
BAHAR DUDUK di beranda rumah mematut-matut sekeliling rumah. Jarang jarang ia seperti itu, biasanya masih di lapau dengan segelas tangkai kopi pahit. Benar saja, ketika Abdul datang ia bangkit dari kursi menyonsong Abdul ke pagar. Mereka ngobrol di halaman kemudian berkeliling ke belakang rumah.
"Dul! Maksudku mau memperlebar tempat ini, kalau mungkin bisa muat beberapa truk, dan gudang digeser kebelakang, atapnya lebih tinggi lagi...!" jelasnya.
Abdul mengangguk paham.
"Berapa orang kamu kerja hari ini ??"
"Rencana berempat, Pak...!"
"Bagus! Kalau cepat siap baru pindah ke toko yang di pasar, banyak pula yang mau diperbaiki!." katanya lagi.
Bahar memang punya dua rumah, yang satu lagi ada di balai, rumah sekaligus toko. Marlina berada di toko itu sehar-hari, disamping menjaga toko Marlina mempunyai usaha konveksi dibantu oleh beberapa orang pekerjanya diantara Erma, ia masih sepupunya Farida. Marlina sosok pekerja yang ulet yang benar-benar sangat sibuk, perempuan karier dari Balaisatu.
Firdaus datang menyusul meletakkan karung plastik yang berisi perkakas tukang. Bahar heran.
"Kamu kan anak Rustam?" tanya Bahar bingung.
"Anu... Pak, dia kuajak buat bantu-bantu, kan dia baru tamat! Belum ada kegiatan sekolah, dari pada keluyuran hilir mudik!" Abdul yang menjawab.
"Iya, Bapak..." Firdaus juga menjawab dengan santun.
*Waktu lowong cukup panjang dua bulan lebih sambil menunggu pendaftaran di SMA ."
Bahar kelihatannya kurang senang dengan kehadiran anak Anjar di rumahnya bisa jadi runyam, si Bahar mempekerjakan anak si Rustam...! Kedengarannya tidak enak, anak seorang guru, tokoh masyarakat menjadi kuli, orang-orang bisa menyerangku, apalagi ayah-ibunya, batin Bahar.
Tanpa sepengetahuan Firdaus, Abdul disuruh bilang sama Rustam kalau anaknya ikut kerja dengannya.
"Ndak masalah Pak, nanti malam aku kasih tahu orang tuanya Daus... yang jelas itu bukan urusan Bapak, itu tanggung jawabku! Pokoknya Bapak tenang saja!"
"Baik, aku percaya padamu Dul!"
Bahar masuk kedalam rumah, rumah kayu yang telah bersambung dengan setengah permanen ke sampingnya, dan sekarang mau disambung lagi arah ke belakang, seperti lagu, sambung menyambung menjadi satu... Abdul dan kawan-kawannya mulai bekerja setelah mengganti pakaiannya dengan baju buruk sarawa buruk, pakaian kerja tentu saja. Kecuali Firdaus ia tidak membawa baju dan celana pengganti.
"Kamu tau yang mesti dikerjakan? "
"Siap!! Menunggu perintah! "
"Sialan, masa nunggu perintah melulu, kamu harus mikir, kalau mau menyemen apa yang mesti dipersiapkan, angkat pasir lalu ambil semen aduk merata baru kasih air....! "
"Kalau cuma itu tau... kalau mikir, aku takut ntar kamu kalah pintar, akhirnya Aku yang jadi bos.. Hahaha.. Makanya aku ngak mau mikir, belum kepikiran mau jadi bos.... "
"Jangan banyak omong, yukk kerja sana!!! "
"Ihh makan hati kalau bosnya kayak kamu!"
Firdaus mulai mencari tempat yang datar dan bersih dan dengan objek yang dikerjakan biar tidak jauh mengangkutnya, setelah didapat barulah ia mengambil pasir.
"Ciek bara Boss? "
"Ciek limo! " Abdul menjawab.
Keringat mulai membanjiri wajahnya, punggungnya telah basah. Setelah adukan diisi air ia bisa istirahat sebentar, memulihkan tenaga yang benar benar terkuras. Dulu saat ia ikut dan bantu-bantu Addul, rasanya tidak sepayah sekarang, kala itu ia hanya iseng dan tidak masuk etongan. Beda, sekarang ia digaji.
Farida menuntun sepedanya dari pintu pagar ke teras depan, ia letih sekali. Menempuh jarak tiga kilo lebih dengan sepeda dibawah terik matahari cukup menguras tenaga apalagi perut juga dalam keadaan kosong.
__ADS_1
Di samping rumah ia melihat ada beberapa orang yang sedang istirahat, sepertinya tukang yang memperbaiki rumah. Farida masuk, masih di beranda, ia terkejut, ia melihat sepasang sandal yang sangat dikenalnya, bahkan ia pernah memakainya, mungkinkah?
Buru-buru ia ke kamar, sebentar kemudian keluar lagi setelah berganti pakaian. Ia ingin memastikan apakah memang anak itu yang sekarang bekerja di rumahnya? Ia merasa tidak enak walau perasaan itu dikalahkan oleh perasaan senang karena akan sering bertemu seperti dulu, saat ia belajar di rumah bu Andjar.
