
TIDAK BERLAMA-LAMA hanya beberapa hari Firdaus di rumah mamaknya, di kampung ada yang mengimbau-imbau, yang membuatnya supaya cepat pulang.
Setelah pengurusan pendaftaran disalah satu SMA swasta ia pulang kampung. Firdaus kembali bergabung bersama Abdul bekerja di rumah Bahar. Beberapa hari saja ia pergi tetapi serasa telah berbulan-bulan tidak ikut kerja dan tidak melihat Farida. Rindunya setinggi langit dan sebesar gunung. Handeeehh....
Sekarang ia begitu bahagia dan senang. Siapa yang tidak akan bahagia, yang tidak akan senang, karena bekerjasama dan sama-sama bekerja dengan gadis impiannya walau dalam status seorang kuli dan seorang anak majikan. Begitu pula sebaliknya, gadis itu juga merasakan hal yang sama. Namanya sama sama jatuh cinta, indahnya hidup... Indahnya kebersamaan ini. Bahagia itu begitu sederhana.
"Kemaren ku kira udah kapok kerja makanya nggak muncul lagi... Kerja tukang emang berat, apalagi yang punya rumah mintanya macem macem!"
"Kamu kangen yaa..."
"Ya... Maksudku uda ngambek karena omonganku itu...."
Ada pepatah kalau senang jangan terlalu bergembira, kalau terlalu bergembira nanti dapat ditimpa susah atau sedih kalau bergembira sekedarnya saja dan kalau bersedih jangan sampai larut.
Intinya hiduplah sewajarnya, jangan berlebihan.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, setelah pekerjaan Abdul merenovasi rumah Bahar selesai hanya tinggal beres-beres saja lagi, terjadi suatu peristiwa yang tidak diduga, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya terutama oleh Firdaus. Peristiwa yang merubah suasana, suasana hatinya dan suasana hati Farida. Sebuah ending yang tidak mengenakkan, sebuah akhir yang menyedihkan.
Semua perkakas sudah dicuci bersih dan sudah pula disimpan kedalam karung semen sesuai perintah bos Abdul. Halaman rumah telah bersih, bunga-bunga didalam pot juga tersusun rapi sesuai permintaan Farida. Ada satu pot besar yang terletak di sudut rumah yang belum sempat dipindahkan Daus. Pot bunga itu disamping tidak enak dipandang juga mengganggu arus keluar masuk, Daus sudah dapat izin dari nenek Timah melalui Farida untuk memindahkan atau membuangnya, tetapi belum sempat dilakukannya, hari ini ia berniat akan memindahkan.
"Kenapa kau suruh anak si Anjar itu? Itu bukan pekerjaannya, dia hanya membantu tukang bekerja, mengaduk semen dan mengangkat batu, bukan bikin taman bunga...." Begitu kata Timah waktu itu.
"Toh dia mau Nek, dan Uda Adul juga nggak keberatan, kan tidak mengganggu pekerjaan Uda Adul.." jawab Farida memelas.
"Terserah kau lah... Tapi bapakmu suruh kasih upah lebih untuk anak itu, kau liat halaman rumah kita jadi bagus, enak dipandang.. dan kita tidak ingin berhutang budi, kita tak mau senang diatas kesusahan orang...!"
"Ah nenek... Orangnya aja nggak minta, dia membantu tanpa mengharapkan imbalan..."
"Kau anak kemaren sore, mana ada orang macam itu, jarieh manantang bulieh, kau tahu itu? Orang berbuat sesuatu pasti ada maunya!"
"Iya Nek."
__ADS_1
"Oh iya, pot besar yang disudut rumah itu dibuang saja, nggak mungkin dipindahkan karena sudah tua, sudah retak-retak, hampir pecah, mengganggu kita keluar masuk, nenek sering kesandung di pot itu... Minta tolong juga sama Adul membuangnya!"
"Iya Nek, aku juga mau bilang begitu. Mumpung lagi ada yang bantu."
"Rida! Nenek lupa bilang, ibumu suruh ke balai, habis zuhur tadi nenek ketemu waktu pulang dari musholla... Penting sekali katanya.."
Sekarang sebelum pulang Firdaus berniat akan memindahkan pot besar itu, karena besok sudah tidak bekerja lagi. Hari ini adalah hari terakhir mereka. Firdaus begitu bersemangat bekerja karena ditemani Farida yang sering memberi perintah. Itulah kebahagiaannya, itulah sorganya, walau sangat sederhana sekali. Tiba tiba suasana berubah seketika dari cerah menjadi gelap berbadai.
Marlina datang dari Balai dengan nafas terengah-engah. Lama ia menunggu namun anaknya tak kunjung datang. Apakah mandehnya Timah tidak menyampaikan pesannya? Atau anaknya yang tidak patuh? Berkecamuk rasa marah di dadanya yang siap dimuntahkannya, kepada orang yang telah mengacuhkannya... Pada mandehnya atau pada anaknya. Gunung itu akan meledak menyembur larvanya yang merah dan panas.
