
TIBA-TIBA saja Mukhtar sudah ada di kampung. Firdaus tidak melihat kedatangannya, terasa begitu cepat dan tidak disangka. Tentu saja karena Mukhtar telah dikirimi surat oleh Rustam tanpa sepengetahuan Firdaus.
Anak itu semakin susah diatur. Sekarang sudah pandai berkuliari, jangan-jangan nanti terasa enaknya mencari pitih. Kalau sudah begini tentu akan jadi malas bersekolah. Makanya Rustam mengabari Mukhtar menyampaikan gelagat yang tidak baik ini. Keadaan genting itu disadari Rustam setelah Abdul minta izin padanya untuk mengajak Firdaus bekerja. Anak itu semakin maengkek-engkek saja.
"Kapan mamak datang?"
"Rambutmu panjang sekali sudah bisa dilapieh, bantuak padusi! Bagaimana nilai ijazahmu? Sudah diambil?"
"Sudah Mak, nilainya Alhamdulillah sesuai dengan usaha... Dan tadi sudah difotocopy dan dilegalisir...."
"Bagus apa jelek? Jangan malu-maluin orang Padang, kalau nilai lapeh makan mending tidak lulus saja sekalian!"
"Lumayanlah Mak, tidak jelek-jelek amat, masih ada angka sembilan dan delapan, kalau lebih rajin mungkin bisa lebih bagus lagi...."
"Bagus! Kamu bersiaplah, nanti sebelum sore kita berangkat...!"
Setelah mendengar cerita keponakannya Mukhtar tahu sekarang, semua masalah bersumber dari tidak adanya komunikasi timbal balik, baik antara orang tua dengan anak maupun kurang responnya orang tua kepada permasalahan anak yang lebih banyak didiamkan saja. Semuanya saling menjadi sebab dan akibat yang kian lama kian menumpuk ibarat benang kusut, yang tidak pernah terselesaikan.
Sang anak tidak menyadari, ia kurang tanggap dan tidak peka dengan kondisinya yang sering membuat orang tua kalang kabut. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan terlalu asyik dengan teman-teman sehilir semudiknya. Sementara si orang tua menganggap semuanya hal biasa, sesuatu yang lumrah, tanpa tindakan semuanya akan selesai dengan berjalannya waktu. Alhasil komunikasi dengan keluarga dan orang tua sering terlupakan, itulah yang membuat jarak.
Setelah sholat Ashar mereka bersiap-siap meninggalkan kampung. Karena Mukhtar datang sudah agak siang, dan mesti kembali hari ini juga, makanya Daus tidak punya waktu untuk pamit dan memperpanjang izin pada bosnya tetapi kemungkinan itu sudah disampaikan pada Abdul bosnya.
Mendengar deru mesin mobil dari kejauhan Firdaus mendekat dan beralih berdiri ke pinggir jalan. Oplet Limbago pak Dulah, oplet mini hanya muat beberapa orang saja, Mukhtar duduk didepan disebelah sopir dan Firdaus di belakang. Oplet bergerak perlahan meninggalkan rumah.
Ini kali kedua ia mengunjungi kota Padang. Kunjungannya pertama, sudah lama, ketika ia masih kelas empat SD. Ia diajak keponakan ayahnya, tapi tujuannya bukan ke tempat Mamaknya. Ayahnya punya saudara di kota, kesitulah tujuannya, ke rumah Pak Darmen yang mengajar di sekolah teknik. Hampir sebulan Firdaus tinggal bersama bapaknya itu. Sampai di kampung kembali setelah pulang tutur bahasanya jadi berubah, terbawa bawa saat sebulan di kota. Mengingat semua itu, ia jadi senyum sendiri.
"Eh Guru, kapan pulang?" tanya si sopir oplet.
__ADS_1
"Wah Tuan Dulah, sudah punya oplet sendiri, sejak kapan nih... Dulu kan bawa bus Batusangkar Pekanbaru.." Mukhtar bukan menjawab malah balik bertanya. Mereka memang telah lama saling mengenal, sejak masih muda tapi jarang ketemu.
"Guru jarang pulang, tidak tahu perkembangan kampung, pensiun bawa bus aku beli oplet kecil ini, walau sebesar kotak korek api, tapi lumayanlah buat nambah beli beras, hehehe..."
"Hebat Tuan sekarang, sudah jadi bos, oh ya Aku pulang kampung karena suatu keperluan mendadak, menjemput keponakan yang mau sekolah di kota... Tuh si Daus yang duduk di belakang!"
Di terminal Mukhtar dan Firdaus turun dari oplet, dengan langkah lebar ia mengikuti Mamaknya menuju bus APB yang mesinnya telah menyala. Mereka harus buru-buru kalau tidak mau ketinggalan. Bus yang berangkat memang hanya beberapa buah, disamping Jumlahnya yang terbatas, penumpang juga tidak terlalu banyak. Jadi sering, bus terakhir penumpangnya sampai berjubel karena dipaksakan memuat semua penumpang yang ada, mau menambahkan trip lagi, tanggung.
