Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Pelonco yang Asyik


__ADS_3

ANAK ITU bertekad ia harus belajar lebih giat lagi, disamping melengkapi buku cetak tiap bidang studi, itulah usahanya agar ia bisa sejajar dengan teman-teman barunya. Ia ingin seperti Mafrial atau Arsukman, yang kata Epion adalah pemegang nilai tertinggi setiap ulangan, sehingga yang lain tidak pernah kebagian.


"Saat penerimaan rapor semester ganjil kemaren Mafrial yang rangking satu, Arsukman rangking dua, dan Rina rangking tiga. Mereka yang juara dapat hadiah, tapi aku nggak tahu apa hadiahnya... Bungkusnya lumayan besar!"


"Hebat!"


"Apa yang hebat?"


"Sekolah ini, murid yang berprestasi dapat hadiah besar! Kemudian diajak pula makan bersama dengan majelis guru, seperti raja sehari..."


"Kirain mereka yang juara itu yang hebat!"


"Ah itu biasa mah, jelek-jelek begini aku juga pernah juara lo!"


"Oh ya! tapi aku nggak percaya, sekarang banyak yang suka bohong, coba kamu buktikan nanti kalau ada ulangan harian! Baru aku bisa percaya.."


"Siap kawan!!'


Pintu goyang, ia menamai begitu, kalau kita masuk pintu terkuak kemudian menutup lagi, karena ada pegasnya, tingginya mungkin satu setengah meter, letaknya dibagian dalam pintu besar, mirip pintu bar lah kira-kira. Pintu goyang itu terbuka, seorang perempuan berkacamata masuk.


"Ini miss Desma, dia mengajar bahasa Inggris, kamu sudah bikin PR?"


"Belum!"


"Mampuslah kamu, nanti dapat jatah!"


"Aku kan anak baru, mana ada PR, masuk aja baru dua hari..."


"Oh ya, aku lupa hehehe..."


Cara mengajarnya tidak banyak berbeda dengan buk Rawanis guru bahasa Inggrisnya dulu. Bedanya barangkali usianya, mis Desma masih muda, maka bahasanya pun mengikuti jaman, lebih banyak gurau tapi ada unsur belajarnya. Belajar macam beginian tidak membosankan tetapi tanpa disadari tetap ada yang tinggal di kepala. Kadang ada nyanyinya, tentu saja murid tidak bosan namun tetap dapat kosa kata baru. Guru yang kreatif. Kadang ada permainan seperti teka teki silang, murid murid jadi bersemangat.


"Eh ada murid baru lagi, seperti biasa sebelum pelajaran dimulai kita kasih waktu buat memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris...!"


"Tapi sa... saya belum bisa, buk!"


"Sebisa kamu saja, dicoba dulu..."


"Boleh saya tulis dikertas buk? Lalu saya bacakan di depan!"


"Bagus! Boleh boleh, bahasa Inggris bukan bahasa kita, tapi kalau ditulis dulu tentu akan memudahkan. Kamu pintar, what your name?"

__ADS_1


"Firdaus!"


"Very good!"


"Oke anak-anak, sambil menunggu teman barumu memperkenalkan diri, absensi kembali ibu lanjutkan."


"Excuse me, iam Firdaus, life at lantai batu, my hobby writing and reading, oh yes, iam came from Balimbiang, thank you..."


"Good! You have girl friend?" Miss Desma tiba-tiba bertanya. Firdaus gelagapan, bingung harus menjawab apa tapi ia tahu maksud pertanyaan miss Desma, buat menjadikan dirinya objek humor. Tentu saja berusaha membuat suasana menjadi tidak tegang dan kaku terutama bagi Firdaus.


"All girls this, is my friend... And I have not a special girl friend... But all same for me... Because Iam a little boy."


Tidak jelek-jelek amat perkenalannya, tetapi Miss Desma sukses membuat dirinya jadi objek yang membuat kelas jadi heboh. Tidak apa-apa hitung hitung jadi ajang silaturahmi terutama buat dirinya anak baru. Dan miss Desma juga tak kalah kagetnya, anak baru ini boleh juga... sungguh diluar ekspektasinya. Kaji lama terulang kembali, penampilan pertama membuahkan simpati....


Anak lelaki itu tidak akan lupa pada dua anak perempuan yang mempeloncoinya habis habisan, Rita dan Anita. Pintu yang dibukakan miss Desma benar dimanfaatkan mereka untuk mendapatkan hiburan segar. Roda berputar, pikir firdaus, suatu saat nanti ia akan bayar lunas.


Walau pun bagaimana ia tetap senang dengan kekompakan kelas barunya. Dengan adanya perpeloncoan tadi, ia telah menjadi bagian dari kelas barunya ini. Mereka telah tertawa bersama kendati yang diketawakan itu dirinya sendiri. Sekarang sudah ada komunikasi timbal balik. Ia sudah bisa menegur dengan senyum hai... Sedang teman selokalnya rata rata mengetahui namanya, tentu saja ia kalang kabut harus menghafal empat puluh sementara teman selokalnya cukup mengingat satu nama saja.


