
ANAK PEREMPUAN ITU duduk termenung larut dalam khayalnya. Matanya memandang mereka, para tukang yang asik bercanda dan bergurau menunggu kedatangan Bahar yang akan membayarkan upah mereka. Biasanya mereka berlima, sekarang hanya tinggal berempat, tanpa Firdaus. Yang ditunggu entah hilang kemana, mau bertanya pada mereka ada rasa malu.... Itu yang ada dipikirannya.
"Eii Rida, kok bengong begitu...? Biasanya rajin menyiram bunga, ini sudah hampir magrib lo.. nanti keburu malam!" Parijon meneriakinya membuat gadis itu terbangun dari khayalan kembali terhempas ke alam nyata. Wajah bocah yang baik hati itu lenyap seketika. Sejak saat itulah sebuah rasa nyaman mulai hadir sejalan dengan rasa kagum yang tak pernah hilang.
Ya, biasanya sore menjelang magrib gadis itu rajin menyiram bunga di taman yang baru dibuat Firdaus. Dulu ia mencoba menyiram setiap pagi, tetapi karena banyaknya yang mesti dipersiapkan ia jadi terlambat berangkat ke sekolah. Namun beberapa hari belakangan ini ia kelihatan malas, ia lebih senang duduk melamun memikirkan seseorang bukan menyiram atau merawat taman.
Farida tersadar, lalu menjawab lirih dan pelan seperti orang kehilangan semangat.
"Tadi pagi udah disiram wan!" jawabannya pendek. Kemudian ia berpindah duduk ke beranda, disanapun masih tetap bermenung.
Pikiran anak gadis itu kembali melayang jauh, jauh sekali melintasi ruang dan waktu mundur kebeberapa tahun yang silam. Ia tidak akan pernah lupa, di sekolah diadakan acara maulid nabi, acara rutinitas tahunan sekolah. Setiap murid membawa nasi bungkus. Pagi itu karena kelamaan mencari daun pisang dan mempersiapkan dua bungkus nasi untuk dibawa ke sekolah tanpa disadarinya hari telah berangsur siang. Farida sepertinya bisa telat sampai di sekolah. Takut terlambat dan bisa dimarahi guru ia berangkat lewat jalan pintas, jalan setapak di belakang rumah Nansa. Ada perasaan takut, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Kemaren sepulang dari sekolah ia mengantar kopi buat mamak-mamaknya yang bekerja membajak sawah di Puding. Ia pulang sudah hampir senja jadi lupa untuk mempersiapkan daun pembungkus nasi pagi ini.
Benar saja, ketika lewat di kebun dua ekor anjing tiba-tiba menggonggong menghampirinya dari pondok Munir. Ia ketakutan sekali dan balik kembali, lari terbirit-birit. Ia berteriak sekuat tenaga tetapi tidak ada yang mendengar. Di sana memang tidak ada orang lain.
Kaki dan tangannya terasa sakit dan perih tergores duri sikajuik si putri malu dan ranting kayu. Ia tidak peduli, ia terus berlari dan berlari. Sementara dua ekor anjing itu semakin dekat. Rasanya ia tidak kuat lagi berlari, kadang terhuyung-huyung mau jatuh, dan ketika kakinya tersangkut di rumpun ilalang ia jatuh terjerembab ke semak belukar. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia terjatuh disamping tak kuat lagi, kakinya juga nyangkut akhirnya ia ambruk dan hilang dibalik semak.
Beberapa meter lagi anjing-anjing itu akan sampai, samar-samar ia melihat sebuah bayangan bergerak dengan cepat, dan dengan jelas ia mendengar teriakan seseorang menghalau anjing-anjing itu. Kemudian ia mendengar bunyi berdebuh, Bhuuuah!!, suara batu menghantam sesuatu, pasti tubuh anjing itu. Dan anjing itu terkengkeng lari terbirit-birit. Anak itu memungut nasi bungkus yang terjatuh di dalam semak kemudian mendekatinya dan membantunya berdiri. Karena rasa takut yang amat sangat, dan tiba-tiba ada dewa penolong datang, tanpa pikir panjang, setelah ia berdiri, ia langsung menghambur dan memeluk dewa itu mencari perlindungan. Anak lelaki itu kaget dan hampir jatuh karena dipeluk dengan tiba-tiba. Tetapi ia tidak mengelak, ia membiarkan gadis kecil itu menghilangkan ketakutannya dengan bersembunyi di balik badannya.
"Sudah.... Sudah! Anjing itu sudah lari, kamu tidak usah cemas lagi.."
Menyadari kesalahannya, ia melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Takutt..."
