
SUBUH SEKALI ia sudah bangun. Hari masih gelap. Dari sawah terdengar bunyi khas makhluk sawah, suara kayak-kayak, selalu bernyanyi sitiap subuh, dan setiap sawah sudah berair. Bersama ayahnya ia mandi ke sumur, di pinggir bandar, sumur satu-satunya untuk keperluan MC tanpa K, empat buah rumah keluarga besar Nek Rasila, tentu saja ada pompanya. Pompa bantuan pemerintah karena keberhasilan PKK yang dimotori buk Anjar. Air sumur itu kalau ditimba pakai ember cukup melelahkan juga karena sumur itu dalam kurang lebih lima meteran. Kalau musim kemarau, musim panas agak lama dan hujan tidak turun air sumur itu sangat sedikit sekali.
Angku Rustam yang selalu bangun duluan akan mengisi beberapa buah ember besar untuk keperluan mandi dan mencuci. Dan yang bangun terakhir maka akan kebagian sedikit air...
Enggan ia mengikuti ayahnya, ia masih mengantuk, tiap sebentar menguap, berjalan terdede-dede seperti orang mabok. Pernah dulu ia mandi pagi saat sekolahnya ada lomba di Rambatan, di kecamatan, lomba tujuh belas agustusan, atau kalau mau ke Padang ke tempat mamaknya... Ya, mandi saat tertentu saja, saat ada moment penting... Ini sebuah kebiasaan jelek yang tidak harus ditiru...
Pernah suatu kali saat ia diajak ayahnya ke Padangpanjang, ayahnya mau memastikan rumah tempat tinggal selama seminggu buat ujian akhir SPG, karena ayah, ibu dan ancunya beserta beberapa orang kampungnya seperti Janewar, Syamsimah, Jaranah, Kambar, Wirdana,Ajin Ahmad, banyak lagi yang belum memiliki ijazah SPG sebagai sertifikat syarat menjadi pegawai negeri, maka untuk mendapatkan mereka harus ikut ujian bersama murid-murid SPG.
"Makanya biasakan bangun pagi dan mandi, supaya badan segar dan tetap sehat. " angku Rustam memberi semangat.
Pagi terasa dingin, dinginnya menusuk tulang paling tidak baginya karena ia memang jarang bangun pagi semenjak ia sekolah siang. Kalau dulu sewaktu ia sekolah pagi, ada bangun pagi tetapi tetap jarang mandi kalau tak boleh dibilang tidak pernah mandi pagi...
Liburan sudah berakhir, pakansi usai sudah, anak anak kembali bersekolah setelah libur beberapa minggu. Di kampung itu kembali orang banyak berlalu lalang, setelah dua pekan terasa lengang dan sepi. Anak sekolahan dari luar kampung kembali berdatangan. Balaisatu kembali rami.
Bersama angku Rustam ayahnya ia pergi ke sekolah negeri. Mereka mau minta pengesahan rapor untuk pindah. Sekolah Bengkawas tempat ia belajar berada dibawah naungan sekolah negeri. Pengesahan pindah itu harus kepala sekolah negeri yang menandatanganinya. Tidak bisa pak Khadir saja.
Di depan rumah jarang mobil yang lewat, hanya ada dua buah, oplet Erika milik tuk Ambang, atau ABS yang disopiri Mak Asai, biasanya penuh oleh penggalas yang mau ke Padang Panjang. Jadi kemungkinan dapat tempat duduk sangat tipis sekali, makanya angku Rustam lebih memilih berjalan kaki, dengan harapan dapat oplet di tengah perjalanan. Berlari-lari anjing ia mengikuti langkah Angku Rustam, yang panjang dan cepat pula, kalau tidak ingin ketinggalan. Sepagi ini tidak akan ada oplet yang lewat. Kalau nasib lagi mujur maka dapatlah tumpangan. Memang ada sepeda motor yang lewat, tapi karena mereka berdua tentu tidak bisa ikut menumpang.
Pagi ini memang pagi yang sial bagi mereka, sampai di Simpang Empat tidak ada oplet yang lewat. Keringat sudah mengalir membasahi jidatnya. Berbeda dengan Angku Rustam, ia tetap santai saja dengan wajah fresh tanpa keletihan. Sungguh berbanding terbalik dengan anaknya.