Pelajaran selanjutnya, masih seputar bahasa, kalau tadi bahasa asing sekarang bahasa negeri sendiri, bahasa Indonesia, gurunya Dastur.


"Bapak Dastur ini bapak idola..."


"Kenapa idola? Wajah dan penampilannya biasa aja! Tidak ganteng-ganteng amat!"


"Ooo, dia satu satunya lelaki"


"Ada satu lagi tapi bukan guru, pak Roto penjaga sekolah... Pak Roto sudah tua, tak lama lagi juga bakal pensiun!"


Dastur berdiri ditengah tengah kelas, murid murid mengeluarkan buku, mencatat apa yang dirasa penting. Topiknya Berbicara di depan umum dan kiat kiatnya. Murid-murid tidak pernah disuruh, mencatat ok tidak mencatat juga boleh, pokoknya harus mengerti.


Karena Firdaus belum punya buku catatan khusus maka ia mencatat dikertas selembar. Diam-diam ia memperhatikan buku pegangan Pak Dastur, kalau ada Asra menjual ia akan membelinya, salah satu cara untuk menjadi lebih baik.


Di rumah Firdaus memindahkan kembali catatan bahasa Indonesia ke buku tulis. Tentu saja ke dalam buku baru yang sudah disampul rapi. Mudah mudahan ini adalah awal yang baik untuk mewujudkan mimpinya, insyaallah walau mimpi kalau digapai toch akan menjadi kenyataan. Bermimpi boleh dan sah-sah saja asal jangan banyak-banyak, kebanyakan mimpi takutnya hidup dalam mimpi bukan di alam kenyataannya.


Sekarang ia bukan bermimpi, perutnya benar benar sakit, milin milin, bajunya telah basah oleh keringat, keringat karena menahan sakit. Ia bangkit kemudian mengacungkan telunjuk, minta izin sama Buk guru.


"Minta izin jangan berjamah, temanmu belum kembali! Ditunggu dulu!" Kata Bu guru, tapi Firdaus tidak mendengarnya, ia sudah terbang keluar kelas tanpa menunggu persetujuan Bu guru.


"Siapa namanya yang barusan minta izin? Lancang sekali, belum dikasih izin sudah keluar!"


"Firdaus buk!!!"

__ADS_1


"Anak baru ya?"


"Benar buk!!!"


Epion mengangkat tangan, ia tidak ingin teman sebangkunya dikatakan kurang ajar, ia tahu pasti kondisi temannya itu. Sekali pun pintu digembok Firdaus pasti akan keluar lewat jendela. Namanya bukan dom seperti di Aceh, tapi ini dos, daerah operasi siswa, khusus untuk murid yang kebelet plus kayak Firdaus.


"Maaf Buk, Firdaus sakit perut!"


"Silider!!!"


"Kompak!!!"


"Betul Buk, bajunya sampai basah oleh keringat! Menahan sakit!!!"


"Ketua kelas! Coba kamu cek kebenarannya!"


"Baik buk."


Sementara sebelumnya Firdaus begitu keluar dari kelas langsung lari terbirit-birit seperti orang dikejar setan, ia menuju kamar kecil. Jarak tiga puluh meter terasa seperti sekilo lebih padahal ia sudah berlari sekencang kijang.


Melihat ada lorong dan pintu kecil ia langsung menerobos ke lorong sebelah kiri, dengan tergesa-gesa membuka pintu yang setengah terbuka.


"Aufffhh!!!! Lontong!!! ada penguntit" gadis itu berteriak sekencang-kencangnya.


Pada saat itu Yusri sang ketua kelas sudah sampai pula di dalam wc laki laki, ia buka semua pintu, kosong!;ia tidak menemukan Firdaus. Anak ini harus dikasih hukuman, baru saja masuk sudah banyak tingkah. Pasti ia ke warung Tek Ijah, ngapain lagi kalau bukan merokok, begitu pikirnya. Ia harus lapor kembali ke buk Rosna. Pasti ia tidak bikin PR dan mau lari dari hukuman. Tunggu boy, terima jatahmu!


Firdaus kaget, hanya sebentar,  kemudian ia mendorong tubuh perempuan itu keluar dan kembali ia tutup pintu, tidak talakik menyunci. Belum sempurna ia membuka celana terdengar bunyi crorr menghentak-hentak, ada beberapa kali. Ruang satu kali dua meter itu diselimuti oleh bau yang amat menusuk. Berkali-kali terdengar bunyi air ditoyong dari ember.... Akhirnya sepi..


Pantas nggak ditemukan di dalam, rupanya ia masuk ketempat perempuan. Dasar!


"Bagaimana Nita?? kamu diintipnya?"


"Bukan diintip, dia malah masuk kedalam, untung aku sudah siap!"


"Kurang ajar!!!"


*


Terimakasih telah berkunjung,


Jangan lupa like dan komennya, penyemangat bagi author.

__ADS_1


terimakasih sahabat.


__ADS_2