
TIMAH terheran-heran, ada apa dengan cucu kesayangannya. Kelihatannya ada sesuatu yang tidak beres. Tingkahnya aneh dan diluar kebiasaan. Mungkin saja karena cucunya bertambah umur membuat sifatnya semakin kaya juga. Tidak berkurang tetapi banyak yang bertambah. Tetapi sebagai orang tua, yang telah kenyang oleh pengalaman ia sedikit paham juga, hanya saja ia tidak menyangka sampai sejauh itu.
"Rida!!!"
"Iya Nek, ada apa nenek memanggil?"
"Sirih nenek habis, yang dibelakang rumah sudah pada tinggi, tidak bisa dijangkau lagi..."
"Lalu gimana nek? Aku juga tidak bisa manjat! Minta tolong saja sama tukang nek!"
"Ya, minta tolong sama Parijon, Sarin atau Pami juga boleh... Siapa yang mau saja!"
"Sama Uda Daus saja Nek!"
"Jangan Daus, kasihan dia, yang lain lah!"
"Tapi tukang-tukang itu minta rokok kalau dimintai tolong, uda Daus saja.. dia nggak minta imbalan!"
"Terserah kamu lah...!"
Timah geleng geleng kepala melihat tingkah cucunya. Tidak berselang lama, ia masih duduk di kursi ruang tengah Farida sudah kembali lagi dengan sekepal daun sirih di tangannya.
"Segini sudah cukup nek?"
"Cepat sekali, nenek masih di sini, kamu sudah kembali! Wah banyak sekali? Bawa kemari biar nenek susun sekalian!"
Gadis itu berdiri di belakang neneknya lalu ia memijat punggungnya.
"Nenek pasti capek udah bantuin menjemur kain cucian, terimakasih ya nenek ... Nanti kalau sirih nenek habis tinggal ngomong aja, Rida siap sediakan!"
"Tapi kamu merepotkan orang, pasti anak si Anjar itu yang kamu suruh-suruh!"
"Aku tidak maksa! Dia kok yang nawarin...."
__ADS_1
"Ya, udah!"
"Hehehe nenek sayaaanng!" Ia berlalu kebelakang meninggalkan neneknya duduk sendirian sibuk menyusun daun sirihnya.
Kemauan cucunya sulit ditebak. Kadang-kadang begitu gembira, begitu bersemangat. Jika disuruh cepat dilaksanakannya tanpa banyak cincong, kadang sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dilain waktu ia jadi pendiam, suka menyendiri dan suka marah-marah, kalau sudah begini, sangat sulit diajak kompromi, jika dimintai tolong sudah sampai berbusa mulut neneknya ia tetap acuh tak acuh.
Timah sangat sayang pada cucunya ini, barangkali karena mereka selalu bersama. Farida lebih sering disini ketimbang di Balaisatu bersama ibunya. Kalau mereka berkumpul, Ialah yang memasak, ialah yang mencuci pakaian nenek dan kadang ditambah pakaian dua mamaknya. Farida yang selalu mengerjakan tugas perempuan di rumah, tidak sepenuhnya memang, tapi anak itu yang paling di depan.
Nenek Timah geleng kepala, ia ikut duduk di teras, tangannya memegang surat yasin, tapi tidak dibacanya ia justru melihat tukang bekerja. Lima orang bekerja dengan rajin, tangan mereka bergerak dengan lincah walau mulut juga bicara, ota mereka tidak hanya seputar kehidupan di kampung tentang parak jagung, kandik yang sudah melasak sampai mencari makan ketengah kampung tetapi juga tentang sepakbola piala dunia, bulu tangkis dengan piala Thomasnya...
Timah tidak begitu paham dengan cerita itu, yang ia tahu pekerjaan mereka berjalan dengan cepat. Tiang-tiang sudah berdiri kokoh dikelilingi batu bata, kerangka atap juga sudah dipasang, tinggal menambahkan kasau tempat atap melekat.
Farida bangkit dan berdiri di belakang neneknya kemudian memijat bahunya.
"Nenek tidak ke surau? Sudah hampir Ashar, Nek!"
"Oh,ya... Nenek lupa! Sudah jam berapa?"
