak perempuan yang membencinya setengah mati. Memang mereka sempat bercaran, bukan pacaran, ingat itu malah sampai bercarut pungkang tapi itu bukan sifatnya, ia hanya terbawa arus, dan itupun tidak berasal dari hatinya.
Ia memang balas memaki tapi bukan maki sepenuh hati, diluar galak tetapi didalam tenang menghanyutkan. Malamnya sehabis bertengkar itu Firdaus jadi kepikiran anak perempuan hitam manis berambut sebahu itu sampai terbawa dalam mimpi. Itulah awalnya, awal kehadiran bayangan seorang sosok anak perempuan dalam hatinya setelah sebuah cinta monyet berlalu.
Perang dingin biasanya ada hubungan yang tidak harmonis antara dua kubu karena saling menyalahkan, memperturutkan ego masing-masing, akhirnya saling diam yang sewaktu waktu bisa meletus. Perang dingin yang satu ini beda, yang dingin hanya sebelah kubu sedang yang sebelah lagi selalu hangat. Makanya perang itu begitu menyiksa. Anak perempuan itu benar benar marah. Bicaranya sampai sekasar dan sejorok itu. Firdaus dapat menerimanya, dan ia tidak marah apalagi harus mendendam dan menyimpan benci.
Ah!... Ia merasa sangat berdosa.
Sementara itu Eda sendiri, karena ia perempuan, ia bisa menyimpan perasaannya, ia bisa bermain sandiwara, biar kambing yang ada di hati yang keluar tetap harimau, bukan sebaliknya, begitulah anak perempuan itu. Ia juga bukan tidak tahu membalas diri, ia anak rantau, mana berani kasar dan kurang ajar pada penduduk pribumi. Ia tahu beretika dan bersopan santun.
Kemaren itu memang hari sialnya, dan kesialan itu mempengaruhi perasaannya menjadi peka dan mudah tersinggung. Ditambah lagi ia kedatangan tamu bulanan yang juga sering membuat pikirannya naik turun, tidak stabil. Tetapi semua telah terjadi... Mau apalagi.
Kalau itu sebuah kesalahan maka ia harus minta maaf, kalau itu sebuah kekeliruan maka ia harus memperbaiki, dan kalau itu sebuah jalan maka ia akan ikuti, kalau itu sebuah musibah maka ia harus lebih berhati-hati dan kalau itu sebuah nasib ia akan perjuangkan... Begitu anak perempuan itu menulis dalam diarynya.
Dekon selalu bercerita tentang teman sekelasnya yang baik, yang pintar, yang disayang semua guru membuatnya semakin tertekan yang kemudian berubah menjadi kebimbangan. Kalau postur tubuh mereka sebanding dan ideal pasti Dekon sudah menyatakan isi hatinya. Kendati Dekon suka tetapi ia tahu diri, ia yang gemuk sementara anak lelaki itu kurusan dan juga tidak tinggi-tinggi amat...
Wajah, ah... jauh dari kata ganteng, tinggi standar sama dengan rata-rata anak lelaki seusianya, rambut lurus, hidung bangir, gigi kurang rata... Gemuk bukan kerempeng tidak, bukan kurang gizi dan tidak pula kelebihan gizi. Pokoknya biasa biasa saja. Sekali melihat, murid-murid akan beralih pandang karena menjemukan. Lalu apa yang dapat dibanggakan darinya, dari anak lelaki yang bernama Firdaus itu? Kalau dari segi kegantengan memang tidak ada, kalah jauh dibandingkan dengan Oleng yang juga ngebet banget sama anak perempuan itu.
Ada yang tidak kelihatan karena memang tidak bisa dilihat dengan mata, hanya bisa dirasakannya. Perhatian, kadang dengan sedikit perhatian, hati yang tinggi bisa jatuh. Tutur kata, menempatkan sesuai dengan tatanannya, orang tua bilang, kato nan ampek, kato mandaki, kato malereng, kato mandata dan kato manurun, itu adalah daya tarik atau magnet yang tidak ada duanya. Anak itu memilikinya dan menjadikan pakaiannya sehari-hari. Hebat!
