
SANG KETUA kelas semakin tidak senang. Tadi ia menyangka anak baru itu kabur dari lokal setelah dicek ke wc tidak ada, pasti ke warung Tek Ijah, merekok. Rupanya ia salah, anak itu memang ke wc, seperti yang dibilangnya sama Bu guru, tetapi buat mengintip perempuan. Orang yang diintipnya justru Anita, gadis yang ditaksirnya.
"Ayok kita lapor ke guru... Dia sempat ngintip kamu? Menjijikkan dia!!"
"Tapi.... nggak usah! Biarkan saja, aku juga nggak merasa terganggu kok, hanya kaget saja, masa anak laki masuk ke wc perempuan! Tapi kelihatannya dia tidak bermaksud jahat, dia sakit perut, kudengar dia merintih menahan sakit!"
"Itu hanya modus! Kamu jangan mudah tertipu!"
Firdaus mendekati Anita dan Yusri.
"Maaf aku salah kamar, tadi aku benar-benar sakit perut, aku tidak tau kalau ini wc perempuan, lagian tidak ada plangnya. Kalaupun ada aku nggak akan sempat baca! Maaf Anita telah membuatmu kaget! Dan mengganggu privasimu. Aku juga nggak sempat liat apa-apa, nggak juga sebengmu." anak itu berkata sembari mengelap keringat yang membasahi jidat dan bajunya dengan tapak tangan lalu menjentikkan kelantai. Kelihatannya ia begitu lega, begitu plong setelah terbebas dari sakit perut yang menyiksa.
"Ketua ngapain ada disini juga?" tanyanya datar seperti orang tidak berdosa. Mungkin anak itu tidak tahu kalau perbuatannya telah membuat keributan kecil, dan membuat ketua kelasnya geram.
"Aku disuruh buk Rosna menyusulmu, kamu keluar kelas tanpa izin! Rupanya kamu memasuki dan mengintip anak perempuan, parah kamu kalau ketahuan buk Yet bisa diskorsing!"
"Syukurlah buk Yet tidak tahu, Alhamdulillah aku aman, ayok kita kelokal, nanti Bu matematika bisa marah karena ramai-ramai di luar!"
"Enak aja lo, nasib kamu ada ditanganku, mau bebas atau dapat hukuman!"
"Janganlah ketua, aku anak baru kok langsung dapat hukuman? Tolonglah ketua jangan diperpanjang, semuanya kan sudah klir!"
"Mana bisa, keenakan kamu, melanggar tata tertib seenaknya, keluar kelas tanpa izin, masuk ke wc perempuan, dan mengintip anak perempuan buang air, lalu sekarang minta disudahi saja!"
"Tolonglah ketua, sekali ini saja!"
"Nggak bisa!"
"Terserah ketualah! Aku sih oke saja, karena aku tidak merasa bersalah, ada saksi, ada korban, ada barang bukti... Semuanya bisa kita dengar! Kalau ketua nggak mau kasih maaf ya lapor saja! Kenapa dibikin repot!"
Yusri terdiam.
"Iya Yu, kita kasih maaf saja, kita sudahi saja, nggak usah lapor ke guru, apalagi sampai ke buk Yet! Tidak ada gunanya, hanya akan bikin gaduh dan sakit hati! Mari kita ke kelas "
Anita meninggalkan mereka.
"Baik, demi Anita kamu saya kasih maaf!"
__ADS_1
Akhirnya masalah kecil itu selesai juga.
*
Waktu magrib telah panjang dan hampir habis. Suara azan memang tidak terdengar dari masjid karena letaknya cukup jauh, dan surara bedug yang ditabuh garin masjid juga tidak bisa didengar dari sini, paling yang punya radio kalau lagi hidup baru tahu kalau waktu sudah masuk. Pada umumnya para bapak dan andeh-andeh sudah bisa menebak dan memperkirakan dengan pasti. Kadang kadang inyiek-inyiek tak membuka telakungnya dan tetap duduk diatas sajadah sampai waktu Isa masuk.
Firdaus bergegas pulang dari lapau mak Tukang meninggalkan meja kosong, yang tinggal hanya Ajo Ampie dan Amzah Bulando, penunggu setia lapau itu.
Di depan pintu Farida Bahar, Nani dan Dewi mencegatnya setelah ia selesai sholat. Farida masih pakai telakung membuat wajahnya seperti gadis remaja tujuh belasan, membuat Firdaus sempat terpana sesaat. Begitu anggun.
Anak lelaki Bu Anjar itu sudah ditunggu-tunggu sedari tadi. Tanpa pakai lama Farida langsung menyapa dan menyampaikan maksudnya.
"Tolong ya!!??" katanya sambil menyodorkan sebuah buku tulis dan pena, tentu saja dengan malu-malu. Kalau bukan bu Andjar yang menyuruh mana berani ia minta tolong pada anak bujang bu Andjar itu..
'Tadi dicari-cari Ibu..." lanjutnya.
Firdaus bingung, memandang tidak percaya, ada apa lagi ibu mencari, batinnya.
"Ini buku apa? Oh ya tadi aku main ke lapau nengok orang main domino, jadi lupa pulang.. " jelasnya sambil memandang Farida, Dewi dan Nani bergantian.
"Konsep pidato! untuk perlombaan tujuh belasan!!"
"Aku ditunjuk Pak Basir, tapi aku ndak bisa bikin pidato, tadi kata Ibu.. UU.. ka kamu hebat, makanya tolong dong, ..!"
"Hehehe... nggak juga, tapi bisa lah sikitiit... kapan???"
