Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Kamu


__ADS_3

IA DICEGAT oleh dua orang, ia jadi urung meninggalkan tokoh buku Asra. Dua orang itu bukan penjahat, tetapi dua orang anak perempuan teman barunya. Tingkahnya yang main cegat mengingatkan pada perbuatan para penjahat.


"Beli buku ya!?" salah  seorang perempuan itu menegurnya. Firdaus kaget, kaget bukan karena teguran dua gadis itu, ia kaget karena kedua gadis itu teman sekelasnya, Anita dan Rita, yang telah mempeloncoinya hahis-habisan.


Kedua perempuan itu mamandang pada kertas berbunga di tangannya tanpa dibungkus, dan kedua perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh. Tawa harimau yang siap menerkam kambing mangsanya.


"Kertas berbunga rupanya...!"


"Pasti kebelet rindu.. hemmm...!"


"Hehehe... Dikau sayang..!"


"Mau nulis surat buat si dia yang ditinggal pergi, hehehe...!"


"Baru aja pisah udah kangen lagi!"


"Amboii...!"


Daus benar-benar mati kutu, tak mungkin menyembunyikan lagi. Ia gulung kertas berbunga itu kemudian ia selipkan kedalam saku belakang celananya.


"Kalian mau belanja juga?" Daus berusaha mengalihkan pembicaraan. Kedua gadis itu senyum-senyum, seperti orang gila.


"Beli kertas berbunga, mau nulis surat cinta ya..."


"Iya, tapi bukan surat cinta, tapi surat simpati aja. Orangnya bukan level aku tapi jauh diatas! Dia terlalu cantik, baik hati tentu saja seleranya bukan orang kampung kayak aku, aku terkagum-kagum padanya, salah seorang teman, teman baru di lokal kita!"


"Idihhh muji banget!"


"Siapa sih perempuan itu?"


"Seorang gadis super!"


Firdaus berniat meninggalkan kedua temannya itu.


"Eh tunggu! jangan pergi dulu...!


Bayarin dong belanjaan kami, nggak banyak kok cuman...."


"Aku aja ngutang! Tanya aja sendiri ama pak Asra!"


"Ok nggak usah, kami bisa bayar.... tapi sirius nih, siapa sih gadis super di kelas kita?" Begitu lah gadis, matanya akan terbuka kalau merasa tersaingi, telinganya akan nyaring mendengar ada saingan.


"Ngotot amat sih, emangnya situ punya urusan apa?"


"Hehehe penasaran ya...."


"Sebagai anak baru yang selalu dicuekin, dialah satu-satunya yang mau menegur, mau menyapa...!"

__ADS_1


"Dia memang baek!"


Anita gusar, siapa ya saingannya? Apa Rika sudah naik level? Rika memang saingan beratnya, dalam pelajaran, dalam penampilan dalam acara apa saja.


"Dan kalian tahu, ketika aku kebelet, dia juga yang memberi tau dimana letak wc.... Dan kami ngadem di wc yang sama!" Kepalang tanggung, Daus mengikuti kejahilan dua gadis itu. Nita merasa dicubit, mulutnya mencebik menggoda Firdaus. Hatinya tenang, ia masih yang nomor satu. Ketua saja mengemis minta pertemanan lebih.


"Aku mohon kalian jangan umbar di lokal ya, aku malu..."


"Siapa orang itu?" Anita penasaran.


"Itu rahasia! Hahaha.. Tapi jangan khawatir, karena kagumku tak akan pernah lahir manjadi sayang, apa lagi menjadi cinta! Kalau pun lahir dia bukan jodoh untuk aku... Karena dia anak kota sementara aku orang kampung! Maka jadilah aku orang yang bertepuk sebelah tangan!"


Anita penasaran, Rita terpana, tidak nyambung. Rita memang tidak tahu tragedi salah kamar kecil kemaren dulu.


"Bohong, pasti omong kosong, sekedar membela diri karena ketangkap basah!"


"Hehehe..."


"Boleh tau orangnya?"


"Rahasia! Aku permisi pulang, silahkan kalian belanja, pak Asra tuh sudah nunggu!"


Firdaus melangkah meninggalkan toko.


"Daus!! Siapa dia?" Anita penasaran sekali, ia menahan bahu anak lelaki yang mau pergi itu. Daus memutar badan lagi lalu menunjuk pada gadis itu.


"Sialan! Awas nanti di sekolah." umpat Anita.


Buku-buku harus disampul supaya rapi, awet dan tahan lama nanti bisa pula dipakai adik-adiknya, begitu ajaran ayahnya. Sekarang berubah menjadi sebuah rencana, rencananya dalam hati. Namun telah beberapa hari buku-buku itu masih saja seperti kemaren, masih tetap telanjang belum bersampul. Memang ada beberapa buah yang telah dibawanya ke sekolah dan itu telah bersampul dan diberi nama. Yang telah berubah kertas berbunga,  buku itu telah tipis, sebab isinya sudah banyak yang dicopot. Ia telah banyak memakai, ia telah banyak menulis tapi tak pernah terkirim.