Ketulusan, yang namanya tulus tentu saja berasal dari lubuk hati yang dalam, tiada keterpaksaan, tiada pamrih, tiada udang dibalik batu, dan ketulusan itu adalah lem perekat yang mempersatukan. Riang dan gembira penuh humoris adalah pelengkapnya. Itu ciri khasnya, sepintas tidak akan terlihat, setelah berjalan baru bisa dirasakan. Dan anak perempuan berambut sebahu itu belum merasakannya, ia hanya melihat tampang, melihat rupa dan belum merasakan isinya.
Saat mereka berdekatan tadi, ketika anak lelaki itu berniat menolongnya, Firdaus mencium aroma yang feminim, mirip parfum kakaknya, harum sekali. Aroma itu tercium dari balik wajah dingin dan angkuh itu. Ah, kalau sudah besar nanti ia ingin punya pacar seharum dan secantik anak itu. Ia hanyut dalam angan, membayangkan sesuatu.... Ah!! Atau harus didapatkan dan dimiliki sekarang? Tapi sekarang ia jadi musuhnya.
Ia harus menjinakkan, ia tidak boleh punya musuh, temannya pernah berkata, entah mencontoh kata-kata bijak dari mana, yang pasti sungguh sangat mengenal sekali, katanya satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit... Ia harus menambah teman dan membuat musuh menjadi teman, itu saja dulu daripada berhati galau yang tidak menyelesaikan persoalan.
__ADS_1
"Soal tragedi bangku kamu tidak usah cemas, Eda memang marah tapi ia tidak dendam kok, Dia maklum! Katanya musibah, ibarat sengsara membawa sakit... dan dia bisa berkenalan dengan murid idol.....!"
"Ihhh jadi malu aku... Oh ya, Kirim salam sama dia, Dekon... semalam aku ndak bisa tidur....! memikirkan kejadian itu!!" serobot Firdaus memotong ucapan Dekon.
Merasa tersanjung dikatakan murid idola, kepedean ia! lobang hidungnya langsung besar. Ia langsung merespon dengan mengirimkan salam dan minta disampaikan oleh Dekon, geer sekali anak lelaki itu, main tebak saja dan merasa kepedean.
"Jangan senang dulu... maksudnya berkenalan dengan manusia pribumi..!!!"
'Hahaha... kasihan... kamu, tahu nggak, Eda itu pacarnya si Oleng, kalau tak percaya tanya Syahrul sanaa.. atau sama Marais juga boleh..! Mereka sama sama tinggal di Umah, dekat rumahnya Oleng "
Firdaus memang pernah memergoki Eda tengah berduaan dengan Oleng, tidak hanya sekali, berkali-kali Oleng berusaha mengejar untuk mendapatkannya. Ia juga bisa membaca lewat sambutan yang diberikan Eda, ia rada cuek, seperti tidak sungguh-sungguh, malah kelihatan sekali kalau ia enggan dan terpaksa. Karena itu Firdaus tidak menyangka secepat itu Eda takluk dan menerimanya.
"Jangan sedih Kawan!!!, kalau memang suka, perlu perjuangan, butuh usaha, kenapa harus patah semangat." sambung Azwar memberi semangat melihat raut wajah Firdaus seperti orang kalah baampok, kalah berjudi.
"Nggak usah percaya omongan mereka Daus..." timpal yang lain.
__ADS_1
Untunglah mereka-mereka yang berkumpul disana masih ceesnya Firdaus, tidak ada anak lokal lain. Kalau ada tentu akan membuatnya risih dan malu, paling tidak akan membuat mukanya merah padam seperi udang direbus, karena telah terlanjur mengetahui isi hatinya, menyukai gadis yang telah menjadi pacar orang lain.
Ujian Firdaus belum berakhir, Dekon benar keganjengan, suka melihat kawan mati kutu.
"Eda juga ndak bisa tidur...!" Dekon berkata lagi.
"Nah! Mulai lagi....! Yang barusan masih belum pulih, mau ditambah lagi, awass kamu, besok besok Aku nggak mau bantu lagi... Hayooo! "
"Serius, Daus!" lanjut Dekon
Firdaus tidak menggubris. Lonceng berdentang beberapa kali, jam istirahat berakhir, mereka bubar dan masuk kedalam lokal.
*
Terima kasih telah singgah,
Jangan lupa like dan komennya,
terima kasih author untuk semua.
__ADS_1