Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Malam Badendang


__ADS_3

SETELAH mengaji usai, dengan beberapa orang teman, Firdaus sudah menanti di gerbang surau kemudian secara bersama pula mereka berangkat. Sepanjang jalan mereka saling bergurau diselingi tawa lepas. Sementara Firdaus jalan disisi Fitri, kepalanya ditutupi kain sarung, tiada sepatah katapun yang terucap. Dalam hati mereka, masing-masing ada seribu cerita yang ingin diutarakan. Tetapi mereka tidak tahu harus memulainya dari mana, semuanya buntu seakan tidak ada celah. Padahal biasanya mereka berdua termasuk orang yang tidak pernah diam, selalu berkicau membicarakan apa saja.


Ketegangan ini hanya melanda mereka berdua, sementara kawan kawan yang lain masih tetap riuh dengan senda gurau yang tidak mau surut. Untung mereka berjarak sehingga mereka selamat dari bulan-bulanan kawan-kawannya.


Firdaus tidak tahan dengan kebisuan walau itu kebisuan yang menyenangkan.


"Udara bagus...." Firdaus mencoba mencairkan suasana setelah bersusah payah mencari awal pembicaraan. Aneh memang tetapi demikianlah kenyataannya, rasa suka yang berlebihan membuat hati jadi amburadul dan porak-poranda sampai merubah kebiasaan, yang biasa suka berkicau jadi pendiam, yang biasanya riang gembira jadi tenang ayu kemayu. Pusing!


"Ya..." Fitri membalas pelan dan pendek lalu diam lagi.


"Kalau turun hujan gimana?"


Fitri tak menjawab.


"Kamu takut basah?" tanya Firdaus lagi


"Tidak...."


"Apa? tidak takut kehujanan?"


"Bukan, maksudku hujan tidak akan turun!"


"Ooo..."


"Tapi kalau hujan kan bisa berteduh."


Sayup-sayup dari kejauhan terdengar alunan salung, nadanya mendayu-dayu, sayup sayup sampai dihembus angin malam.


"Sepertinya acara sudah dimulai!"

__ADS_1


"Ya...."


"Kok Yaa, lagi...?"


"Habis apalagi...?"


Kaki Fitri tersandung batu, ia hampir jatuh. Buru-buru Firdaus memegang tangannya. Mereka berpegangan tangan. Baru kali ini. Suasana mendukung, sangat mendukung malah, di tengah gelapnya malam, dimana orang-orang tidak terlalu ramai, saat itulah pegangan tangan itu terjadi. Kembali mereka diam, tangannya masih berpegangan dan hati mereka masing-masing bercerita banyak.


Bagi Fitri sendiri ia memang butuh tangah untuk berpegang, tangan yang bisa melindunginya, ketika ada tangan yang datang ia tidak menolak, ia tahu kalau itu tangannya Firdaus. Saat Jaswan mendekat, Fitri melepaskan pegangannya. Ia malu kalau Jaswan melihat dan mengolok-oloknya, Dan akan lebih malu lagi kalau sempat ia tahu mereka berpegangan tangan, akan heboh satu surau. Jaswan mulutnya tidak pakai filter, ia akan bicara tanpa pertimbangan.


Dengan penerangan lampu senter setelah menempuh jalan berliku dan berbatu-batu pula akhirnya rombongan itu sampai di tempat tujuan. Mereka membeli karcis sendiri-sendiri dengan uang masing-masing. Dari mikropon yang diikat di atas pohon terdengar jelas lagu kutang barendo, salungnya mendayu-dayu membuat pangana terbang melayang jauh.


Mereka tidak masuk kedalam gedung sekolah tapi mencari tempat diluar gedung, di halaman yang masih kosong, mereka duduk beramai-ramai. Firdaus dan Fitri juga duduk diatas batu besar. Dengan penerangan lampu strongkeng warung-warung di sekitar sekolah, Firdaus memandang Fitri, anak itu tersipu malu.


Acara berguraupun dimulai, setelah tadi ada pesanan beberapa buah lagu. Lagu cupak ambiek lado, tiba tiba salung terhenti.


Sesaat kemudian salung terdengar lagi


"Salung hidup lagi, lima ribu... Ganti lagu Suaiyan limo ribu... "


"Tolong dipantuni si Buyung Biteh ciek, kok diam aja, apa digigit anjing gilo,Limo ribu..!"


Sebentar hidup, sebentar mati, sebentar sebentar berganti lagu. Begitulah acara bagurau lewat lagu salung, asyik nian. Bisa tergerus isi dompet, dan bisa merah padam muka, bisa... Bisa.....


