
SALAH SATU kelebihan bapak yang satu ini ia masuk lokal tepat waktu. Dalimi sarjana agama lulusan IAIN, orangnya ramah dan simpatik. Walaupun marah tetapi kelihatannya seperti tidak marah. Memang sukar membedakan. Kendati begitu, setiap ia mengajar lokal selalu tenang dan damai. Pelajaran yang dipegang Dalimi termasuk pelajaran yang kurang disukai murid, karena banyak cerita dan ayat-ayat, tetapi guru itu berhasil menjadikan mata pelajaran yang disukai murid. Berbeda halnya dengan pelajaran moral Pancasila yang juga pelajaran mendengarkan cerita guru, karena gurunya tidak mampu dan tidak mengerti apa mau muridnya jadilah mata pelajaran itu menjadi pelajaran yang tidak disukai, pelajaran yang membosankan malah ada juga murid yang membencinya. Naudzubillah min dzalik.
"Ayo! Siapa yang sudah hafal Surah Luqman seperti yang Bapak tugaskan minggu kemaren...? tentu Kalian telah belajar di rumah!"
Kelas jadi hening, yang terdengar suara sepatu pak Dalimi beradu dengan lantai. Tiba tiba seorang murid mengacungkan tangan.
"Saya Pak...!"
Semua mata menoleh pada asal suara itu, Maryon. Dengan lantang dan fasih ia mendengungkan ayat-ayat itu, surat Luqman yang diminta pak guru. Tidak ada suara yang terdengar, malah helaan napas murid murid juga tidak terdengar, Haniang pageh! Yang terdengar hanya suara merdu Maryon. Anak lelaki itu memang hebat semua temannya terpana, tak menyangka sedikitpun. Hati jadi damai perasaan jadi tenang. Luar biasa sekali.
"Bagus sekali bacaanmu, Nanti kalau ada acara yang dibuka dengan Kalam Illahi kamu saja yang tampil yaa! Kamu pernah ikut MTQ?"
Maryon menggeleng, "Belum Pak!"
"Kamu belajar mengaji dimana?"
"Di surau Belok pak, anak siam Buya Muchtar. Guru iramanya Angku Imam Talago Gunung dan Kak Nelly dari Balik..."
"Oo pantas hebat. Bapak sangat apresiasi sekali... Kalau ada lomba MTQ nanti kamu yang kami kirim. Kamu bersedia kan Maryon?"
"Siap Pak!"
Kemudian pak guru sedikit melenceng dari TIK, ia meminta pada murid-muridnya untuk mengembangkan bakat yang dimiliki, apa saja... Sekolah siap memfasilitasi. Begitu guru yang bersemangat, membuat murid murid semakin kagum kepada guru yang satu ini.
__ADS_1
"Nah anak anak, dari surat yang dibaca tadi siapa yang tahu apa pesan yang disampaikan kepada kita....?"
Kelas kembali hening. Beberapa saat kemudian Jaswan yang memberanikan diri.
"Nasehat Luqman kepada anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah...."
"Ya, benar...!!"
Kemudian bapak itu kembali mengulas sedikit pelajaran minggu lalu sebelum melanjutkan pada pokok bahasan baru.
Pak Dalimi punya ciri khas, walau di kelas ada meja dan kursi guru, tetapi ia tidak pernah duduk, ia suka berdiri dan mondar mandir dalam kelas. Ia sering berdiri di samping murid-muridnya, memperhatikan dan mengawasi mereka belajar,
Sebelum Dalimi pergi ia masih sempat memberikan nasehat.
Semua diam mendengarkan nasehat bapak guru. Dengan belajar kelompok Maryon yang otaknya buntun masuk lima besar di kelasnya. Jaswan yang punya otak menengah masih bisa mendapat rangking tiga, dari beberapa kali ulangan yang diadakan. Apalagi kalau punya otak briliyan, tentu bisa dibayangkan.
