Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Enggan Berpisah


__ADS_3

FIRDAUS bangkit dari dipan, mengendap-endap ia keluar dari bilik, takut menimbulkan suara gaduh, yang dapat mengganggu tidur anak anak perempuan yang tidur di darek, di ruang tengah, ia terus kebelakang, kerongkongannya terasa kering, ia ingin minum.


Diambilnya cerek lalu dituangkan kedalam tekong, dan dibawanya ke bilik. Matanya tidak mau diajak kompromi, setiap dipejamkan selalu saja wajah Itu yang terbayang melayang-layang dalam pikirannya. Dulu ia juga pernah merasakan hal yang sama, tapi yang ini beda, meletup-letup tapi damai, kalau pun ia berkhayal, khayalannya hanya sebatas untuk hari itu, paling melimpah pada esok harinya. Kini ia berandai bukan lagi untuk besok hari, tapi melebar menjadi hari esok...


Pagi harinya ia bangun lebih cepat, entah karena sudah kebiasaan, entah karena ada beberapa anak perempuan tidur di rumahnya. KendatiĀ  semalam ia setengah bergadang gara-gara mata tidak mau diajak nyenyak, tak mau diajak kerjasama.


"Tumben bangunannya cepat..?" tanya Dewi pada Firdaus yang sudah bangun di pagi buta.


"Kalian juga.... masih gelap dan dingin?!" Firdaus balik bertanya.


"Ya, takut keinjak!" jawab Nani.


Semua anak perempuan itu tidur di ruang lepas beralaskan tikar. Ada dikasih bantal guling panjang tetapi satu untuk bertiga. Bagi mereka itu sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan tidur di surau tanpa tikar dan bantal. Dan kalaub bangun telat bisa saja terinjak orang yang berlalu lalang.


"Orang jalan emang pake kaki, tapi kan ada mata buat ngeliat...." bela Firdaus


"Siapa tahu matanya micing... kayak semalam, mengendap-endap kayak pencuri, di rumah sendiri...."


"Hhaaa, kamu belum tidur ya, pasti susah tidur karena mikirin seseorang, anak SD belum boleh mikirin laki-laki, nanti ibunya marah...! Kecuali mikirin...."


"Mikirin apa?"


"Aku!"


Farida terdiam, tidak menyangka anak gurunya itu akan ngomong spontan, untung mereka hanya berdua, anak-anak yang lain lagi di luar. Gadis itu malu-malu tapi hatinya senang. Disini senang, disana senang, dimana-mana hatiku senang, la la la...


"Maaf, aku hanya bergurau. Jangan marah... Siapa sih yang bisa melarang, otak punya kamu, Kepala kepala kamu, mau mikirin siapa aja siapa yang tau..."


"Hhmmm...."


Anak perempuan itu terdiam lagi. Tadinya kaget saja karena anak lelaki gurunya itu, melarangnya mikirin anak lelaki lain kecuali mikirin dia. Hatinya tiba-tiba senang, ia merasa diperhatikan.


"Kita latihan sebentar sebelum pulang, atau temanmu suru duluan aja, bilang kita mau latihan, gimana?"


Hening.


"Yach, kalau nggak sibuk, atau semalam sudah latihan ketika aku sudah ke bilik, jadi udah lancar gitu!"


Farida tetap diam, ia rada kesal memikirkan kata-kata Firdaus tadi, ... Aku hanya bergurau... Bergurau? Begitu sakit terasa di telinganya.


"Males... Diajak latihan, nanti aku udah tinggal, teman-teman udah pada balik semua, eh nggak tau bilangnya bergurau... Suka ngasih harapan anak gadis orang! Orang serius eh kiranya bergurau!" Anak perempuan itu mencerocos tanpa dapat dibendung menumpahkan kekesalannya.


Firdaus tersenyum melihat


"Ouu, masih masalah tadi, iya dong. aku bilang hanya boleh mikirin aku, yang lain nggak boleh.... gitu kan? Nah! kamu marah nggak... Jawab dulu dong!"


"Enggak!"


"Berarti kamu senang, karena kamu juga suka mikirin aku. Nggak apa-apa, aku suka dengarnya. Kalau kamu marah, aku minta maaf. Agar kamu kasih maaf kubilang aku hanya bergurau! ngerti bukan? Farida termenung mencoba mencerna penjelasan anak itu yang panjang lebar.


"Tidak bergurau bukan?"