Tengah malam barulah mereka pulang, kembali ke surau dan tidur sampai pagi. Kenangan itu yang kini hadir dalam ingatannya.


Akhir-akhir ini ia jarang ke surau, hanya sekali-sekali, seperti malam ini. Perasaannya pada Fitri diselimuti kabut barangkali karena kesibukan.


Pengaduan Jaswan semalam tetap sulit pergi dari ingatannya. Fitri dengan Marwan sudah jadian! Kendati Firdaus tahu bagaimana yang disebut jadian itu sebenarnya. Hanya predikat yang teman teman berikan, padahal sebetulnya tidaklah jadian yang sebenarnya.

__ADS_1


Kalau dipikir pikir mungkin karena mereka jarang bersua dan jarang bersama. Semenjak Firdaus tidak ikut gembala kerbau lagi, atau semenjak Firdaus sudah tidak seonggok, karena ia sudah berhenti mengaji, sudah tidak jadi anak siam Kifli.


"Waang tidak sholat subuh tadi?" tanya Midar ketus. Firdaus tidak menjawab.


"Makanya Ayah melarang tidur di surau! sawah di Koto sudah hampir lapeh mandarek, sangat disuka burung, sementara Waang masih disini...!"


Firdaus tidak banyak cincong, tidak berani melawan Midar. Terseok langkahnya mengikuti Midar yang tergesa gesa. Di jalan mereka bepapasan dengan banyak lelaki membawa anjing. Orang-orang itu mau pergi berburu ke hutan, anjing mereka kelihatan garang sekali, sebentar-sebentar menyalak. Suaranya riuh membuat Midar dan Firdaus menepi memberi jalan.


Midar anak tertua Angku Rustam dan Ibuk Andjar. Anaknya lima orang. Firdaus merupakan anak ketiga, punya dua kakak dan dua adik.


Sampai di rumah dilihatnya ayahnya sudah akan berangkat berburu. Dua ekor anjing Punco dan Balang telah diganti rantainya dengan tali beludru warna merah, ditambatkan di depan pintu. Ketika Firdaus mendekat kedua anjing itu berebutan menyambutnya kegirangan, melompat-lompat dan menggerak gerakkan ekornya.


Firdaus bergegas masuk kamar, lewat pintu belakang, takut berpapasan dengan ayahnya. Ia tahu kesalahannya, makanya ia tidak berani berjumpa dengan ayah. Ia pasti akan kena damprat dan ocehan. Sepagi ini ia tidak ingin dapat katan ndak bakarambie.


Di kamar ia duduk di dipan kayu, bunyinya berderit-derit ketika Firdaus sedikit bergerak, usia dipan itu memang sudah tua. Ia memandang keluar. Lewat jendela ia melihat sawah terhampar luas dengan padi baru ditanam yang dibatasi bukit Nyaru di seberang sana dibelakangnya mengawal bukit Taratai yang jauh lebih tinggi dan lebih besar padahal jaraknya cukup jauh. Ada sebuah sungai besar dikaki bukit Nyaru, batang Bengkawas namanya. Airnya sejuk dan ikannya banyak. Firdaus sering kesana membantu ayahnya mengambil pasir untuk menyemen rumah.


Ia kaget ketika Miati masuk kamar, ia berniat memberi tahu ayahnya tetapi Firdaus cepat-cepat memberi isyarat.


"Aku akan berangkat, Kak..." katanya sembari berindap-indap keluar menengok kalau ayahnya ada.


"Jangan lupa dibawa sarapan yang sudah kusiapkan! ada diatas meja di bilik, kau pasti belum sarapan!" Miati sering angin-anginan, barusan ia usil mau mengadu pada ayahnya kalau Daus tidak mau ke sawah menghalau burung. Tapi beberapa menit kemudian ia sudah berubah lagi menjadi baik, malah telah mempersiapkan bekal untuk adiknya.


Syukurlah ayahnya sudah berangkat dengan dua ekor anjingnya pergi berburu. Miati hanya geleng geleng kepala melihat tingkah adiknya. Walaupun bagaimana cingkahaknya perangai Daus, ia tetap sayang. Hanya beda, kalau Midar anak sulung selalu mengerjakan pekerjaan yang berat, sebagai anak tertua dan juga lebih banyak mengasuh dan membesarkan adik adiknya tapi Miati hanya kebagian mengerjakan tugas yang ringan-ringan saja limpahan dari Midar.


*


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya, hanya terimakasih buat semua, penyemangat author selalu


.

__ADS_1


__ADS_2