Sehabis sholat Zuhur ia berangkat, menyadari kalau jalan yang biasa ia tempuh terlalu jauh, maka sekarang ia coba cari jalan pintas. Di depan loket sari expres, loket bus ke Jawa, ia belok kanan lewat pasar papan, sebelum simpang rumah Pohan, rumah kepala PLN yang sering diumpat orang kalau listrik padam, belok kiri mendaki jalan kecil, dibelakang kantor PU, akhirnya sampai di TK, disamping TK itulah persis bagian belakang sekolahnya, SKKP. Itu rute yang dibilang Nurdin beberapa waktu yang lalu.


Namun ketika tengah berada di depan loket sari expres ada seorang pak tua yang tengah mendorong gerobak kayu roda tiga melambaikan tangan minta tolong. Tangan dan kaki serta wajah pak tua dipenuhi bisul mirip daging tumbuh, oh ya mirip kutil tapi besar.


Napas Pak tua itu ngos-ngosan sakit beratnya beban gerobak yang ia dorong.


"Tolong dibantu nak, sampai masuk loket saja, polongan itu cukup tinggi. Bapak nggak kuat mendorong sendiri, Ini barang mau berangkat ke Jawa..." papar pak tua panjang lebar...


"Ayok pak, aku buru buru mau sekolah!"


"Ooo mau sekolah, Bapak kira sudah pulang! Maaf bapak mengganggu! Tapi.. nggak usah lah nanti anak terlambat!"


"Nggak apa-apa pak, masih ada waktu kok!"


Berdua mereka mendorong gerobak kayu roda tiga itu, langsung ke dalam loket karena bus belum datang.


"Siapa namamu nak?"

__ADS_1


"Daus pak!"


"Terimakasih Daus, kamu tidak hanya mendorong, tapi turut membongkarnya, lihat bajumu sedikit kotor karenanya..."


"Nggak apa-apa pak, nanti bisa dicuci! Rupanya kamu sekolah di SKP, anak bapak juga, perempuan namanya Rika Malik. Malik itu nama Bapak. Bapak pengagum bintang film Rika Rahim pasangan oma irama, Bapak dulu sering nonton, makanya tak kasih nama Rika..."


"Baik Pak, ceritanya kapan kapan kita lanjutkan, takut nanti terlambat!"


"Sekali lagi terima kasih nak." Setelah pamit bergegas Firdaus meninggalkan pak tua Malik menuju sekolah lewat jalan pintas.


Sekarang ia menjadi seorang anak ibu yang patuh, taat dan rajin ke sekolah, rajin pula ke masjid. Pagi beres-beres atau menyelesaikan pekerjaan rumah, membuat tugas atau kadang-kadang membantu andung di tokonya, kalau siang sampai sore belajar di sekolah.


Bingung di rumah pagi ini ia berniat membantu Andung di toko, apalagi hari ini hari Kamis, hari pasarnya kota Batusangkar, tentu Andung sangat kerepotan. Rupanya benar, belum sempat Andung menggelar semua dagangannya orang sudah ada yang belanja.


"Anak Anjar yaa?"


"Ya Bapak!"


"Kamu jualan? Nggak sekolah hari ini? Kapan pindah?"


Bapak itu mencecar Firdaus dengan banyak pertanyaan.  Rais namanya, ia masih satu kampung dengan Firdaus.


"Bantu-bantu andung, aku tinggal di rumahnya, sekolah sore, baru sebulan pindah, Bapak mau beli apa? dasar celana apa baju? disini banyak yang bagus, murah lagi..." Ia mulai jualan. Andung Nureka tersenyum senang melihat Firdaus menawarkan jualannya.


Saat malam tiba sekembali dari masjid berkutat lagi dengan buku. Sepertinya ia bisa jadi juara mengalahkan Mafrial atau Arsukman, sang juara di lokalnya, kalau ia bisa mempertahankan cara belajar siswa aktif ini sepanjang waktu.


"Masih ada yang belum mengerti?"


"Insyaallah... kayaknya udah!"


"Bagus! persamaan kodrat ini tidak terlalu susah, yang penting kita tahu jalannya..."


"Jelaslah! kan pelajaran anak SMP!, coba pr-nya anak kuliahan pasti ceritanya lain lagi... Itu mah manusiawi! Aku pun kalau disuruh ngerjain pr anak SD pasti ngomongnya juga gitu!"


"Apa tidak karena kamu udah ngantuk?"


"Serius, aku ngantuk berat!"


Akhirnya malam datang, Firdaus mulai tidak tahan, mata yang sudah lima watt berangsur redup akhirnya padam, ia pun pulas dan berpindah ke alam mimpi.


*


Terimakasih telah berkunjung,


jangan lupa like dan komennya


biar author tambah semangat

__ADS_1


__ADS_2