"Ya, Nenek mau ke surau, Kamu siapkan kopi tukang, baru kamu ke Balai, tadi ibumu pesan suruh mengantar jahitan yang kamu bawa kemaren!"
"Tapi belum siap semua Nek! Masih ada beberapa helai lagi yang mesti disum dan dijahit tangan."
"Bagaimana kalau nenek yang bawain, sekalian nanti mampir habis sholat! Jahitan beberapa helai kan tidak berat!"
"Nenek mau bantuin? Terimakasih nek, aku bisa menyelesaikan pekerjaan yang lain..."
Farida mau ngobrol dengan Firdaus tetapi anak lelaki itu sibuk tanpa mengacuhkannya, kelihatannya ia fokus sekali. Ia ikut pula membantu padahal bukan pekerjaannya.
Gadis itu tidak jadi mendekat, dengan kecewa ia kembali masuk rumah. Ia ingin mengabari kalau ia dapat surat cinta dari salah seorang temannya di sekolah. Orang itu masih orang kampungnya juga. Mungkin besok besok ia akan sampaikan.
Sebentar saja sisa pekerjaan yang disuruh ibunya selesai semua. Ia lipat kemudian diletak di keranjang. Besok ia akan mengantar sendiri sekalian meminta kalau ada lagi yang bisa ia bantu. Jahitan ibunya dua tiga bulan menjelang lebaran memang agak banyak, kalau sudah hampir masuk puasa ibunya tidak menerima jahitan lagi.
Para tukang telah berkemas dan pamit pulang setelah hari beranjak sore. Biasanya Firdaus yang pamit duluan dan dengan senyum merekah Farida melepasnya. Kali ini justru anak itu yang paling akhir pulang. Anak lelaki itu mencari kesempatan agar ia bisa menemui Farida, sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
__ADS_1
"Katanya U.. Uda kerja biar kita bisa ketemu.. Tapi pas gajian justru Uda yang paling dulu ngantri... Apa nggak salah tuh! Tadi dicari mau diajak ngomong eh malah cuek aja... Bikin kesal!"
"Biar cepat selesai, abis itu kita bisa ngobrol, hehehe.... Sambil main petak umpet biar nggak ketahuan.... Kamu mau bicara apa?"
"Bohong! uda kerja karena uang! bukan pengen ketemu aku! Uda bohong! Bicaranya nggak jadi aja, sudah tidak ada waktu!"
Anak gadis itu ngambek.
"Ssttt jangan kencang-kencang nanti ada yang dengar..."
"Biarin....!"
"Jadi uda nggak boleh kerja di sini? Kalau kerja tidak boleh terima gaji, cukup ngeliat kamu aja, itu sudah cukup?"
"Aku tidak mau uda nguli ditempat aku, kalau mau cari uang jangan di sini! Uda tidak takah, uda orang berkecukupan... Uda juga belum pantas, uda masih ketek!" Begitulah perempuan, masalah sedikit jadi melebar kemana-mana, padahal intinya karena cemburu, Firdaus mementingkan uang ketimbang dirinya. Hanya saja ia tidak bisa menyampaikan dengan pas dan tepat, sampai bilang Firdaus masih bocah. Anak lelaki itu merasa tersinggung, tapi ia berjiwa besar.
"Kok sewot? Iya deh! Kalau nggak boleh kerja di tempatmu, besok aku berhenti...!"
"Berhenti!!??"
"Ya, berhenti! dari pada kamu marah-marah terus...! Aku jadi tidak ikhlas bekerja, aku jadi berhitung rugi laba seperti ibumu, atau seperti bapakmu berdagang! Aku tidak mau begitu... Tapi kalau terus terusan direcoki, mataku bisa buta dan hatiku bisa lumer!" Dalam hati ia ingin mengatakan bahwa ia akan libur kerja barang beberapa hari tetapi karena kesal dengan ulah Farida ia tidak jadi ngomong apa-apa.
"Maaf ya, semua orang butuh uang, tapi aku kerja di sini bukan karena itu... Aku harap kamu mengerti. Maaf kalau aku salah..." Ia masih bisa tersenyum dan menganggukan kepala, pamit pulang.
*
Terimakasih telah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak
suka dan komennya,
Lanjut episode berikutnya...
__ADS_1