"Kalau nampak anjing jangan lari, anjing itu akan semakin buas, tenang saja dan jangan takut. Kalau kamu diam anjing itu tak akan berani mendekat. Di rumah aku punya empat ekor anjing...!"
Farida masih tersedu, sekali-sekali cekukan dan bahunya tarun naik menahan isak yang masih tersisa. Anak lelaki itu memandang iba. Kemudian anak lelaki itu membimbingnya berdiri, membuka salameta pembungkus nasi dan menghapus air matanya dengan sapu tangan itu.
"Nasinya kok dua bungkus?" Sebetulnya anak lelaki itu tahu, pasti yang sebungkus lagi disuruh guru, seperti di kelasnya juga ada yang disuruh membawa lebih, untuk majelis guru... Tetapi ia mengajukan juga pertanyaan bodoh itu.
Gadis kecil itu tidak menjawab, ia berdiri dan merapikan rok dan bajunya. Kemudian anak lelaki itu kembali membantu mengibas-ngibaskan daun dan rumput kering yang melekat di baju dan punggungnya.
"Sudahlah! Ayok kita berangkat, nanti kita telat... Atau kamu mau pulang.... Oh ya namamu Fa... Farida ya.. Pasti panggilannya Ida.. Ya" katanya kemudian ketika anak lelaki itu melihat label nama di bajunya. Farida tidak menyahut, ia hanya nanar menatap kagum. Ia juga tidak membantah kalau panggilan namanya dibilangnya Ida oleh anak lelaki itu. Rasanya itu tidak penting bagi Farida kala itu.
Farida menggeleng lemah. Ah! Coba aku punya kakak lelaki, tentu kejadian ini tidak akan pernah menimpanya, batinnya sambil berjalan mengikuti anak lelaki itu.
"Sebentar lagi kita sampai... Hapus air mata mu."
Setengah berlari ia mengikuti anak lelaki itu, takut kalau-kalau anjing itu masih mengejar.
Ia ingin memanggil anak lelaki itu, meminta supaya berjalan jangan terlalu cepat, ia sudah tak kuat, ia ingin berhenti, ia masih merasa takut. Namun tidak sepatahpun kata yang terucap. Ia tetap mengikutnya dengan tertatih-tatih.
Anak lelaki itu menoleh kebelakang, melihat Farida yang tertinggal jauh di belakang ia menghentikan langkahnya. Menyadari nafas Farida tersengal-sengal ia memperlambat jalannya. Ketika sampai di pagar sebelum memasuki areal sekolah kembali anak lelaki itu membantu dengan memegang tangannya memanjat pagar supaya tidak jatuh. Begitu perhatiannya anak lelaki itu, Farida dianggap seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
Mereka sampai di sekolah sudah terlambat. Semua guru dan murid sudah memasuki lokal. Ruang kelas empat, lima dan enam digabung menjadi satu dengan membuka tadir pembatas masing-masing lokal. Pak Basir kepala sekolah telah membuka acara maulid nabi dan sedang memberikan petunjuk dan nesehat-nasehat. Kejadian di parak tingga
Ketika bapaknya memegang bahunya ia tersadar, lamunannya buyar. Lelaki yang dilamunkan itu tidak ada bersama teman temannya, dan teman temannya pun sudah pada pulang, yang ada hanya Bahar bapaknya yang datang mengagetkan dirinya. Farida cemberut dan semakin kesal dengan ulah bapaknya.
Farida kesal, bukan pada siapa-siapa, ia kesal pada dirinya sendiri. Ia merasa kemarin dulu terlalu kasar sama Firdaus, mau menang sendiri, dan tak mau dengan penjelasan Firdaus. Ia menganggap Firdaus telah membohonginya. Firdaus ikut kerja bukan karena pengen dekat dengannya tapi karena uang, begitu tuduhannya.
Sekarang ia ingin minta maaf, kemaren ia telah terdorong bicara tidak enak yang mungkin menyakitkan anak itu, tetapi Firdaus tidak datang lagi. Itulah parahnya, ia marah, kesal dan menyesal pada dirinya sendiri. Kalau pada orang lain tentu bisa dilampiaskan, bisa dicaci-maki, tapi ini....
Begitulah orang yang tengah kasmaran perasaannya begitu mudah berubah, tengah asyik beriang gembira bisa mendadak menjadi sedih.... uring-uringan, mudah tersinggung... Kadang duduk melamun, menghabiskan waktu berlama-lama sambil tersenyum sendiri seperti orang gila...
*
Terimakasih telah mampir,
jangan lupa tinggalkan tanda
suka dan komennya
terimakasih author kepada semua
Yang telah membangkitkan semangat.
__ADS_1