"Yaa sekarang!! kapan lagi. besok sudah berangkat lagi, baru pulang Sabtu depan!!!"
"Oo gitu, boleh... tapi kalau jelek jangan ngomel, karena aku bukan ahlinya...." Ia mengambil buku tulis dan pena yang diberikan Farida lalu membawanya ke bilik. Firdaus memang senang menulis dan suka membaca, pekerjaan yang sangat disukainya. Tak heran banyak temannya yang minta dibuatkan surat cinta... Imma, Budi dan Nasir diantaranya. Mereka-mereka itu sukses pacaran walau belum sampai ke jenjang pernikahan.
Firdaus keluar dari bilik kemudian duduk dikursi. Tanpa kesulitan ia menulis kata demi kata, baris demi baris menjadi kalimat. Disebelahnya Farida memperhatikan dengan kagum. Ya, sejak dahulu ia memang mengagumi anak gurunya itu.
"Nah, udah selesai! Coba sekarang Ida baca,...."
"Bukan Ida, tapi Rida..." Nani membetulkan ketika anak lelaki itu menyebut dengan nama yang salah.
"Maaf tulisannya cakar ayam! Tapi itu tidak penting....! pahami maksudnya, itu yang lebih penting... Kita harus mengerti akan apa yang Kita omongkan, bagaimana intonasinya, dimana penekanannya, dimana harus berhenti. Dimana harus pelan, dimana harus kencang...." lanjutnya tanpa mengindahkan protes Nani.
__ADS_1
"Kasih contoh lah...!"
"Nah begini Ida.., kamu marah kalau aku panggil Ida?!"
Farida menggeleng, "Panggil apa saja boleh..." Ada perasaan jengah, kikuk atau apalah namanya menyapa anak lelaki itu.
Firdaus berdiri, tangannya berpegangan pada punggung kursi, pandangnya lurus ke depan, pada Farida, anak perempuan itu tersipu malu.
"Berdiri santai aja, jangan kaku, ambil nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan, baru ucapkan salam, usahakan pandangan kita menyebar, tidak hanya terfokus pada satu titik. Caranya mulai dari kiri perlahan kepala diputar kekanan sambil mengucapkan salam. Dalam berpidato bahasa tubuh juga dibutuhkan! Setiap penekanan variasikan dengan sedikit anggukan kepala, itu akan lebih baik...!" katanya panjang lebar seperti seorang guru besar, padahal ia hanya mengulang apa yang telah dijelaskan oleh Dastur guru bahasa Indonesia di sekolah. Baru dua hari yang lalu ia belajar tentang berbicara di depan orang banyak termasuk pidato ini.
"Sekarang coba!!" perintahnya. Alaamak, sudah pandai main suruh, ngajarinnya cuman segitu aja.
Walau sering bertemu, bukan hanya sekedar kelihatan jauh saja, dan sering bertegursapa tetapi mereka sekarang berada dalam jarak yang begitu dekat membuat hati mereka berdebar-debar. Farida berdiri di belakang kursi, tangannya bersitekan pada sandaran kursi, matanya menatap lurus. Ia malu, mulutnya terkunci, seakan.
"Jangan kaku! santai saja ... ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan, ini akan mengurangi kegugupan, yang paling penting anggap saja orang yang didepanmu bodoh semua..!!! karena saat ini kita yang paling pintar!!! " Lagi lagi ia mengulang motivasi yang disampaikan Dastur, saat ia memberi semangat kepada murid-muridnya. Padahal kalau ia sendiri yang disuruh berpidato ia juga akan gugup. Ia hanya baru dapat teori, sedang praktek juga belum pernah, kecuali kata kata perpisahan saat ia tamat SD dulu.
Farida jadi serba salah, kosentrasinya buyar karena pandangan anak lelaki itu selalu padanya. Berulang-ulang latihap, tetap saja ia gagal. Kenapa ia jadi bodoh sekarang?
"Itu baru beberapa orang di depanmu, bagaimana kalau ramai, tentu semakin tidak fokus, ayok coba lagi...!" Biar ada seribu orang yang ada di hadapannya, yang mendengarkan pidatonya ia tidak akan grogi, ia tidak akan salah tingkah, ia akan fokus, asal anak lelaki gurunya itu tidak ada disana, tidak memandangnya dengan sinar mata yang, yang tidak bisa dijelaskan.
Ibunya datang dari belakang.
"Bagus, Rida..!! Coba suaranya agak kencang lagi...." pujinya.
"Dari tadi ditunggu-tunggu... baru datang langsung pergi lagi....! Bagaimana sekolahmu, betahkan...?" lanjutnya bertanya pada Firdaus.
Memang jauh berbeda dengan sekolahnya yang lama, tentu saja. Itu sudah pasti, Padahal sekolah barunya itu bukan sekolah favorit, bukan sekolah kelas atas juga. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana lengkapnya sarana dan prasarana di sekolah favorit itu, SMP satu kemudian SMP dua. Ada beberapa temannya yang bercerita kalau saat mendaftar kemaren semuanya memilih SMP satu tapi justru terlempar ke SKKP ini. Bagi Firdaus sekolah sekarang sudah sangat bagus...
"Alhamdulillah..Bu, besok lebihkan belanja, banyak yang mau dibeli, sumbu kompor harus diganti, beli gembok peti dan perlengkapan lainnya....!!" lapornya.
"Ya, besok bilang sama ayahmu! sudah malam!! belajarnya sudah cukup, nanti telat bangun!"
*
Terimakasih telah berkunjung,
jangan lupa like dan komennya,
__ADS_1
yang membuat author semangat
terimakasih untuk semuanya