Lewat jendela kaca ia melihat salah seorang dari mereka, yang sangat dikenalnya, Firdaus. Anak lelaki itu duduk bersandar pada dinding. Wajahnya kelihatan sedikit kurus, bulir-bulir keringat menempel di jidatnya. Ia mengipas-ngipas dada dengan sebuah topi. Udara memang panas. Farida ingin menghampiri, tetapi niat itu diurungkannya, ia kembali kedalam menemui neneknya.
"Mau diapakan rumah ini, Nek?"
"Entah! tanya bapakmu... nenek tidak tahu!"
Di gudang Farida tidak menemukan bapaknya, disana hanya Azwari yang tengah asik main mobil-mobilan.
"Bapak kemana, dek?"
"Nggak tau...!"
"Ihh kamu!!" omel Farida sembari mencubit pipi adiknya. Azwari terpekik.
"Pangadu!!"
Farida kembali ke depan duduk dekat neneknya. Sementara wanita tua itu sedang asyik membaca kitab lama peninggalan kakeknya. Kendati usia nenek sudah tua, mungkin sudah tujuh puluhan tetapi ia masih kuat, penglihatannya masih bagus, pendengarannya pun tidak terganggu. Ia membaca tanpa kacamata.
"Nek! Siapa tukangnya?"
"Uda Adulmu dengan temannya, emangnya ada apa Rida, kamu kok nanya begitu?"
"Ah.. tidak apa-apa Nek, hanya pingin tahu!"
"Nanti habis Ashar siapkan
kopinya!"
"Iya Nek....!"
__ADS_1
Sementara tukang asik bekerja, batu-batu sudah dionggoknya dan bak adukan semen juga sudah terisi penuh.
"Enaknya jadi stokar, hanya mengawasi kalau ada yang kurang... Kalau begini cocok gajinya kecil ketimbang tukang benaran...." ia ngoceh melihat tukang bekerja.
Abdul melempar ember, ember itu sudah kosong, Abdul minta air untuk membuat adukan menjadi encer. Firdaus paham dan mengerti makanya buru-buru ia mengambil ember itu dan berniat mengisi dengan air sumur, tapi ia masih tetap mengoceh dan belum beranjak.
"Kalau waktu mengaduk semen sama pasir tadi rasanya gaji kernet harus lebih besar ketimbang tukang, soalnya kerjanya lebih berat... tukang hanya ongkang-ongkang kaki... betulkan Sarin?"
"Nan kalamak dek kamulah, mangecek kan indak kena pajak! "
"Eiii nih kapurnya hampir keras... Cepat airnya, ngoceh melulu... "
Sarin mengangkat embernya yang masih terisi separuh lalu meletakkan di samping Abdul.
"Pakai ini dulu bos! "
Firdaus berdiri di tepi luwak, menunggu Farida siap mencuci piring.
Anak perempuan itu sekarang sudah besar, sudah menjadi gadis cantik. Dulu ia sering datang ke rumah Firdaus, bersama Dewi, Lisa, Nani dan Daita, entah siapa lagi, mereka belajar bersama. Kemudian saat ia pindah sekolah ke kota, ia sering memikirkan, merindukannya, malah ia pernah menulis surat tak beralamat, bukan surat cinta, semacam puisi.... Dan ia telah menulis berpuluh surat yang tidak pernah sampai, karena surat-surat itu tidak pernah dikirimkannya. Takut ditolak, pasti! malu-malu, juga ada sedikit... Berbulan-bulan mereka, Dewi, Lisa dan Farida menjalin hubungan bersama dengan tiga anak lelaki, Firdaus, Mardi Mantipu dan Mustapa.
Hubungan yang aneh.. Tiga anak perempuan berteman akrab dengan tiga anak lelaki. Seiring berjalannya waktu sejalan pula dengan kesibukan masing-masing akhirnya hubungan aneh itu memudar. Kini mereka bertemu lagi, bagian dari hubungan aneh yang telah memudar itu.
Gadis itu tidak menyadari, sepasang mata memperhatikannya sedari tadi. Ketika ia mendengar suara batuk-batuk kecil, ia menoleh. Di situ Daus berdiri sambil menjinjing ember besar.
"Maaf mengganggu, aku minta airnya Ida..!"
Ida! Sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu. Tanpa menoleh pun ia bisa menebak siapa yang memanggilnya. Di dunia ini hanya ada satu orang yang menyapanya dengan panggilan itu. Ia juga tidak tahu entah apa sebabnya karena ia tidak pernah bertanya, sejak dulu. Ia pun lupa entah kapan awalnya. Yang pasti kalau Firdaus menyapa atau memanggil terdengar merdu di telinganya, makanya ia tidak protes.
"Ee, ikut kerja juga..?"
"Ya, bantu-bantu Adul...!!"
Ia tidak keluar dari bandul sumur tetapi bergeser sedikit memberi ruang pada Firdaus.
"Sekolahnya gimana? Lulus....??"
"Lulus... cuman nilainya nggak tau tuh!! Mungkin lepas makan saja...."
"Selalu merendah... pasti nilainya bagus!"
"Ah... kamu bisa saja!! Terima kasih, airnya...! Sudah lama tidak ketemu, kamu semakin cantik saja!" puji anak lelaki itu setengah berbisik takut kedengaran oleh yang lain. Apalagi kalau sempat didengar Abdul yang masih ada hubungan keluarga dengan Marlina ibunya Farida.
*
Terimakasih telah mampir,
jangan lupa tinggalkan jejak
like dan komennya
__ADS_1
Biar author tambah semangat