Di belakang rumah Marlina tidak menemukan Timah, perempuan tua itu sedang di ruang tengah membaca kitab lama, melihat Marlina datang ia menutup kitabnya lalu berdiri.
"Tadi kami sibuk membersihkan halaman, Rida belum sempat ke Balai..."
"Lah putih mata aden menunggu, tapi tak datang juga, Rupanya ada yang lebih penting dari aden! Nenek sama cucu sama saja! Tidak bisa menghargai orang, dasar tak membalas jasa!"
"Bukan begitu Lina, anakmu tak pernah berhenti dari pagi, banyak sudah yang dikerjakannya...."
"Mandeh selalu bela, makanya ia suka melawan, tidak patuh pada perintah den!!! Ke balai pun dia sudah jarang!!"
"Ei Buyung, waang sengaja memecahkan pot kesayangan wakden, kenapa waang geser, waang ganti!" suara marah Marlina menggelegar membuat orang-orang yang tengah bekerja tertegun sejenak, mereka pada melongo dan kaget, kok tiba-tiba ada suara bukan seperti suara manusia. Firdaus mendongak, di pintu berdiri dengan congkak seorang perempuan paruh baya, Marlina!
"Maaf Bu..." Terbata-bata ia menyahut, tidak tahu apa yang mesti dikatakannya.
"Aden bukan induk waang, nggak tau diri... Memang dengan memanggil ibu, aden akan memaafkan perbuatan waang tu, tidak... Waang harus ganti!"
"Upah waang harus dipotong separuh!"
"Tapi Amai..."
Farida tidak berani bersuara apalagi membela Firdaus. Ia hanya kaget dan malu akan perbuatan ibunya. Ibunya bisa bicara sekasar itu pada orang lain.
__ADS_1
"Sudah pecah kayak itu, usah dipindahkan lagi, tak bakal bisa baik lagi, waang buang saja ke tempat sampah! Waang tau nggak, itu pot dibeli mahal! Tidak sembarang orang yang jual!"
Marlina benar benar meradang, amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. Tatapan matanya tajam bagai orang kesurupan, orang kesetanan.
"Mungkin Si Anjar induk waang tidak pernah mengajari bagaimana menghargai milik orang lain... Pintarnya mengajar anak orang lain sehingga lupa mengajari anak sendiri!"
"Sudah.. sudah Lina, anak itu tidak bersalah, aku yang nyuruh dia memindahkan karena aku sering tersandung, malah aku sudah suruh buang dari kemarin-kemarin... Sudah syukur dia mau membantu, seharusnya kau berterima kasih! Apalagi mau minta ganti rugi! Sungguh keterlaluan kau Lina!"
Timah berusaha menyabarkan Marlina dan mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya.
"Mandeh tak perlu ikut campur! Apa mandeh lupa atau memang telah melupakan bagaimana sakitnya anakmu belasan tahun yang lalu... Sakit yang tidak akan pernah cegak, lukanya tak akan pernah kering!... Mandeh sudah melupakannya!!! Ini belum apa-apa mandeh!"
"Nggak apa-apa Nek, upahku belum diterima, ambil saja... Aku kerja bukan semata cari uang... "
"Sombongnya waang buyung, kalau bukan karena pitih kenapa mau berkuli? Pasti Mandeh waang tidak mampu kasih belanja! Atau memang Mandeh waang yang berutak ke ampu kaki... Paja anyia sudah disuruh bakureh ....!" Marlina mencerocos membabi buta.
"Tidak perlu Daus, bukan gajimu yang dipotong tapi justru harus ditambah karena kamu telah bekerja lebih, mengerjakan yang bukan tugas kamu ... Nanti akan aku sampaikan pada Bahar.... Jangan kamu dengar omongan anakku..."
"Mana bisa... Mana bisa, aku yang menentukan! Ganti kataku, ya ganti! Tangan mencincang bahu memikul! Waang harus bertanggung jawab!!"
"Lina, cerita lama tak perlu kau ungkit lagi, yang bersalah sudah dihukum, yang melanggar sudah didenda, Tuhan sudah mengatur semuanya, kita tidak perlu melawan takdirnya... Kenapa kau masih belum insyaf juga??"
"Kau tidak perlu mengaitkan dengan masalahmu, anak ini tidak tahu apa-apa...! Kau kembalilah ke Balai... Kau tinggalkan rumahku ini!"
*
Terimakasih telah berkunjung,
Jangan lupa like dan komen...
Mana suaranya rang Balimbiang,
__ADS_1
Yuk kita bernostalgia...
Terima kasih buat yang sudah kasih semangat.