__ADS_1


"Kalau kamu tidak marah."


"Aku tidak marah kok, ngapain marah. "


"Aku juga tidak bergurau!"


Mereka serempak tersenyum.


"Aku dengar dengar kamu nggak dikasih izin belajar bersama, apa iya?"belajar bersama


"Bukan! ibu melarang di rumah ini, rumah Bu Anjar, di tempat lain boleh!"


"Lalu siapa yang ngasih ijin?"


"Bapak."


"Kenapa ibumu melarang? Ada apa?"


"Nggak tau, asal dengar nama Buk Anjar ibu langsung nggak senang, tapi kalau guru yang lain nggak masalah tu..."


"Aneh!... Yuk kita mulai latihan, nanti kamu telat pulang dan dimarahi ibumu...."


"Ibu nggak bakal tahu, kan dia di balai. Kita latihan di beranda aja, di kursi rotan itu enak duduk. Sebentar, ku beri tau teman-teman dulu, biar mereka langsung pulang atau tetap tinggal."


"Iya, nggak bakalan lama, paling setengah jam. Kalau mereka bisa menunggu, suruh tunggu aja biar pulang bareng?"


Farida muncul lagi di beranda setelah menemui teman temannya di halaman, tengah duduk di tembok jenjang asyik memperhatikan bunga.


"Sudah lumayan!"


"Lumayan bagaimana?"


"Lumayan lancar dan lumayan bagus!" jawabnya sembari mengacungkan jempolnya.


"Kita sudahi dulu, temanmu kelamaan menunggu! Disuruh ikut latihan juga nggak mau..."


Iya deh... Eh kapan berangkatnya?"


"Nanti abis ashar, nyuci dulu, abis itu baru nyeterika, siap-siap, baru berangkat, rencana nanti naik ontel..."


"Ontel, apaan tuh?"


"Sepeda!"


Setiap sore Minggu ia memang sering melihat Firdaus naik sepeda. Dipunggungnya menempel ransel hijau mirip punya tentara.


"Oooo, nggak capek tu naik sepeda, belasan kilo dengan beban di punggung!"


"Capek sih capek, tapi kita bebas, kalau mau berhenti ya berhenti saja, atau kalau mau lanjut juga tak ada yang larang! Mau sampai jam berapa, nggak masalah, tanpa target! Pokoknya bebas deh!"


"Kapan baliknya?"

__ADS_1


"Biasa seminggu sekali, tapi itu tergantung pada sambal!"


"Kok pada sambal?"


"Iya, kalau sambalnya tahan seminggu ya enggak pulang, kadang sambal tahannya cuman tiga hari. Makanya sering pulang Rabu, dan subuh Kamis kembali lagi numpang oplet Erika Tuk Ambang!"


"Kamis kan pasarnya Batusangkar, balik lagi Sabtu balainya disini, ada oplet yang menambang, jadi aku tidak bawa sepeda."


"Enak ya sekolah di kota."


"Biasa-biasa saja! Tapi enakan di kampung, kita kenal semua, sedetailnya, sampai keluarganya kita juga kenal. Di kota hanya kenal wajah dan nama doang!"


"Begitu ya.... Suatu saat nanti aku juga pengen sekolah di kota"


"Pasti! Aku tunggu... Kita berangkat bareng, naik sepeda, hahaha... Tapi ada syaratnya!"


"Apa?"


"Kita harus SMA dulu, yang ada hanya Gita Cinta dari SMA, tidak ada Gita Cinta dari SMP nya, hehehe.."


"Apa pula tu?"


"Novel Eddy Iskandar, yang bakal jadi film!"


"Novel orang gede?"


"Nggak juga! Asal udah bisa baca, dapat menikmatinya!"


"Punya novelnya?"


"Nggak, tapi anak SD belum boleh baca!"


"Yaahh, jangan diceritain dong, kan jadi penasaran..."


"Simpan aja dulu penasarannya!"


"Ih... kesel!"


"Hahaha... Sampai ketemu, aku mau bantu ibu!"


Rasanya enggan berpisah, tidak hanya Farida, gadis kecil yang minta dibuatkan konsep pidato, lalu minta diajari pula cara berpidato, kemudian berlanjut minta dilatih. Firdaus sang guru muda belia juga enggan berpisah. Sampai sore pun ia betah berlama-lama.


*


Terimakasih telah berkunjung,


jangan lupa tinggalkan jejak


like dan komennya


terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2