Sore itu masih ada bus terakhir yang siap berangkat, dan masih tersisa beberapa bangku kosong. Sebelum sampai ke bus Firdaus melihat ada seorang anak perempuan seusianya, menenteng tas besar kemudian ada lagi beberapa bungkusan, tertatih-tatih ia mengangkatnya. Gadis itu sepertinya seorang diri tanpa didampingi oleh seorang saudara pun. Sungguh keterlaluan, sedang ia saja, lelaki pula tak tega orangtuanya melepas berangkat sendirian, pakai ada yang menjemput segala. Ini perempuan, dengan bawaan sebanyak itu, tanpa ada yang menemani. Gadis yang hebat sedang ia lelaki pecundang!
Firdaus jadi kasihan, ia ingat kakaknya Miati, ah, seandainya Miati yang mengangkat beban seberat itu, tentu ia tidak akan tega. Tanpa sadar ia menawarkan bantuan. Sesaat gadis itu memandang Firdaus, entah apa yang dipikirkannya. Barang bawaannya cukup berat sehingga membuatnya keteter. Untuk seorang perempuan bawaan sebanyak itu terlalu merepotkan. Tas yang lumayan gendut ditambah lagi dengan beberapa tentengan yang juga tidak ringan. Ragu dan bimbang gadis itu memberikan pada orang yang tidak dikenalnya, walau ia memang butuh bantuan, jangan-jangan pemuda itu seorang pencuri.
"Jangan khawatir, aku bukan pencuri, aku bukan penjahat, aku orang baik baik... Aku hanya kasihan melihat kamu sampai ngos-ngosan kayak itu!"
"Maaf... Maaf jangan salah sangka, bukan begitu? Aku hanya tidak enak aja harus merepotkan orang lain.." balas gadis itu buru-buru. Hebat anak itu, tapi persis apa yang tengah dipikirkannya, batin gadis itu.
"Kalau nggak mau, ya udah.."
"Mau... mau..." Mohonnya kemudian, akhirnya ia menyodorkan juga.
"Yang ini mah percuma, yang besar itu aja, itu yang berat..."
Gadis itu mengganti, sekarang ia menyerahkan tas besar yang disandangnya, Firdaus menerima lalu menyandang juga kemudian menyimpannya dibegasi belakang bus. Gadis itu mengikutinya agar tahu tasnya disimpan dimana, biar nanti tidak repot kalau mau turun.
"Terima kasih."
"Ya, sama sama."
__ADS_1
Kemudian gadis itu naik lewat pintu depan, Firdaus mengikutinya, naik juga dan mencari mamaknya yang sudah naik lebih dulu. Ia menemukan ada di bangku agak kebelakang. Melihat Firdaus berdiri ia melambaikan tangan dan Firdaus menghampirinya lalu ikut duduk di bangku kosong di depan mamaknya. Ketika bus mau berangkat meninggalkan terminal barulah sang kernet datang. Kernet tak bertanggung jawab, maunya mengutip uang saja, giliran memuat barang menghilang, rutuk Firdaus pelan. Selang beberapa menit penumpang bertambah lagi, semua bangku serep telah terisi, bahkan sudah ada yang berdiri.
Di pasar Simabur bus berhenti, seorang Amak-amak naik. Firdaus yang awalnya mencoba untuk tidur, kembali terjaga. Seorang perempuan tua berdiri di samping kirinya sambil berpegangan pada bangku tempat ia bersandar. Wajah tua itu terlihat letih. Tidak sampai hati Firdaus, selepas pasar Simabur bus menikung tajam kekiri, pegangan nenek itu terlepas, ia rebah menghimpit tubuh Firdaus. Jang Cino melarikan bus memang tidak kira kira, di belokan pun masih menginjak pedal gas.
"Agieh taruih!!!"
"Lambuik!!"
Penumpang bersorak riang terutama yang muda muda, kecuali Firdaus yang tidak senang, ia malah meringis karena badannya dihimpit nenek nenek.
"Nenek duduk disini aja, sopirnya gila.. nenek tak bakal kuat!
Biar aku yang berdiri Nek..."
"Benar Nak? Anak gimana??" tanyanya tidak percaya.
"Berdiri menggantikan Nenek! Aku lebih suka berdiri, kalau duduk perutku suka mules, Nek!"
"Terima kasih Nak..."
"Iya Nek, sama sama!"
*
Jangan lupa like dan komen...
Mana suaranya rang Balimbiang,
__ADS_1
Yuk kita bernostalgia...
Terima kasih buat yang sudah kasih semangat...