Nurbaina masuk menggantikan Dalimi. Ia berjalan melenggok-lenggok seperti itik pulang petang, bajunya ketat dan sendalnya tinggi sekali. Rambut tergerai hingga bahu. Wajahnya sedikit bopeng, mungkin bekas penyakit cacar yang pernah diindapnya. Kendati sudah pakai bedak tebal tetap saja kelihatan. Ia duduk di kursi dengan kaki rapat menjuntai kelantai. Wajahnya sumbringah bibirnya bergincu merah menyala. Khabarnya ia berasal dari kota jadi wajar dandanannya menor sekali.
Ia mengeluarkan sebuah buku cetak dari tasnya dan mulai bercerita, cerita yang membosankan. Sekali-sekali ia bangkit dari kursi dan menulis di papan tulis. Siapa yang ribut pasti kebagian lemparan penghapus papan. Itulah senjatanya, murid-murid tidak berani melawan.
Pada jam pelajarannya musibah kantuk sering melanda lokal. Di tengah kantuk yang mulai menyerang, misi mulai berjalan. Pada kursi guru dilepas beberapa ekor kapindiang. Mencari kapindiang di sekolah tidak terlalu susah karena hampir di setiap kursi makhluk itu ada. Muhammad Alimin dapat enam ekor, Erwan dapat lima ekor dan ada bebera lagi tambahnya yang dicari Suardi. Semua makhluk hidup itu dilepas di kursi guru sebagian dan selebihnya di meja guru juga. Meja guru memang ada alasnya tapi dibuat menyerong seperti belah ketupat, jadi ada celah kosong yang tidak tertutup.
Misi rahasia itu hanya mereka berempat yang tahu, Alimin, Erwan, Suardi dan Jaswan. Hasilnya memang tokcer, baru beberapa menit Nurbaina duduk ia sudah mulai gelisah, sebentar-sebentar menggeser pantatnya, sebentar-sebentar menggarut pahanya. Mereka berempat tersenyum puas melihat hasil perbuatannya. Sungguh suatu perbuatan yang tidak terpuji, guru pendidikan moral justru dikerjain oleh murid-murid yang tidak bermoral.
__ADS_1
Nurbaina tidak bertahan lama, akhirnya ia bangkit dan kembali melenggak-lenggok di depan kelas seperti peragawati kehilangan panggung. Ketika jam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila selalu ada yang membuat ulah. Seharusnya murid murid menjadi lebih bermoral. Tapi itulah... Adakah yang salah dengan pelajaran ini?
Minggu lalu, Suardi yang duduk di sudut kiri belakang yang bikin ulah, ia ketiduran bukunya sampai basah oleh liyur bariehnya alias air ludahnya. Nurbaina melihatnya jelas dari depan, dari atas meja walau Alimin telah berusaha menghalangi pandangan Nurbaina dengan badannya yang besar. Ibuk Nurbaina bangkit dari kursi, ia melangkah menuju meja Suardi. Pasti ia akan menarik kuping anak lelaki yang dipanggil Buyung itu. Lokal semakin hening, yang terdengar suara ribut dari lokal sebelah.
"Eiii bangun..!! Buk Guru datang tuhh...!!" Erwan teman sebangkunya berbisik berusaha membangunkan Suardi.
Ia tetap tidak bergeming, malah terdengar bunyi kentutnya melengking panjang.
"Tuuuuuuttttt..... "
Masih syukur karena kentutnya tidak bau kecuali bunyinya yang keras. Lokal jadi gaduh, teman-temannya serentak pada tertawa. Nurbaina jadi berbalik arah, ia tidak jadi menarik daun telinga Suardi. Ia kembali kedepan mengibas-ngibaskan buku yang dipegangnya ke hidungnya.
Sejak saat itu Suardi dapat gelar tambahan, tidak hanya Buyung saja tapi bertambah menjadi Buyung 'uut...'
Lonceng pun berbunyi, yang selalu mereka nanti. Akhirnya siksaan itu berakhir. Murid-murid bernafas lega. Sebelum pulang Firdaus singgah di lapau Minab membeli beberapa keperluan untuk prakaryanya. Malam nanti mereka akan belajar kelompok.
*
Terima kasih telah mampir,
Jangan lupa tinggalkan jejak,
like dan komennya,
__ADS_1
author sungguh berterimakasih.