Mereka istirahat ditembok loneng. Firdaus duduk sembari mimijat pahanya, sambil menunggu oplet yang lewat yang akan mereka tumpangi... Dari arah rumahnya Firdaus melihat oplet Erika milik tuk Ambang yang lewat. Menyesal ia sudah capek capek jalan kaki ke Simpang Empat ini. Kenapa ayahnya tidak menunggu didepan rumah saja. Sial!
__ADS_1
Semua tempat duduk sudah terisi penuh. Angku Rustam kebagian tempat di bangku serap.
"Maaf Angku, bangku serap yang masih kosong... " kata datuk Ambang sisopir oto ketika Angku Rustam membuka pintu.
"Ndak-apa, pokok ee sampai, Datuk..! "
"Angku mau kemana? "
"Ke Simabua, Tuk.. "
"Naiklah Angku, nanti mungkin ada yang turun di jalan, Angku bisa menggantikan tempatnya.. "
Walau bangku oplet sudah terisi penuh, tapi kalau ada yang menyetop, oplet tetap berhenti. Ada yang tetap naik dan ada yang mundur sambil melambaikan tangan. Bagi Firdaus kendati sempit, untuk tegak berdiri pun susah, bau keringat dua belas macam, tetapi ia tetap happy, ini jauh lebih nyaman dibandingkan dengan jalan kaki. Alhamdulillah. Musik dangdung mengalun dari tape recorder oplet, bunyinya memang tidak bagus tapi lagu berkelana Rhoma Irama tetap enak didengar apalagi spekernya pas diatas kepalanya. Bapak bapak yang duduk didepannya sampai mengangguk anggukkan kepala mengikuti musik itu.
"Simpang Esempe, Datuk! Sebelum pasar Simabur. " teriak Angku Rustam.
Oplet melambat lalu berhenti. Angku Rustam turun diikuti Firdaus, setelah membayar ongkos oplet bergerak lagi.
Komplek sekolah itu terletak di pinggang gunung. Dari sini pemandangan bebas ke bawah. Indah sekali... Dan angin berhembus sepoi-sepoi, menghapus keringat yang membasahi jidatnya. Kembali ia merasa segar setelah berjalan beberapa ratus meter sejak mereka turun dari oplet. Sebetulnya Angku Rustam enggan dan tidak setuju anaknya pindah sekolah, ia sampai berdebat dengan istrinya.
"Bagaimana Ayah?" Anjar memandang suaminya minta persetujuan tentang kepindahan Firdaus.
__ADS_1
"Apa kata dunia kalau kita ikut memindahkan Daus?"
"Masa bodoh!, Daus bukan tumbal, anak itu bukan peluru perjuangan, kita harus memberikan pendidikan yang terbaik, cukup kita saja yang merasakan pahit getirnya bersekolah itu! Kita sudah merdeka ayah! Ayah yang ikut berjuang merebut dan mempertahan maka apa salahnya sekarang kalau anak kita menikmatinya. Ya, kita bisa membantu dan ikut berjuang tapi tidak dengan mengorbankan Daus! masih ada cara lain...."
Mereka sebagai guru, sebagai pendidik sadar sepenuhnya proses belajar belajar tidak akan berjalan efektif dalam suasana dan lingkungan yang minim dan tentu hasilnya juga tidak akan maksimal.
"Tapi mau kita surukkan kemana muka kita!?"
"Kita punya tenaga dan pikiran, juga diberi sedikit rezeki, dengan itu kita bisa ikut andil dalam perjuangan itu!"
"Ya bolehlah, tapi tetap terasa berat, kami berdua akan kesana, menemui kepala sekolah!"
Akhirnya angku Rustam mengalah juga. Menuruti keinginan anak dan istrinya dengan memindahkan Firdaus dari kampung untuk bersekolah di kota. Pemindahan itu sama saja tidak ikut membangun sekolah yang baru berumur satahun jagung. Rustam segan dan berat hati menemui kepada sekolah yang nota bene juga orang kampungnya. Dialah orang yang mempelopori keberadaan sebuah SMP dikampungnya itu. Rasanya ia tak punya muka, tapi demi anak... demi darah dagingnya semua perasaan yang tidak enak itu dikesampingkannya.
*
Terima kasih telah singgah,
Jangan lupa lika dan komennya
Biar tambah rajin updatenya.
__ADS_1